DAMPAK PENDIDIKAN KARAKTER TERHADAP AKADEMI ANAK
Oleh : KHOLIFATUL AZIZAH,S.Pd.I.
(Guru RA dan Pemerhati Pendidikan Anak Usia Pra-Sekolah)
Apa dampak pendidikan karakter terhadap keberhasilan akademik? Beberapa penelitian bermunculan untuk menjawab pertanyaan ini. Ringkasan dari beberapa penemuan penting mengenai hal ini diterbitkan oleh sebuah buletin, Character Educator, yang diterbitkan oleh Character Education Partnership. Dalam buletin tersebut diuraikan bahwa hasil studi Dr. Marvin Berkowitz dari University of Missouri- St. Louis, menunjukan peningkatan motivasi siswa sekolah dalam meraih prestasi akademik pada sekolah-sekolah yang menerapkan pendidikan karakter.
Kelas-kelas yang secara kompre-hensif terlibat dalam pendidikan karakter menunjukan penurunan drastis pada perilaku negatif siswa yang dapat menghambat keberhasilan akademik. Pendidikan karakter adalah pendidikan budi pekerti plus, yaitu yang melibatkan aspek pengetahuan (cognitive), perasaan (feeling), dan tindakan (action). Menurut Thomas Lickona, tanpa ketiga aspek ini, maka pendidikan karakter tidak akan efektif, dan pelaksanaannya pun harus dilakukan secara sistematis dan berkelan-jutan. Dengan pendidikan karakter, seorang anak akan menjadi cerdas emosinya. Kecerdasan emosi adalah bekal terpenting dalam mempersiapkan anak menyongsong masa depan, karena dengannya seseorang akan dapat berhasil dalam menghadapi segala macam tantangan, termasuk tantangan untuk berhasil secara akademis. Sebuah buku yang baru terbit berjudul Emotional Intelligence and School Success (Joseph Zins, et.al, 2001) mengkompilasikan berbagai hasil penelitian tentang pengaruh positif kecerdasan emosi anak terhadap keberhasilan di sekolah.
Dikatakan bahwa ada sederet faktor-faktor resiko penyebab kegagalan anak di sekolah. Faktor-faktor resiko yang disebutkan ternyata bukan terletak pada kecerdasan otak, tetapi pada karakter, yaitu rasa percaya diri, kemampuan bekerja sama, kemampuan bergaul, kemampuan berkonsentrasi, rasa empati, dan kemampuan berkomunikasi. Hal ini sesuai dengan pendapat Daniel Goleman tentang keberhasilan seseorang di masyarakat, ternyata 80 persen dipenga-ruhi oleh kecerdasan emosi, dan hanya 20 persen ditentukan oleh kecerdasan otak (IQ). Anak-anak yang mempunyai masalah dalam kecerdasan emosinya, akan meng-alami kesulitan belajar, bergaul dan tidak dapat mengontrol emosinya. Anak-anak yang bermasalah ini sudah dapat dilihat sejak usia pra-sekolah, dan kalau tidak ditangani akan terbawa sampai usia dewasa. Sebaliknya para remaja yang berkarakter atau mempunyai kecerdasan emosi tinggi akan terhindar dari masalah-masalah umum yang dihadapi oleh remaja seperti kenakalan, tawuran, narkoba, miras, perilaku seks bebas, dan sebagainya.
Pendidikan karakter di sekolah sangat diperlukan, walaupun dasar dari pendidikan karakter adalah di dalam keluarga. Kalau seorang anak mendapat-kan pendidikan karakter yang baik dari keluarganya, anak tersebut akan berkarak-ter baik selanjutnya. Namun banyak orang tua yang lebih mementingkan aspek kecerdasan otak ketimbang pendidikan karakter. Selain itu Daniel Goleman juga mengatakan bahwa banyak orang tua yang gagal dalam mendidik karakter anak-anaknya entah karena kesibukan atau karena lebih mementingkan aspek kognitif anak.
Namun ini semua dapat dikoreksi dengan memberikan pendidikan karakter di sekolah. Namun masalahnya, kebijakan pendidikan di Indonesia juga lebih mementingkan aspek kecerdasan otak, dan hanya baru-baru ini saja pentingnya pendidikan budi pekerti menjadi bahan pembicaraan ramai. Ada yang mengatakan bahwa kurikulum pendidikan di Indonesia dibuat hanya cocok untuk diberikan pada 10-20 persen otak-otak terbaik. Artinya sebagian besar anak sekolah (80-90 persen) tidak dapat mengikuti kurikulum pelajaran di sekolah. Akibatnya sejak usia dini, sebagian besar anak-anak akan merasa “bodoh” karena kesulitan menyesuaikan dengan kurikulum yang ada. Ditambah lagi dengan adanya sistem ranking yang telah “memvonis” anak-anak yang tidak masuk “10 besar”, sebagai anak yang kurang pandai.
Sistem seperti ini tentunya berpengaruh negatif terhadap usaha membangun karakter, dimana sejak dini anak-anak justru sudah “dibunuh” rasa percaya dirinya. Rasa tidak mampu yang berkepanjangan yang akan membentuk pribadi yang tidak percaya diri, akan menimbulkan stress berkepanjangan. Pada usia remaja biasanya keadaan ini akan mendorong remaja berperilaku negatif. Maka, tidak heran kalau kita lihat perilaku remaja kita yang senang tawuran, terlibat kriminalitas, putus sekolah, dan menurun-nya mutu lulusan SMP dan SMU. Jadi, pendidikan karakter atau budi pekerti plus adalah suatu yang urgent untuk dilakukan. Kalau kita peduli untuk meningkatkan mutu lulusan SD, SMP dan SMU, maka tanpa pendidikan karakter adalah usaha yang sia-sia. Kami ingin mengutip kata-kata bijak dari pemikir besar dunia. Mahatma Gandhi memperingatkan tentang salah satu tujuh dosa fatal, yaitu “education without character”(pendidikan tanpa karakter).
Dr. Martin Luther King juga pernah berkata: “Intelligence plus character… that is the goal of true education” (Kecerdasan plus karakter…itu adalah tujuan akhir dari pendidikan sebenarnya). Juga Theodore Roosevelt yang mengatakan: “To educate a person in mind and not in morals is to educate a menace to society” (Mendidik seseorang dalam aspek kecerdasan otak dan bukan aspek moral adalah ancaman mara-bahaya kepada masyarakat).
Kamis, 06 Mei 2010
BERILAH ANAK KESEMPATAN UNTUK BICARA TENTANG DIRINYA
BERILAH ANAK KESEMPATAN UNTUK BICARA TENTANG DIRINYA
Kholifatul Azizah, S.Pd.I.
Bayangkan kalau anda adalah seorang anak kecil yang pulang dari sekolah dengan perasaan riang gembira. Anda masuk ke dalam rumah dan menemukan kedua orang tua anda. Anda pun dengan semangat bercerita kepadanya tentang apa yang terjadi di sekolah tadi, atau pada saat di jalan sepulang dari sekiolah, tapi kemudian orang tua anda memotong cerita anda dan mengatakan, “Tangan kamu kotor, pergi dulu dan cuci tanganmu terus kembali kesini lagi meneruskan ceritamu.”
Tentu perkataan seperti ini akan membuat anda frustasi, hal inilah yang sering kita lakukan kepada anak-anak kita. Kita tidak merasa bahwa kita telah membuat mereka frustasi, atau kita telah memutuskan rasa kangen meraka kepada kita, atau memutuskan pembicaraan mereka dengan kita. Belajarlah untuk mendengarkan anak anda. Biarkan dia melengkapi ceritanya. Sampai akhir, kemudian berilah komentar yang baik dan berilah dia izin untuk mencuci tangan atau kakinya.
Kita harus memberikan kesempatan kepada anak-anak kita untuk berbicara dengan kita, walaupun terkadang pembiacaraan mereka sangat membosankan dan terkesan diulang-ulang. Tetapi dengan memberikan kesempatan kepada mereka untuk mengekspresikan apa yang ada di dalam diri mereka, maka ini adalah faktor yang penting demi pertumbuhan jiwa dan moralnya.
Jika anda sangat sibuk atau di tangan anda ada sesuatu yang penting, yang tidak bisa disatukan dengan mendengarkan pembicaraan anak anda secara baik dan kemudian melanjutkan pekerjaan anda, maka berilah pemahaman dengan tenang kepadanya, bahwa anda sekarang sedang sangat sibuk dan tidak bisa mendengarkan pembicaraannya pada waktu itu. Katakan padanya, bahwa insyaAllah sebentar lagi anda akan mendengarkannya setelah menyelesaikan pekerjaan anda ini. Jadilah ucapan ini sebagai janji anda kepadanya.
Kholifatul Azizah, S.Pd.I.
Bayangkan kalau anda adalah seorang anak kecil yang pulang dari sekolah dengan perasaan riang gembira. Anda masuk ke dalam rumah dan menemukan kedua orang tua anda. Anda pun dengan semangat bercerita kepadanya tentang apa yang terjadi di sekolah tadi, atau pada saat di jalan sepulang dari sekiolah, tapi kemudian orang tua anda memotong cerita anda dan mengatakan, “Tangan kamu kotor, pergi dulu dan cuci tanganmu terus kembali kesini lagi meneruskan ceritamu.”
Tentu perkataan seperti ini akan membuat anda frustasi, hal inilah yang sering kita lakukan kepada anak-anak kita. Kita tidak merasa bahwa kita telah membuat mereka frustasi, atau kita telah memutuskan rasa kangen meraka kepada kita, atau memutuskan pembicaraan mereka dengan kita. Belajarlah untuk mendengarkan anak anda. Biarkan dia melengkapi ceritanya. Sampai akhir, kemudian berilah komentar yang baik dan berilah dia izin untuk mencuci tangan atau kakinya.
Kita harus memberikan kesempatan kepada anak-anak kita untuk berbicara dengan kita, walaupun terkadang pembiacaraan mereka sangat membosankan dan terkesan diulang-ulang. Tetapi dengan memberikan kesempatan kepada mereka untuk mengekspresikan apa yang ada di dalam diri mereka, maka ini adalah faktor yang penting demi pertumbuhan jiwa dan moralnya.
Jika anda sangat sibuk atau di tangan anda ada sesuatu yang penting, yang tidak bisa disatukan dengan mendengarkan pembicaraan anak anda secara baik dan kemudian melanjutkan pekerjaan anda, maka berilah pemahaman dengan tenang kepadanya, bahwa anda sekarang sedang sangat sibuk dan tidak bisa mendengarkan pembicaraannya pada waktu itu. Katakan padanya, bahwa insyaAllah sebentar lagi anda akan mendengarkannya setelah menyelesaikan pekerjaan anda ini. Jadilah ucapan ini sebagai janji anda kepadanya.
TUJUAN DAN PRINSIP PENDIDIKAN ANAK PRA-SEKOLAH
TUJUAN DAN PRINSIP PENDIDIKAN ANAK PRA-SEKOLAH
Kholifatul Azizah, S.Pd.I.
IDE PERMASALAHAN
Lembaga Taman Kanak-kanak (TK), meskipun sebagai lembaga pendidikan formal, sangat berbeda dengan lembaga pendikan SD, SMP, dan seterusnya. Dari nama lembaganya, yakni “taman” bukan “sekolah”. Sebutan “Taman” pada Taman Kanak-kanak mengandung makna “tempat yang aman dan nyaman (safe and comfortable) untuk bermain” sehingga pelaksanaan pendidikan di TK harus mampu menciptakan lingkungan bermain yang aman dan nyaman sebagai wahana tumbuh kembang anak. Oleh karena itu, guru harus memperhatikan tahap tumbuh kembang anak didik, kesesuaian dan keamanan alat dan sarana bermain, serta metode yang digunakan dengan mempertimbangkan waktu, tempat, serta teman bermain.
JENJANG PENDIDIKAN TK
Anak yang dapat ditampung di TK adalah usia 4–6 tahun dengan lama Pendidikan 1 atau 2 tahun. Dan, pendidikan dikelompokkan menjadi dua yaitu kelompok A bagi anak usia 4–5 tahun dan kelompok B untuk anak usia 5–6 tahun. Pengelompokan ini bukan merupakan jenjang yang harus diikuti oleh setiap anak didik. Dengan kata lain, bahwa setiap anak didik dapat berada selama 1 (satu) tahun pada Kelompok A atau Kelompok B, atau selama 2 (dua) tahun pada Kelompok A dan Kelompok B.
TUJUAN PENDIDIKAN TK
a) Membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut (Pasal 1.14 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003);
b) Mengembangkan kepribadian dan potensi diri sesuai dengan tahap perkembangan peserta didik (Penjelasan Pasal 28 ayat 3 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003);
c) Membantu meletakkan dasar ke arah perkembangan sikap, pengetahuan, keterampilan, dan daya cipta yang diperlukan oleh anak didik dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya dan untuk pertumbuhan serta perkembangan selanjutnya (Pasal 3 Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 1990).
PRINSIP PENDIDIKAN TK
Berdasarkan Surat Edaran Mandikdasmen Depdiknas Nomor 1839/C.C2/TU/2009, Pelaksanaan pendidikan di TK menganut prinsip: ”Bermain sambil Belajar dan Belajar seraya Bermain”. Bermain merupakan cara terbaik untuk mengembangkan potensi anak didik. Sebelum bersekolah, bermain merupakan cara alamiah untuk menemukan lingkungan, orang lain dan dirinya sendiri.
Melalui pendekatan bermain, anak-anak dapat mengembangkan aspek psikis dan fisik yang meliputi moral dan nilai-nilai agama, sosial emosional, kognitif, bahasa, fisik/motorik, kemandirian dan seni. Pada prinsipnya bermain mengandung makna yang menyenangkan, mengasikkan, tanpa ada paksaan dari luar diri anak, dan lebih mementingkan proses mengeksplorasi potensi diri daripada hasil akhir. Pendekatan bermain sebagai metode pembelajaran di TK hendaknya disesuaikan dengan perkembangan usia dan kemampuan anak didik, yaitu secara berangsur-angsur dikembangkan dari bermain sambil belajar (unsur bermain lebih dominan) menjadi belajar seraya bermain (unsur belajar mulai dominan). Dengan demikian anak didik tidak merasa canggung menghadapi pendekatan pembelajaran pada jenjang pendidikan selanjutnya;
LARANGAN
Anak TK, sesuai dengan kondisi perkembangan dan pertumbuhannya, tidak boleh diberi pekerjaan rumah (PR). Dan, saat tamat pendidikan jenjang terakhir (kelompok B) tidak boleh diadakan kegiatan seremonial yang tak sesuai dengan prinsip pendidikan TK.
Pada usia 4 s.d 6 tahun, kebutuhan anak untuk bermain dan bersosialisasi lebih penting dibandingkan dengan kemampuan skolastik. Oleh karena itu, pendidikan di TK tidak diperkenankan memberikan pekerjaan rumah (PR) kepada anak didik dalam bentuk apapun.
Perpisahan TK seyogianya dimanfaatkan untuk menjalin komunikasi dan menciptakan lingkungan yang mendukung bagi tumbuh kembang anak. Perpisahan hendaknya dimanfaatkan sebagai media silaturahmi antara anak didik, guru, orang tua dan masyarakat. Perpisahan bukan untuk meningkatkan prestise TK maupun orang tua. Oleh karena itu kegiatan seremonial seperti wisuda dengan menggunakan toga tidak perlu dilakukan.
Bagi yayasan penyelenggara pendidikan TK, guru, dan pihak yang terkait dengan pendidikan TK sebaiknya memahami Petunjuk Penyelenggaraan Pendidikan TK yang secara lengkap terdapat pada SE Dirjen Mandikdasmen Nomor 1839/C.C2/TU/2009; tanggal 23 April 2009.
Semoga artikel sederhana ini bermanfaat dalam upaya pembinaan dan peningkatan penyelenggaran pendidikan TK. Harapannya, pendidikan TK benar-benar berfungsi sebagai “taman” yang menyenangkan dan ceria yang memberi dan mengarahkan pribadi anak baik psikologis, sosial, kecerdasan, dan keterampilan.
***
Kholifatul Azizah, S.Pd.I.
IDE PERMASALAHAN
Lembaga Taman Kanak-kanak (TK), meskipun sebagai lembaga pendidikan formal, sangat berbeda dengan lembaga pendikan SD, SMP, dan seterusnya. Dari nama lembaganya, yakni “taman” bukan “sekolah”. Sebutan “Taman” pada Taman Kanak-kanak mengandung makna “tempat yang aman dan nyaman (safe and comfortable) untuk bermain” sehingga pelaksanaan pendidikan di TK harus mampu menciptakan lingkungan bermain yang aman dan nyaman sebagai wahana tumbuh kembang anak. Oleh karena itu, guru harus memperhatikan tahap tumbuh kembang anak didik, kesesuaian dan keamanan alat dan sarana bermain, serta metode yang digunakan dengan mempertimbangkan waktu, tempat, serta teman bermain.
JENJANG PENDIDIKAN TK
Anak yang dapat ditampung di TK adalah usia 4–6 tahun dengan lama Pendidikan 1 atau 2 tahun. Dan, pendidikan dikelompokkan menjadi dua yaitu kelompok A bagi anak usia 4–5 tahun dan kelompok B untuk anak usia 5–6 tahun. Pengelompokan ini bukan merupakan jenjang yang harus diikuti oleh setiap anak didik. Dengan kata lain, bahwa setiap anak didik dapat berada selama 1 (satu) tahun pada Kelompok A atau Kelompok B, atau selama 2 (dua) tahun pada Kelompok A dan Kelompok B.
TUJUAN PENDIDIKAN TK
a) Membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut (Pasal 1.14 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003);
b) Mengembangkan kepribadian dan potensi diri sesuai dengan tahap perkembangan peserta didik (Penjelasan Pasal 28 ayat 3 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003);
c) Membantu meletakkan dasar ke arah perkembangan sikap, pengetahuan, keterampilan, dan daya cipta yang diperlukan oleh anak didik dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya dan untuk pertumbuhan serta perkembangan selanjutnya (Pasal 3 Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 1990).
PRINSIP PENDIDIKAN TK
Berdasarkan Surat Edaran Mandikdasmen Depdiknas Nomor 1839/C.C2/TU/2009, Pelaksanaan pendidikan di TK menganut prinsip: ”Bermain sambil Belajar dan Belajar seraya Bermain”. Bermain merupakan cara terbaik untuk mengembangkan potensi anak didik. Sebelum bersekolah, bermain merupakan cara alamiah untuk menemukan lingkungan, orang lain dan dirinya sendiri.
Melalui pendekatan bermain, anak-anak dapat mengembangkan aspek psikis dan fisik yang meliputi moral dan nilai-nilai agama, sosial emosional, kognitif, bahasa, fisik/motorik, kemandirian dan seni. Pada prinsipnya bermain mengandung makna yang menyenangkan, mengasikkan, tanpa ada paksaan dari luar diri anak, dan lebih mementingkan proses mengeksplorasi potensi diri daripada hasil akhir. Pendekatan bermain sebagai metode pembelajaran di TK hendaknya disesuaikan dengan perkembangan usia dan kemampuan anak didik, yaitu secara berangsur-angsur dikembangkan dari bermain sambil belajar (unsur bermain lebih dominan) menjadi belajar seraya bermain (unsur belajar mulai dominan). Dengan demikian anak didik tidak merasa canggung menghadapi pendekatan pembelajaran pada jenjang pendidikan selanjutnya;
LARANGAN
Anak TK, sesuai dengan kondisi perkembangan dan pertumbuhannya, tidak boleh diberi pekerjaan rumah (PR). Dan, saat tamat pendidikan jenjang terakhir (kelompok B) tidak boleh diadakan kegiatan seremonial yang tak sesuai dengan prinsip pendidikan TK.
Pada usia 4 s.d 6 tahun, kebutuhan anak untuk bermain dan bersosialisasi lebih penting dibandingkan dengan kemampuan skolastik. Oleh karena itu, pendidikan di TK tidak diperkenankan memberikan pekerjaan rumah (PR) kepada anak didik dalam bentuk apapun.
Perpisahan TK seyogianya dimanfaatkan untuk menjalin komunikasi dan menciptakan lingkungan yang mendukung bagi tumbuh kembang anak. Perpisahan hendaknya dimanfaatkan sebagai media silaturahmi antara anak didik, guru, orang tua dan masyarakat. Perpisahan bukan untuk meningkatkan prestise TK maupun orang tua. Oleh karena itu kegiatan seremonial seperti wisuda dengan menggunakan toga tidak perlu dilakukan.
Bagi yayasan penyelenggara pendidikan TK, guru, dan pihak yang terkait dengan pendidikan TK sebaiknya memahami Petunjuk Penyelenggaraan Pendidikan TK yang secara lengkap terdapat pada SE Dirjen Mandikdasmen Nomor 1839/C.C2/TU/2009; tanggal 23 April 2009.
Semoga artikel sederhana ini bermanfaat dalam upaya pembinaan dan peningkatan penyelenggaran pendidikan TK. Harapannya, pendidikan TK benar-benar berfungsi sebagai “taman” yang menyenangkan dan ceria yang memberi dan mengarahkan pribadi anak baik psikologis, sosial, kecerdasan, dan keterampilan.
***
Arti Penting Keteladanan dalam Pendidikan Anak
Arti Penting Keteladanan dalam Pendidikan Anak
Oleh : Kholifatul Azizah, S.Pd.I.
Setiap org memiliki ke-Khasan, karenanya seseorg tetaplah mesti jd diri sendiri & semakin menjd baik. Sesungguhnya fase kanak-kanak merupakan fase yang paling cocok, paling panjang, dan paling penting bagi seorang pendidik menanamkan prinsip-prinsip yang lurus dan pengarahan yang benar ke dalam jiwa dan perilaku anak-anaknya. Kesempatan untuk itu terbuka lebar. Segala sarana dan prasarana juga mendukung, mengingat pada fase ini anak-anak masih memiliki fitrah yang suci, jiwa yang bersih, bakat yang jernih, dan hati belum terkontaminasi debu dosa dan kemaksiatan.
Keluarga mempunyai peranan penting dalam pendidikan, baik dalam lingkungan masyarakat Islam maupun non-Islam. Karena keluarga merupakan tempat pertumbuhan anak yang pertama di mana dia mendapatkan pengaruh dari anggota-anggotanya pada masa yang paling penting dan paling kritis dalam pendidikan anak, yaitu tahun-tahun pertama dalam kehidupannya (usia pra-sekolah). Sebab pada masa tersebut apa yang ditanamkan dalam diri anak akan sangat membekas, sehingga tak mudah hilang atau berubah sesudahnya.
Anak merupakan amanah bagi orang tua. Hatinya yang suci merupakan permata alami yang bersih dari pahatan dan bentukan, dia siap diberi pahatan apapun dan condong pada apa saja yang disodorkan kepadanya. Jika dibiasakan dan diajarkan kebaikan, dia akan tumbuh dalam kebaikan, dan berbahagialah kedua orangtuanya di dunia dan akhirat, juga pendidik dan gurunya. Tetapi, jika ia dibiasakan kejelekan dan dibiarkan sebagaimana binatang ternak, niscaya akan menjadi jahat dan binasa. Dosanya pun ditanggung oleh guru dan walinya.
Mendidik dan mengajar anak termasuk hal-hal yang asasi dan wajib dilaksanakan setiap muslim yang komit kepada agama yang hanif (lurus) ini. Mendidik dan mengajar anak merupakan perintah dari Allah yang Maha Tinggi lagi Maha Agung. Allah swt. berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya (terdiri dari ) manusia dan batu...” (QS. At-Tahrim : 6)
Saat ini anak-anak mengalami krisis keteladanan. Hal ini terjadi karena sedikitnya media masa yang mengangkat tema tokoh-tokoh teladan bagi anak-anak. Tayangan-tayangan televisi misalnya, didominasi acara hiburan dalam berbagai variasinya, acara sinetron atau infotainment tidak diharapkan memberikan contoh kehidupan Islami secara utuh. Sementara itu porsi penanaman akhlak mulia melalui contoh pribadi teladan pada pelajaran-pelajaran keislaman di sekolah juga masih rendah.
Dalam kondisi krisis keteladanan ini, keluarga menjadi basis penting bagi anak untuk menemukan keteladanan. Maka, orang tua sudah selayaknya menjadi figur pertama bagi anak untuk memenuhi kebutuhan ini. Untuk itu ada kiat-kiat yang bisa dilakukan oleh orang tua agar menjadi pribadi teladan dalam proses pembentukan akhlak Islami pada anak.
Pertama, orang tua hendaklah mengenalkan tokoh-tokoh teladan dalam Islam. Yaitu dengan banyak membaca sirah Nabi Muhammad saw. dan juga profil orang-orang shalih. Internalisasi bacaan ini akan membentuk pribadi berakhlak terpuji, sehingga pantas menjadi salah satu panutan bagi anak. Bacaan ini juga sekaligus menjadi pengetahuan untuk diajarkan kepada anak-anak.
Kedua, menghargai nasihat dan kebenaran meskipun dari seorang anak kecil. Pada masa kejayaan peradaban Islam banyak kisah tentang kedudukan anak-anak yang dihormati pemimpin saat itu. Akar dari kondisi ini adalah didikan dari Rasulullah saw. terhadap para sahabat. Ibnu Mas’ud pernah dinasihati beliau dengan kalimat, “Sembahlah Allah dan jangan kau sekutukan dengan yang lain. Berjalanlah kamu bersama Al-Qur’an di mana pun kamu berada. Terimalah kebenaran dari siapapun, baik dari anak kecil ataupun dari orang dewasa, meskipun ia adalah orang jauh yang kamu benci. Dan tolaklah kebatilan dari siapapun, baik dari anak kecil atau orang dewasa, meskipun itu adalah orang dekat yang kamu cintai.” (h.r. Abnu Asaakir dan Ad-Dailami).
Ketiga, mengajak dan mendorong anak untuk membaca kisah-kisah orang teladan. Orang tua berperan memilihkan buku yang menarik dan sesuai dengan perkembangan kejiwaan dan pemikiran anak. Untuk anak yang telah menginjak usia remaja, orang tua dapat berdiskusi dengan mereka dalam memilih buku-buku yang menjadi minat mereka.
Keempat, mengajak anak berkesempatan berdialog dengan orang-orang shalih. Banyak riwayat menceritakan bahwa para sahabat mengajak anak-anak mereka untuk berjumpa dengan Nabi Muhammad saw. hadits yang berbunyi, “Wahai nak, sebutlah nama Allah, lalu makanlah makanan yang dekat denganmu....” (h.r. Bukhari) disampaikan Rasulullah saw. kepada anak seorang sahabatnya yang diajak berkunjung kepada beliau oleh ayahnya.
Kelima, pada fase pembiasaan (terutama untuk anak usia balita), orang tua hendaknya termotivasi untuk senantiasa merujuk kepada perilaku Rasulullah saw. ketika membetulkan sikap atau perilaku yang keliru dari anak.
Keenam, pada fase remaja, orang tua hendaklah mengalokasikan waktu dialog dengan mereka tentang kondisi ideal yang diharapkan ada pada mereka. Suasana dialog juga dipilih agar mereka nyaman dalam mencerna nilai-nilai yang hendak ditanamkan.
Ketujuh, mengirimkan anak-anak ke sekolah-sekolah yang memiliki pendidik berakhlak mulia serta memiliki ilmu yang berkualitas, sehingga kepribadian anak-anak terbina dengan baik.
Kedelapan, selain kepada Nabi Muhammad saw, yang memang menjadi contoh manusia berakhlak paling mulia, pengambilan contoh keteladanan kepada siapapun bukanlah peleburan kepribadian (meniru keseluruhan).
Setiap orang memiliki kekhasan, karenanya seseorang tetaplah mesti menjadi diri sendiri dan menjadi pribadi yang semakin hari semakin baik. Karenanya ketika mengarahkan anak untuk meneladani seseorang, orang tua pun hendaknya tetap mendorong anak untuk tetap menjadi dirinya sendiri.
Semoga Allah mencurahkan rahmat dan kasih sayang-Nya kepada Nabi kita Muhammad saw., seorang guru dan pribadi yang amat lemah lembut, yang banyak memberi teladan yang baik kepada umat Islam.
---------------------------------------------------
REFERENSI :
Tumbuh di bawah Naungan Ilahi, by Syaikh Jamal Abdul Rahman. Penerbit: Media Hidayah, Tahun 2002.
Arti Penting Keteladanan dalam Pendidikan Anak, by Ustd. Adi Junjunan Mustafa.
Pendidikan Anak dalam Islam, by Yusuf Muhammad Al-Hasan.
Oleh : Kholifatul Azizah, S.Pd.I.
Setiap org memiliki ke-Khasan, karenanya seseorg tetaplah mesti jd diri sendiri & semakin menjd baik. Sesungguhnya fase kanak-kanak merupakan fase yang paling cocok, paling panjang, dan paling penting bagi seorang pendidik menanamkan prinsip-prinsip yang lurus dan pengarahan yang benar ke dalam jiwa dan perilaku anak-anaknya. Kesempatan untuk itu terbuka lebar. Segala sarana dan prasarana juga mendukung, mengingat pada fase ini anak-anak masih memiliki fitrah yang suci, jiwa yang bersih, bakat yang jernih, dan hati belum terkontaminasi debu dosa dan kemaksiatan.
Keluarga mempunyai peranan penting dalam pendidikan, baik dalam lingkungan masyarakat Islam maupun non-Islam. Karena keluarga merupakan tempat pertumbuhan anak yang pertama di mana dia mendapatkan pengaruh dari anggota-anggotanya pada masa yang paling penting dan paling kritis dalam pendidikan anak, yaitu tahun-tahun pertama dalam kehidupannya (usia pra-sekolah). Sebab pada masa tersebut apa yang ditanamkan dalam diri anak akan sangat membekas, sehingga tak mudah hilang atau berubah sesudahnya.
Anak merupakan amanah bagi orang tua. Hatinya yang suci merupakan permata alami yang bersih dari pahatan dan bentukan, dia siap diberi pahatan apapun dan condong pada apa saja yang disodorkan kepadanya. Jika dibiasakan dan diajarkan kebaikan, dia akan tumbuh dalam kebaikan, dan berbahagialah kedua orangtuanya di dunia dan akhirat, juga pendidik dan gurunya. Tetapi, jika ia dibiasakan kejelekan dan dibiarkan sebagaimana binatang ternak, niscaya akan menjadi jahat dan binasa. Dosanya pun ditanggung oleh guru dan walinya.
Mendidik dan mengajar anak termasuk hal-hal yang asasi dan wajib dilaksanakan setiap muslim yang komit kepada agama yang hanif (lurus) ini. Mendidik dan mengajar anak merupakan perintah dari Allah yang Maha Tinggi lagi Maha Agung. Allah swt. berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya (terdiri dari ) manusia dan batu...” (QS. At-Tahrim : 6)
Saat ini anak-anak mengalami krisis keteladanan. Hal ini terjadi karena sedikitnya media masa yang mengangkat tema tokoh-tokoh teladan bagi anak-anak. Tayangan-tayangan televisi misalnya, didominasi acara hiburan dalam berbagai variasinya, acara sinetron atau infotainment tidak diharapkan memberikan contoh kehidupan Islami secara utuh. Sementara itu porsi penanaman akhlak mulia melalui contoh pribadi teladan pada pelajaran-pelajaran keislaman di sekolah juga masih rendah.
Dalam kondisi krisis keteladanan ini, keluarga menjadi basis penting bagi anak untuk menemukan keteladanan. Maka, orang tua sudah selayaknya menjadi figur pertama bagi anak untuk memenuhi kebutuhan ini. Untuk itu ada kiat-kiat yang bisa dilakukan oleh orang tua agar menjadi pribadi teladan dalam proses pembentukan akhlak Islami pada anak.
Pertama, orang tua hendaklah mengenalkan tokoh-tokoh teladan dalam Islam. Yaitu dengan banyak membaca sirah Nabi Muhammad saw. dan juga profil orang-orang shalih. Internalisasi bacaan ini akan membentuk pribadi berakhlak terpuji, sehingga pantas menjadi salah satu panutan bagi anak. Bacaan ini juga sekaligus menjadi pengetahuan untuk diajarkan kepada anak-anak.
Kedua, menghargai nasihat dan kebenaran meskipun dari seorang anak kecil. Pada masa kejayaan peradaban Islam banyak kisah tentang kedudukan anak-anak yang dihormati pemimpin saat itu. Akar dari kondisi ini adalah didikan dari Rasulullah saw. terhadap para sahabat. Ibnu Mas’ud pernah dinasihati beliau dengan kalimat, “Sembahlah Allah dan jangan kau sekutukan dengan yang lain. Berjalanlah kamu bersama Al-Qur’an di mana pun kamu berada. Terimalah kebenaran dari siapapun, baik dari anak kecil ataupun dari orang dewasa, meskipun ia adalah orang jauh yang kamu benci. Dan tolaklah kebatilan dari siapapun, baik dari anak kecil atau orang dewasa, meskipun itu adalah orang dekat yang kamu cintai.” (h.r. Abnu Asaakir dan Ad-Dailami).
Ketiga, mengajak dan mendorong anak untuk membaca kisah-kisah orang teladan. Orang tua berperan memilihkan buku yang menarik dan sesuai dengan perkembangan kejiwaan dan pemikiran anak. Untuk anak yang telah menginjak usia remaja, orang tua dapat berdiskusi dengan mereka dalam memilih buku-buku yang menjadi minat mereka.
Keempat, mengajak anak berkesempatan berdialog dengan orang-orang shalih. Banyak riwayat menceritakan bahwa para sahabat mengajak anak-anak mereka untuk berjumpa dengan Nabi Muhammad saw. hadits yang berbunyi, “Wahai nak, sebutlah nama Allah, lalu makanlah makanan yang dekat denganmu....” (h.r. Bukhari) disampaikan Rasulullah saw. kepada anak seorang sahabatnya yang diajak berkunjung kepada beliau oleh ayahnya.
Kelima, pada fase pembiasaan (terutama untuk anak usia balita), orang tua hendaknya termotivasi untuk senantiasa merujuk kepada perilaku Rasulullah saw. ketika membetulkan sikap atau perilaku yang keliru dari anak.
Keenam, pada fase remaja, orang tua hendaklah mengalokasikan waktu dialog dengan mereka tentang kondisi ideal yang diharapkan ada pada mereka. Suasana dialog juga dipilih agar mereka nyaman dalam mencerna nilai-nilai yang hendak ditanamkan.
Ketujuh, mengirimkan anak-anak ke sekolah-sekolah yang memiliki pendidik berakhlak mulia serta memiliki ilmu yang berkualitas, sehingga kepribadian anak-anak terbina dengan baik.
Kedelapan, selain kepada Nabi Muhammad saw, yang memang menjadi contoh manusia berakhlak paling mulia, pengambilan contoh keteladanan kepada siapapun bukanlah peleburan kepribadian (meniru keseluruhan).
Setiap orang memiliki kekhasan, karenanya seseorang tetaplah mesti menjadi diri sendiri dan menjadi pribadi yang semakin hari semakin baik. Karenanya ketika mengarahkan anak untuk meneladani seseorang, orang tua pun hendaknya tetap mendorong anak untuk tetap menjadi dirinya sendiri.
Semoga Allah mencurahkan rahmat dan kasih sayang-Nya kepada Nabi kita Muhammad saw., seorang guru dan pribadi yang amat lemah lembut, yang banyak memberi teladan yang baik kepada umat Islam.
---------------------------------------------------
REFERENSI :
Tumbuh di bawah Naungan Ilahi, by Syaikh Jamal Abdul Rahman. Penerbit: Media Hidayah, Tahun 2002.
Arti Penting Keteladanan dalam Pendidikan Anak, by Ustd. Adi Junjunan Mustafa.
Pendidikan Anak dalam Islam, by Yusuf Muhammad Al-Hasan.
ANAK KORBAN ORANG TUA AMBISIUS
ANAK KORBAN ORANG TUA AMBISIUS (PUSH PARENTING)
DAN KONSELING TERHADAPNYA
Oleh : KHOLIFATUL AZIZAH, S.Pd.I.
Kepala RA dan Pemerhati Pendidikan Anak Usia Prasekolah
PENDAHULUAN
Manusia selalu berusaha mengikuti segala macam tren yang sedang berkembang di masyarakat sekitarnya. Mulai dari model potongan rambut sampai dengan warna lipstik. Mulai dari gaya arsitektur rumah sampai dengan jenis variasi asesoris handphone. Tidak ketinggalan model pengasuhan anak (parenting) juga mempunyai tren tersendiri.
Menciptakan anak yang “sempurna” menjadi salah satu agenda terpenting kebanyakan orang tua zaman sekarang. Anak-anak mereka harus menjadi yang terbaik dan kalau memungkinkan dalam segala hal. Para orang tua berusaha ekstra keras agar anak-anak mereka dapat dikategorikan sebagai anak-anak “kelas atas,” bukan anak-anak “kelas menengah” apalagi “kelas bawah.” Itulah ambisi kebanyakan orang tua zaman sekarang. Dalam upaya membentuk anak seperti itu, mau tidak mau model pengasuhan yang diberlakukan juga harus khusus. Bukan masanya lagi, menurut kebanyakan orang tua, anak-anak dibiarkan untuk terlalu banyak bermain dan menghabiskan waktu bersama dengan teman-temannya. Kalau anak-anak sekarang diizinkan untuk terlalu santai maka mereka akan ketinggalan jauh di belakang dan masa depan mereka akan suram.
Anak-anak masih belum tahu apa yang terbaik yang harus mereka lakukan demi masa depan mereka. Karena itu sangat penting bagi para orang tua untuk mempersiapkan anak-anak mereka sebaik dan setepat mungkin. Salah satunya adalah dengan mengarahkan dan menuntut mereka untuk menjadi yang terbaik dalam segala hal, hanya demi masa depan mereka. Seperti itulah pendapat umum orang tua zaman sekarang.
Ambisi orang tua yang melahirkan begitu banyak dan tingginya tuntutan bagi anak-anak akan berdampak dalam kehidupan anak-anak tersebut. Beberapa waktu yang lalu di salah satu stasiun televisi swasta nasional pernah ditayangkan sebuah iklan tentang seorang anak laki-laki sedang mengenakan seragam sekolah dasar dan menunjukkan ekspresi wajah tertekan. Intinya iklan tersebut ingin menyadarkan masyarakat bahwa bukan hanya orang-orang dewasa yang bisa mengalami stres, anak-anak kecil pun bisa mengalaminya.
Dunia anak-anak yang seharusnya penuh dengan tawa dan keceriaan, bisa berubah menjadi penuh tekanan. Salah satu penyebabnya adalah ambisi orang tua bahwa anak-anak mereka harus “sempurna,” sehingga menuntut anak secara berlebihan dalam berprestasi.
Berikut ini merupakan contoh kasus seorang anak berusia 8 tahun yang dibawa orang tuanya menemui konselor untuk mendapatkan pertolongan:
Hary adalah seorang siswa kelas 2 SD di sebuah sekolah favorit di kotanya. Hani, kakak Hary juga bersekolah di sekolah yang sama, kelas 5 SD. Orang tua mereka bersedia mengeluarkan biaya sekolah yang sangat besar demi anak-anak mereka bisa diterima dan bersekolah di sana. Dengan bangganya mereka akan memberitahukan bahwa anak-anak mereka bersekolah di sana ketika ada yang menanyakan hal itu. Setelah pulang sekolah, sekitar pukul 3 sore, hampir setiap hari, kecuali hari Rabu, Sabtu, dan Minggu, Hary dan Hani harus mengikuti berbagai kursus lainnya yang ditentukan oleh orang tua mereka. Menurut orang tuanya, sudah beberapa hari ini Hary ngambek tidak mau ke sekolah. Ketika ditanya orang tuanya, Hary tetap diam, tidak mau menjawab. Memang sudah sejak beberapa bulan yang lalu, semenjak sekolah Hary menerapkan program full day school, Hary terlihat sering marah-marah, mudah tersinggung, malas ke sekolah dengan berbagai alasan, dan kalau berangkat ke sekolah rasanya berat sekali. Orang tua Hary kebingungan karena tidak seperti biasanya Hary bersikap demikian. Melalui konseling, akhirnya bisa dipastikan bahwa Hary merasa tertekan karena tuntutan orang tuanya yang terlalu berlebihan. Hary harus menjadi yang terbaik dalam segala hal. Beberapa kali Hary pernah mengeluhkan hal itu kepada orang tuanya, tetapi sambil disertai dengan omelan, selalu dijawab bahwa semua tuntutan itu demi masa depannya. Karena itu akhirnya Hary memilih diam saja ketika ditanya mengapa dia tidak mau ke sekolah.
Gaya pengasuhan yang diterapkan orang tua Hary dalam contoh kasus di atas disebut push parenting, yaitu gaya pengasuhan yang terlalu menuntut.
Dalam artikel ini akan dibahas tentang seluk-beluk push parenting yang sekarang ini sedang menjadi tren. Mengapa banyak orang tua yang menerapkan gaya pengasuhan seperti ini terhadap anak-anak mereka? Apa dampak-dampak pola pengasuhan ini bagi perkembangan anak dalam multi dimensional, dan bagaimana menolong anak-anak yang sedang mengalami kondisi tertekan seperti itu dalam konteks konseling? Diharapkan artikel ini bukan hanya dapat menjadi masukan bagi para konselor anak, tetapi juga dapat menggugah hati para orang tua yang sungguh-sungguh mengasihi anak-anak mereka.
CURRICULUM VITAE YANG MENGESANKAN
Menurut kebanyakan orang tua, di tengah-tengah zaman yang super kompetitif ini, diperlukan anak-anak yang memiliki kompetensi yang super juga. Karena itu, bagi para orang tua yang berpandangan seperti itu, push parenting adalah wajar untuk diterapkan oleh setiap orang tua dalam mendidik anak-anak mereka.
Elisabeth Guthrie dan Kathy Matthews dalam buku yang mereka tulis tentang topik ini menjelaskan beberapa ciri perilaku yang menjadi tanda dari push parenting:
1. Mengatur nyaris setiap menit hidup anaknya dengan kursus-kursus, program sosialisasi, dan kegiatan-kegiatan “pengayaan” lainnya.
2. Menuntut prestasi tinggi di sekolah dan di berbagai bidang lain, nyaris dengan segala cara (emosional, psikologis, fisik, dan dana).
3. Menekan anak memilih kursus, pelatihan, atau minat lebih untuk tujuan membuat CV (Curriculum Vitae) atau Daftar Riwayat Hidup yang mengesankan daripada untuk memenuhi rasa ingin tahu yang alamiah dan minat pribadi.
4. Mencampuri persahabatan dan hubungan anak dengan guru dan pelatihnya.
Para orang tua yang menerapkan push parenting berasumsi bahwa anakanak tidak akan berhasil dalam kehidupan mereka kelak, kalau orang tua tidak “membantu” mereka sepenuhnya.2 Anak-anak sama sekali tidak mampu memutuskan sendiri pilihan yang bertanggung jawab demi masa depan mereka.
Karena itu orang tualah yang harus memilih buat mereka dan mereka harus mengikutinya, walaupun dengan kondisi terpaksa.
Menurut Jack dan Judith Balswick, berdasarkan pendekatan socioemotional dikenal empat gaya pengasuhan anak, yaitu:
(1) neglectful parenting, gaya pengasuhan yang lemah dalam dukungan maupun pengawasan;
(2) permissive parenting, gaya pengasuhan yang lemah dalam pengawasan tetapi kuat dalam dukungan;
(3) authoritarian parenting, gaya pengasuhan yang lemah dalam dukungan, tetapi kuat dalam pengawasan;
(4) authoritative parenting, gaya pengasuhan yang mengkombinasikan kualitas terbaik dari permissive dan authoritarian style
Menurut penulis, push parenting dapat dikategorikan sebagai salah satu bentuk dari authoritarian parenting, karena kecenderungan dalam push parenting adalah orang tua hanya akan mendukung keinginan anak yang sesuai dengan ambisi mereka, dan pengawasan ekstra ketat akan dilakukan orang tua selama proses pencapaian ambisi itu. Apa yang menjadi minat anak sering kali diabaikan oleh orang tua. Harus diakui anak-anak memang masih sangat membutuhkan pengarahan dan pengawasan dari orang tua mereka. Tetapi dalam push parenting sepertinya anak tidak diberikan kesempatan untuk mengekspresikan diri mereka, termasuk segala kompetensi yang dimiliki, yang mungkin tidak disadari oleh orang tua.
Tren pengasuhan anak dengan push parenting seolah-olah mendapat “pembenaran” karena tujuannya yang sangat baik, yaitu semua itu dilakukan demi kebahagiaan anak-anak itu sendiri.3 Anak-anak perlu dibekali dengan segala hal yang diperlukan agar nanti mereka berhasil, bahagia, dan mampu bersaing dengan yang lainnya. Bukankah hal ini merupakan “bukti” kasih dan kepedulian orang tua terhadap anak?
Pertanyaan di atas akan dengan gampangnya kita jawab kalau kita menutup mata terhadap dua kenyataan penting yang tersembunyi di “belakang” dan sedang menunggu di “depan,” yaitu:
1. alasan-alasan yang melatarbelakangi orang tua menerapkan pola pengasuhan tersebut, dan
2. konsekuensi atau dampak yang akan dialami anak sebagai akibat pola pengasuhan tersebut.
Dalam pembahasan berikut kita akan melihat kedua kenyataan tersebut sehingga dapat menolong kita untuk lebih “berpikir” sebelum menjawab pertanyaan tadi.
DEMI ANAK ATAU DEMI ORANG TUA?
Sebenarnya tidak ada orang tua yang mengasihi anak-anak mereka, yang berniat menekan anak-anak tersebut. Kebanyakan orang tua yang menerapkan push parenting merasa terpaksa menerapkan pola pengasuhan tersebut. “Keterpaksaan” orang tua disebabkan oleh beberapa faktor berikut ini:
Ketakutan dan Kekuatiran yang Berlebihan
Banyak orang tua sangat takut dan kuatir kalau tidak ada usaha terusmenerus untuk memacu prestasi anak-anak mereka, ketika dewasa nanti anak-anak itu tidak bisa berkompetisi dan akhirnya gagal. Ketakutan dan kekuatiran itu semakin “terprovokasi” karena tidak ada ukuran yang pasti untuk mengukur keberhasilan orang tua dalam mengasuh anak mereka, sampai semuanya sudah berakhir nanti. Ketidaktahuan ini semakin membuat orang tua merasa tidak nyaman dan tidak mempunyai kontrol.5 Ketidaknyaman inilah yang mendorong orang tua melakukan apa saja, bahkan menuntut anak mereka secara berlebihan untuk mengantisipasi kegagalan di depan.
Kegagalan anak biasanya juga dipahami sebagai kegagalan orang tua dalam mendidik anak untuk berhasil, dan tidak ada orang tua yang tidak ingin diakui sebagai sebagai orang tua yang sukses dalam mendidik anak. Apalagi bagi para orang tua yang sebelum menikah sudah berhasil mencapai prestasi yang sangat baik dalam karir, khususnya para ibu. Kata kunci mereka adalah “profesionalisme” untuk segala hal yang mereka kerjakan, termasuk ketika sekarang mereka harus beralih “profesi” sebagai orang tua.6 Pekerjaan utama mereka sekarang adalah mengurus anak. Sering kali, tanpa sadar mereka menuntut diri sendiri harus berprestasi sebaik mungkin, seperti ketika mereka masih berkarir di luar. Segala hal yang diketahui “baik” untuk keberhasilan anak mereka, sebisa mungkin diberikan dan dilakukan untuk memenuhi
dorongan berprestasi tersebut.
Kompensasi dari Ketiadaan Kesempatan di Waktu Lalu
Kesempatan yang dimiliki para orang tua di masa kecil mereka jauh lebih sedikit dibandingkan dengan kesempatan yang dimiliki anak-anak sekarang untuk terus mengembangkan diri mereka. Kita sering kali mendengar komentar para orang tua bahwa mereka berusaha mati-matian agar anak-anak mereka tidak mengalami “nasib” yang sama seperti mereka pada waktu dulu. Semahal apa pun “pengorbanan” yang harus diberikan supaya anak-anak bisa menjadi seperti yang mereka harapkan, para orang tua menganggap itu sebagai “investasi yang pantas.”
Menurut J. Drost adalah sesuatu yang tidak masuk akal kalau beranggapan bahwa anak harus mencapai sesuatu karena orang tua sendiri tidak berhasil mencapainya karena sebab apa pun juga. Inilah yang disebut dengan “tujuan yang tersembunyi” oleh V. G. Beers. Seolah-olah orang tua ingin mengalami sendiri apa yang tidak dapat dilakukannya dahulu melalui anak-anaknya.
Dengan tersedianya banyak kesempatan, pengharapan akan masa depan anak yang lebih baik adalah hal yang sangat positif dan sudah seharusnya, tetapi akan berdampak sangat negatif, apabila pengharapan itu sampai memunculkan tuntutan yang berlebihan dari diri anak.
Anggapan bahwa Jumlah “Kesuksesan” itu Terbatas
Keterbatasan jumlah “kesuksesan” ini berangkat dari ide keterbatasan tempat di sekolah unggulan. Kesuksesan disamaartikan dengan bisa diterima di sekolah-sekolah tersebut. Tanpa anak-anak dipersiapkan sejak awal, dengan tuntutan-tuntutan belajar yang ekstra tinggi, tidak mungkin mereka dapat mencapai sasaran itu. Di Amerika, persaingan untuk masuk sekolah favorit sekarang sudah merembes sampai ke jenjang kelompok bermain (play group).
Sebuah artikel di New York Times mengulas tentang konsultan-konsultan di New York yang menetapkan tarif 300 dolar sejam untuk membimbing para orang tua dalam proses pendaftaran masuk ke kelompok bermain dan sekolah dasar. Bahkan ada seorang konsultan yang menetapkan tarif 600 dolar untuk pendaftaran ke kelompok bermain, dan 1500 dolar untuk lolos seleksi pendaftaran di sekolah dasar favorit.
Kenyataan-kenyataan seperti di atas menjadi sumber kekalutan tersendiri bagi para orang tua, sebagaimana yang dikutip oleh Guthrie dan Matthews, Mark H. Sklarow, Direktur Eksekutif Independent Educational Consultants Association, yang menulis di New York Times, Orang tua umumnya mempunyai persepsi yang sangat miring tentang kelompok bermain yang baik. Mereka yakin bahwa kalau anak mereka tidak masuk ke kelompok bermain yang baik, mereka tidak akan masuk ke sekolah yang baik, lalu tidak akan masuk ke Harvard; dan itulah akhir hidup mereka.
Untuk konteks Indonesia mungkin tidak jauh berbeda. Para orang tua yang mampu secara ekonomi13 berusaha memasukkan anak-anak mereka—mungkin juga dengan sedikit memaksa—ke sekolah-sekolah favorit yang tuntutan akademiknya relatif tinggi. Hal ini kadang kala sangat membebani anak-anak yang memang secara kemampuan intelektual tidak mendukung. Harapan orang tua adalah agar nanti anak-anak ini akan lebih mudah diterima di universitas.
Bagaimana dengan mereka yang tidak mampu? Tidak sedikit orang tua yang karena biaya hidup yang semakin tinggi tidak mampu lagi membiayai anak-anak mereka untuk bersekolah. Bahkan belakangan ini beberapa kali kita mendengar berita ada anak yang bunuh diri akibat stres karena orang tua mereka tidak bisa membiayai mereka untuk terus bersekolah. Inilah kenyataan problema sosial yang terjadi di tengah-tengah masyarakat kita. Di satu pihak ada orang-orang yang punya banyak kesempatan, tetapi kesempatan itu tidak dimanfaatkan dengan baik dan tepat. Di lain pihak ada anak-anak yang ingin sekali bersekolah tetapi tidak ada kesempatan untuk itu.
Terobsesi dengan Citra Ideal di Media
Media massa, khususnya televisi, dapat mengubah cara para orang tua memandang kehidupan, diri sendiri, dan keluarga, termasuk anak-anak mereka. Kebanyakan orang tua pasti mengakui bahwa orang-orang dengan kehidupan ideal yang dipertontonkan melalui media-media itu memang jauh dari kenyataan. Karena itu akan kurang realistis kalau orang tua terlalu berharap anak-anak mereka seharusnya nanti bisa mencapai kesuksesan dan gaya hidup ideal seperti para bintang media itu.
Tetapi yang terjadi, menurut Guthrie dan Matthews, dengan serbuan citraan seperti tentang anak-anak yang prestasinya luar biasa, secara perlahan-lahan para orang tua kehilangan penghargaan terhadap masa kanak-kanak yang seharusnya dari anak-anak mereka.14 Walaupun prestasi dari anak-anak unggulan ini memang adalah kenyataan, orang tua bisa terpengaruh untuk berpikir bahwa kalau anak-anak itu bisa berprestasi sedemikian, anak-anak mereka pun–tanpa memperhitungkan keunikan kompetensi mereka–pasti juga bisa berprestasi seperti itu kalau mau berusaha keras. Akibatnya orang tua mulai melihat anak dari sisi prestasi yang dicapainya saja.15 Semakin berprestasi seorang anak, seperti bintang-bintang media itu, akan semakin baik, dan itulah yang seharusnya menurut kebanyakan orang tua. Sebelum anak-anak mereka berprestasi seperti itu, para orang tua sulit untuk merasa puas.
Anak adalah “Miniatur Diri” Orang Tua
Tidak sedikit orang tua yang kecanduan terhadap keberhasilan anak-anak mereka. Mereka menikmati sekali “kebanggaan” sebagai orang tua ketika anakanak mereka berprestasi, tenar, dan dipuji oleh banyak orang.
Roy Meadow, seorang spesialis anak dari Inggris, menyebut gejala menjadi terkenal lewat Anak Sempurna. Di kalangan masyarakat Indonesia, untuk beberapa waktu terakhir ini, yang masih cukup hangat adalah program AFI (Akademi Fantasi Indosiar) untuk anak-anak yang ditayangkan oleh stasiun televisi swasta nasional Indosiar. Betapa bangganya para orang tua yang anaknya bisa menjadi bintang AFI dan tampil di televisi. Tidak menutup kemungkinan ada banyak orang tua yang juga sangat mengharapkan anak mereka dapat seperti para bintang AFI itu.
Dari sebelum menikah, selama masa-masa kehamilan, sampai melahirkan, orang tua sudah melakukan persiapan panjang untuk mewujudkan angan-angan ideal mereka tentang anak yang akan dilahirkan. Anak tersebut harus menjadi seperti imbalan atas segala jerih payah dan investasi waktu, emosi, pikiran, dan uang yang sudah dikorbankan selama ini. Akibatnya banyak orang tua yang tidak bisa membedakan lagi antara kebutuhan mereka dan kebutuhan anak mereka.17 Sepertinya anak dikejar terus untuk dapat segera membuat orang tua bisa menikmati kesuksesan mereka.
Dorongan orang tua terhadap anak-anak merupakan hal yang wajar dan memang wajib dilakukan, tetapi jangan sampai orang tua terjebak mempersonifikasikan sang anak sebagai diri si orang tua. Demi kepentingannya, orang tua tidak boleh sampai mengorbankan anak. Tuntutan berlebihan yang diberikan orang tua kepada anak-anak mereka, yang katanya bertujuan “hanya” demi masa depan anak-anak itu sendiri, perlu dipertanyakan kembali kebenarannya. “Hanya” demi kepentingan anak atau ada “kepentingan” orang tua yang terselubung di dalamnya. Tidak ada orang tua yang ingin anaknya tertekan dan tidak menikmati masa kanak-kanaknya, tetapi tanpa sadar dengan push parenting, banyak orang tua yang telah merenggut keceriaan masa kanak-kanak anak-anak mereka.
PUSH PARENTING TIDAK EFEKTIF
Kenyataan yang tidak bisa ditutup-tutupi tentang dampak push parenting adalah harapan orang tua kepada anak-anak mereka telah berubah menjadi perasaan tertekan dalam hidup anak-anak tersebut.19 Idealisme dan ambisi orang tua untuk menciptakan anak yang sempurna dan anak kelas atas rupanya juga membuka peluang untuk menghambat perkembangan anak-anak itu sendiri. Berikut ini akan diulas beberapa dampak negatif yang ditimbulkan oleh push parenting.
Sebuah artikel di majalah TIME memperkirakan sekitar 500.000 sampai 1 juta resep obat antidepresi ditulis setiap tahun untuk anak-anak dan remaja dan jumlah ini terus bertambah. Depresi terus meningkat setiap dekade sejak pergantian abad. Sekarang, diperkirakan 1 persen anak prasekolah, 2 persen anak usia sekolah, dan 5 persen remaja menderita depresi klinis. Populasi anakanak penderita depresi tersebut sebagian terdiri dari anak-anak yang mendapat tekanan yang terus membesar untuk berprestasi, untuk produktif, dan untuk mencapai kesuksesan.
Banyak sekali hasil penelitian menunjukkan bahwa anak yang dipacu secara berlebihan untuk berprestasi dini sebelum waktunya merupakan calon-calon penderita stres dan berbagai gangguan psikosomatis, seperti sakit perut, sakit kepala, gangguan tidur dan makan. Banyak penelitian juga menunjukkan bahwa anak-anak yang bisa membaca sangat awal menjadi kecewa dan menjadi murid yang tidak bersemangat pada usia sembilan tahun. Tim LaHaye menulis, Sangat mengkuatirkan kita sebagai orang tua, kecenderungan ke arah depresi kadang-kadang mulai sejak usia dini. . . . Bertambahnya jumlah anak-anak penderita depresi yang bunuh diri merupakan suatu tragedi yang menakutkan saat ini. Tidak sedikit anak yang selalu berusaha menyenangkan hati orang tua mereka dengan berusaha mengikuti semua kemauan dan anjuran orang tua. Semua ini dengan rela dilakukan anak karena melihat jerih payah dan pengorbanan orang tua demi kesuksesan mereka. Tetapi, harus diakui bahwa sering kali kerelaan mereka itu disertai dengan keterpaksaan ketika kursus-kursus atau kegiatan-kegiatan yang harus diikuti itu tidak mereka sukai dan membuat mereka begitu lelah, atau memang bukan kompetensi mereka dalam bidang-bidang tersebut. Karena berbagai alasan, misalnya takut mengecewakan atau takut diomeli, anak-anak baik ini menekan perasaan mereka, dan itu bisa terjadi berulang kali dalam masa kanak-kanak mereka. Karena itu, tidaklah mengherankan ketika remaja atau dewasa nanti mereka rawan terhadap stres dan depresi.
Mementingkan Prestasi dan Mengabaikan Kepribadian
Push parenting menekankan anak harus mendapatkan pendidikan yang terbaik, dan menunjukkan prestasi yang terbaik pula. Dengan demikian diharapkan nanti mereka akan mendapatkan pekerjaan yang terbaik, dan akhirnya mereka dapat dikatakan berhasil dalam hidup. Tetapi, apakah mutlak seratus persen bahwa keberhasilan hidup itu ditentukan oleh prestasi. Bukankah guna mencapai kesuksesan hidup, prestasi perlu ditunjukkan dengan kepribadian yang baik pula?
Ketika prestasi menjadi titik fokus sasaran pengasuhan anak, maka kecenderungannya tujuan pembentukan kepribadian anak akan terabaikan. Apa yang dilakukan anak menjadi lebih penting daripada akan menjadi apa mereka kelak. Banyak orang tua yang terlalu sibuk memacu prestasi anak sampai melupakan tanggung jawab untuk membentuk kepribadian mereka. Salah satu aspek positif dari kepribadian yang terabaikan dengan push parenting adalah kemandirian. Orang tua yang selalu mau terlibat dan mengatur kehidupan anaknya, sehingga sama sekali tidak memberi kesempatan untuk anak berpikir dan memberikan pendapat sesuai dengan sudut pandangnya, akan melahirkan anak-anak yang tidak mandiri. Orang tua yang menahan diri dan belajar mengekang kecenderungannya untuk terus mencampuri urusan anak akan mendorong anak menjadi mandiri.
Ketika memutuskan sesuatu yang berkaitan dengan kepentingan anak, sering kali para orang tua tidak mau mengajak anak ikut berunding, karena mereka berpikir tindakan itu hanya akan menunjukkan kelemahan mereka sebagai orang tua yang seharusnya berwenang penuh atas anak. Tetapi, sebenarnya justru tidak demikian. Dengan melibatkan anak menunjukkan penghargaan dan kepedulian orang tua pada anak. Anak mempunyai hak untuk berbicara dan mengemukakan apa yang menjadi kesenangan atau pun keberatan mereka dan orang tua berkewajiban untuk mendengarkan. Anak-anak butuh didengarkan dan dimengerti, yang mengindikasikan bahwa mereka diterima. Hal ini merupakan sesuatu yang esensial sekali untuk anak dapat memiliki penghargaaan diri (self-esteem)
Banyak orang tua sepertinya menjadi “tuhan” bagi anak-anak mereka. Padahal, bukankah anak-anak adalah karunia yang Tuhan percayakan kepada para orang tua untuk mereka didik dan arahkan menjadi pribadi yang terus bertumbuh sesuai dengan kapasitas yang Tuhan anugerahkan buat mereka?
Salah satu ciri orang yang memiliki penghargaan diri (self-esteem) yang buruk adalah mereka hidup hanya untuk memenuhi keinginan, harapan, dan tuntutan orang lain. Mereka akan merasa diri berharga kalau menjadi seseorang yang dapat memenuhi segala keinginan yang positif, dan menumbuhkan ketrampilan untuk membuat berbagai
keputusan secara bertanggung jawab ketika mereka dewasa nanti. Orang tua perlu belajar banyak untuk menunjukkan penghargaan kepada anak-anak mereka dengan cara yang sangat sederhana, yaitu mendengarkan. Selain kehilangan kesempatan untuk membentuk anak menjadi pribadi yang mandiri, push parenting juga sangat memungkinkan untuk menciptakan pribadi yang perfeksionis. Karena tuntutan yang berlebihan, maka perkataan yang pasti sering dikeluarkan oleh orang tua adalah “kamu seharusnya bisa lebih baik lagi;” “jangan mau dikalahkan oleh orang lain;” “kamu harus lebih berprestasi agar orang-orang semakin kagum kepadamu;” dan sebagainya.
Komentar-komentar yang seperti inilah yang terus-menerus mengisi pikiran anak-anak tersebut dan melahirkan perasaan tidak pernah puas dengan apa yang sudah mereka raih. Norman Wright menyebut orang-orang perfeksionis sebagai orang yang sukses dalam kegagalan, karena itu tidak sedikit di antara orang-orang ini mempunyai hidup yang sukses, tetapi masih merasa kosong dan tidak puas. Selain itu, orang yang perfeksionis sudah pasti akan menemukan banyak kesulitan dalam pergaulan, karena mereka sulit menerima keterbatasan orang lain.
Kehilangan Kebersamaan yang Bermakna dengan Keluarga
Salah satu konsekuensi dari push parenting adalah anak diharuskan mengikuti banyak kegiatan di luar sekolah supaya dapat berprestasi dalam lebih banyak bidang. Anak-anak lebih banyak waktu bersama dengan pembimbing, pelatih, atau guru les mereka, dan semakin sedikit waktu bersama-sama dengan keluarga, khususnya orang tua. Hasil penelitian di University of Michigan, pada tahun 1998 menunjukkan bahwa waktu bebas anak-anak di bawah usia 13 tahun berkurang sebanyak 16 persen dalam satu generasi, yaitu dari 63 jam menjadi 51 jam seminggu.30 Bagi kebanyakan orang tua, prestasi anak mereka jauh lebih penting daripada bincang-bincang santai di sekitar meja makan dan di depan televisi, atau sekadar berkelakar di tempat tidur.
Semakin hari, semakin banyak hal yang seharusnya bisa diajar oleh orang tua, dipelajari anak-anak dari orang-orang yang dibayar. Tujuannya, dengan keahlian orang-orang itu, anak-anak kemungkinan besar dapat lebih berprestasi orang lain (Alan LoyMcGinnis, Percaya Diri vs Kesombongan [Jakarta: Metanoia, 1997] 100-103). Karena itu anak-anak yang sejak kecil ditekan dan diharuskan untuk memenuhi apa maunya orang tua, ketika remaja atau dewasa akan cenderung menjadi pribadi yang mempunyai penghargaan diri (self-esteem) yang buruk.
Orang tua melupakan bahwa ada sesuatu yang sangat berharga yang terhilang dengan pola asuh seperti itu, yaitu kebersamaan yang bermakna dengan anak-anak mereka. Kesempatan orang tua untuk berbagi pengalaman dan hal-hal yang penting semakin jarang. Di dalam kebersamaan dengan orang tua dan melalui percakapan dari pribadi ke pribadi yang bermutu, terjadi relasi saling membangun, keintiman akan terjalin, menolong anak menemukan siapa dirinya, dan memberikan rasa aman yang diperlukan seorang anak. Hal-hal yang positif ini akan sulit dialami di tengah-tengah keluarga yang menerapkan push parenting.
Beberapa dampak negatif di atas seharusnya sudah lebih dari cukup untuk membuat kesimpulan bahwa push parenting bukanlah pola asuh anak yang efektif untuk dipraktekkan, kecuali memang kita tidak peduli dengan masa depan anak-anak kita.
MENYADARKAN ORANG TUA, MENOLONG ANAK
Anak yang tertekan karena push parenting seperti contoh kasus di bagian pendahuluan, dapat dikategorikan sebagai anak yang sedang mengalami krisis. Hal ini tampak jelas dari perilaku yang sudah tidak wajar lagi dari seorang anak, yaitu hilangnya keceriaan mereka. Menurut A. D. Lester, ketika anak-anak mengalami krisis, mereka harus ditolong untuk menangani krisis tersebut, karena kalau tidak, aspek penyimpangan krisis yang tidak terselesaikan itu akan terus mengganggu seluruh kehidupan kanak-kanak mereka, bahkan sampai masa dewasa nanti.
Beberapa hal berikut ini sangat penting untuk diperhatikan dan dapat menjadi pedoman dalam menolong anak yang tertekan akibat push parenting. Kebanyakan masalah anak adalah masalah keluarga, khususnya orang tua, termasuk juga masalah anak akibat push parenting. Dalam konseling anak, akan sangat membantu apabila kita melibatkan keluarga (orang tua) dalam proses konseling. Seperti dalam contoh kasus Hary, tidak cukup kalau kita hanya berbicara dengan Hary, tetapi kita juga harus melibatkan orang tuanya.
1. Dalam beberapa kali pertemuan konseling diharapkan sudah dapat ditemukan inti permasalahan yang dihadapi klien. Untuk klien yang sudah tidak mau ke sekolah dan enggan untuk keluar rumah dan bermain seperti biasanya, konselor dapat berusaha membangkitkan kembali keinginannya untuk kembali bersekolah dan bermain seperti biasanya. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan meminta teman-teman bermain atau teman-teman sekolah dan guru si klien untuk datang mengunjungi klien beramai-ramai, kalau memungkinkan, dan mendorongnya untuk bersekolah atau bermain lagi seperti dulu. Intinya konselor berusaha menghadirkan dan mengingatkan kembali klien akan keceriaan masa kanak-kanaknya yang terhilang.
2. Konselor harus berbicara dengan orang tua, dengan tujuan menyadarkan dan mengajak mereka melihat bersama-sama bahwa akar penyebab permasalahan anak mereka adalah pola asuh yang keliru. Dalam perbincangan dengan orang tua itu konselor dapat memberikan beberapa masukan penting yang harus diperhatikan orang tua untuk mendukung dan mempercepat proses kesembuhan si anak.
a. Belajar untuk mendengarkan dan memahami anak. Beers menulis “Jika saya memandang anak saya adalah orang yang paling penting dalam kehidupan saya, maka saya mau mendengarkan. Saya mau menempatkan masalah mendengarkan itu pada prioritas saya yang utama.”
Kemungkinan besar orang tua yang menerapkan push parenting menutup mata terhadap kenyataan bahwa anak mempunyai hak untuk berbicara dan didengarkan. Karena pada saat itulah anak akan merasa dihargai dan diperlakukan sebagai seorang pribadi.
b. Terimalah anak dengan apa adanya, yaitu menerima anak sebagai karunia yang selama ini didambakan. Apa adanya berarti mengakui bahwa anak tidak dapat menjadi “sempurna” dan bisa segalanya; kadang kala dia bisa berhasil, tetapi kadang kala dia juga bisa gagal.
c. Dunia anak adalah dunia bermain. Bermain adalah setiap kegiatan yang dilakukan untuk kesenangan yang ditimbulkannya, tanpa memperhitungkan hasil akhir.37 Banyak orang tua beranggapan bahwa anak hanya dapat belajar ketika mereka melakukan kegiatan belajar yang serius.
Para ilmuwan telah menunjukkan bahwa bermain merupakan pengalaman belajar yang sangat berharga. Beberapa pengaruh positif bagi penyesuaian pribadi dan sosial anak yang didapatkan melalui aktivitas bermain adalah perkembangan fisik, dorongan berkomunikasi, penyaluran bagi energi emosional yang terpendam, penyaluran bagi kebutuhan dan keinginan, sumber belajar, rangsangan bagi kreativitas, perkembangan wawasan diri, belajar bermasyarakat, standar moral, belajar bermain sesuai dengan peran-peran jenis kelamin, perkembangan ciri kepribadian yang diinginkan. Berapa banyak waktu yang digunakan masing-masing anak untuk bermain dan bekerjaaktivitas belajar dan kegiatan-kegiatan lainnya memang tergantung pada usia dan minat anak. Tetapi yang menjadi masalah adalah bagaimana orang tua mengetahui atau apa kriterianya untuk menentukan anak sudah mempunyai kombinasi aktivitas bermain dan bekerja yang sudah tepat.
E. Hurlock memberikan kriteria yang relatif sederhana. Kalau anak kelihatannya sudah mulai bosan dengan permainannya dan bertanya, “apa yang dapat kulakukan sekarang?” berarti skala bermainnya perlu dikurangi. Sebaliknya kalau anak merasa bosan dan jenuh dengan pelajaran atau kegiatan-kegiatan lainnya, atau menunjukkan tanda-tanda bekerja di bawah kemampuannya, hal itu mengindikasikan bahwa mereka membutuhkan lebih banyak waktu dan kesempatan untuk bermain.
3. Ketika dalam proses konseling, orang tua sudah kita ajak berbicara dan menyadari kekeliruannya dan anak sendiri juga sudah merasa cukup aman dan siap, adakanlah kesempatan untuk mereka bertemu. Dalam kesempatan tersebut, ciptakanlah suasana yang nyaman dan doronglah anak untuk mengutarakan secara langsung ketertekanannya dan apa yang menjadi harapannya, yang selama ini mungkin tidak berani dia ungkapkan kepada orang tuanya. Kesempatan ini dapat menjadi “latihan” yang baik bagi orang tua untuk belajar mendengarkan. Kemudian ajaklah orang tua dan anak bersama-sama mengatur kembali agenda keseharian anak, termasuk waktu kebersamaan dengan orang tua, yang disepakati bersama untuk dilakukan.
Dengan memperhatikan beberapa hal di atas, diharapkan nantinya orang tua dapat menerapkan pola asuh yang lebih fleksibel dan efektif untuk perkembangan anak dan dengan demikian diharapkan juga anak dapat segera sembuh.
KESIMPULAN
Sebagai kesimpulan dari artikel ini, penulis ingin mengutip judul salah satu bab dari buku Orang tua, Berbicaralah dengan Anak Anda! Yaitu, “apakah anda sungguh-sungguh di pihak anak anda?” Saya yakin sekali bahwa semua orang tua yang baik akan mengiyakan pertanyaan itu. Tetapi, sangat besar kemungkinannya bahwa di antara para orang tua yang mengiyakan itu, tanpa sadar sebenarnya mereka tidak betul-betul berada di pihak anak mereka. Push parenting adalah tren pengasuhan anak yang sangat menjebak orang tua karena berpotensi besar untuk merenggut masa kanak-kanak anak-anak. Penulis buku Mendidik Anak dengan Cinta: Petunjuk Bagi Orang Tua agar Anak menjadi Bahagia menasehatkan para orang tua untuk “Membiarkan anak-anak tetap anak-anak.”
Pola pengasuhan yang menuntut anak secara berlebihan, yang katanya demi kebahagiaan anak, yang terjadi justru adalah sebaliknya, mengorbankan keindahan dan keceriaan masa kanak-kanak anak-anak itu. Adalah penting didengungkan kembali dengan lebih keras kepada para orang tua masa kini, “Anak-anak Anda adalah karunia istimewa yang oleh Allah SWT dipercayakan kepada Anda. Karena itu curahkanlah kasih sayang yang tak bersyarat buat mereka. Terimalah mereka apa adanya, asuhlah dan didiklah mereka sebagai pribadi yang unik.”
DAN KONSELING TERHADAPNYA
Oleh : KHOLIFATUL AZIZAH, S.Pd.I.
Kepala RA dan Pemerhati Pendidikan Anak Usia Prasekolah
PENDAHULUAN
Manusia selalu berusaha mengikuti segala macam tren yang sedang berkembang di masyarakat sekitarnya. Mulai dari model potongan rambut sampai dengan warna lipstik. Mulai dari gaya arsitektur rumah sampai dengan jenis variasi asesoris handphone. Tidak ketinggalan model pengasuhan anak (parenting) juga mempunyai tren tersendiri.
Menciptakan anak yang “sempurna” menjadi salah satu agenda terpenting kebanyakan orang tua zaman sekarang. Anak-anak mereka harus menjadi yang terbaik dan kalau memungkinkan dalam segala hal. Para orang tua berusaha ekstra keras agar anak-anak mereka dapat dikategorikan sebagai anak-anak “kelas atas,” bukan anak-anak “kelas menengah” apalagi “kelas bawah.” Itulah ambisi kebanyakan orang tua zaman sekarang. Dalam upaya membentuk anak seperti itu, mau tidak mau model pengasuhan yang diberlakukan juga harus khusus. Bukan masanya lagi, menurut kebanyakan orang tua, anak-anak dibiarkan untuk terlalu banyak bermain dan menghabiskan waktu bersama dengan teman-temannya. Kalau anak-anak sekarang diizinkan untuk terlalu santai maka mereka akan ketinggalan jauh di belakang dan masa depan mereka akan suram.
Anak-anak masih belum tahu apa yang terbaik yang harus mereka lakukan demi masa depan mereka. Karena itu sangat penting bagi para orang tua untuk mempersiapkan anak-anak mereka sebaik dan setepat mungkin. Salah satunya adalah dengan mengarahkan dan menuntut mereka untuk menjadi yang terbaik dalam segala hal, hanya demi masa depan mereka. Seperti itulah pendapat umum orang tua zaman sekarang.
Ambisi orang tua yang melahirkan begitu banyak dan tingginya tuntutan bagi anak-anak akan berdampak dalam kehidupan anak-anak tersebut. Beberapa waktu yang lalu di salah satu stasiun televisi swasta nasional pernah ditayangkan sebuah iklan tentang seorang anak laki-laki sedang mengenakan seragam sekolah dasar dan menunjukkan ekspresi wajah tertekan. Intinya iklan tersebut ingin menyadarkan masyarakat bahwa bukan hanya orang-orang dewasa yang bisa mengalami stres, anak-anak kecil pun bisa mengalaminya.
Dunia anak-anak yang seharusnya penuh dengan tawa dan keceriaan, bisa berubah menjadi penuh tekanan. Salah satu penyebabnya adalah ambisi orang tua bahwa anak-anak mereka harus “sempurna,” sehingga menuntut anak secara berlebihan dalam berprestasi.
Berikut ini merupakan contoh kasus seorang anak berusia 8 tahun yang dibawa orang tuanya menemui konselor untuk mendapatkan pertolongan:
Hary adalah seorang siswa kelas 2 SD di sebuah sekolah favorit di kotanya. Hani, kakak Hary juga bersekolah di sekolah yang sama, kelas 5 SD. Orang tua mereka bersedia mengeluarkan biaya sekolah yang sangat besar demi anak-anak mereka bisa diterima dan bersekolah di sana. Dengan bangganya mereka akan memberitahukan bahwa anak-anak mereka bersekolah di sana ketika ada yang menanyakan hal itu. Setelah pulang sekolah, sekitar pukul 3 sore, hampir setiap hari, kecuali hari Rabu, Sabtu, dan Minggu, Hary dan Hani harus mengikuti berbagai kursus lainnya yang ditentukan oleh orang tua mereka. Menurut orang tuanya, sudah beberapa hari ini Hary ngambek tidak mau ke sekolah. Ketika ditanya orang tuanya, Hary tetap diam, tidak mau menjawab. Memang sudah sejak beberapa bulan yang lalu, semenjak sekolah Hary menerapkan program full day school, Hary terlihat sering marah-marah, mudah tersinggung, malas ke sekolah dengan berbagai alasan, dan kalau berangkat ke sekolah rasanya berat sekali. Orang tua Hary kebingungan karena tidak seperti biasanya Hary bersikap demikian. Melalui konseling, akhirnya bisa dipastikan bahwa Hary merasa tertekan karena tuntutan orang tuanya yang terlalu berlebihan. Hary harus menjadi yang terbaik dalam segala hal. Beberapa kali Hary pernah mengeluhkan hal itu kepada orang tuanya, tetapi sambil disertai dengan omelan, selalu dijawab bahwa semua tuntutan itu demi masa depannya. Karena itu akhirnya Hary memilih diam saja ketika ditanya mengapa dia tidak mau ke sekolah.
Gaya pengasuhan yang diterapkan orang tua Hary dalam contoh kasus di atas disebut push parenting, yaitu gaya pengasuhan yang terlalu menuntut.
Dalam artikel ini akan dibahas tentang seluk-beluk push parenting yang sekarang ini sedang menjadi tren. Mengapa banyak orang tua yang menerapkan gaya pengasuhan seperti ini terhadap anak-anak mereka? Apa dampak-dampak pola pengasuhan ini bagi perkembangan anak dalam multi dimensional, dan bagaimana menolong anak-anak yang sedang mengalami kondisi tertekan seperti itu dalam konteks konseling? Diharapkan artikel ini bukan hanya dapat menjadi masukan bagi para konselor anak, tetapi juga dapat menggugah hati para orang tua yang sungguh-sungguh mengasihi anak-anak mereka.
CURRICULUM VITAE YANG MENGESANKAN
Menurut kebanyakan orang tua, di tengah-tengah zaman yang super kompetitif ini, diperlukan anak-anak yang memiliki kompetensi yang super juga. Karena itu, bagi para orang tua yang berpandangan seperti itu, push parenting adalah wajar untuk diterapkan oleh setiap orang tua dalam mendidik anak-anak mereka.
Elisabeth Guthrie dan Kathy Matthews dalam buku yang mereka tulis tentang topik ini menjelaskan beberapa ciri perilaku yang menjadi tanda dari push parenting:
1. Mengatur nyaris setiap menit hidup anaknya dengan kursus-kursus, program sosialisasi, dan kegiatan-kegiatan “pengayaan” lainnya.
2. Menuntut prestasi tinggi di sekolah dan di berbagai bidang lain, nyaris dengan segala cara (emosional, psikologis, fisik, dan dana).
3. Menekan anak memilih kursus, pelatihan, atau minat lebih untuk tujuan membuat CV (Curriculum Vitae) atau Daftar Riwayat Hidup yang mengesankan daripada untuk memenuhi rasa ingin tahu yang alamiah dan minat pribadi.
4. Mencampuri persahabatan dan hubungan anak dengan guru dan pelatihnya.
Para orang tua yang menerapkan push parenting berasumsi bahwa anakanak tidak akan berhasil dalam kehidupan mereka kelak, kalau orang tua tidak “membantu” mereka sepenuhnya.2 Anak-anak sama sekali tidak mampu memutuskan sendiri pilihan yang bertanggung jawab demi masa depan mereka.
Karena itu orang tualah yang harus memilih buat mereka dan mereka harus mengikutinya, walaupun dengan kondisi terpaksa.
Menurut Jack dan Judith Balswick, berdasarkan pendekatan socioemotional dikenal empat gaya pengasuhan anak, yaitu:
(1) neglectful parenting, gaya pengasuhan yang lemah dalam dukungan maupun pengawasan;
(2) permissive parenting, gaya pengasuhan yang lemah dalam pengawasan tetapi kuat dalam dukungan;
(3) authoritarian parenting, gaya pengasuhan yang lemah dalam dukungan, tetapi kuat dalam pengawasan;
(4) authoritative parenting, gaya pengasuhan yang mengkombinasikan kualitas terbaik dari permissive dan authoritarian style
Menurut penulis, push parenting dapat dikategorikan sebagai salah satu bentuk dari authoritarian parenting, karena kecenderungan dalam push parenting adalah orang tua hanya akan mendukung keinginan anak yang sesuai dengan ambisi mereka, dan pengawasan ekstra ketat akan dilakukan orang tua selama proses pencapaian ambisi itu. Apa yang menjadi minat anak sering kali diabaikan oleh orang tua. Harus diakui anak-anak memang masih sangat membutuhkan pengarahan dan pengawasan dari orang tua mereka. Tetapi dalam push parenting sepertinya anak tidak diberikan kesempatan untuk mengekspresikan diri mereka, termasuk segala kompetensi yang dimiliki, yang mungkin tidak disadari oleh orang tua.
Tren pengasuhan anak dengan push parenting seolah-olah mendapat “pembenaran” karena tujuannya yang sangat baik, yaitu semua itu dilakukan demi kebahagiaan anak-anak itu sendiri.3 Anak-anak perlu dibekali dengan segala hal yang diperlukan agar nanti mereka berhasil, bahagia, dan mampu bersaing dengan yang lainnya. Bukankah hal ini merupakan “bukti” kasih dan kepedulian orang tua terhadap anak?
Pertanyaan di atas akan dengan gampangnya kita jawab kalau kita menutup mata terhadap dua kenyataan penting yang tersembunyi di “belakang” dan sedang menunggu di “depan,” yaitu:
1. alasan-alasan yang melatarbelakangi orang tua menerapkan pola pengasuhan tersebut, dan
2. konsekuensi atau dampak yang akan dialami anak sebagai akibat pola pengasuhan tersebut.
Dalam pembahasan berikut kita akan melihat kedua kenyataan tersebut sehingga dapat menolong kita untuk lebih “berpikir” sebelum menjawab pertanyaan tadi.
DEMI ANAK ATAU DEMI ORANG TUA?
Sebenarnya tidak ada orang tua yang mengasihi anak-anak mereka, yang berniat menekan anak-anak tersebut. Kebanyakan orang tua yang menerapkan push parenting merasa terpaksa menerapkan pola pengasuhan tersebut. “Keterpaksaan” orang tua disebabkan oleh beberapa faktor berikut ini:
Ketakutan dan Kekuatiran yang Berlebihan
Banyak orang tua sangat takut dan kuatir kalau tidak ada usaha terusmenerus untuk memacu prestasi anak-anak mereka, ketika dewasa nanti anak-anak itu tidak bisa berkompetisi dan akhirnya gagal. Ketakutan dan kekuatiran itu semakin “terprovokasi” karena tidak ada ukuran yang pasti untuk mengukur keberhasilan orang tua dalam mengasuh anak mereka, sampai semuanya sudah berakhir nanti. Ketidaktahuan ini semakin membuat orang tua merasa tidak nyaman dan tidak mempunyai kontrol.5 Ketidaknyaman inilah yang mendorong orang tua melakukan apa saja, bahkan menuntut anak mereka secara berlebihan untuk mengantisipasi kegagalan di depan.
Kegagalan anak biasanya juga dipahami sebagai kegagalan orang tua dalam mendidik anak untuk berhasil, dan tidak ada orang tua yang tidak ingin diakui sebagai sebagai orang tua yang sukses dalam mendidik anak. Apalagi bagi para orang tua yang sebelum menikah sudah berhasil mencapai prestasi yang sangat baik dalam karir, khususnya para ibu. Kata kunci mereka adalah “profesionalisme” untuk segala hal yang mereka kerjakan, termasuk ketika sekarang mereka harus beralih “profesi” sebagai orang tua.6 Pekerjaan utama mereka sekarang adalah mengurus anak. Sering kali, tanpa sadar mereka menuntut diri sendiri harus berprestasi sebaik mungkin, seperti ketika mereka masih berkarir di luar. Segala hal yang diketahui “baik” untuk keberhasilan anak mereka, sebisa mungkin diberikan dan dilakukan untuk memenuhi
dorongan berprestasi tersebut.
Kompensasi dari Ketiadaan Kesempatan di Waktu Lalu
Kesempatan yang dimiliki para orang tua di masa kecil mereka jauh lebih sedikit dibandingkan dengan kesempatan yang dimiliki anak-anak sekarang untuk terus mengembangkan diri mereka. Kita sering kali mendengar komentar para orang tua bahwa mereka berusaha mati-matian agar anak-anak mereka tidak mengalami “nasib” yang sama seperti mereka pada waktu dulu. Semahal apa pun “pengorbanan” yang harus diberikan supaya anak-anak bisa menjadi seperti yang mereka harapkan, para orang tua menganggap itu sebagai “investasi yang pantas.”
Menurut J. Drost adalah sesuatu yang tidak masuk akal kalau beranggapan bahwa anak harus mencapai sesuatu karena orang tua sendiri tidak berhasil mencapainya karena sebab apa pun juga. Inilah yang disebut dengan “tujuan yang tersembunyi” oleh V. G. Beers. Seolah-olah orang tua ingin mengalami sendiri apa yang tidak dapat dilakukannya dahulu melalui anak-anaknya.
Dengan tersedianya banyak kesempatan, pengharapan akan masa depan anak yang lebih baik adalah hal yang sangat positif dan sudah seharusnya, tetapi akan berdampak sangat negatif, apabila pengharapan itu sampai memunculkan tuntutan yang berlebihan dari diri anak.
Anggapan bahwa Jumlah “Kesuksesan” itu Terbatas
Keterbatasan jumlah “kesuksesan” ini berangkat dari ide keterbatasan tempat di sekolah unggulan. Kesuksesan disamaartikan dengan bisa diterima di sekolah-sekolah tersebut. Tanpa anak-anak dipersiapkan sejak awal, dengan tuntutan-tuntutan belajar yang ekstra tinggi, tidak mungkin mereka dapat mencapai sasaran itu. Di Amerika, persaingan untuk masuk sekolah favorit sekarang sudah merembes sampai ke jenjang kelompok bermain (play group).
Sebuah artikel di New York Times mengulas tentang konsultan-konsultan di New York yang menetapkan tarif 300 dolar sejam untuk membimbing para orang tua dalam proses pendaftaran masuk ke kelompok bermain dan sekolah dasar. Bahkan ada seorang konsultan yang menetapkan tarif 600 dolar untuk pendaftaran ke kelompok bermain, dan 1500 dolar untuk lolos seleksi pendaftaran di sekolah dasar favorit.
Kenyataan-kenyataan seperti di atas menjadi sumber kekalutan tersendiri bagi para orang tua, sebagaimana yang dikutip oleh Guthrie dan Matthews, Mark H. Sklarow, Direktur Eksekutif Independent Educational Consultants Association, yang menulis di New York Times, Orang tua umumnya mempunyai persepsi yang sangat miring tentang kelompok bermain yang baik. Mereka yakin bahwa kalau anak mereka tidak masuk ke kelompok bermain yang baik, mereka tidak akan masuk ke sekolah yang baik, lalu tidak akan masuk ke Harvard; dan itulah akhir hidup mereka.
Untuk konteks Indonesia mungkin tidak jauh berbeda. Para orang tua yang mampu secara ekonomi13 berusaha memasukkan anak-anak mereka—mungkin juga dengan sedikit memaksa—ke sekolah-sekolah favorit yang tuntutan akademiknya relatif tinggi. Hal ini kadang kala sangat membebani anak-anak yang memang secara kemampuan intelektual tidak mendukung. Harapan orang tua adalah agar nanti anak-anak ini akan lebih mudah diterima di universitas.
Bagaimana dengan mereka yang tidak mampu? Tidak sedikit orang tua yang karena biaya hidup yang semakin tinggi tidak mampu lagi membiayai anak-anak mereka untuk bersekolah. Bahkan belakangan ini beberapa kali kita mendengar berita ada anak yang bunuh diri akibat stres karena orang tua mereka tidak bisa membiayai mereka untuk terus bersekolah. Inilah kenyataan problema sosial yang terjadi di tengah-tengah masyarakat kita. Di satu pihak ada orang-orang yang punya banyak kesempatan, tetapi kesempatan itu tidak dimanfaatkan dengan baik dan tepat. Di lain pihak ada anak-anak yang ingin sekali bersekolah tetapi tidak ada kesempatan untuk itu.
Terobsesi dengan Citra Ideal di Media
Media massa, khususnya televisi, dapat mengubah cara para orang tua memandang kehidupan, diri sendiri, dan keluarga, termasuk anak-anak mereka. Kebanyakan orang tua pasti mengakui bahwa orang-orang dengan kehidupan ideal yang dipertontonkan melalui media-media itu memang jauh dari kenyataan. Karena itu akan kurang realistis kalau orang tua terlalu berharap anak-anak mereka seharusnya nanti bisa mencapai kesuksesan dan gaya hidup ideal seperti para bintang media itu.
Tetapi yang terjadi, menurut Guthrie dan Matthews, dengan serbuan citraan seperti tentang anak-anak yang prestasinya luar biasa, secara perlahan-lahan para orang tua kehilangan penghargaan terhadap masa kanak-kanak yang seharusnya dari anak-anak mereka.14 Walaupun prestasi dari anak-anak unggulan ini memang adalah kenyataan, orang tua bisa terpengaruh untuk berpikir bahwa kalau anak-anak itu bisa berprestasi sedemikian, anak-anak mereka pun–tanpa memperhitungkan keunikan kompetensi mereka–pasti juga bisa berprestasi seperti itu kalau mau berusaha keras. Akibatnya orang tua mulai melihat anak dari sisi prestasi yang dicapainya saja.15 Semakin berprestasi seorang anak, seperti bintang-bintang media itu, akan semakin baik, dan itulah yang seharusnya menurut kebanyakan orang tua. Sebelum anak-anak mereka berprestasi seperti itu, para orang tua sulit untuk merasa puas.
Anak adalah “Miniatur Diri” Orang Tua
Tidak sedikit orang tua yang kecanduan terhadap keberhasilan anak-anak mereka. Mereka menikmati sekali “kebanggaan” sebagai orang tua ketika anakanak mereka berprestasi, tenar, dan dipuji oleh banyak orang.
Roy Meadow, seorang spesialis anak dari Inggris, menyebut gejala menjadi terkenal lewat Anak Sempurna. Di kalangan masyarakat Indonesia, untuk beberapa waktu terakhir ini, yang masih cukup hangat adalah program AFI (Akademi Fantasi Indosiar) untuk anak-anak yang ditayangkan oleh stasiun televisi swasta nasional Indosiar. Betapa bangganya para orang tua yang anaknya bisa menjadi bintang AFI dan tampil di televisi. Tidak menutup kemungkinan ada banyak orang tua yang juga sangat mengharapkan anak mereka dapat seperti para bintang AFI itu.
Dari sebelum menikah, selama masa-masa kehamilan, sampai melahirkan, orang tua sudah melakukan persiapan panjang untuk mewujudkan angan-angan ideal mereka tentang anak yang akan dilahirkan. Anak tersebut harus menjadi seperti imbalan atas segala jerih payah dan investasi waktu, emosi, pikiran, dan uang yang sudah dikorbankan selama ini. Akibatnya banyak orang tua yang tidak bisa membedakan lagi antara kebutuhan mereka dan kebutuhan anak mereka.17 Sepertinya anak dikejar terus untuk dapat segera membuat orang tua bisa menikmati kesuksesan mereka.
Dorongan orang tua terhadap anak-anak merupakan hal yang wajar dan memang wajib dilakukan, tetapi jangan sampai orang tua terjebak mempersonifikasikan sang anak sebagai diri si orang tua. Demi kepentingannya, orang tua tidak boleh sampai mengorbankan anak. Tuntutan berlebihan yang diberikan orang tua kepada anak-anak mereka, yang katanya bertujuan “hanya” demi masa depan anak-anak itu sendiri, perlu dipertanyakan kembali kebenarannya. “Hanya” demi kepentingan anak atau ada “kepentingan” orang tua yang terselubung di dalamnya. Tidak ada orang tua yang ingin anaknya tertekan dan tidak menikmati masa kanak-kanaknya, tetapi tanpa sadar dengan push parenting, banyak orang tua yang telah merenggut keceriaan masa kanak-kanak anak-anak mereka.
PUSH PARENTING TIDAK EFEKTIF
Kenyataan yang tidak bisa ditutup-tutupi tentang dampak push parenting adalah harapan orang tua kepada anak-anak mereka telah berubah menjadi perasaan tertekan dalam hidup anak-anak tersebut.19 Idealisme dan ambisi orang tua untuk menciptakan anak yang sempurna dan anak kelas atas rupanya juga membuka peluang untuk menghambat perkembangan anak-anak itu sendiri. Berikut ini akan diulas beberapa dampak negatif yang ditimbulkan oleh push parenting.
Sebuah artikel di majalah TIME memperkirakan sekitar 500.000 sampai 1 juta resep obat antidepresi ditulis setiap tahun untuk anak-anak dan remaja dan jumlah ini terus bertambah. Depresi terus meningkat setiap dekade sejak pergantian abad. Sekarang, diperkirakan 1 persen anak prasekolah, 2 persen anak usia sekolah, dan 5 persen remaja menderita depresi klinis. Populasi anakanak penderita depresi tersebut sebagian terdiri dari anak-anak yang mendapat tekanan yang terus membesar untuk berprestasi, untuk produktif, dan untuk mencapai kesuksesan.
Banyak sekali hasil penelitian menunjukkan bahwa anak yang dipacu secara berlebihan untuk berprestasi dini sebelum waktunya merupakan calon-calon penderita stres dan berbagai gangguan psikosomatis, seperti sakit perut, sakit kepala, gangguan tidur dan makan. Banyak penelitian juga menunjukkan bahwa anak-anak yang bisa membaca sangat awal menjadi kecewa dan menjadi murid yang tidak bersemangat pada usia sembilan tahun. Tim LaHaye menulis, Sangat mengkuatirkan kita sebagai orang tua, kecenderungan ke arah depresi kadang-kadang mulai sejak usia dini. . . . Bertambahnya jumlah anak-anak penderita depresi yang bunuh diri merupakan suatu tragedi yang menakutkan saat ini. Tidak sedikit anak yang selalu berusaha menyenangkan hati orang tua mereka dengan berusaha mengikuti semua kemauan dan anjuran orang tua. Semua ini dengan rela dilakukan anak karena melihat jerih payah dan pengorbanan orang tua demi kesuksesan mereka. Tetapi, harus diakui bahwa sering kali kerelaan mereka itu disertai dengan keterpaksaan ketika kursus-kursus atau kegiatan-kegiatan yang harus diikuti itu tidak mereka sukai dan membuat mereka begitu lelah, atau memang bukan kompetensi mereka dalam bidang-bidang tersebut. Karena berbagai alasan, misalnya takut mengecewakan atau takut diomeli, anak-anak baik ini menekan perasaan mereka, dan itu bisa terjadi berulang kali dalam masa kanak-kanak mereka. Karena itu, tidaklah mengherankan ketika remaja atau dewasa nanti mereka rawan terhadap stres dan depresi.
Mementingkan Prestasi dan Mengabaikan Kepribadian
Push parenting menekankan anak harus mendapatkan pendidikan yang terbaik, dan menunjukkan prestasi yang terbaik pula. Dengan demikian diharapkan nanti mereka akan mendapatkan pekerjaan yang terbaik, dan akhirnya mereka dapat dikatakan berhasil dalam hidup. Tetapi, apakah mutlak seratus persen bahwa keberhasilan hidup itu ditentukan oleh prestasi. Bukankah guna mencapai kesuksesan hidup, prestasi perlu ditunjukkan dengan kepribadian yang baik pula?
Ketika prestasi menjadi titik fokus sasaran pengasuhan anak, maka kecenderungannya tujuan pembentukan kepribadian anak akan terabaikan. Apa yang dilakukan anak menjadi lebih penting daripada akan menjadi apa mereka kelak. Banyak orang tua yang terlalu sibuk memacu prestasi anak sampai melupakan tanggung jawab untuk membentuk kepribadian mereka. Salah satu aspek positif dari kepribadian yang terabaikan dengan push parenting adalah kemandirian. Orang tua yang selalu mau terlibat dan mengatur kehidupan anaknya, sehingga sama sekali tidak memberi kesempatan untuk anak berpikir dan memberikan pendapat sesuai dengan sudut pandangnya, akan melahirkan anak-anak yang tidak mandiri. Orang tua yang menahan diri dan belajar mengekang kecenderungannya untuk terus mencampuri urusan anak akan mendorong anak menjadi mandiri.
Ketika memutuskan sesuatu yang berkaitan dengan kepentingan anak, sering kali para orang tua tidak mau mengajak anak ikut berunding, karena mereka berpikir tindakan itu hanya akan menunjukkan kelemahan mereka sebagai orang tua yang seharusnya berwenang penuh atas anak. Tetapi, sebenarnya justru tidak demikian. Dengan melibatkan anak menunjukkan penghargaan dan kepedulian orang tua pada anak. Anak mempunyai hak untuk berbicara dan mengemukakan apa yang menjadi kesenangan atau pun keberatan mereka dan orang tua berkewajiban untuk mendengarkan. Anak-anak butuh didengarkan dan dimengerti, yang mengindikasikan bahwa mereka diterima. Hal ini merupakan sesuatu yang esensial sekali untuk anak dapat memiliki penghargaaan diri (self-esteem)
Banyak orang tua sepertinya menjadi “tuhan” bagi anak-anak mereka. Padahal, bukankah anak-anak adalah karunia yang Tuhan percayakan kepada para orang tua untuk mereka didik dan arahkan menjadi pribadi yang terus bertumbuh sesuai dengan kapasitas yang Tuhan anugerahkan buat mereka?
Salah satu ciri orang yang memiliki penghargaan diri (self-esteem) yang buruk adalah mereka hidup hanya untuk memenuhi keinginan, harapan, dan tuntutan orang lain. Mereka akan merasa diri berharga kalau menjadi seseorang yang dapat memenuhi segala keinginan yang positif, dan menumbuhkan ketrampilan untuk membuat berbagai
keputusan secara bertanggung jawab ketika mereka dewasa nanti. Orang tua perlu belajar banyak untuk menunjukkan penghargaan kepada anak-anak mereka dengan cara yang sangat sederhana, yaitu mendengarkan. Selain kehilangan kesempatan untuk membentuk anak menjadi pribadi yang mandiri, push parenting juga sangat memungkinkan untuk menciptakan pribadi yang perfeksionis. Karena tuntutan yang berlebihan, maka perkataan yang pasti sering dikeluarkan oleh orang tua adalah “kamu seharusnya bisa lebih baik lagi;” “jangan mau dikalahkan oleh orang lain;” “kamu harus lebih berprestasi agar orang-orang semakin kagum kepadamu;” dan sebagainya.
Komentar-komentar yang seperti inilah yang terus-menerus mengisi pikiran anak-anak tersebut dan melahirkan perasaan tidak pernah puas dengan apa yang sudah mereka raih. Norman Wright menyebut orang-orang perfeksionis sebagai orang yang sukses dalam kegagalan, karena itu tidak sedikit di antara orang-orang ini mempunyai hidup yang sukses, tetapi masih merasa kosong dan tidak puas. Selain itu, orang yang perfeksionis sudah pasti akan menemukan banyak kesulitan dalam pergaulan, karena mereka sulit menerima keterbatasan orang lain.
Kehilangan Kebersamaan yang Bermakna dengan Keluarga
Salah satu konsekuensi dari push parenting adalah anak diharuskan mengikuti banyak kegiatan di luar sekolah supaya dapat berprestasi dalam lebih banyak bidang. Anak-anak lebih banyak waktu bersama dengan pembimbing, pelatih, atau guru les mereka, dan semakin sedikit waktu bersama-sama dengan keluarga, khususnya orang tua. Hasil penelitian di University of Michigan, pada tahun 1998 menunjukkan bahwa waktu bebas anak-anak di bawah usia 13 tahun berkurang sebanyak 16 persen dalam satu generasi, yaitu dari 63 jam menjadi 51 jam seminggu.30 Bagi kebanyakan orang tua, prestasi anak mereka jauh lebih penting daripada bincang-bincang santai di sekitar meja makan dan di depan televisi, atau sekadar berkelakar di tempat tidur.
Semakin hari, semakin banyak hal yang seharusnya bisa diajar oleh orang tua, dipelajari anak-anak dari orang-orang yang dibayar. Tujuannya, dengan keahlian orang-orang itu, anak-anak kemungkinan besar dapat lebih berprestasi orang lain (Alan LoyMcGinnis, Percaya Diri vs Kesombongan [Jakarta: Metanoia, 1997] 100-103). Karena itu anak-anak yang sejak kecil ditekan dan diharuskan untuk memenuhi apa maunya orang tua, ketika remaja atau dewasa akan cenderung menjadi pribadi yang mempunyai penghargaan diri (self-esteem) yang buruk.
Orang tua melupakan bahwa ada sesuatu yang sangat berharga yang terhilang dengan pola asuh seperti itu, yaitu kebersamaan yang bermakna dengan anak-anak mereka. Kesempatan orang tua untuk berbagi pengalaman dan hal-hal yang penting semakin jarang. Di dalam kebersamaan dengan orang tua dan melalui percakapan dari pribadi ke pribadi yang bermutu, terjadi relasi saling membangun, keintiman akan terjalin, menolong anak menemukan siapa dirinya, dan memberikan rasa aman yang diperlukan seorang anak. Hal-hal yang positif ini akan sulit dialami di tengah-tengah keluarga yang menerapkan push parenting.
Beberapa dampak negatif di atas seharusnya sudah lebih dari cukup untuk membuat kesimpulan bahwa push parenting bukanlah pola asuh anak yang efektif untuk dipraktekkan, kecuali memang kita tidak peduli dengan masa depan anak-anak kita.
MENYADARKAN ORANG TUA, MENOLONG ANAK
Anak yang tertekan karena push parenting seperti contoh kasus di bagian pendahuluan, dapat dikategorikan sebagai anak yang sedang mengalami krisis. Hal ini tampak jelas dari perilaku yang sudah tidak wajar lagi dari seorang anak, yaitu hilangnya keceriaan mereka. Menurut A. D. Lester, ketika anak-anak mengalami krisis, mereka harus ditolong untuk menangani krisis tersebut, karena kalau tidak, aspek penyimpangan krisis yang tidak terselesaikan itu akan terus mengganggu seluruh kehidupan kanak-kanak mereka, bahkan sampai masa dewasa nanti.
Beberapa hal berikut ini sangat penting untuk diperhatikan dan dapat menjadi pedoman dalam menolong anak yang tertekan akibat push parenting. Kebanyakan masalah anak adalah masalah keluarga, khususnya orang tua, termasuk juga masalah anak akibat push parenting. Dalam konseling anak, akan sangat membantu apabila kita melibatkan keluarga (orang tua) dalam proses konseling. Seperti dalam contoh kasus Hary, tidak cukup kalau kita hanya berbicara dengan Hary, tetapi kita juga harus melibatkan orang tuanya.
1. Dalam beberapa kali pertemuan konseling diharapkan sudah dapat ditemukan inti permasalahan yang dihadapi klien. Untuk klien yang sudah tidak mau ke sekolah dan enggan untuk keluar rumah dan bermain seperti biasanya, konselor dapat berusaha membangkitkan kembali keinginannya untuk kembali bersekolah dan bermain seperti biasanya. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan meminta teman-teman bermain atau teman-teman sekolah dan guru si klien untuk datang mengunjungi klien beramai-ramai, kalau memungkinkan, dan mendorongnya untuk bersekolah atau bermain lagi seperti dulu. Intinya konselor berusaha menghadirkan dan mengingatkan kembali klien akan keceriaan masa kanak-kanaknya yang terhilang.
2. Konselor harus berbicara dengan orang tua, dengan tujuan menyadarkan dan mengajak mereka melihat bersama-sama bahwa akar penyebab permasalahan anak mereka adalah pola asuh yang keliru. Dalam perbincangan dengan orang tua itu konselor dapat memberikan beberapa masukan penting yang harus diperhatikan orang tua untuk mendukung dan mempercepat proses kesembuhan si anak.
a. Belajar untuk mendengarkan dan memahami anak. Beers menulis “Jika saya memandang anak saya adalah orang yang paling penting dalam kehidupan saya, maka saya mau mendengarkan. Saya mau menempatkan masalah mendengarkan itu pada prioritas saya yang utama.”
Kemungkinan besar orang tua yang menerapkan push parenting menutup mata terhadap kenyataan bahwa anak mempunyai hak untuk berbicara dan didengarkan. Karena pada saat itulah anak akan merasa dihargai dan diperlakukan sebagai seorang pribadi.
b. Terimalah anak dengan apa adanya, yaitu menerima anak sebagai karunia yang selama ini didambakan. Apa adanya berarti mengakui bahwa anak tidak dapat menjadi “sempurna” dan bisa segalanya; kadang kala dia bisa berhasil, tetapi kadang kala dia juga bisa gagal.
c. Dunia anak adalah dunia bermain. Bermain adalah setiap kegiatan yang dilakukan untuk kesenangan yang ditimbulkannya, tanpa memperhitungkan hasil akhir.37 Banyak orang tua beranggapan bahwa anak hanya dapat belajar ketika mereka melakukan kegiatan belajar yang serius.
Para ilmuwan telah menunjukkan bahwa bermain merupakan pengalaman belajar yang sangat berharga. Beberapa pengaruh positif bagi penyesuaian pribadi dan sosial anak yang didapatkan melalui aktivitas bermain adalah perkembangan fisik, dorongan berkomunikasi, penyaluran bagi energi emosional yang terpendam, penyaluran bagi kebutuhan dan keinginan, sumber belajar, rangsangan bagi kreativitas, perkembangan wawasan diri, belajar bermasyarakat, standar moral, belajar bermain sesuai dengan peran-peran jenis kelamin, perkembangan ciri kepribadian yang diinginkan. Berapa banyak waktu yang digunakan masing-masing anak untuk bermain dan bekerjaaktivitas belajar dan kegiatan-kegiatan lainnya memang tergantung pada usia dan minat anak. Tetapi yang menjadi masalah adalah bagaimana orang tua mengetahui atau apa kriterianya untuk menentukan anak sudah mempunyai kombinasi aktivitas bermain dan bekerja yang sudah tepat.
E. Hurlock memberikan kriteria yang relatif sederhana. Kalau anak kelihatannya sudah mulai bosan dengan permainannya dan bertanya, “apa yang dapat kulakukan sekarang?” berarti skala bermainnya perlu dikurangi. Sebaliknya kalau anak merasa bosan dan jenuh dengan pelajaran atau kegiatan-kegiatan lainnya, atau menunjukkan tanda-tanda bekerja di bawah kemampuannya, hal itu mengindikasikan bahwa mereka membutuhkan lebih banyak waktu dan kesempatan untuk bermain.
3. Ketika dalam proses konseling, orang tua sudah kita ajak berbicara dan menyadari kekeliruannya dan anak sendiri juga sudah merasa cukup aman dan siap, adakanlah kesempatan untuk mereka bertemu. Dalam kesempatan tersebut, ciptakanlah suasana yang nyaman dan doronglah anak untuk mengutarakan secara langsung ketertekanannya dan apa yang menjadi harapannya, yang selama ini mungkin tidak berani dia ungkapkan kepada orang tuanya. Kesempatan ini dapat menjadi “latihan” yang baik bagi orang tua untuk belajar mendengarkan. Kemudian ajaklah orang tua dan anak bersama-sama mengatur kembali agenda keseharian anak, termasuk waktu kebersamaan dengan orang tua, yang disepakati bersama untuk dilakukan.
Dengan memperhatikan beberapa hal di atas, diharapkan nantinya orang tua dapat menerapkan pola asuh yang lebih fleksibel dan efektif untuk perkembangan anak dan dengan demikian diharapkan juga anak dapat segera sembuh.
KESIMPULAN
Sebagai kesimpulan dari artikel ini, penulis ingin mengutip judul salah satu bab dari buku Orang tua, Berbicaralah dengan Anak Anda! Yaitu, “apakah anda sungguh-sungguh di pihak anak anda?” Saya yakin sekali bahwa semua orang tua yang baik akan mengiyakan pertanyaan itu. Tetapi, sangat besar kemungkinannya bahwa di antara para orang tua yang mengiyakan itu, tanpa sadar sebenarnya mereka tidak betul-betul berada di pihak anak mereka. Push parenting adalah tren pengasuhan anak yang sangat menjebak orang tua karena berpotensi besar untuk merenggut masa kanak-kanak anak-anak. Penulis buku Mendidik Anak dengan Cinta: Petunjuk Bagi Orang Tua agar Anak menjadi Bahagia menasehatkan para orang tua untuk “Membiarkan anak-anak tetap anak-anak.”
Pola pengasuhan yang menuntut anak secara berlebihan, yang katanya demi kebahagiaan anak, yang terjadi justru adalah sebaliknya, mengorbankan keindahan dan keceriaan masa kanak-kanak anak-anak itu. Adalah penting didengungkan kembali dengan lebih keras kepada para orang tua masa kini, “Anak-anak Anda adalah karunia istimewa yang oleh Allah SWT dipercayakan kepada Anda. Karena itu curahkanlah kasih sayang yang tak bersyarat buat mereka. Terimalah mereka apa adanya, asuhlah dan didiklah mereka sebagai pribadi yang unik.”
ANAK INTROVERT VS ANAK EKSTROVERT
ANAK INTROVERT VS ANAK EKSTROVERT
Kholifatul Azizah, S.Pd.I. (Guru RA dan Pemerhati Pemerhati Pendidikan Anak Usia Pra-Sekolah)
Bunda Faris kebingungan mengha-dapi Farhan, putera keduanya yang berumur 7 tahun. Berbeda dengan Faris yang selalu ceria dan aktif, putera sulungnya yang juga kakak Farhan, Farhan sangat pendiam dan pasif. Anak kelas 2 SD itu tidak banyak bicara, cenderung tertutup, dan jarang bergaul.
Ada apa sebetulnya? Sang ibu selalu merasa kasih sayangnya terhadap Faris dan Farhan sama dan tidak pilih kasih. Ia telah berusaha bersikap adil terhadap keduanya. Tapi, kenapa anak-anak ini sangat berbeda, seperti dari planet yang berbeda?
Melihat kasus ini, sebetulnya bukan suatu hal yang baru lagi dalam dunia pendidikan dan psikologi anak. Pada dasarnya, setiap anak dilahirkan berbeda. Bahkan anak kembar pun memiliki perbedaan.
Introvert vs Ekstrovert
Introvert adalah kecenderungan seorang anak untuk menarik diri dari lingkungan sosialnya. Sikap dan keputusan yang ia ambil untuk melakukan sesuatu biasanya didasarkan pada perasaan, pemikiran, dan pengalamannya sendiri. Mereka biasanya pendiam dan merasa tidak butuh orang lain karena merasa kebutuhannya bisa dipenuhi sendiri.
Ekstrovert adalah kecenderungan seorang anak untuk mengarahkan perhatiannya keluar dirinya. Sehingga segala sikap dan keputusan-keputusan yang diambilnya adalah berdasarkan pada pengalaman-pengalaman orang lain. Mereka cenderung ramah, terbuka, aktif dan suka bergaul.
Awalnya, introvert dan ekstrovert adalah sebuah reaksi seorang anak terhadap sesuatu. Namun, jika reaksi demikian ditunjukkan terus menerus, maka dapat menjadi sebuah kebiasaan, dan kebiasaan tersebut akan menjadi bagian dari tipe kepribadiannya.
Kepribadian yang baik adalah kepribadian yang seimbang, yakni memiliki dua kecenderungan ini, introvert dan ekstrovert. Mengapa? Karena dengan memiliki kecenderungan ini, kebutuhan seorang anak akan privasinya dan juga hubungan sosialnya akan terpenuhi.
Contohnya saja, Farhan, dia memiliki kecenderungan untuk introvert. Namun jika orangtuanya mampu mengarahkannya, mampu memberikan “pancingan” untuk bersikap lebih terbuka, maka Farhan akan memiliki kepribadian yang lebih seimbang. Sedangkan Faris, yang cenderung lebih ekstrovert, jika orangtuanya mampu mengarahkannya pada hal-hal yang benar, maka ia juga akan memiliki kepribadian yang seimbang.
Kholifatul Azizah, S.Pd.I. (Guru RA dan Pemerhati Pemerhati Pendidikan Anak Usia Pra-Sekolah)
Bunda Faris kebingungan mengha-dapi Farhan, putera keduanya yang berumur 7 tahun. Berbeda dengan Faris yang selalu ceria dan aktif, putera sulungnya yang juga kakak Farhan, Farhan sangat pendiam dan pasif. Anak kelas 2 SD itu tidak banyak bicara, cenderung tertutup, dan jarang bergaul.
Ada apa sebetulnya? Sang ibu selalu merasa kasih sayangnya terhadap Faris dan Farhan sama dan tidak pilih kasih. Ia telah berusaha bersikap adil terhadap keduanya. Tapi, kenapa anak-anak ini sangat berbeda, seperti dari planet yang berbeda?
Melihat kasus ini, sebetulnya bukan suatu hal yang baru lagi dalam dunia pendidikan dan psikologi anak. Pada dasarnya, setiap anak dilahirkan berbeda. Bahkan anak kembar pun memiliki perbedaan.
Introvert vs Ekstrovert
Introvert adalah kecenderungan seorang anak untuk menarik diri dari lingkungan sosialnya. Sikap dan keputusan yang ia ambil untuk melakukan sesuatu biasanya didasarkan pada perasaan, pemikiran, dan pengalamannya sendiri. Mereka biasanya pendiam dan merasa tidak butuh orang lain karena merasa kebutuhannya bisa dipenuhi sendiri.
Ekstrovert adalah kecenderungan seorang anak untuk mengarahkan perhatiannya keluar dirinya. Sehingga segala sikap dan keputusan-keputusan yang diambilnya adalah berdasarkan pada pengalaman-pengalaman orang lain. Mereka cenderung ramah, terbuka, aktif dan suka bergaul.
Awalnya, introvert dan ekstrovert adalah sebuah reaksi seorang anak terhadap sesuatu. Namun, jika reaksi demikian ditunjukkan terus menerus, maka dapat menjadi sebuah kebiasaan, dan kebiasaan tersebut akan menjadi bagian dari tipe kepribadiannya.
Kepribadian yang baik adalah kepribadian yang seimbang, yakni memiliki dua kecenderungan ini, introvert dan ekstrovert. Mengapa? Karena dengan memiliki kecenderungan ini, kebutuhan seorang anak akan privasinya dan juga hubungan sosialnya akan terpenuhi.
Contohnya saja, Farhan, dia memiliki kecenderungan untuk introvert. Namun jika orangtuanya mampu mengarahkannya, mampu memberikan “pancingan” untuk bersikap lebih terbuka, maka Farhan akan memiliki kepribadian yang lebih seimbang. Sedangkan Faris, yang cenderung lebih ekstrovert, jika orangtuanya mampu mengarahkannya pada hal-hal yang benar, maka ia juga akan memiliki kepribadian yang seimbang.
Kamis, 31 Desember 2009
Langganan:
Postingan (Atom)

.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)

.jpg)