Jumat, 05 Juni 2009
PENELITIAN TINDAKAN KELAS
Oleh : Ahmad Fauzi, S.Pd.
PENGANTAR
Penelitian tindakan kelas dewasa ini merupakan penelitian yang paling ngetren dikalangan praktisi, terutama digunakan untuk pemecahan permasalahan dan mutu diberbagai bidang. Dalam dunia pendidikan, khususnya dalam kegiatan pembelajaran penelitian tindakan kelas merupakan penelitian terapan, yang bermafaat bagi guru untuk meningkatkan proses dan hasil belajar di kelas. Permasalahan aktual yang ditemukan guru di kelasnya, melalui kegiatan ini dapat dipecahkan. Dilihat dari segi keuntungannya penelitian tindakan kelas merupakan penelitian yang ideal untuk dilakukan guru. Selain sebagai penelitian terapan, juga sekaligus merupakan penelitian yang dapat dilaksanakan di kelasnya, sehingga guru tidak lagi perlu meninggalkan kelasnya. Dengan demikian guru dapat berperan ganda yaitu sebagai praktisi, juga sekaligus sebagai peneliti pendidikan.
Beberapa keuntungan yang dapat diperoleh guru melalui penelitian ini, antara lain :
1. Guru menjadi peka dan tanggap terhadap dinamika pembelajaran, dan guru reflektif dan kritis terhadap kegiatan di kelasnya.
2. Guru dapat meningkatan kinerjanya lebih profesional, karena akan selalu melakukan inovasi yang dilandasi dari hasil penelitian.
3. Guru dapat memperbaiki tahapan-tahapan pembelajaran, melalui kajian aktual yang muncul di kelasnya.
4. Guru tidak terganggu tugasnya, dalam melakukan penelitian. Penelitian terintegrasi dengan pembelajaran yang dilakukan dikelasnya.
5. Guru menjadi kreatif karena dituntut untuk melakukan inovasi.Penerapan penelitian tindakan kelas oleh guru mempunyai makna yang sangat tinggi. Oleh sebab itu perlu dilakukan pengembangan wawasan dan implementasi model penelitian ini, sehingga memungkinkan membudaya pada komunitas guru, APAKAH PENELITIAN TINDAKAN KELAS ITU.
Pengertian Penelitian Tindakan Kelas Sebelum membahas tentang proposal penelitian tindakan, terlebih dahulu perlu kita samakan persepsi tentang konsepsi penelitian tindakan kelas. Penelitian tindakan kelas merupakan hasil adaptasi dari penelitian tindakan yang awalnya muncul pada dunia industri.
Adaptasi menjadi penelitian tindakan kelas pertama kali dikenalkan oleh ahli psikologis sosial Amerika Kurt Lewin pada tahun 1946. Gagasan Lewin ini yang selanjutnya dikembangkan oleh ahli lain seperti Stephen Kemmis, Robbin Mc Targgart, John Elliot, Dave Ebbutt dll. Ada beberapa definisi tentang penelitian tindakan : Elliot (1982) , menyatakan bahwa penelitian tindakan merupakan kajian tentang situasi sosial dengan maksud untuk meningkatkan kualitas tindakan di dalamnya.
Seluruh prosesnya – telaah, diagnosis, perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan pengaruh menciptakan hubungan yang diperlukan antara evaluasi diri dan perkembangan profesional. Cogen dan Manion (1980), menyatakan bahwa penelitian tindakan adalah intervensi sekala kecil terhadap tindakan di dunia nyata dan pemeriksaan cermat terhadap pengaruh intervensi tersebut.Kemmis dan Targart (1988), menyatakan bahwa penelitian tindakan merupakan bentuk penelitian reflektif diri kolektif, yang dilakukan oleh pesertanya dalam situasi sosial untuk meningkatkan penalaran dan keadilan praktik pendidikan dan praktik sosial mereka, serta pemahaman mereka terhadap praktik-praktik itu, dan terhadap situasi tempat dilakukannya praktik-praktik tersebut.
Dari ketiga kutipan definisi di atas dapat diartikan bahwa :
1) hasil penelitian tindakan dipakai sendiri oleh penelitinya,
2) penelitiannya terjadi di dalam situasi nyata yang permasalahannya perlu dipecahkan, dan hasilnya diterapkan/ dipraktikkan.Menurut Siswojo Hardjodipuro, yang dimaksud oleh Carr dan Kemmis, penelitian tindakan kelas adalah suatu bentuk refleksi diri yang dilakukan oleh partisipan (guru, siswa, kepala sekolah dll) dalam situasi sosial (termasuk pendidikan) untuk memperbaiki rasionalitas dan kebenaran. Hardjodipuro lebih lanjut menyatakan bakwa penelitian tindakan kelas merupakan suatu pendekatan untuk memperbaiki pendidikan melalui perubahan, dengan mendorong para guru untuk memikirkan praktik mengajarnya sendiri, agar kritis terhadap praktik tersebut, dan agar mau untuk mengubahnya.
PTK bukan hanya sekedar mengajar, melainkan mempunyai makna sadar dan kritis terhadap mengajar dan menggunakan kesadaran dirinya untuk siap adanya perubahan dan perbaikan pada proses pembelajarannya. PTK mendorong guru bertindak dan berfikir kritis dalam melaksakanan tugasnya secara profesional.
Karakteristik Penelitian Tindakan Kelas Ada sedikit yang membedakan penelitian tindakan dengan penelitian lainnya. PTK merupakan penelitian terapan, dimana hasilnya digunakan untuk diterapkan sebagai pengalaman praktis. Ada yang menyebutkan bahwa PTK mempunyai ciri seperti penelitian kualitatif dan eksperimen. Dikatakan kualitatif karena datanya tidak memerlukan perhitungan secara statistik, sedangkan dikatakan penelitian eksperimental karena diawali dengan perencanaan, perlakuan terhadap subjek penelitian, dan adanya evaluasi hasil yang dicapai setelah perlakuan.
Richart Winter menyebutkan adanya 6 karakteristik PTK yaitu :
a. Kritik refleksif; adalah adanya upaya evaluasi atau penilaian yang didasarkan catatan data yang telah dibuat, dan cara refleksi sehingga dapat ditransformasikan menjadi pertanyaaan dan alternatif yang mungkin dapat disarankan.
b. Kritik dialektis; adalah adanya kesediaan peneliti untuk melakukan kritik pada fenomena yang ditelitinya. Dalam hal ini guru perlu menafsirkan data dengan konteks yang harus ada, menganalisis katagori yang berbeda untuk menemukan kesamaan, dan menangkap isyarat bahwa fenomena akan dapat berubah.
c. Kolabortif; adalah adanya kerjasama (atasan, sejawat, siswa dll), yang dapat dipergunakan sebagai sudut pandang. Peneliti dalam PTK adalah bagian dari situasi yang diteliti, peneliti sebagai pengamat juga terlibat langsung dalam proses situasi tersebut. Kolaborasi pada anggota dalam situasi itu yang memungkinkan proses itu berlangsung. Untuk menjamin kolaborasi perlu mengumpulkan semua sudut pandang anggota yang menggambarkan struktur situasi yang diteliti. Tetapi perlu diingat bahwa peneliti mempunyai kewenangan dalam penelitian, sehingga tidak mutlak semua pandangan harus digunakan.
d. Resiko; adalah adanya keberanian peneliti untuk mengambil resiko pada waktu berlangsungnya penelitian. Resiko yang mungkin muncul adalah melesetnya hipotesis, dan kemungkinan tuntutan untuk melakukan transformasi. Peneliti mungkin berubah pandangannya, karena melihat sendiri pertentangan yang ada.
e. Struktur majemuk; adalah adanya pandangan bahwa penelitian ini mencakup berbagai unsur yang terlibat, agar bersifat komprehensif. Misal jika penelitian pada pengajaran, maka situasinya harus mencakup guru, murid, tujuan pembelajaran, interaksi kelas, hasil dll.
f. Internalisasi teori dan praktik; adalah adanya pandangan bahwa teori dan praktik bukan dua hal yang berbeda, tetapi merupakan dua tahap yang berbeda, yang saling tergantung, dan keduanya berfungsi untuk mendukung transformasi.
Dari karakteristik di atas menggambarkan bahwa PTK ada perbedaan dengan penelitian lainnya. Sasaran dan Obyek PTK meliputi komponen-komponen dari sebuah kelas :
1. Siswa
2. Guru
3. Materi Pelajaran
4. Unsur peralatan atau sarana pendidikan
5. Unsur hasil pembelajaran
6. Unsur Lingkungan
7. Unsur Pengelolaan Siswa Permasalahan tentang siswa misalnya: perilaku
kedisiplinan, keseriusan siswa saat mengerjakan tugas, kebiasaan siswa dalam
mengajukan pertanyaan dan sebagainya. Permasalahan yang berkenaan dengan
guru : metode mengajar yang bervariasi; metode diskusi terarah, mengajar
berkelompok, dsb.
Materi Pelajaran
Judul-judul yang dapat diangkat dalam penelitian: urutan materi, pengorganisasian materi atau cara penyajiannya; menambah sumber bahan untuk penguasaan materi, dsb.Unsur peralatan atau sarana pendidikanMasalah-masalah yang berkenaan dengan peralatan: penyediaan alat, peralatan individu dan kelompok; penertiban penggunaan alat, dsb.
Unsur hasil pembelajaran Berkenaan dengan tujuan yang akan dicapai dalam pembelajaran yaitu berkaitan dengan proses pembelajaran
Unsur Lingkungan
Judul-judul yang berkenaan dengan lingkungan, mengubah situasi ruang kelas; penataan sekolah; penataan lingkungan, dsb Unsur Pengelolaan Judul-judul yang berkenaan dengan pengelolaan: pengaturan tempat duduk siswa; penempatan peralatan milik siswa; pengaturan urutan jadwal, dsb
Model Penelitian Tindakan Kelas
Ada beberapa model penelitian tindakan yang kita kenal, antara lain : Model Kurt Lewin, Model Kemmis dan targart, Model John Elliott, dan Model Dave Ebbutt. Model Kurt Lewin menggambarkan dalam siklus terdapat empat langkah yaitu Planning (perencanaan), Acting (tindakan), Observing (pengamatan), dan Refelecting (refleksi).
Kemudian model Kurt Lewin ini dikembangkan oleh Kemmis dan Targart, dimana juga menggunakan langkah-langkah tersebut, hanya saja sesudah suatu siklus diimplementasikan, kemudian diikuti dengan Replanning (perencanan ulang).
Demikian seterusnya satu siklus diikuti oleh siklus berikutnya, hingga permasalahan terpecahkan. Model John Elliott, lebih komplek dan ditail. Dalam tiap siklus memungkinkan terdiri dari beberapa tindakan, dan setiap tindakan memungkinkan terdiri dari beberapa langkah.Secara sederhana kita akan menggunakan model Kemmis dan Targart, karena model ini yang lebih mudah dan praktis. Secara skematis model Kemmis dan Targart digambarkan sebagai berikut: Gb1. Model Kemmis dan Targart PELAKSANAAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS1. Tahapan Palaksanaan Penelitian Tindakan KelasPada dasarnya PTK terdiri dari 4 langkah di atas yaitu Planning (perencanaan), Acting (tindakan), Observing (pengamatan), dan Refelecting (refleksi).
Namun sebelumnya tahapan-tahapan di atas diawali dengan pra PTK yaitu : Identifikasi masalah• Rumusan masalah• Analisis masalah• Rumusan hipotesis tindakanDalam penelitian tindakan, permasalahan yang perlu dipecahkan adalah yang dirasakan dan diidentifikasi oleh peneliti sendiri, sebagai kesenjangan dalam kinerja yang perlu diperbaiki. Permasalahan yang perlu dipecahkan dirumuskan dengan mendiskripsikan kenyataan yang ada dan kondisi yang diinginkan. Selanjutnya permasalahan perlu dianalisis untuk mengetahui dimensi-dimensi problem yang mungkin ada untuk mengidentifikasi aspek pentingnya dan untuk memberikan penekanan yang memadai. Hipotesis tindakan bukan hipotesis perbedaan atau hubungan, melainkan hipotesis tindakan yang berisi tindakan untuk menghasilkan perbaikan yang diinginkan.
Untuk memandu pada pra PTK ini ada beberapa pertanyaan yang dapat menjadi sikuen yaitu:
• Apa yang menjadi kesenjangan pada fenomena pembelajaran di kelas?
• Mengapa hal ini terjadi dan apa sebabnya ?
• Apa yang dapat dilakukan dan bagaimana caranya mengatasi kesenjangan itu ?
• Bukti apa yang dapat dikumpulkan untuk menunjukkan fakta dalam mengatasi kesenjangan itu ?
• Bagaimana cara mengumpulkan bukti-bukti itu ?
Tahapan PTK disini sebenarnya merupakan reflektif guru pada permasalahan yang dihadapi dalam kelasnya. Dari sinilah penelitian tindakan kelas akan dilakukan.
a. Planning (perencanaan)
Rencana tindakan mencakup semua langkah tindakan sbb :
1) apa yang diperlukan untuk menentukan kemungkinan terpecahkannya
masalah yang telah dirumuskan,
2) alat-alat dan teknik yang diperlukan untuk mengumpulkan data/ informasi,
3) rencana perekaman/pencatatan data dan pengolahannya, dan
4) rencana untuk melaksanakan tindakannya dan mengevaluasi hasilnya.
Dalam hal ini perlu dilakukan pemilihan prosedur penelitian, dan prosedur pemantauan atau evaluasi. Semua keperluan dalam pelakanaan penelitian, mulai dari materi, recana pembelajaran, instrumen observasi dll harus dipersiapkan dengan matang pada tahap ini. Pada tahapan ini perlu diperhitungkan bahwa kemungkinan tindakan sosial akan mengandung resiko, sehingga rencana ini harus fleksibel sehingga nantinya memungkinkan untuk diadaptasikan.
b. Acting (tindakan)
Tindakan yang dimaksud adalah implementasi dari semua rencana yang telah dibuat, dan biasanya berlangsung didalam kelas. Langkah-langkah yang dilakukan oleh guru tentu saja sesuai dengan skenario yang telah disusun dalam rencana pembelajaran.
c. Observing (pengamatan)
Observasi dilakukan terhadap proses tindakan, pengaruh tindakan, keadaan dan kendala tindakan, dan persoalan lain yang terkait. Observasi mengumpulkan data-data dengan menggunakan instrumen atau alat lainnya yang telah dibuat secara valid. Pelaksanaan observasi tidak harus dilakukan oleh guru sendiri, tetapi melibatkan kolaborator ( guru lain). Hanya saja pengamat/kolaborator tersebut jangan sampai melakukan intervensi pada roses pembelajaran yang sedang dilaksanakan.
d. Refelecting (refleksi)
Refleksi adalah mengingat atau merenung kembali pada tindakan yang telah dilakukan, dan dicatat dalam observasi. Dalam hal ini perlu untuk dipahami proses, permasalahan, dan kendala yang nyata dari tindakan yang telah dilakukan. Proses refleksi ini data dari semua catatan kolaborator dianalisis, untuk menentukan apakah hipotesis tindakan telah tercapai, atau untuk menentukan perencanaan kembali siklus berikutnya.
PROPOSAL PENELITIAN TINDAKAN KELAS
Proposal penelitian berisi :
1) Judul Penelitian,
2) Pendahuluan,
3) Perumusan Masalah,
4) Kajian Pustaka dan penelitian yang relevan,
5) Tujuan Penelitian,
6) Metode Penelitian,
7) Personalia Penelitian,
8) Rencana Pembiayaan Penelitian,
9) Jadwal Kerja, dan
10) Lampiran.
a. Judul penelitian
Judul hendaknya mencerminkan gambaran dari pemecahan kinerja yang akan diperbaiki. Rumusan hendaknya singkat, tidak memberi tafsiran ganda, dan menunjukkan langkah pemecahan permasalahan.
Contoh :
1. Peningkatan Minat Belajar Siswa pada materi Pokok Darah dengan Pengembangan Multimedia Interaktif, siswa kelas VII, A SMP Negeri 1 Sleman tahun 2005.
2. Meminimalkan Kesalahan Siswa Kelas IX-A SMP Negeri 1 Sleman menggunakan Derivatif Bahasa Inggris melalui Pola Pelatihan Berjenjang tahun 2005. Pada halaman judul dilengkapi dengan nama dan instansi pengusul. Setelah halaman judul dilanjutkan dengan halaman pengesahan proposal PTK, yang berisi Judul, ketua peneliti, jumlah peneliti, lokasi penelitian, kerjasama dengan instansi lain, waktu penelitian, serta biaya yang diperlukan.
b. Pendahuluan
Berisi hal-hal yang melatar belakangi penelitian perlu dilakukan, dan identifikasi permasalahan. Pada prinsipnya menggambarkan kondisi yang terjadi dan harapan , permasalahan, pentingnya masalah ini untuk diteliti, dan manfaat yang diharapkan dari penemuan penelitian.c. Perumusan masalahPerumusan masalah dalam kalimat naratif, baik pernyataan ataupun pertanyaan yang problematik. Biasanya dikemukakan melalui tahapan-tahapan diagnosis permasalahan, terapi yang digunakan untuk memecahkan masalah dan gambaran keberhasilan atau keefektifan tindakan.
c. Kajian pustaka dan Penelitian yang relevan
Pada bagian dijelaskan landasan keilmuan yang terkait dengan konteks pemecahan permasalahan. Sedapat mungkin di usahakan agar mempertimbangkan kemutakhiran, dan relevansi bahan pustaka. Daikhir bagian ini biasanya dirumuskan kerangka berfikir yang dilanjutkan dengan rumusan hipotesis tindakan.
d. Tujuan penelitian
Tujuan penelitian menggambarkan semua unsur yang terkait dengan harapan-harapan yang dilandasi oleh adanya kondisi riel yang perlu ditingkatkan.
e. Manfaat penelitian
Pada PTK penelitian tentu saja akan memberikan kontribusi pada sekolah, peneliti, dan subjek yang diteliti.
f. Metode penelitian
Metode penelitian dituliskan secara jelas dan rinci. Pada metode, yang perlu dituliskan adalah :
1) setting atau lokasi penelitian, disini dituliskan identitas sekolah dan kondisi
subjek yang diteliti.
2) subjek yang terlibat sebagai peneliti, kolaborator atau partisipan,
3) alat-alat dan teknik pengumpulan data,
4) rencana tindakan, yaitu langkah yang ditempuh ,
5) Jenis dan sumber data,
6) teknik pengumpulan data, teknik analisa data, dan
7) kriteria, indikator evaluasi dan refleksi.
g. Personalia penelitian
Berisi tim peneliti dengan identitas. Disertakan pula kurikulum vitae yang menunjukkan bidang keahlian dan latar belakang yang relevan dengan penelitian yang dilaksanakan. Disamping itu perlu juga dirinci nama, tugas dan volume kerja.
h. Rencana pembiayaan penelitian
Meliputi jenis pengeluaran dan besarnya nilai biaya yang dikeluarkan. Biaya secara garis besarnya meliputi biaya persiapan, biaya operasional, dan biaya pelaporan.
i. Jadwal kerja
Jadwal kerja menggambarkan waktu pelaksanaan penelitian. Ini diawali dari penysunan proposal hingga pelaporan. Biasanya jadwal kerja disusun dalam metrik.
j. Daftar pustaka
Pada daftar pustaka dicantumkan demua rujukan yang digunakan dalam penyusunan proposal.
k. Lampiran
Berisi semua pendukung yang diperlukan seperti instrumen yang digunakan, kurikulum vitae peneliti dll.
PELAPORAN
Pada prinsipnya laporan adalah kelanjutan dari proposal. Sebagaian besar isi laporan adalah sama dengan proposal, hanya ditambahkan abstrak, hasil penelitian , dan kesimpulan/saran. Pada PTK kemungkinan sering terjadi pengadaptasian, sehingga memungkinkan ada perubahan. Susunan laporan PTK secara umum adalah :
1. Halaman sampul
Sampul bertuliskan judul laporan, peneliti dan instansi peneliti.
2. Halaman pengesahan
Halaman pengesahan berisi judul penelitian, tanggal pengesahan, dan yang mengesahkan.
3. Abstrak
Merupakan ringkasan dari semua tulisan, meliputi judul, tujuan, metode, dan hasil penelitian.
4. Kata pengantar
5. Daftar isi
6. Bab I. Pendahuluan
a. Latar belakang
b. Rumusan masalah
c. Tujuan
d. Manfaat
7. Bab II. Kajian Pustaka
a. Tanjauan kepustakaan
b. Kerangka berfikir
c. Hipotesis tindakan
8. Bab III. Metode
a. Seting penelitian
b. Subjek penelitian
c. alat-alat pengumpulan data
d. rencana tindakan
e. Jenis dan sumber data
f. Teknik pengumpulan data
g. Teknik analisa datah. Kriteria evaluasi dan refleksi
9. Bab IV Hasil Penelitian
10. Bab V. Kesimpulan dan sarana
a. Kesimpulan
b. Saran
11. Daftar pustaka
12. Lampiran
***
DAFTAR PUSTAKA
Anonim., 1997. Dasar- Dasar Metodologi Penelitian. Malang : Lembaga Penelitian IKIP Malang.
Kemmis, S. & Mc Targart, R,. 1982. The Action Research Planner. 3rd ed. Victoria : Deakin University
Madya Suwarsih,. 1994. Panduan : Penelitian Tindakan. Yogyakarta : Lembaga Penelitian IKIP Yogyakarta.
Margono, S,. 2000. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta : Rineka CiptaSudjana, A, dan Awal Kusumah,. 1992. Proposal Penelitian di Perguruan Tinggi. Bandung : Penerbit Sinar baru.
Wibawa Basuki,. 2003. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah
***
Oleh : Ahmad Fauzi, S.Pd.
PENGANTAR
Penelitian tindakan kelas dewasa ini merupakan penelitian yang paling ngetren dikalangan praktisi, terutama digunakan untuk pemecahan permasalahan dan mutu diberbagai bidang. Dalam dunia pendidikan, khususnya dalam kegiatan pembelajaran penelitian tindakan kelas merupakan penelitian terapan, yang bermafaat bagi guru untuk meningkatkan proses dan hasil belajar di kelas. Permasalahan aktual yang ditemukan guru di kelasnya, melalui kegiatan ini dapat dipecahkan. Dilihat dari segi keuntungannya penelitian tindakan kelas merupakan penelitian yang ideal untuk dilakukan guru. Selain sebagai penelitian terapan, juga sekaligus merupakan penelitian yang dapat dilaksanakan di kelasnya, sehingga guru tidak lagi perlu meninggalkan kelasnya. Dengan demikian guru dapat berperan ganda yaitu sebagai praktisi, juga sekaligus sebagai peneliti pendidikan.
Beberapa keuntungan yang dapat diperoleh guru melalui penelitian ini, antara lain :
1. Guru menjadi peka dan tanggap terhadap dinamika pembelajaran, dan guru reflektif dan kritis terhadap kegiatan di kelasnya.
2. Guru dapat meningkatan kinerjanya lebih profesional, karena akan selalu melakukan inovasi yang dilandasi dari hasil penelitian.
3. Guru dapat memperbaiki tahapan-tahapan pembelajaran, melalui kajian aktual yang muncul di kelasnya.
4. Guru tidak terganggu tugasnya, dalam melakukan penelitian. Penelitian terintegrasi dengan pembelajaran yang dilakukan dikelasnya.
5. Guru menjadi kreatif karena dituntut untuk melakukan inovasi.Penerapan penelitian tindakan kelas oleh guru mempunyai makna yang sangat tinggi. Oleh sebab itu perlu dilakukan pengembangan wawasan dan implementasi model penelitian ini, sehingga memungkinkan membudaya pada komunitas guru, APAKAH PENELITIAN TINDAKAN KELAS ITU.
Pengertian Penelitian Tindakan Kelas Sebelum membahas tentang proposal penelitian tindakan, terlebih dahulu perlu kita samakan persepsi tentang konsepsi penelitian tindakan kelas. Penelitian tindakan kelas merupakan hasil adaptasi dari penelitian tindakan yang awalnya muncul pada dunia industri.
Adaptasi menjadi penelitian tindakan kelas pertama kali dikenalkan oleh ahli psikologis sosial Amerika Kurt Lewin pada tahun 1946. Gagasan Lewin ini yang selanjutnya dikembangkan oleh ahli lain seperti Stephen Kemmis, Robbin Mc Targgart, John Elliot, Dave Ebbutt dll. Ada beberapa definisi tentang penelitian tindakan : Elliot (1982) , menyatakan bahwa penelitian tindakan merupakan kajian tentang situasi sosial dengan maksud untuk meningkatkan kualitas tindakan di dalamnya.
Seluruh prosesnya – telaah, diagnosis, perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan pengaruh menciptakan hubungan yang diperlukan antara evaluasi diri dan perkembangan profesional. Cogen dan Manion (1980), menyatakan bahwa penelitian tindakan adalah intervensi sekala kecil terhadap tindakan di dunia nyata dan pemeriksaan cermat terhadap pengaruh intervensi tersebut.Kemmis dan Targart (1988), menyatakan bahwa penelitian tindakan merupakan bentuk penelitian reflektif diri kolektif, yang dilakukan oleh pesertanya dalam situasi sosial untuk meningkatkan penalaran dan keadilan praktik pendidikan dan praktik sosial mereka, serta pemahaman mereka terhadap praktik-praktik itu, dan terhadap situasi tempat dilakukannya praktik-praktik tersebut.
Dari ketiga kutipan definisi di atas dapat diartikan bahwa :
1) hasil penelitian tindakan dipakai sendiri oleh penelitinya,
2) penelitiannya terjadi di dalam situasi nyata yang permasalahannya perlu dipecahkan, dan hasilnya diterapkan/ dipraktikkan.Menurut Siswojo Hardjodipuro, yang dimaksud oleh Carr dan Kemmis, penelitian tindakan kelas adalah suatu bentuk refleksi diri yang dilakukan oleh partisipan (guru, siswa, kepala sekolah dll) dalam situasi sosial (termasuk pendidikan) untuk memperbaiki rasionalitas dan kebenaran. Hardjodipuro lebih lanjut menyatakan bakwa penelitian tindakan kelas merupakan suatu pendekatan untuk memperbaiki pendidikan melalui perubahan, dengan mendorong para guru untuk memikirkan praktik mengajarnya sendiri, agar kritis terhadap praktik tersebut, dan agar mau untuk mengubahnya.
PTK bukan hanya sekedar mengajar, melainkan mempunyai makna sadar dan kritis terhadap mengajar dan menggunakan kesadaran dirinya untuk siap adanya perubahan dan perbaikan pada proses pembelajarannya. PTK mendorong guru bertindak dan berfikir kritis dalam melaksakanan tugasnya secara profesional.
Karakteristik Penelitian Tindakan Kelas Ada sedikit yang membedakan penelitian tindakan dengan penelitian lainnya. PTK merupakan penelitian terapan, dimana hasilnya digunakan untuk diterapkan sebagai pengalaman praktis. Ada yang menyebutkan bahwa PTK mempunyai ciri seperti penelitian kualitatif dan eksperimen. Dikatakan kualitatif karena datanya tidak memerlukan perhitungan secara statistik, sedangkan dikatakan penelitian eksperimental karena diawali dengan perencanaan, perlakuan terhadap subjek penelitian, dan adanya evaluasi hasil yang dicapai setelah perlakuan.
Richart Winter menyebutkan adanya 6 karakteristik PTK yaitu :
a. Kritik refleksif; adalah adanya upaya evaluasi atau penilaian yang didasarkan catatan data yang telah dibuat, dan cara refleksi sehingga dapat ditransformasikan menjadi pertanyaaan dan alternatif yang mungkin dapat disarankan.
b. Kritik dialektis; adalah adanya kesediaan peneliti untuk melakukan kritik pada fenomena yang ditelitinya. Dalam hal ini guru perlu menafsirkan data dengan konteks yang harus ada, menganalisis katagori yang berbeda untuk menemukan kesamaan, dan menangkap isyarat bahwa fenomena akan dapat berubah.
c. Kolabortif; adalah adanya kerjasama (atasan, sejawat, siswa dll), yang dapat dipergunakan sebagai sudut pandang. Peneliti dalam PTK adalah bagian dari situasi yang diteliti, peneliti sebagai pengamat juga terlibat langsung dalam proses situasi tersebut. Kolaborasi pada anggota dalam situasi itu yang memungkinkan proses itu berlangsung. Untuk menjamin kolaborasi perlu mengumpulkan semua sudut pandang anggota yang menggambarkan struktur situasi yang diteliti. Tetapi perlu diingat bahwa peneliti mempunyai kewenangan dalam penelitian, sehingga tidak mutlak semua pandangan harus digunakan.
d. Resiko; adalah adanya keberanian peneliti untuk mengambil resiko pada waktu berlangsungnya penelitian. Resiko yang mungkin muncul adalah melesetnya hipotesis, dan kemungkinan tuntutan untuk melakukan transformasi. Peneliti mungkin berubah pandangannya, karena melihat sendiri pertentangan yang ada.
e. Struktur majemuk; adalah adanya pandangan bahwa penelitian ini mencakup berbagai unsur yang terlibat, agar bersifat komprehensif. Misal jika penelitian pada pengajaran, maka situasinya harus mencakup guru, murid, tujuan pembelajaran, interaksi kelas, hasil dll.
f. Internalisasi teori dan praktik; adalah adanya pandangan bahwa teori dan praktik bukan dua hal yang berbeda, tetapi merupakan dua tahap yang berbeda, yang saling tergantung, dan keduanya berfungsi untuk mendukung transformasi.
Dari karakteristik di atas menggambarkan bahwa PTK ada perbedaan dengan penelitian lainnya. Sasaran dan Obyek PTK meliputi komponen-komponen dari sebuah kelas :
1. Siswa
2. Guru
3. Materi Pelajaran
4. Unsur peralatan atau sarana pendidikan
5. Unsur hasil pembelajaran
6. Unsur Lingkungan
7. Unsur Pengelolaan Siswa Permasalahan tentang siswa misalnya: perilaku
kedisiplinan, keseriusan siswa saat mengerjakan tugas, kebiasaan siswa dalam
mengajukan pertanyaan dan sebagainya. Permasalahan yang berkenaan dengan
guru : metode mengajar yang bervariasi; metode diskusi terarah, mengajar
berkelompok, dsb.
Materi Pelajaran
Judul-judul yang dapat diangkat dalam penelitian: urutan materi, pengorganisasian materi atau cara penyajiannya; menambah sumber bahan untuk penguasaan materi, dsb.Unsur peralatan atau sarana pendidikanMasalah-masalah yang berkenaan dengan peralatan: penyediaan alat, peralatan individu dan kelompok; penertiban penggunaan alat, dsb.
Unsur hasil pembelajaran Berkenaan dengan tujuan yang akan dicapai dalam pembelajaran yaitu berkaitan dengan proses pembelajaran
Unsur Lingkungan
Judul-judul yang berkenaan dengan lingkungan, mengubah situasi ruang kelas; penataan sekolah; penataan lingkungan, dsb Unsur Pengelolaan Judul-judul yang berkenaan dengan pengelolaan: pengaturan tempat duduk siswa; penempatan peralatan milik siswa; pengaturan urutan jadwal, dsb
Model Penelitian Tindakan Kelas
Ada beberapa model penelitian tindakan yang kita kenal, antara lain : Model Kurt Lewin, Model Kemmis dan targart, Model John Elliott, dan Model Dave Ebbutt. Model Kurt Lewin menggambarkan dalam siklus terdapat empat langkah yaitu Planning (perencanaan), Acting (tindakan), Observing (pengamatan), dan Refelecting (refleksi).
Kemudian model Kurt Lewin ini dikembangkan oleh Kemmis dan Targart, dimana juga menggunakan langkah-langkah tersebut, hanya saja sesudah suatu siklus diimplementasikan, kemudian diikuti dengan Replanning (perencanan ulang).
Demikian seterusnya satu siklus diikuti oleh siklus berikutnya, hingga permasalahan terpecahkan. Model John Elliott, lebih komplek dan ditail. Dalam tiap siklus memungkinkan terdiri dari beberapa tindakan, dan setiap tindakan memungkinkan terdiri dari beberapa langkah.Secara sederhana kita akan menggunakan model Kemmis dan Targart, karena model ini yang lebih mudah dan praktis. Secara skematis model Kemmis dan Targart digambarkan sebagai berikut: Gb1. Model Kemmis dan Targart PELAKSANAAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS1. Tahapan Palaksanaan Penelitian Tindakan KelasPada dasarnya PTK terdiri dari 4 langkah di atas yaitu Planning (perencanaan), Acting (tindakan), Observing (pengamatan), dan Refelecting (refleksi).
Namun sebelumnya tahapan-tahapan di atas diawali dengan pra PTK yaitu : Identifikasi masalah• Rumusan masalah• Analisis masalah• Rumusan hipotesis tindakanDalam penelitian tindakan, permasalahan yang perlu dipecahkan adalah yang dirasakan dan diidentifikasi oleh peneliti sendiri, sebagai kesenjangan dalam kinerja yang perlu diperbaiki. Permasalahan yang perlu dipecahkan dirumuskan dengan mendiskripsikan kenyataan yang ada dan kondisi yang diinginkan. Selanjutnya permasalahan perlu dianalisis untuk mengetahui dimensi-dimensi problem yang mungkin ada untuk mengidentifikasi aspek pentingnya dan untuk memberikan penekanan yang memadai. Hipotesis tindakan bukan hipotesis perbedaan atau hubungan, melainkan hipotesis tindakan yang berisi tindakan untuk menghasilkan perbaikan yang diinginkan.
Untuk memandu pada pra PTK ini ada beberapa pertanyaan yang dapat menjadi sikuen yaitu:
• Apa yang menjadi kesenjangan pada fenomena pembelajaran di kelas?
• Mengapa hal ini terjadi dan apa sebabnya ?
• Apa yang dapat dilakukan dan bagaimana caranya mengatasi kesenjangan itu ?
• Bukti apa yang dapat dikumpulkan untuk menunjukkan fakta dalam mengatasi kesenjangan itu ?
• Bagaimana cara mengumpulkan bukti-bukti itu ?
Tahapan PTK disini sebenarnya merupakan reflektif guru pada permasalahan yang dihadapi dalam kelasnya. Dari sinilah penelitian tindakan kelas akan dilakukan.
a. Planning (perencanaan)
Rencana tindakan mencakup semua langkah tindakan sbb :
1) apa yang diperlukan untuk menentukan kemungkinan terpecahkannya
masalah yang telah dirumuskan,
2) alat-alat dan teknik yang diperlukan untuk mengumpulkan data/ informasi,
3) rencana perekaman/pencatatan data dan pengolahannya, dan
4) rencana untuk melaksanakan tindakannya dan mengevaluasi hasilnya.
Dalam hal ini perlu dilakukan pemilihan prosedur penelitian, dan prosedur pemantauan atau evaluasi. Semua keperluan dalam pelakanaan penelitian, mulai dari materi, recana pembelajaran, instrumen observasi dll harus dipersiapkan dengan matang pada tahap ini. Pada tahapan ini perlu diperhitungkan bahwa kemungkinan tindakan sosial akan mengandung resiko, sehingga rencana ini harus fleksibel sehingga nantinya memungkinkan untuk diadaptasikan.
b. Acting (tindakan)
Tindakan yang dimaksud adalah implementasi dari semua rencana yang telah dibuat, dan biasanya berlangsung didalam kelas. Langkah-langkah yang dilakukan oleh guru tentu saja sesuai dengan skenario yang telah disusun dalam rencana pembelajaran.
c. Observing (pengamatan)
Observasi dilakukan terhadap proses tindakan, pengaruh tindakan, keadaan dan kendala tindakan, dan persoalan lain yang terkait. Observasi mengumpulkan data-data dengan menggunakan instrumen atau alat lainnya yang telah dibuat secara valid. Pelaksanaan observasi tidak harus dilakukan oleh guru sendiri, tetapi melibatkan kolaborator ( guru lain). Hanya saja pengamat/kolaborator tersebut jangan sampai melakukan intervensi pada roses pembelajaran yang sedang dilaksanakan.
d. Refelecting (refleksi)
Refleksi adalah mengingat atau merenung kembali pada tindakan yang telah dilakukan, dan dicatat dalam observasi. Dalam hal ini perlu untuk dipahami proses, permasalahan, dan kendala yang nyata dari tindakan yang telah dilakukan. Proses refleksi ini data dari semua catatan kolaborator dianalisis, untuk menentukan apakah hipotesis tindakan telah tercapai, atau untuk menentukan perencanaan kembali siklus berikutnya.
PROPOSAL PENELITIAN TINDAKAN KELAS
Proposal penelitian berisi :
1) Judul Penelitian,
2) Pendahuluan,
3) Perumusan Masalah,
4) Kajian Pustaka dan penelitian yang relevan,
5) Tujuan Penelitian,
6) Metode Penelitian,
7) Personalia Penelitian,
8) Rencana Pembiayaan Penelitian,
9) Jadwal Kerja, dan
10) Lampiran.
a. Judul penelitian
Judul hendaknya mencerminkan gambaran dari pemecahan kinerja yang akan diperbaiki. Rumusan hendaknya singkat, tidak memberi tafsiran ganda, dan menunjukkan langkah pemecahan permasalahan.
Contoh :
1. Peningkatan Minat Belajar Siswa pada materi Pokok Darah dengan Pengembangan Multimedia Interaktif, siswa kelas VII, A SMP Negeri 1 Sleman tahun 2005.
2. Meminimalkan Kesalahan Siswa Kelas IX-A SMP Negeri 1 Sleman menggunakan Derivatif Bahasa Inggris melalui Pola Pelatihan Berjenjang tahun 2005. Pada halaman judul dilengkapi dengan nama dan instansi pengusul. Setelah halaman judul dilanjutkan dengan halaman pengesahan proposal PTK, yang berisi Judul, ketua peneliti, jumlah peneliti, lokasi penelitian, kerjasama dengan instansi lain, waktu penelitian, serta biaya yang diperlukan.
b. Pendahuluan
Berisi hal-hal yang melatar belakangi penelitian perlu dilakukan, dan identifikasi permasalahan. Pada prinsipnya menggambarkan kondisi yang terjadi dan harapan , permasalahan, pentingnya masalah ini untuk diteliti, dan manfaat yang diharapkan dari penemuan penelitian.c. Perumusan masalahPerumusan masalah dalam kalimat naratif, baik pernyataan ataupun pertanyaan yang problematik. Biasanya dikemukakan melalui tahapan-tahapan diagnosis permasalahan, terapi yang digunakan untuk memecahkan masalah dan gambaran keberhasilan atau keefektifan tindakan.
c. Kajian pustaka dan Penelitian yang relevan
Pada bagian dijelaskan landasan keilmuan yang terkait dengan konteks pemecahan permasalahan. Sedapat mungkin di usahakan agar mempertimbangkan kemutakhiran, dan relevansi bahan pustaka. Daikhir bagian ini biasanya dirumuskan kerangka berfikir yang dilanjutkan dengan rumusan hipotesis tindakan.
d. Tujuan penelitian
Tujuan penelitian menggambarkan semua unsur yang terkait dengan harapan-harapan yang dilandasi oleh adanya kondisi riel yang perlu ditingkatkan.
e. Manfaat penelitian
Pada PTK penelitian tentu saja akan memberikan kontribusi pada sekolah, peneliti, dan subjek yang diteliti.
f. Metode penelitian
Metode penelitian dituliskan secara jelas dan rinci. Pada metode, yang perlu dituliskan adalah :
1) setting atau lokasi penelitian, disini dituliskan identitas sekolah dan kondisi
subjek yang diteliti.
2) subjek yang terlibat sebagai peneliti, kolaborator atau partisipan,
3) alat-alat dan teknik pengumpulan data,
4) rencana tindakan, yaitu langkah yang ditempuh ,
5) Jenis dan sumber data,
6) teknik pengumpulan data, teknik analisa data, dan
7) kriteria, indikator evaluasi dan refleksi.
g. Personalia penelitian
Berisi tim peneliti dengan identitas. Disertakan pula kurikulum vitae yang menunjukkan bidang keahlian dan latar belakang yang relevan dengan penelitian yang dilaksanakan. Disamping itu perlu juga dirinci nama, tugas dan volume kerja.
h. Rencana pembiayaan penelitian
Meliputi jenis pengeluaran dan besarnya nilai biaya yang dikeluarkan. Biaya secara garis besarnya meliputi biaya persiapan, biaya operasional, dan biaya pelaporan.
i. Jadwal kerja
Jadwal kerja menggambarkan waktu pelaksanaan penelitian. Ini diawali dari penysunan proposal hingga pelaporan. Biasanya jadwal kerja disusun dalam metrik.
j. Daftar pustaka
Pada daftar pustaka dicantumkan demua rujukan yang digunakan dalam penyusunan proposal.
k. Lampiran
Berisi semua pendukung yang diperlukan seperti instrumen yang digunakan, kurikulum vitae peneliti dll.
PELAPORAN
Pada prinsipnya laporan adalah kelanjutan dari proposal. Sebagaian besar isi laporan adalah sama dengan proposal, hanya ditambahkan abstrak, hasil penelitian , dan kesimpulan/saran. Pada PTK kemungkinan sering terjadi pengadaptasian, sehingga memungkinkan ada perubahan. Susunan laporan PTK secara umum adalah :
1. Halaman sampul
Sampul bertuliskan judul laporan, peneliti dan instansi peneliti.
2. Halaman pengesahan
Halaman pengesahan berisi judul penelitian, tanggal pengesahan, dan yang mengesahkan.
3. Abstrak
Merupakan ringkasan dari semua tulisan, meliputi judul, tujuan, metode, dan hasil penelitian.
4. Kata pengantar
5. Daftar isi
6. Bab I. Pendahuluan
a. Latar belakang
b. Rumusan masalah
c. Tujuan
d. Manfaat
7. Bab II. Kajian Pustaka
a. Tanjauan kepustakaan
b. Kerangka berfikir
c. Hipotesis tindakan
8. Bab III. Metode
a. Seting penelitian
b. Subjek penelitian
c. alat-alat pengumpulan data
d. rencana tindakan
e. Jenis dan sumber data
f. Teknik pengumpulan data
g. Teknik analisa datah. Kriteria evaluasi dan refleksi
9. Bab IV Hasil Penelitian
10. Bab V. Kesimpulan dan sarana
a. Kesimpulan
b. Saran
11. Daftar pustaka
12. Lampiran
***
DAFTAR PUSTAKA
Anonim., 1997. Dasar- Dasar Metodologi Penelitian. Malang : Lembaga Penelitian IKIP Malang.
Kemmis, S. & Mc Targart, R,. 1982. The Action Research Planner. 3rd ed. Victoria : Deakin University
Madya Suwarsih,. 1994. Panduan : Penelitian Tindakan. Yogyakarta : Lembaga Penelitian IKIP Yogyakarta.
Margono, S,. 2000. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta : Rineka CiptaSudjana, A, dan Awal Kusumah,. 1992. Proposal Penelitian di Perguruan Tinggi. Bandung : Penerbit Sinar baru.
Wibawa Basuki,. 2003. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah
***
HUBUNGAN TEMPAT
DENGAN HASIL BAHASA INGGRIS
Ahmad Fauzi, S.Pd.
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian tutorial tatap muka guru kunjung terhadap hasil belajar siswa SLTP Terbuka. Penelitian ini dilakukan pada tahun 1997 dengan mengambil data pada delapan lokasi SLTP Terbuka. Permasalahan yang diteliti adalah: a) Apakah ada hubungan (asosiasi) nyata antara nilai prestasi belajar siswa untuk mata pelajaran Bahasa Inggris, Matematika, dan IPA dengan tempat pelaksanaan tutorial tatap muka? b) Berapakah kadar asosiasi antara nilai prestasi belajar mata pelajaran Bahasa Inggris, Matematika, dan IPA dengan tempat pelaksanaan tutorial tatap muka?
Metode yang digunaka dalam penelitian ini adalah metode survey dengan responden guru bina, guru pamong, dan siswa SLTP Terbuka. Lokasi penelitian ditetapkan secara purposif dengan memilih lokasi SLTP Terbuka yang pertama sekali di buka di Propinsi masing-masing. Untuk menghitung tingkat hubungan antara hasil belajar dengan tempat tutorial tatap muka dilakukan dengan menggunakan rumus Chi-Kuadrat.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa :
a) Terdapat hubungan (asosiasi) nyata antara nilai prestasi belajar Bahasa Inggris dengan tempat tutorial tatap muka: tabel Xt 2 (0.99:3) = 11.3 < 17.16 (nilai hitung), sedangkan kadar koefisien kontingensi 0.28.
b) Terdapat hubungan (asosiasi) nyata antara nilai prestasi belajar Matematika dengan tempat tutorial tatap muka: tabel Xt 2 (0.99:3) = 11.3 < 17.16 (nilai hitung), sedangkan kadar koefisien kontingensi 0.28.
c) Tidak terdapat hubungan (asosiasi) nyata antara nilai prestasi belajar mata pelajaran IPA dengan tempat tutorial tatap muka: tabel Xt 2 (0.99:3) = 11.3 > 9.22 (nilai hitung).
Kata kunci: ranah hasil belajar, belajar mandiri, tutorial tatap muka,
hasil belajar, tempat tatap muka.
1. LATAR BELAKANG
Perkembangan lokasi SLTP Terbuka yang semula pada awal perintisan lima lokasi, pada tahun 1996 menjadi 956 lokasi. Perkembangan yang pesat tersebut disebabkan oleh kebijakan pemerintah yang menetapkan SLTP Terbuka merupakan salah satu pola pembelajaran jalur sekolah yang dapat diandalkan untuk mensukseskan wajib belajar pendidikan dasar (Wajar Dikdas) 9 tahun. Perkembangan lokasi yang pesat tersebut telah membwa dampak terhadap penentuan lokasi penyebaran yang pada akhirnya berpengaruh pada pola pembelajaran tutorial tatap muka.
Pada masa perintisan untuk menentukan lokasi dilakukan dengan studi kelayakan lokasi. Pola pembelajaran tutorial tatap muka semuanya dilakukan di SLTP Induk. Semua siswa dari berbagai Tempat Kegiatan Belajar (TKB) dalam satu SLTP Terbuka pada jadwal yang telah disepakati mendatangi SLTP Terbuka Induk untuk mengikuti tutorial tatap muka. Jarak antara tempat tinggal siswa dan TKB dengan SLTP Induk relatif mudah untuk dijangkau. Waktu tempuh siswa untuk ke SLTP Induk dengan jalan kaki sekitar 30 s.d. 50 menit. Dengan pola pembelajaran tutorial tatap muka seperti ini menunjukkan bahwa selama perintisan tidak terjadi kendala yang berarti. Hal ini ditopang oleh data hasil penelitian evaluatif pada tahun 1980/1981 yang menyatakan; “SLTP Terbuka secara umum sudah berjalan sebagaimana yang direncanakan, secara efektif mampu menampung jumlah besar lulusan SD di sekitarnya dan hasil akademik yang dicapai siswa SLTP Terbuka secara signifikan tidak berbeda dengan siswa SLTP Induknya (Barnadib, 1981: 56). Begitu pula hasil evaluasi yang dilakukan pada tahun 1984/1985 yang menyatakan bahwa sistem SLTP Terbuka diterima oleh masyarakat dan hasih belajar siswa tidak berbeda secara signifikan dengan hasil belajar siswa SLTP Induk (Barnadib, 1985: 50-53). Hasil penelitian evaluatif tersebut menunjukkan bahwa pelaksanaan sistem SLTP Terbuka pada masa perintisan berjalan secara efektif dan hasil belajar siswa secara signifikan tidak berbeda dengan hasil belajar siswa SLTP Induk. Sementara itu disebutkan pula bahwa berdasarkan pendapat siswa, mata pelajaran yang dianggap sulit meliputi mata pelajaran Bahasa Inggris, Matematika, dan IPA (Barnadib, 1981: 54).
Hasil pembelajaran sebagaimana disebutkan di atas akan dicapai secara efektif dan efisien apabila dalam penetapan strategi penyampaian pembelajaran dilakukan dengan cermat dan mengacu pada rancangan pola operasional SLTP Terbuka. Kaitan antara kondisi lingkungan, karakteristik siswa dan upaya pencapaian hasil pembelajaran secara efektif dan efisien perlu dipertimbangkan dalam menentukan strategi penyampaian pembelajaran. Dalam masa perintisan semua faktor sebagaimana tersebut di atas memang ditentukan dan ditetapkan berdasarkan pertimbangan melalui diskusi yang mendalam antar unit pelaksana.
Namun setelah perluasan dalam penentuan lokasi penyebaran tidak dilakukan melalui studi kelayakan lokasi yang sistematis dan menyeluruh dari segala variabel yang menentukan keberhasilan SLTP Terbuka. Banyak lokasi penyebaran yang letak lopkasi TKB nya relatif jauh, sehingga sangat sulit bagi siswa untuk mengikuti tutorial di SLTP Induk. Oleh karena itu banyak SLTP Terbuka yang melaksanakan tutorial guru kunjung. Bahkan menurut Supriadi (1997: 50) jumlah SLTP Terbuka yang cenderung melaksanakan tutorial tatap muka guru kunjung mencapai 75%. Hal ini memungkinkan pelaksanaan pembelajaran tidak berjalan secara efektif sehingga hasil belajar siswa belum dicapai sebagaimana yang diharapkan.
Berdasarkan uraian di atas, diasumsikan hasil belajar siswa SLTP Terbuka yang mengikuti tutorial tatap muka di SLTP Induk berbeda secara signifikan bila dibandingkan dengan hasil belajar siswa yang mengikuti tatap muka dengan sistem guru kunjung. Terutama hasil belajar mata pelajaran yang dianggap siswa sulit. Oleh karena itu perlu diadakan suatu penelitian tentang: a) apakah ada hubungan antara hasil belajar siswa dengan tempat kegiatan tutorial tatap muka? b) Bila ada berapakah besar tingkat koefisien kontingensi hubungannya?
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian tutorial tatap muka guru kunjung terhadap hasil belajar siswa SLTP Terbuka. Secara rinci penelitian ini bertujuan untuk memperoleh data atau informasi tentang: a) hubungan (asosiasi) nyata antara nilai prestasi belajar siswa untuk mata pelajaran Bahasa Inggris, Matematika, dan IPA dengan tempat pelaksanaan tutorial tatap muka, b) koefisien kontingensi asosiasi antara nilai prestasi belajar mata pelajaran Bahasa Inggris, Matematika, dan IPA dengan tempat pelaksanaan tutorial tatap muka. Berdasarkan tujuan tersebut penelitian ini menguji suatu hipotesis; “Terdapat hubungan yang positif antara tempat pelaksanaan tutorial tatap muka dengan hasil belajar siswa SLTP Terbuka”.
2. KAJIAN LITERATUR
2.1. Tutorial Tatap Muka
Tutorial tatap muka adalah kegiatan pemberian layanan dan bantuan oleh tutor (guru bina) kepada siswa SLTP Terbuka dalam pemecahan kesulitan-kesulitan yang ditemui atau dialami siswa ketika belajar mandiri dan kelompok di TKB atau di rumah, melalui tatap muka atau komunikasi langsung. Kesulitan-kesulitan tersebut bisa disampaikan sebelum kegiatan tutorial dilakukan, atau langsung ditanyakan pada saat kegiatan tutorial dilaksanakan. Untuk menjaga kesulitan siswa tidak disampaikan ke tutor atau siswa tidak mengajukan pertanyaan ketika kegiatan tutorial dilaksanakan, tutor (guru bina) telah siap dengan sejumlah pertanyaan yang direkap dari seluruh kesulitan dan pertanyaan siswa sebelumnya atau berdasarkan prediksi tutor dari materi-materi esensial yang diasumsikan sulit bila siswa belajar sendiri. Pertanyaan-pertanyaan tersebut bisa juga dirangkum dari kesulitan-kesulitan siswa SLTP Induk.
2.2. Hasil Belajar
Menurut Wittrock (Good dan Brophy, 1990: 124), belajar adalah suatu terminologi yang menggambarkan suatu proses perubahan melalui pengalaman. Proses tersebut mempersyaratkan perubahan yang relatif permanen berupa sikap, pengetahuan, informasi, kemampuan dan keterampilan melalui pengalaman. Sedangkan Good dan Brophy (1990: 124) mengatakan bahwa belajar itu bagaimana seseorang memanipulasi lingkungan.
Pengertian dan konsepsi hasil belajar yang dikemukakan oleh ahli-ahli sedikit banyak dipengaruhi oleh aliran-aliran atau teori-teori yang dianutnya. Skiner dengan teori Kondisioning Operannya sebagaimana dikutip Gredler (1991: 172) mengatakan bahwa hasil belajar merupakan respon (tingkah laku) yang baru. Walaupun Skiner mengatakan bahwa hasil belajar adalah berupa “respon yang baru”, namun pada dasarnya respon yang baru itu sama pengertiannya dengan tingkah laku (pengetahuan, sikap, keterampilan) yang baru. Gagne (1977: 3) berpendapat; belajar ialah seperangkat proses kognitif yang mengubah sifat stimulasi dari lingkungan menjadi beberapa tahapan pengolahan informasi yang diperlukan untuk memperoleh kapabilitas yang baru. Kapabilitas inilah yang disebut hasil belajar. Berarti belajar itu menghasilkan berbagai macam tingkah laku yang berlain-lainan, seperti pengetahuan, sikap, keterampilan, kemampuan, informasi, dan nilai. Berbagai macam tingkah laku yang berlain-lainan inilah yang disebut kapabilitas sebagai hasil belajar.
Menurut Gagne dan Briggs (1979: 49-50) ada 5 (lima) kategori kapabilitas hasil belajar, yaitu :
1) keterampilan intelektual (intellectual skills),
2) strategi kognitif (cognitive strategies),
3) informasi verbal (verbal information),
4) keterampilan motorik (motor skills), dan
5) sikap (atitudes). Sedangkan Bloom dengan kawan-kawannya sebagaimana dikutip oleh Degeng (1989: 1989:176-177), mengklasifikasikan hasil pengajaran (belajar) menjadi 3 (tiga) domain atau ranah, yaitu “ranah kognitif, psikomotor, dan sikap.
Ranah kognitif, menaruh perhatian pada pengembangan kapabilitas dan keterampilan intelektual; Ranah psikomotor berkaitan dengan kegiatan-kegiatan manipulatif atau keterampilan motorik; dan ranah sikap berkaitan dengan pengembangan perasaan, sikap, nilai, dan emosi”.
Dapat diasumsikan bahwa untuk menghasilkan kelima kategori kapabilitas atau kelima ranah hasil belajar tersebut sedikit banyak ditentukan atau dipengaruhi oleh faktor internal seperti pengetahuan prasyarat atau kemampuan awal dari masing-masing kategori hasil belajar yang telah dimiliki oleh siswa, yang berkaitan dengan kapabilitas atau keterampilan yang sedang dipelajari (baru).
Reigeluth (1983: 15) berpendapat hasil belajar atau pembelajaran dapat juga dikatakan sebagai pengaruh yang memberikan suatu ukuran nilai dari metode (starategi) alternatif dalam kondisi yang berbeda. Ada hasil nyata dan diinginkan. Hasil nyata, hasil-hasil kehidupan nyata dari menggunakan metode (strategi) sepesifik dalam kondisi yang spesifik pula, sedangkan hasil diinginkan adalah tujuan-tujuan (goals) yang umumnya berpengaruh pada pemilihan suatu metode. Ini berarti hasil belajar sangat erat kaitannya dengan metode (strategi) yang digunakan pada sesuatu kondisi (pembelajaran) tertentu. Semakin ketepatan pemilihan metode atau strategi (pembelajaran) pada suatu kondisi semakin baik hasil belajar. Selanjutnya Reigeluth (1983: 94) mengataka secara spesifik, hasil belajar adalah suatu kinerja (performance) yang diindikasikan sebagai suatu kapabiltas (kemampuan) yang telah diperoleh. Hasil belajar tersebut selalu dinyatakan dalam bentuk tujuan-tujuan (khusus) prilaku (unjuk kerja).
Dari paparan beberapa teori dan konsep tentang hasil belajar tersebut di atas, maka dapat dibuat suatu defenisi konseptual hasil belajar sebagai suatu kesimpulan. Hasil belajar adalah merupakan prilaku berupa pengetahuan, keterampilan, sikap, informasi, dan atau strategi kognitif yang baru dan diperoleh siswa setelah berinteraksi dengan lingkungan dalan suatu suasan atau kondisi pembelajaran. Pengetahuan, keterampilan, sikap, informasi dan atau strategi kognitif tersebut adalah baru, bukan yang telah dimiliki siswa sebelum memasuki kondisi atau situasi pembelajaran dimaksud. Hasil belajar tersebut bisa juga berbentuk kinerja atau unjuk kerja (performance) yang ditampilkan seseorang setelah selesai mengikuti proses pembelajaran atau pelatihan.
3. METODOLOGI PENELITIAN
Penelitian ini bertujuan untuk untuk mengetahui pengaruh pemberian tutorial tatap muka guru kunjung terhadap hasil belajar siswa SLTP Terbuka. Secara rinci penelitian ini bertujuan untuk memperoleh data atau informasi beberapa hal yaitu :
a) Bagaimanakah strategi pembelajaran yang diterapkan pada SLTP Terbuka?
b) Apakah ada hubungan (asosiasi) nyata antara nilai prestasi belajar siswa untuk mata pelajaran Bahasa Inggris, Matematika, dan IPA dengan tempat pelaksanaan tutorial tatap muka?
c) Berapakah koefisien kontingensi asosiasi antara nilai prestasi belajar mata pelajaran Bahasa Inggris, Matematika, dan IPA dengan tempat pelaksanaan tutorial tatap muka?
Penelitian ini survei yang dilakukan pada tahun 1997 dengan mengambil data pada delapan lokasi SLTP Terbuka yaitu: SLTP Terbuka Delima, Kabupaten Pidi Aceh, SLTP Terbuka Ketahun, Bengkuku Utara, SLTP Terbuka Kalisat Jember Jawa Timur, SLTP Terbuka Banjar Selatan Kalimantan Selatan, SLTP Terbuka Mariso, Makassar, SLTP Terbuka Terara Lombok Timur, SLTP Terbuka Pujut, Lombok Tengah, dan SLTP Terbuka Kairatu Maluku Tengah. Sementara itu sebagai responden adalah siswa SLTP Terbuka, guru pamong, guru bina, dan Kepala sekolah. Adapun jumlah responden adalah sebagai berikut.
TABEL 3.1. JENIS DAN JUMLAH RESPONDEN PENELITIAN
No. Nama Lokasi Kasek Gr. Bin. Gr. Pa. Siswa Jum.
1. SLTP Terbuka Pujut 1 9 9 34 53
2. SLTP Terbuka Terara 1 9 9 34 53
3. SLTP Terbuka Kalisat 1 9 9 34 53
4. SLTP Terbuka Kairatu 1 9 9 34 53
5. SLTP Terbuka Mariso 1 9 9 34 53
6. SLTP Terbuka Banjar 1 9 9 34 53
7. SLTP Terbuka Ketahun 1 9 9 34 53
8. SLTP Terbuka Delima 1 9 9 34 53
Total Responden 8 72 72 272 424
Instrumen pengumpulan data yang digunakan mencakup kuesioner, tes hasil belajar, dan pedoman wawancara. Sebelum digunakan instrumen pengumpulan data terlebih dahulu divalidasi, dengan tehnik validasi muka dan validasi konstruk dengan pendekatan analisis logis (Ary. Dkk., 1982:289). Validasi muka dilakukan dengan meminta kepada beberapa ahli sistem SLTP Terbuka dari Pustekkom, Direktorat Dikmenum, dan Tim teknis SLTP Terbuka. Berdasarkan masukan dari beberapa ahli tersebut kemudian instrumen diperbaiki dan dilakukan ujicoba. Untuk menghitung tingkat reliabilitas instrumen yang bersifat konstruk menggunakan rumus Gronbach Alpha (Nunnally, 1983: 83), sedangkan tes hasil belajar menggunakan rumus Product Moment.
4. HASIL PENELITIAN
4.1. Hasil Belajar
Pada bagian ini akan diuraikan secara singkat hasil belajar siswa ditinjau dari tes akhir modul, akhir unit dan nilai legger. Pada setiap tes akhir modul, rata-rata 2% siswa yang mendapat nilai lebih dari 80 (80%), kecuali untuk mata pelajaran bahasa inggris (0,0%). Untuk mata pelajaran yang sulit, rata-rata siswa memperoleh nilai tes akhir modul 60% ke bawah sedangkan mata pelajaran yang dianggap mudah, secara umum siswa memperoleh nilai tes akhir modul 60% s.d. 80%. Untuk lebih jelasnya lihat tabel 4.1.
Walau demikian menurut Kepala Sekolah, nilai tes akhir unit siswa pada umumnya baik. Menurut 62,5% Kepala Sekolah nilai yang diperoleh siswa rata-rata 61-75. Bahkan ada yang memperoleh nilai lebih dari 75, yaitu 12,5%. Sisanya, 25,0% rata-rata mendapat nilai 46-60.
TABEL 4.1 PERSENTASE SISWA MEMPEROLEH NILAI TES AKHIR MODUL
Persentase Siswa Memperoleh Nilai
No. Mata Pelajaran >80% 71-80% 61-70% < 61%
1. Biologi 1,9% 14,8% 35,2% 48,1%
2. Fisika 1,9% 5,6% 27,8% 64,8%
3. Matematika 1,9% 5,6% 18,5% 74,1%
4. B.Inggris 0,0% 7,7% 15,4% 77,0%
5. B.Indonesia 13,2% 43,4% 26,4% 17,0%
6. Geografi 5,6% 31,5% 48,1% 14,8%
7. Sejarah 11,1% 37,0% 37,0% 16,7%
8. EkonomiKoperasi 7,4% 40,7% 35,2% 11,3%
9. PMP/PPKN 28,3% 52,8% 7,5% 9,4%
Begitu pula nilai tes akhir semester (TAS), tidak jauh berbeda dengan nilai tes akhir unit. (TAU). Untuk mengetahui perbandingan persentase nilai yang diperoleh siswa dalam tes akhir unit dan akhir semester, lihat tabel 4.2.
TABEL 4.2. NILAI TES AKHIR UNIT DAN SEMESTER DICAPAI SISWA
No Nilai yang diperoleh T A U T A S
1. > dari 75 12,5% 12,5%
2. 61 s.d. 75 62,5% 50,0%
3. 46 s.d. 60 25,0% 37,5%
4. < dari 46 0,0% 0,0%
Tabel 4.2. di atas menunjukkan bahwa nilai tes akhir unit dan tes akhir semester siswa SMP Terbuka tidak terlalu mengecewakan. Menurut 75,0% Kepala Sekolah, bahwa soal-soal tes akhir unit dan semester pada SMP Terbuka sama dengan SMP Induknya. Ini berlaku untuk semua mata pelajaran. Walaupun 25,5% Kepala Sekolah menyatakan hanya sebagian besar soal-soal tes akhir unit dan tes akhir semester yang sama dengan soal-soal SMP Induk.
Dalam kesempatan ini pula peneliti mengutip nilai legger semester 3 untuk mata pelajaran Bahasa Inggris, Pengetahuan Alam (IPA) dan Matematika. Rentang nilai yang diperoleh siswa untuk Bahasa Inggris 5 sampai 8, IPA 4 sampai 8, dan Matematika 5 sampai 8, dan rata-rata nilai 6.
Pada tabel 4.3. tergambar bahwa tidak ada perbedaan yang berarti antara nilai akhir semester 3 tahun 1997/1998 siswa SMP Terbuka yang mengikuti pelajaran tatap muka di SMP Induk dengan di luar SMP Induk. Siswa yang mengikuti pelajaran melalui tatap muka di luar SMP Induk, memperoleh nilai 4 dan 5 jumlahnya sedikit bila dibandingkan dengan siswa yang mengikuti pelajaran melalui tatap muka di SMP Induk.
TABEL 4.3 NILAI AKHIR SISWA SEMESTER 3 TAHUN 1997/1998
Mata
Pelajaran Tatap Muka Jumlah Siswa Memperoleh nilai ?
4 5 6 7 8
B. Inggris - Luar Induk -- 3 75 29 2 109
- Di Induk -- 13 44 35 7 99 16 119 64 9 208 7,7% 57,2% 30,8% 4,3% 100%
I P A - Luar Induk 1 4 57 45 2 109
- Di Induk 5 12 42 37 3 99 6 16 99 82 5 208 2,9% 7,7% 47,6% 39,4% 2,4% 100%
Matematik - Luar Induk -- 4 56 41 8 109
- Di Induk -- 18 57 22 2 99 22 113 64 10 208 10,6% 54,3% 30,8% 4,8% 100%
Sebaliknya untuk nilai 6 dan 7 umumnya jumlah siswa yang mengikuti pelajaran tatap muka di luar Induk lebih banyak daripada yang mengikuti pelajaran di SMP Induk. Hal ini kemungkinan terjadi karena Guru Pamong pada TKB-TKB yang mengikuti pelajaran di luar Induk lebih banyak diajar seperti kelas reguler oleh Guru Pamong daripada belajar mandiri. Data ini didukung pula oleh data wawancara dan observasi yang dilakukan oleh peneliti di beberapa TKB.
4.2. Hasil Pengujian Hubungan
Pada tabel 4.3. tergambar frekuensi nilai prestasi belajar siswa SMP Terbuka yang mengikuti pelajaran melalui tatap muka di luar dan di SMP Induk, untuk mata pelajaran Bahasa Inggris, Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), dan Matematika. Pada bagian ini akan diuraikan hasil pengujian hubungan antara prestasi belajar dengan tempat pelaksanaan pelajaran tatap muka.
a. Bahasa Inggris
Dari data frekuensi nilai prestasi belajar siswa pada tabel 4.3 di atas frekuensi pengamatan dan harapan seperti tabel 4.4 berikut. Dari data table 4.4. nampak bahwa jumlah siswa yang memperoleh nilai Bahasa Inggris di atas standar nilai untuk maju berkelanjutan (nilai 6 ke atas) jumlah siswa yang mengikuti tutorial tatap muka di luar SLTP Induk lebih sedikit dibandingkan dengan siswa yang mengikuti tutorial di SLTP Induk.
TABEL. 4.4 FREKUENSI PENGAMATAN DAN HARAPAN BAHASA INGGRIS
Nilai Tatap Muka di Tatap Muka Luar Jumlah
Induk Induk
= 5 13 3
7.6 8.4 16
6 44 75
56.6 62.4 119
7 35 29
30.5 33.5 64
= 8 7 2
4.3 4.7 9
Jumlah 99 109 208
Data tabel frekwensi tersebut di atas kemudian dihitung nilai hubungan dengan menggunakan rumus Chi-Kuadrat:
XO2 =
Dengan menggunakan rumus di atas. maka diperoleh nilai hunbungan (asosiasi) Xo2 = 17.16
Ct2 : dengan ? = 0.01 dan dk : (4 – 1) (2 – 1) = 3; didapat dalam tabel Xt2 (0.99 : 3) = 11.3; lebih kecil dari 17.16 (nilai hitung).
Jadi dapat disimpulkan bahwa ada hubungan (asosiasi) yang nyata antara nilai prestasi belajar mata pelajaran Bahasa Inggris dengan tempat pelaksanaan belajar tatap muka.
Untuk mengetahui kadar asosiasi antara prestasi belajar Bahasa Inggris dengan tempat pelaksanaan belajar tatap muka, dihitung koefisien kontingensi dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
C =
C = = 0.28
Jadi kadar asosiasi antara prestasi belajar Bahasa Inggris dengan tempat belajar melalui tatap muka mempunyai koefisien kontingensi 0.28.
b. Ilmu Pengetahuan Alam
Dari data frekuensi nilai prestasi belajar siswa pada tabel 4.3 apat dibuat table frekuensi pengamatan dan harapan seperti tabel 4.5. Dari table dapat dilihat jumlah siswa yang memperoleh nilai IPA (Fisika dan Biologi) untuk standar minimal maju berkelanjutan (nilai 6 ke atas) jumlah siswa yang mengikuti tutorial tatap muka di luar SLTP Induk lebih banyak dibandingkan siswa yang mengikuti tutorial di SLTP Induk.
TABEL 4.5. FREKUENSI PENGAMATAN DAN
HARAPAN IPA
Nilai Tatap Muka di Tatap Muka Luar Jumlah
Induk Induk
= 5 17 5
10.5 11.5 22
6 42 57
47.1 51.9 99
7 37 45
39 43 82
= 8 3 2
2.4 2.6 5
Jumlah 99 109 208
Data tabel frekwensi tersebut di atas kemudian dihitung nilai hubungan dengan menggunakan rumus Chi-Kuadrat:
XO2 =
Dengan menggunakan rumus di atas, maka diperoleh nilai hubungan (asosiasi) Xo2 = 9.22
Xt2 : dengan ? = 0.01 dan dk: (4–1) (2–1) = 3; didapat dalam table Xt2 (0.99 : 3) = 11.3; lebih besar dari 9.22 (nilai hitung).
Jadi dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan (asosiasi) yang nyata antara nilai prestasi belajar mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dengan tempat pelaksanaan belajar tatap muka.
c. Matematika
Dari data frekwensi nilai prestasi belajar siswa pada tabel 4.3 dapat dibuat frekwensi pengamatan dan harapan seperti tabel 4.6. Data pada table 4.6. menunjukkan bahwa jumlah siswa yang memperoleh nilai 6, 7 dan 8 yang mengikuti tutorial di luar SLTP Induk lebih banyak dibandingkan dengan jumlah siswa yang mengikuti tutorial tatap muka di SLTP Induk. Ini berarti jumlah siswa yang memenuhi syarat untuk melanjutkan mempelajari modul berikutnya lebih banyak siswa yang mengikuti tutorial tatap muka di luar SLTP Induk.
TABEL 4.6 FREKUENSI PENGAMATAN DAN HARAPAN MATEMATIKA
Nilai Tatap Muka di Tatap Muka Luar Jumlah
Induk Induk
= 5 18 4
10.5 11.5 22
6 57 56
53.7 9.3 114
7 22 41
30 33 63
= 8 2 8
4.8 5.2 510
Jumlah 99 109 208
Data table frekwensi tersebut di atas kemudian dihitung nilai hubungannya dengan menggunakan rumus Chi-Kuadrat:
XO2 =
Dengan menggunakan rumus di atas dapat diperoleh nilai hubungan (asosiasi) Co2 = 17.84
Xt2 : dengan a = 0.01 dan dk : (4-1) (2-1) = 3; didapat dalam
tabel Xt2 (0.99 : 3) = 11.3; lebih kecil dari 17.84 (nilai hitung)
Jadi dapat disimpulkan bahwa ada hubungan (asosiasi) yang nyata antara nilai prestasi belajar mata pelajaran Matematika dengan tempat pelaksanaan tatap muka.
Untuk mengetahui kadar asosiasi antara prestasi belajar Matematika dengan tempat pelaksanaan belajar tatap muka, dihitung koefisien kontingensi dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
C = = 0.28
Jadi kadar asosiasi antara prestasi belajar Matematika dengan tempat belajar melalui tatap muka mempunyai koefisien kontingensi 0.28.
5. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
a. ada hubungan (asosiasi) yang nyata antara nilai prestasi belajar mata pelajaran Bahasa Inggris dengan tempat pelaksanaan belajar tatap muka. Ct2 : dengan a = 0.01 dan dk : (4 – 1) (2 – 1) = 3; didapat dalam tabel Ct2 (0.99 : 3) = 11.3; lebih kecil dari 17.16 (nilai hitung), sedangkan kadar asosiasi (hubungan) antara prestasi belajar Bahasa Inggris dengan tempat belajar tutorial tatap muka mempunyai koefisien kontingensi 0.28.
b. Tidak ada hubungan (asosiasi) yang nyata antara nilai prestasi belajar mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dengan tempat pelaksanaan belajar tatap muka. Ct2 : dengan a = 0.01 dan dk : (4-1) (2-1) = 3; didapat dalam
table Ct2 (0.99 : 3) = 11.3; lebih besar dari 9.22 (nilai hitung).
c. Ada hubungan (asosiasi) yang nyata antara nilai prestasi belajar mata pelajaran Matematika dengan tempat pelaksanaan tatap muka.
Ct2 : dengan a = 0.01 dan dk : (4-1) (2-1) = 3; didapat dalam tabel Ct2 (0.99 : 3) = 11.3; lebih kecil dari 17.84 (nilai hitung), sedangkan kadar asosiasi 9hubungan) antara prestasi belajar Matematika dengan tempat belajar melalui tatap muka mempunyai koefisien kontingensi 0.28.
5.2. Saran
a. Untuk mata pelajaran Bahasa Inggris dan Matematik, dalam menentukan tempat tutorial tatap muka yang berbeda, hendaknya kedua tempat tersebut suasana lingkungan, sarana dan prasarana pembelajaran termasuk guru bina yang memberikan tutorial diupayakan sama. Hal ini untuk menghindari adanya perebedaan yang bermakna antara hasil belajar siswa yang mengikuti tutorial yang berbeda tempatnya. Hal ini akan merugikan bagi siswa yang mengikuti tutorial pada tempat yang secara metodil dan psikologis tidak mendukung keberhasilan belajar mereka.
b. Tidak adanya hubungan yang signifikan antara tempat kegiatan tutorial tatap muka dengan hasil belajar siswa untuk mata pelajaran IPA, salah satu penyebabnya karena nilai mata Biologi digabung dengan mata pelajaran Fisika. Berdasarkan data nilai tes akhir modul (lihat table 4.1.) jumlah siswa yang mengulang untuk mempelajari suatu modul mata pelajaran Fisika lebih banyak dibandingkan siswa yang seharusnya mengulang mata pelajaran Biologi
c. Perlu diadakan penelitian lebih lanjut sedara terencana dan sistematis melalui penelitian eksperimen sehingga dapat diambil kesimpulan yang universal tentang hubungan tempat kegiatan pembelajaran dengan hasil belajar siswa. Penelitian tersebut tidak hanya ketiga mata pelajaran tetapi semua mata pelajaran yang di-Ebtanaskan. Selain itu untuk mata pelajaran IPA hendaknya dipisahkan antara mata pelajaran Fisika dengan mata pelajaran Biologi.
KEPUSTAKAAN
Arry, Donald, Jacobs, Lucky C., & Razavieh, Asgha. Pengantar penelitian dalam pendidikan (Penterjemah Arief Furchan), Surabaya. Usaha Nasional, 1982.
Gagne, Robert M. dan Briggs, Leslie J., 1979. Principles of Instructional Design, second edition, New York, Holt, Pinehart and Winstone.
Barnadib, Imam, et. al., Laporan Evaluasi Sistem SMP Terbuka Tahun Ajaran 1984/1985, Pustekkom, Depdikbud, Jakarta 1985.
Degeng, I. Nyoman S., 1989. Ilmu Pengajaran: Taksonomi Variabel, Jakarta, Ditjen Dikti Depdikbud,
Gagne, Robert M. dan Briggs, Leslie J., 1979. Principles of Instructional Design, second edition, New York, Holt, Pinehart and Winstone.
Gagne, Robert M., The Condition Of Learning, Third edition, New York : Holt, Rinehart and Winston, 1979.
Good, Thomas L.. dan Brophy, Jere E., 1990. Educational Psychology A Realistic Approach, New York, Logman, 95 Church Street, White Plains,
Gredler, Margaret E. Bell, 1991. Belajar dan Membelajarkan, (Terjemahkan Munandir), Jakarta, CV Rajawali bekerja sama dengan PAU-UT,
Nunnally, Jum C., Psychometric Theory : McGraw Hill Book Company, 1978.
Reigeluth, Charles M., 1983. Instructional-Design Theories and Models, London, New Jersey, Lawrence Erlbaum Associates, Publishers.
Supriadi, Dedi, et. al., SMP Terbuka Profil dan Prospeknya dalam Rangka Pelaksanaan Wajib Belajar 9 tahun, Laporan Penelitian Buku I, Jakarta: Dit Dikmenum, 1997.
DENGAN HASIL BAHASA INGGRIS
Ahmad Fauzi, S.Pd.
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian tutorial tatap muka guru kunjung terhadap hasil belajar siswa SLTP Terbuka. Penelitian ini dilakukan pada tahun 1997 dengan mengambil data pada delapan lokasi SLTP Terbuka. Permasalahan yang diteliti adalah: a) Apakah ada hubungan (asosiasi) nyata antara nilai prestasi belajar siswa untuk mata pelajaran Bahasa Inggris, Matematika, dan IPA dengan tempat pelaksanaan tutorial tatap muka? b) Berapakah kadar asosiasi antara nilai prestasi belajar mata pelajaran Bahasa Inggris, Matematika, dan IPA dengan tempat pelaksanaan tutorial tatap muka?
Metode yang digunaka dalam penelitian ini adalah metode survey dengan responden guru bina, guru pamong, dan siswa SLTP Terbuka. Lokasi penelitian ditetapkan secara purposif dengan memilih lokasi SLTP Terbuka yang pertama sekali di buka di Propinsi masing-masing. Untuk menghitung tingkat hubungan antara hasil belajar dengan tempat tutorial tatap muka dilakukan dengan menggunakan rumus Chi-Kuadrat.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa :
a) Terdapat hubungan (asosiasi) nyata antara nilai prestasi belajar Bahasa Inggris dengan tempat tutorial tatap muka: tabel Xt 2 (0.99:3) = 11.3 < 17.16 (nilai hitung), sedangkan kadar koefisien kontingensi 0.28.
b) Terdapat hubungan (asosiasi) nyata antara nilai prestasi belajar Matematika dengan tempat tutorial tatap muka: tabel Xt 2 (0.99:3) = 11.3 < 17.16 (nilai hitung), sedangkan kadar koefisien kontingensi 0.28.
c) Tidak terdapat hubungan (asosiasi) nyata antara nilai prestasi belajar mata pelajaran IPA dengan tempat tutorial tatap muka: tabel Xt 2 (0.99:3) = 11.3 > 9.22 (nilai hitung).
Kata kunci: ranah hasil belajar, belajar mandiri, tutorial tatap muka,
hasil belajar, tempat tatap muka.
1. LATAR BELAKANG
Perkembangan lokasi SLTP Terbuka yang semula pada awal perintisan lima lokasi, pada tahun 1996 menjadi 956 lokasi. Perkembangan yang pesat tersebut disebabkan oleh kebijakan pemerintah yang menetapkan SLTP Terbuka merupakan salah satu pola pembelajaran jalur sekolah yang dapat diandalkan untuk mensukseskan wajib belajar pendidikan dasar (Wajar Dikdas) 9 tahun. Perkembangan lokasi yang pesat tersebut telah membwa dampak terhadap penentuan lokasi penyebaran yang pada akhirnya berpengaruh pada pola pembelajaran tutorial tatap muka.
Pada masa perintisan untuk menentukan lokasi dilakukan dengan studi kelayakan lokasi. Pola pembelajaran tutorial tatap muka semuanya dilakukan di SLTP Induk. Semua siswa dari berbagai Tempat Kegiatan Belajar (TKB) dalam satu SLTP Terbuka pada jadwal yang telah disepakati mendatangi SLTP Terbuka Induk untuk mengikuti tutorial tatap muka. Jarak antara tempat tinggal siswa dan TKB dengan SLTP Induk relatif mudah untuk dijangkau. Waktu tempuh siswa untuk ke SLTP Induk dengan jalan kaki sekitar 30 s.d. 50 menit. Dengan pola pembelajaran tutorial tatap muka seperti ini menunjukkan bahwa selama perintisan tidak terjadi kendala yang berarti. Hal ini ditopang oleh data hasil penelitian evaluatif pada tahun 1980/1981 yang menyatakan; “SLTP Terbuka secara umum sudah berjalan sebagaimana yang direncanakan, secara efektif mampu menampung jumlah besar lulusan SD di sekitarnya dan hasil akademik yang dicapai siswa SLTP Terbuka secara signifikan tidak berbeda dengan siswa SLTP Induknya (Barnadib, 1981: 56). Begitu pula hasil evaluasi yang dilakukan pada tahun 1984/1985 yang menyatakan bahwa sistem SLTP Terbuka diterima oleh masyarakat dan hasih belajar siswa tidak berbeda secara signifikan dengan hasil belajar siswa SLTP Induk (Barnadib, 1985: 50-53). Hasil penelitian evaluatif tersebut menunjukkan bahwa pelaksanaan sistem SLTP Terbuka pada masa perintisan berjalan secara efektif dan hasil belajar siswa secara signifikan tidak berbeda dengan hasil belajar siswa SLTP Induk. Sementara itu disebutkan pula bahwa berdasarkan pendapat siswa, mata pelajaran yang dianggap sulit meliputi mata pelajaran Bahasa Inggris, Matematika, dan IPA (Barnadib, 1981: 54).
Hasil pembelajaran sebagaimana disebutkan di atas akan dicapai secara efektif dan efisien apabila dalam penetapan strategi penyampaian pembelajaran dilakukan dengan cermat dan mengacu pada rancangan pola operasional SLTP Terbuka. Kaitan antara kondisi lingkungan, karakteristik siswa dan upaya pencapaian hasil pembelajaran secara efektif dan efisien perlu dipertimbangkan dalam menentukan strategi penyampaian pembelajaran. Dalam masa perintisan semua faktor sebagaimana tersebut di atas memang ditentukan dan ditetapkan berdasarkan pertimbangan melalui diskusi yang mendalam antar unit pelaksana.
Namun setelah perluasan dalam penentuan lokasi penyebaran tidak dilakukan melalui studi kelayakan lokasi yang sistematis dan menyeluruh dari segala variabel yang menentukan keberhasilan SLTP Terbuka. Banyak lokasi penyebaran yang letak lopkasi TKB nya relatif jauh, sehingga sangat sulit bagi siswa untuk mengikuti tutorial di SLTP Induk. Oleh karena itu banyak SLTP Terbuka yang melaksanakan tutorial guru kunjung. Bahkan menurut Supriadi (1997: 50) jumlah SLTP Terbuka yang cenderung melaksanakan tutorial tatap muka guru kunjung mencapai 75%. Hal ini memungkinkan pelaksanaan pembelajaran tidak berjalan secara efektif sehingga hasil belajar siswa belum dicapai sebagaimana yang diharapkan.
Berdasarkan uraian di atas, diasumsikan hasil belajar siswa SLTP Terbuka yang mengikuti tutorial tatap muka di SLTP Induk berbeda secara signifikan bila dibandingkan dengan hasil belajar siswa yang mengikuti tatap muka dengan sistem guru kunjung. Terutama hasil belajar mata pelajaran yang dianggap siswa sulit. Oleh karena itu perlu diadakan suatu penelitian tentang: a) apakah ada hubungan antara hasil belajar siswa dengan tempat kegiatan tutorial tatap muka? b) Bila ada berapakah besar tingkat koefisien kontingensi hubungannya?
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian tutorial tatap muka guru kunjung terhadap hasil belajar siswa SLTP Terbuka. Secara rinci penelitian ini bertujuan untuk memperoleh data atau informasi tentang: a) hubungan (asosiasi) nyata antara nilai prestasi belajar siswa untuk mata pelajaran Bahasa Inggris, Matematika, dan IPA dengan tempat pelaksanaan tutorial tatap muka, b) koefisien kontingensi asosiasi antara nilai prestasi belajar mata pelajaran Bahasa Inggris, Matematika, dan IPA dengan tempat pelaksanaan tutorial tatap muka. Berdasarkan tujuan tersebut penelitian ini menguji suatu hipotesis; “Terdapat hubungan yang positif antara tempat pelaksanaan tutorial tatap muka dengan hasil belajar siswa SLTP Terbuka”.
2. KAJIAN LITERATUR
2.1. Tutorial Tatap Muka
Tutorial tatap muka adalah kegiatan pemberian layanan dan bantuan oleh tutor (guru bina) kepada siswa SLTP Terbuka dalam pemecahan kesulitan-kesulitan yang ditemui atau dialami siswa ketika belajar mandiri dan kelompok di TKB atau di rumah, melalui tatap muka atau komunikasi langsung. Kesulitan-kesulitan tersebut bisa disampaikan sebelum kegiatan tutorial dilakukan, atau langsung ditanyakan pada saat kegiatan tutorial dilaksanakan. Untuk menjaga kesulitan siswa tidak disampaikan ke tutor atau siswa tidak mengajukan pertanyaan ketika kegiatan tutorial dilaksanakan, tutor (guru bina) telah siap dengan sejumlah pertanyaan yang direkap dari seluruh kesulitan dan pertanyaan siswa sebelumnya atau berdasarkan prediksi tutor dari materi-materi esensial yang diasumsikan sulit bila siswa belajar sendiri. Pertanyaan-pertanyaan tersebut bisa juga dirangkum dari kesulitan-kesulitan siswa SLTP Induk.
2.2. Hasil Belajar
Menurut Wittrock (Good dan Brophy, 1990: 124), belajar adalah suatu terminologi yang menggambarkan suatu proses perubahan melalui pengalaman. Proses tersebut mempersyaratkan perubahan yang relatif permanen berupa sikap, pengetahuan, informasi, kemampuan dan keterampilan melalui pengalaman. Sedangkan Good dan Brophy (1990: 124) mengatakan bahwa belajar itu bagaimana seseorang memanipulasi lingkungan.
Pengertian dan konsepsi hasil belajar yang dikemukakan oleh ahli-ahli sedikit banyak dipengaruhi oleh aliran-aliran atau teori-teori yang dianutnya. Skiner dengan teori Kondisioning Operannya sebagaimana dikutip Gredler (1991: 172) mengatakan bahwa hasil belajar merupakan respon (tingkah laku) yang baru. Walaupun Skiner mengatakan bahwa hasil belajar adalah berupa “respon yang baru”, namun pada dasarnya respon yang baru itu sama pengertiannya dengan tingkah laku (pengetahuan, sikap, keterampilan) yang baru. Gagne (1977: 3) berpendapat; belajar ialah seperangkat proses kognitif yang mengubah sifat stimulasi dari lingkungan menjadi beberapa tahapan pengolahan informasi yang diperlukan untuk memperoleh kapabilitas yang baru. Kapabilitas inilah yang disebut hasil belajar. Berarti belajar itu menghasilkan berbagai macam tingkah laku yang berlain-lainan, seperti pengetahuan, sikap, keterampilan, kemampuan, informasi, dan nilai. Berbagai macam tingkah laku yang berlain-lainan inilah yang disebut kapabilitas sebagai hasil belajar.
Menurut Gagne dan Briggs (1979: 49-50) ada 5 (lima) kategori kapabilitas hasil belajar, yaitu :
1) keterampilan intelektual (intellectual skills),
2) strategi kognitif (cognitive strategies),
3) informasi verbal (verbal information),
4) keterampilan motorik (motor skills), dan
5) sikap (atitudes). Sedangkan Bloom dengan kawan-kawannya sebagaimana dikutip oleh Degeng (1989: 1989:176-177), mengklasifikasikan hasil pengajaran (belajar) menjadi 3 (tiga) domain atau ranah, yaitu “ranah kognitif, psikomotor, dan sikap.
Ranah kognitif, menaruh perhatian pada pengembangan kapabilitas dan keterampilan intelektual; Ranah psikomotor berkaitan dengan kegiatan-kegiatan manipulatif atau keterampilan motorik; dan ranah sikap berkaitan dengan pengembangan perasaan, sikap, nilai, dan emosi”.
Dapat diasumsikan bahwa untuk menghasilkan kelima kategori kapabilitas atau kelima ranah hasil belajar tersebut sedikit banyak ditentukan atau dipengaruhi oleh faktor internal seperti pengetahuan prasyarat atau kemampuan awal dari masing-masing kategori hasil belajar yang telah dimiliki oleh siswa, yang berkaitan dengan kapabilitas atau keterampilan yang sedang dipelajari (baru).
Reigeluth (1983: 15) berpendapat hasil belajar atau pembelajaran dapat juga dikatakan sebagai pengaruh yang memberikan suatu ukuran nilai dari metode (starategi) alternatif dalam kondisi yang berbeda. Ada hasil nyata dan diinginkan. Hasil nyata, hasil-hasil kehidupan nyata dari menggunakan metode (strategi) sepesifik dalam kondisi yang spesifik pula, sedangkan hasil diinginkan adalah tujuan-tujuan (goals) yang umumnya berpengaruh pada pemilihan suatu metode. Ini berarti hasil belajar sangat erat kaitannya dengan metode (strategi) yang digunakan pada sesuatu kondisi (pembelajaran) tertentu. Semakin ketepatan pemilihan metode atau strategi (pembelajaran) pada suatu kondisi semakin baik hasil belajar. Selanjutnya Reigeluth (1983: 94) mengataka secara spesifik, hasil belajar adalah suatu kinerja (performance) yang diindikasikan sebagai suatu kapabiltas (kemampuan) yang telah diperoleh. Hasil belajar tersebut selalu dinyatakan dalam bentuk tujuan-tujuan (khusus) prilaku (unjuk kerja).
Dari paparan beberapa teori dan konsep tentang hasil belajar tersebut di atas, maka dapat dibuat suatu defenisi konseptual hasil belajar sebagai suatu kesimpulan. Hasil belajar adalah merupakan prilaku berupa pengetahuan, keterampilan, sikap, informasi, dan atau strategi kognitif yang baru dan diperoleh siswa setelah berinteraksi dengan lingkungan dalan suatu suasan atau kondisi pembelajaran. Pengetahuan, keterampilan, sikap, informasi dan atau strategi kognitif tersebut adalah baru, bukan yang telah dimiliki siswa sebelum memasuki kondisi atau situasi pembelajaran dimaksud. Hasil belajar tersebut bisa juga berbentuk kinerja atau unjuk kerja (performance) yang ditampilkan seseorang setelah selesai mengikuti proses pembelajaran atau pelatihan.
3. METODOLOGI PENELITIAN
Penelitian ini bertujuan untuk untuk mengetahui pengaruh pemberian tutorial tatap muka guru kunjung terhadap hasil belajar siswa SLTP Terbuka. Secara rinci penelitian ini bertujuan untuk memperoleh data atau informasi beberapa hal yaitu :
a) Bagaimanakah strategi pembelajaran yang diterapkan pada SLTP Terbuka?
b) Apakah ada hubungan (asosiasi) nyata antara nilai prestasi belajar siswa untuk mata pelajaran Bahasa Inggris, Matematika, dan IPA dengan tempat pelaksanaan tutorial tatap muka?
c) Berapakah koefisien kontingensi asosiasi antara nilai prestasi belajar mata pelajaran Bahasa Inggris, Matematika, dan IPA dengan tempat pelaksanaan tutorial tatap muka?
Penelitian ini survei yang dilakukan pada tahun 1997 dengan mengambil data pada delapan lokasi SLTP Terbuka yaitu: SLTP Terbuka Delima, Kabupaten Pidi Aceh, SLTP Terbuka Ketahun, Bengkuku Utara, SLTP Terbuka Kalisat Jember Jawa Timur, SLTP Terbuka Banjar Selatan Kalimantan Selatan, SLTP Terbuka Mariso, Makassar, SLTP Terbuka Terara Lombok Timur, SLTP Terbuka Pujut, Lombok Tengah, dan SLTP Terbuka Kairatu Maluku Tengah. Sementara itu sebagai responden adalah siswa SLTP Terbuka, guru pamong, guru bina, dan Kepala sekolah. Adapun jumlah responden adalah sebagai berikut.
TABEL 3.1. JENIS DAN JUMLAH RESPONDEN PENELITIAN
No. Nama Lokasi Kasek Gr. Bin. Gr. Pa. Siswa Jum.
1. SLTP Terbuka Pujut 1 9 9 34 53
2. SLTP Terbuka Terara 1 9 9 34 53
3. SLTP Terbuka Kalisat 1 9 9 34 53
4. SLTP Terbuka Kairatu 1 9 9 34 53
5. SLTP Terbuka Mariso 1 9 9 34 53
6. SLTP Terbuka Banjar 1 9 9 34 53
7. SLTP Terbuka Ketahun 1 9 9 34 53
8. SLTP Terbuka Delima 1 9 9 34 53
Total Responden 8 72 72 272 424
Instrumen pengumpulan data yang digunakan mencakup kuesioner, tes hasil belajar, dan pedoman wawancara. Sebelum digunakan instrumen pengumpulan data terlebih dahulu divalidasi, dengan tehnik validasi muka dan validasi konstruk dengan pendekatan analisis logis (Ary. Dkk., 1982:289). Validasi muka dilakukan dengan meminta kepada beberapa ahli sistem SLTP Terbuka dari Pustekkom, Direktorat Dikmenum, dan Tim teknis SLTP Terbuka. Berdasarkan masukan dari beberapa ahli tersebut kemudian instrumen diperbaiki dan dilakukan ujicoba. Untuk menghitung tingkat reliabilitas instrumen yang bersifat konstruk menggunakan rumus Gronbach Alpha (Nunnally, 1983: 83), sedangkan tes hasil belajar menggunakan rumus Product Moment.
4. HASIL PENELITIAN
4.1. Hasil Belajar
Pada bagian ini akan diuraikan secara singkat hasil belajar siswa ditinjau dari tes akhir modul, akhir unit dan nilai legger. Pada setiap tes akhir modul, rata-rata 2% siswa yang mendapat nilai lebih dari 80 (80%), kecuali untuk mata pelajaran bahasa inggris (0,0%). Untuk mata pelajaran yang sulit, rata-rata siswa memperoleh nilai tes akhir modul 60% ke bawah sedangkan mata pelajaran yang dianggap mudah, secara umum siswa memperoleh nilai tes akhir modul 60% s.d. 80%. Untuk lebih jelasnya lihat tabel 4.1.
Walau demikian menurut Kepala Sekolah, nilai tes akhir unit siswa pada umumnya baik. Menurut 62,5% Kepala Sekolah nilai yang diperoleh siswa rata-rata 61-75. Bahkan ada yang memperoleh nilai lebih dari 75, yaitu 12,5%. Sisanya, 25,0% rata-rata mendapat nilai 46-60.
TABEL 4.1 PERSENTASE SISWA MEMPEROLEH NILAI TES AKHIR MODUL
Persentase Siswa Memperoleh Nilai
No. Mata Pelajaran >80% 71-80% 61-70% < 61%
1. Biologi 1,9% 14,8% 35,2% 48,1%
2. Fisika 1,9% 5,6% 27,8% 64,8%
3. Matematika 1,9% 5,6% 18,5% 74,1%
4. B.Inggris 0,0% 7,7% 15,4% 77,0%
5. B.Indonesia 13,2% 43,4% 26,4% 17,0%
6. Geografi 5,6% 31,5% 48,1% 14,8%
7. Sejarah 11,1% 37,0% 37,0% 16,7%
8. EkonomiKoperasi 7,4% 40,7% 35,2% 11,3%
9. PMP/PPKN 28,3% 52,8% 7,5% 9,4%
Begitu pula nilai tes akhir semester (TAS), tidak jauh berbeda dengan nilai tes akhir unit. (TAU). Untuk mengetahui perbandingan persentase nilai yang diperoleh siswa dalam tes akhir unit dan akhir semester, lihat tabel 4.2.
TABEL 4.2. NILAI TES AKHIR UNIT DAN SEMESTER DICAPAI SISWA
No Nilai yang diperoleh T A U T A S
1. > dari 75 12,5% 12,5%
2. 61 s.d. 75 62,5% 50,0%
3. 46 s.d. 60 25,0% 37,5%
4. < dari 46 0,0% 0,0%
Tabel 4.2. di atas menunjukkan bahwa nilai tes akhir unit dan tes akhir semester siswa SMP Terbuka tidak terlalu mengecewakan. Menurut 75,0% Kepala Sekolah, bahwa soal-soal tes akhir unit dan semester pada SMP Terbuka sama dengan SMP Induknya. Ini berlaku untuk semua mata pelajaran. Walaupun 25,5% Kepala Sekolah menyatakan hanya sebagian besar soal-soal tes akhir unit dan tes akhir semester yang sama dengan soal-soal SMP Induk.
Dalam kesempatan ini pula peneliti mengutip nilai legger semester 3 untuk mata pelajaran Bahasa Inggris, Pengetahuan Alam (IPA) dan Matematika. Rentang nilai yang diperoleh siswa untuk Bahasa Inggris 5 sampai 8, IPA 4 sampai 8, dan Matematika 5 sampai 8, dan rata-rata nilai 6.
Pada tabel 4.3. tergambar bahwa tidak ada perbedaan yang berarti antara nilai akhir semester 3 tahun 1997/1998 siswa SMP Terbuka yang mengikuti pelajaran tatap muka di SMP Induk dengan di luar SMP Induk. Siswa yang mengikuti pelajaran melalui tatap muka di luar SMP Induk, memperoleh nilai 4 dan 5 jumlahnya sedikit bila dibandingkan dengan siswa yang mengikuti pelajaran melalui tatap muka di SMP Induk.
TABEL 4.3 NILAI AKHIR SISWA SEMESTER 3 TAHUN 1997/1998
Mata
Pelajaran Tatap Muka Jumlah Siswa Memperoleh nilai ?
4 5 6 7 8
B. Inggris - Luar Induk -- 3 75 29 2 109
- Di Induk -- 13 44 35 7 99 16 119 64 9 208 7,7% 57,2% 30,8% 4,3% 100%
I P A - Luar Induk 1 4 57 45 2 109
- Di Induk 5 12 42 37 3 99 6 16 99 82 5 208 2,9% 7,7% 47,6% 39,4% 2,4% 100%
Matematik - Luar Induk -- 4 56 41 8 109
- Di Induk -- 18 57 22 2 99 22 113 64 10 208 10,6% 54,3% 30,8% 4,8% 100%
Sebaliknya untuk nilai 6 dan 7 umumnya jumlah siswa yang mengikuti pelajaran tatap muka di luar Induk lebih banyak daripada yang mengikuti pelajaran di SMP Induk. Hal ini kemungkinan terjadi karena Guru Pamong pada TKB-TKB yang mengikuti pelajaran di luar Induk lebih banyak diajar seperti kelas reguler oleh Guru Pamong daripada belajar mandiri. Data ini didukung pula oleh data wawancara dan observasi yang dilakukan oleh peneliti di beberapa TKB.
4.2. Hasil Pengujian Hubungan
Pada tabel 4.3. tergambar frekuensi nilai prestasi belajar siswa SMP Terbuka yang mengikuti pelajaran melalui tatap muka di luar dan di SMP Induk, untuk mata pelajaran Bahasa Inggris, Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), dan Matematika. Pada bagian ini akan diuraikan hasil pengujian hubungan antara prestasi belajar dengan tempat pelaksanaan pelajaran tatap muka.
a. Bahasa Inggris
Dari data frekuensi nilai prestasi belajar siswa pada tabel 4.3 di atas frekuensi pengamatan dan harapan seperti tabel 4.4 berikut. Dari data table 4.4. nampak bahwa jumlah siswa yang memperoleh nilai Bahasa Inggris di atas standar nilai untuk maju berkelanjutan (nilai 6 ke atas) jumlah siswa yang mengikuti tutorial tatap muka di luar SLTP Induk lebih sedikit dibandingkan dengan siswa yang mengikuti tutorial di SLTP Induk.
TABEL. 4.4 FREKUENSI PENGAMATAN DAN HARAPAN BAHASA INGGRIS
Nilai Tatap Muka di Tatap Muka Luar Jumlah
Induk Induk
= 5 13 3
7.6 8.4 16
6 44 75
56.6 62.4 119
7 35 29
30.5 33.5 64
= 8 7 2
4.3 4.7 9
Jumlah 99 109 208
Data tabel frekwensi tersebut di atas kemudian dihitung nilai hubungan dengan menggunakan rumus Chi-Kuadrat:
XO2 =
Dengan menggunakan rumus di atas. maka diperoleh nilai hunbungan (asosiasi) Xo2 = 17.16
Ct2 : dengan ? = 0.01 dan dk : (4 – 1) (2 – 1) = 3; didapat dalam tabel Xt2 (0.99 : 3) = 11.3; lebih kecil dari 17.16 (nilai hitung).
Jadi dapat disimpulkan bahwa ada hubungan (asosiasi) yang nyata antara nilai prestasi belajar mata pelajaran Bahasa Inggris dengan tempat pelaksanaan belajar tatap muka.
Untuk mengetahui kadar asosiasi antara prestasi belajar Bahasa Inggris dengan tempat pelaksanaan belajar tatap muka, dihitung koefisien kontingensi dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
C =
C = = 0.28
Jadi kadar asosiasi antara prestasi belajar Bahasa Inggris dengan tempat belajar melalui tatap muka mempunyai koefisien kontingensi 0.28.
b. Ilmu Pengetahuan Alam
Dari data frekuensi nilai prestasi belajar siswa pada tabel 4.3 apat dibuat table frekuensi pengamatan dan harapan seperti tabel 4.5. Dari table dapat dilihat jumlah siswa yang memperoleh nilai IPA (Fisika dan Biologi) untuk standar minimal maju berkelanjutan (nilai 6 ke atas) jumlah siswa yang mengikuti tutorial tatap muka di luar SLTP Induk lebih banyak dibandingkan siswa yang mengikuti tutorial di SLTP Induk.
TABEL 4.5. FREKUENSI PENGAMATAN DAN
HARAPAN IPA
Nilai Tatap Muka di Tatap Muka Luar Jumlah
Induk Induk
= 5 17 5
10.5 11.5 22
6 42 57
47.1 51.9 99
7 37 45
39 43 82
= 8 3 2
2.4 2.6 5
Jumlah 99 109 208
Data tabel frekwensi tersebut di atas kemudian dihitung nilai hubungan dengan menggunakan rumus Chi-Kuadrat:
XO2 =
Dengan menggunakan rumus di atas, maka diperoleh nilai hubungan (asosiasi) Xo2 = 9.22
Xt2 : dengan ? = 0.01 dan dk: (4–1) (2–1) = 3; didapat dalam table Xt2 (0.99 : 3) = 11.3; lebih besar dari 9.22 (nilai hitung).
Jadi dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan (asosiasi) yang nyata antara nilai prestasi belajar mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dengan tempat pelaksanaan belajar tatap muka.
c. Matematika
Dari data frekwensi nilai prestasi belajar siswa pada tabel 4.3 dapat dibuat frekwensi pengamatan dan harapan seperti tabel 4.6. Data pada table 4.6. menunjukkan bahwa jumlah siswa yang memperoleh nilai 6, 7 dan 8 yang mengikuti tutorial di luar SLTP Induk lebih banyak dibandingkan dengan jumlah siswa yang mengikuti tutorial tatap muka di SLTP Induk. Ini berarti jumlah siswa yang memenuhi syarat untuk melanjutkan mempelajari modul berikutnya lebih banyak siswa yang mengikuti tutorial tatap muka di luar SLTP Induk.
TABEL 4.6 FREKUENSI PENGAMATAN DAN HARAPAN MATEMATIKA
Nilai Tatap Muka di Tatap Muka Luar Jumlah
Induk Induk
= 5 18 4
10.5 11.5 22
6 57 56
53.7 9.3 114
7 22 41
30 33 63
= 8 2 8
4.8 5.2 510
Jumlah 99 109 208
Data table frekwensi tersebut di atas kemudian dihitung nilai hubungannya dengan menggunakan rumus Chi-Kuadrat:
XO2 =
Dengan menggunakan rumus di atas dapat diperoleh nilai hubungan (asosiasi) Co2 = 17.84
Xt2 : dengan a = 0.01 dan dk : (4-1) (2-1) = 3; didapat dalam
tabel Xt2 (0.99 : 3) = 11.3; lebih kecil dari 17.84 (nilai hitung)
Jadi dapat disimpulkan bahwa ada hubungan (asosiasi) yang nyata antara nilai prestasi belajar mata pelajaran Matematika dengan tempat pelaksanaan tatap muka.
Untuk mengetahui kadar asosiasi antara prestasi belajar Matematika dengan tempat pelaksanaan belajar tatap muka, dihitung koefisien kontingensi dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
C = = 0.28
Jadi kadar asosiasi antara prestasi belajar Matematika dengan tempat belajar melalui tatap muka mempunyai koefisien kontingensi 0.28.
5. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
a. ada hubungan (asosiasi) yang nyata antara nilai prestasi belajar mata pelajaran Bahasa Inggris dengan tempat pelaksanaan belajar tatap muka. Ct2 : dengan a = 0.01 dan dk : (4 – 1) (2 – 1) = 3; didapat dalam tabel Ct2 (0.99 : 3) = 11.3; lebih kecil dari 17.16 (nilai hitung), sedangkan kadar asosiasi (hubungan) antara prestasi belajar Bahasa Inggris dengan tempat belajar tutorial tatap muka mempunyai koefisien kontingensi 0.28.
b. Tidak ada hubungan (asosiasi) yang nyata antara nilai prestasi belajar mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dengan tempat pelaksanaan belajar tatap muka. Ct2 : dengan a = 0.01 dan dk : (4-1) (2-1) = 3; didapat dalam
table Ct2 (0.99 : 3) = 11.3; lebih besar dari 9.22 (nilai hitung).
c. Ada hubungan (asosiasi) yang nyata antara nilai prestasi belajar mata pelajaran Matematika dengan tempat pelaksanaan tatap muka.
Ct2 : dengan a = 0.01 dan dk : (4-1) (2-1) = 3; didapat dalam tabel Ct2 (0.99 : 3) = 11.3; lebih kecil dari 17.84 (nilai hitung), sedangkan kadar asosiasi 9hubungan) antara prestasi belajar Matematika dengan tempat belajar melalui tatap muka mempunyai koefisien kontingensi 0.28.
5.2. Saran
a. Untuk mata pelajaran Bahasa Inggris dan Matematik, dalam menentukan tempat tutorial tatap muka yang berbeda, hendaknya kedua tempat tersebut suasana lingkungan, sarana dan prasarana pembelajaran termasuk guru bina yang memberikan tutorial diupayakan sama. Hal ini untuk menghindari adanya perebedaan yang bermakna antara hasil belajar siswa yang mengikuti tutorial yang berbeda tempatnya. Hal ini akan merugikan bagi siswa yang mengikuti tutorial pada tempat yang secara metodil dan psikologis tidak mendukung keberhasilan belajar mereka.
b. Tidak adanya hubungan yang signifikan antara tempat kegiatan tutorial tatap muka dengan hasil belajar siswa untuk mata pelajaran IPA, salah satu penyebabnya karena nilai mata Biologi digabung dengan mata pelajaran Fisika. Berdasarkan data nilai tes akhir modul (lihat table 4.1.) jumlah siswa yang mengulang untuk mempelajari suatu modul mata pelajaran Fisika lebih banyak dibandingkan siswa yang seharusnya mengulang mata pelajaran Biologi
c. Perlu diadakan penelitian lebih lanjut sedara terencana dan sistematis melalui penelitian eksperimen sehingga dapat diambil kesimpulan yang universal tentang hubungan tempat kegiatan pembelajaran dengan hasil belajar siswa. Penelitian tersebut tidak hanya ketiga mata pelajaran tetapi semua mata pelajaran yang di-Ebtanaskan. Selain itu untuk mata pelajaran IPA hendaknya dipisahkan antara mata pelajaran Fisika dengan mata pelajaran Biologi.
KEPUSTAKAAN
Arry, Donald, Jacobs, Lucky C., & Razavieh, Asgha. Pengantar penelitian dalam pendidikan (Penterjemah Arief Furchan), Surabaya. Usaha Nasional, 1982.
Gagne, Robert M. dan Briggs, Leslie J., 1979. Principles of Instructional Design, second edition, New York, Holt, Pinehart and Winstone.
Barnadib, Imam, et. al., Laporan Evaluasi Sistem SMP Terbuka Tahun Ajaran 1984/1985, Pustekkom, Depdikbud, Jakarta 1985.
Degeng, I. Nyoman S., 1989. Ilmu Pengajaran: Taksonomi Variabel, Jakarta, Ditjen Dikti Depdikbud,
Gagne, Robert M. dan Briggs, Leslie J., 1979. Principles of Instructional Design, second edition, New York, Holt, Pinehart and Winstone.
Gagne, Robert M., The Condition Of Learning, Third edition, New York : Holt, Rinehart and Winston, 1979.
Good, Thomas L.. dan Brophy, Jere E., 1990. Educational Psychology A Realistic Approach, New York, Logman, 95 Church Street, White Plains,
Gredler, Margaret E. Bell, 1991. Belajar dan Membelajarkan, (Terjemahkan Munandir), Jakarta, CV Rajawali bekerja sama dengan PAU-UT,
Nunnally, Jum C., Psychometric Theory : McGraw Hill Book Company, 1978.
Reigeluth, Charles M., 1983. Instructional-Design Theories and Models, London, New Jersey, Lawrence Erlbaum Associates, Publishers.
Supriadi, Dedi, et. al., SMP Terbuka Profil dan Prospeknya dalam Rangka Pelaksanaan Wajib Belajar 9 tahun, Laporan Penelitian Buku I, Jakarta: Dit Dikmenum, 1997.
Langganan:
Postingan (Atom)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)