Jumat, 05 Juni 2009

HUBUNGAN TEMPAT
DENGAN HASIL BAHASA INGGRIS
Ahmad Fauzi, S.Pd.


ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian tutorial tatap muka guru kunjung terhadap hasil belajar siswa SLTP Terbuka. Penelitian ini dilakukan pada tahun 1997 dengan mengambil data pada delapan lokasi SLTP Terbuka. Permasalahan yang diteliti adalah: a) Apakah ada hubungan (asosiasi) nyata antara nilai prestasi belajar siswa untuk mata pelajaran Bahasa Inggris, Matematika, dan IPA dengan tempat pelaksanaan tutorial tatap muka? b) Berapakah kadar asosiasi antara nilai prestasi belajar mata pelajaran Bahasa Inggris, Matematika, dan IPA dengan tempat pelaksanaan tutorial tatap muka?
Metode yang digunaka dalam penelitian ini adalah metode survey dengan responden guru bina, guru pamong, dan siswa SLTP Terbuka. Lokasi penelitian ditetapkan secara purposif dengan memilih lokasi SLTP Terbuka yang pertama sekali di buka di Propinsi masing-masing. Untuk menghitung tingkat hubungan antara hasil belajar dengan tempat tutorial tatap muka dilakukan dengan menggunakan rumus Chi-Kuadrat.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa :
a) Terdapat hubungan (asosiasi) nyata antara nilai prestasi belajar Bahasa Inggris dengan tempat tutorial tatap muka: tabel Xt 2 (0.99:3) = 11.3 < 17.16 (nilai hitung), sedangkan kadar koefisien kontingensi 0.28.
b) Terdapat hubungan (asosiasi) nyata antara nilai prestasi belajar Matematika dengan tempat tutorial tatap muka: tabel Xt 2 (0.99:3) = 11.3 < 17.16 (nilai hitung), sedangkan kadar koefisien kontingensi 0.28.
c) Tidak terdapat hubungan (asosiasi) nyata antara nilai prestasi belajar mata pelajaran IPA dengan tempat tutorial tatap muka: tabel Xt 2 (0.99:3) = 11.3 > 9.22 (nilai hitung).

Kata kunci: ranah hasil belajar, belajar mandiri, tutorial tatap muka,
hasil belajar, tempat tatap muka.

1. LATAR BELAKANG
Perkembangan lokasi SLTP Terbuka yang semula pada awal perintisan lima lokasi, pada tahun 1996 menjadi 956 lokasi. Perkembangan yang pesat tersebut disebabkan oleh kebijakan pemerintah yang menetapkan SLTP Terbuka merupakan salah satu pola pembelajaran jalur sekolah yang dapat diandalkan untuk mensukseskan wajib belajar pendidikan dasar (Wajar Dikdas) 9 tahun. Perkembangan lokasi yang pesat tersebut telah membwa dampak terhadap penentuan lokasi penyebaran yang pada akhirnya berpengaruh pada pola pembelajaran tutorial tatap muka.
Pada masa perintisan untuk menentukan lokasi dilakukan dengan studi kelayakan lokasi. Pola pembelajaran tutorial tatap muka semuanya dilakukan di SLTP Induk. Semua siswa dari berbagai Tempat Kegiatan Belajar (TKB) dalam satu SLTP Terbuka pada jadwal yang telah disepakati mendatangi SLTP Terbuka Induk untuk mengikuti tutorial tatap muka. Jarak antara tempat tinggal siswa dan TKB dengan SLTP Induk relatif mudah untuk dijangkau. Waktu tempuh siswa untuk ke SLTP Induk dengan jalan kaki sekitar 30 s.d. 50 menit. Dengan pola pembelajaran tutorial tatap muka seperti ini menunjukkan bahwa selama perintisan tidak terjadi kendala yang berarti. Hal ini ditopang oleh data hasil penelitian evaluatif pada tahun 1980/1981 yang menyatakan; “SLTP Terbuka secara umum sudah berjalan sebagaimana yang direncanakan, secara efektif mampu menampung jumlah besar lulusan SD di sekitarnya dan hasil akademik yang dicapai siswa SLTP Terbuka secara signifikan tidak berbeda dengan siswa SLTP Induknya (Barnadib, 1981: 56). Begitu pula hasil evaluasi yang dilakukan pada tahun 1984/1985 yang menyatakan bahwa sistem SLTP Terbuka diterima oleh masyarakat dan hasih belajar siswa tidak berbeda secara signifikan dengan hasil belajar siswa SLTP Induk (Barnadib, 1985: 50-53). Hasil penelitian evaluatif tersebut menunjukkan bahwa pelaksanaan sistem SLTP Terbuka pada masa perintisan berjalan secara efektif dan hasil belajar siswa secara signifikan tidak berbeda dengan hasil belajar siswa SLTP Induk. Sementara itu disebutkan pula bahwa berdasarkan pendapat siswa, mata pelajaran yang dianggap sulit meliputi mata pelajaran Bahasa Inggris, Matematika, dan IPA (Barnadib, 1981: 54).
Hasil pembelajaran sebagaimana disebutkan di atas akan dicapai secara efektif dan efisien apabila dalam penetapan strategi penyampaian pembelajaran dilakukan dengan cermat dan mengacu pada rancangan pola operasional SLTP Terbuka. Kaitan antara kondisi lingkungan, karakteristik siswa dan upaya pencapaian hasil pembelajaran secara efektif dan efisien perlu dipertimbangkan dalam menentukan strategi penyampaian pembelajaran. Dalam masa perintisan semua faktor sebagaimana tersebut di atas memang ditentukan dan ditetapkan berdasarkan pertimbangan melalui diskusi yang mendalam antar unit pelaksana.

Namun setelah perluasan dalam penentuan lokasi penyebaran tidak dilakukan melalui studi kelayakan lokasi yang sistematis dan menyeluruh dari segala variabel yang menentukan keberhasilan SLTP Terbuka. Banyak lokasi penyebaran yang letak lopkasi TKB nya relatif jauh, sehingga sangat sulit bagi siswa untuk mengikuti tutorial di SLTP Induk. Oleh karena itu banyak SLTP Terbuka yang melaksanakan tutorial guru kunjung. Bahkan menurut Supriadi (1997: 50) jumlah SLTP Terbuka yang cenderung melaksanakan tutorial tatap muka guru kunjung mencapai 75%. Hal ini memungkinkan pelaksanaan pembelajaran tidak berjalan secara efektif sehingga hasil belajar siswa belum dicapai sebagaimana yang diharapkan.

Berdasarkan uraian di atas, diasumsikan hasil belajar siswa SLTP Terbuka yang mengikuti tutorial tatap muka di SLTP Induk berbeda secara signifikan bila dibandingkan dengan hasil belajar siswa yang mengikuti tatap muka dengan sistem guru kunjung. Terutama hasil belajar mata pelajaran yang dianggap siswa sulit. Oleh karena itu perlu diadakan suatu penelitian tentang: a) apakah ada hubungan antara hasil belajar siswa dengan tempat kegiatan tutorial tatap muka? b) Bila ada berapakah besar tingkat koefisien kontingensi hubungannya?

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian tutorial tatap muka guru kunjung terhadap hasil belajar siswa SLTP Terbuka. Secara rinci penelitian ini bertujuan untuk memperoleh data atau informasi tentang: a) hubungan (asosiasi) nyata antara nilai prestasi belajar siswa untuk mata pelajaran Bahasa Inggris, Matematika, dan IPA dengan tempat pelaksanaan tutorial tatap muka, b) koefisien kontingensi asosiasi antara nilai prestasi belajar mata pelajaran Bahasa Inggris, Matematika, dan IPA dengan tempat pelaksanaan tutorial tatap muka. Berdasarkan tujuan tersebut penelitian ini menguji suatu hipotesis; “Terdapat hubungan yang positif antara tempat pelaksanaan tutorial tatap muka dengan hasil belajar siswa SLTP Terbuka”.

2. KAJIAN LITERATUR
2.1. Tutorial Tatap Muka
Tutorial tatap muka adalah kegiatan pemberian layanan dan bantuan oleh tutor (guru bina) kepada siswa SLTP Terbuka dalam pemecahan kesulitan-kesulitan yang ditemui atau dialami siswa ketika belajar mandiri dan kelompok di TKB atau di rumah, melalui tatap muka atau komunikasi langsung. Kesulitan-kesulitan tersebut bisa disampaikan sebelum kegiatan tutorial dilakukan, atau langsung ditanyakan pada saat kegiatan tutorial dilaksanakan. Untuk menjaga kesulitan siswa tidak disampaikan ke tutor atau siswa tidak mengajukan pertanyaan ketika kegiatan tutorial dilaksanakan, tutor (guru bina) telah siap dengan sejumlah pertanyaan yang direkap dari seluruh kesulitan dan pertanyaan siswa sebelumnya atau berdasarkan prediksi tutor dari materi-materi esensial yang diasumsikan sulit bila siswa belajar sendiri. Pertanyaan-pertanyaan tersebut bisa juga dirangkum dari kesulitan-kesulitan siswa SLTP Induk.

2.2. Hasil Belajar
Menurut Wittrock (Good dan Brophy, 1990: 124), belajar adalah suatu terminologi yang menggambarkan suatu proses perubahan melalui pengalaman. Proses tersebut mempersyaratkan perubahan yang relatif permanen berupa sikap, pengetahuan, informasi, kemampuan dan keterampilan melalui pengalaman. Sedangkan Good dan Brophy (1990: 124) mengatakan bahwa belajar itu bagaimana seseorang memanipulasi lingkungan.
Pengertian dan konsepsi hasil belajar yang dikemukakan oleh ahli-ahli sedikit banyak dipengaruhi oleh aliran-aliran atau teori-teori yang dianutnya. Skiner dengan teori Kondisioning Operannya sebagaimana dikutip Gredler (1991: 172) mengatakan bahwa hasil belajar merupakan respon (tingkah laku) yang baru. Walaupun Skiner mengatakan bahwa hasil belajar adalah berupa “respon yang baru”, namun pada dasarnya respon yang baru itu sama pengertiannya dengan tingkah laku (pengetahuan, sikap, keterampilan) yang baru. Gagne (1977: 3) berpendapat; belajar ialah seperangkat proses kognitif yang mengubah sifat stimulasi dari lingkungan menjadi beberapa tahapan pengolahan informasi yang diperlukan untuk memperoleh kapabilitas yang baru. Kapabilitas inilah yang disebut hasil belajar. Berarti belajar itu menghasilkan berbagai macam tingkah laku yang berlain-lainan, seperti pengetahuan, sikap, keterampilan, kemampuan, informasi, dan nilai. Berbagai macam tingkah laku yang berlain-lainan inilah yang disebut kapabilitas sebagai hasil belajar.

Menurut Gagne dan Briggs (1979: 49-50) ada 5 (lima) kategori kapabilitas hasil belajar, yaitu :
1) keterampilan intelektual (intellectual skills),
2) strategi kognitif (cognitive strategies),
3) informasi verbal (verbal information),
4) keterampilan motorik (motor skills), dan
5) sikap (atitudes). Sedangkan Bloom dengan kawan-kawannya sebagaimana dikutip oleh Degeng (1989: 1989:176-177), mengklasifikasikan hasil pengajaran (belajar) menjadi 3 (tiga) domain atau ranah, yaitu “ranah kognitif, psikomotor, dan sikap.
Ranah kognitif, menaruh perhatian pada pengembangan kapabilitas dan keterampilan intelektual; Ranah psikomotor berkaitan dengan kegiatan-kegiatan manipulatif atau keterampilan motorik; dan ranah sikap berkaitan dengan pengembangan perasaan, sikap, nilai, dan emosi”.
Dapat diasumsikan bahwa untuk menghasilkan kelima kategori kapabilitas atau kelima ranah hasil belajar tersebut sedikit banyak ditentukan atau dipengaruhi oleh faktor internal seperti pengetahuan prasyarat atau kemampuan awal dari masing-masing kategori hasil belajar yang telah dimiliki oleh siswa, yang berkaitan dengan kapabilitas atau keterampilan yang sedang dipelajari (baru).
Reigeluth (1983: 15) berpendapat hasil belajar atau pembelajaran dapat juga dikatakan sebagai pengaruh yang memberikan suatu ukuran nilai dari metode (starategi) alternatif dalam kondisi yang berbeda. Ada hasil nyata dan diinginkan. Hasil nyata, hasil-hasil kehidupan nyata dari menggunakan metode (strategi) sepesifik dalam kondisi yang spesifik pula, sedangkan hasil diinginkan adalah tujuan-tujuan (goals) yang umumnya berpengaruh pada pemilihan suatu metode. Ini berarti hasil belajar sangat erat kaitannya dengan metode (strategi) yang digunakan pada sesuatu kondisi (pembelajaran) tertentu. Semakin ketepatan pemilihan metode atau strategi (pembelajaran) pada suatu kondisi semakin baik hasil belajar. Selanjutnya Reigeluth (1983: 94) mengataka secara spesifik, hasil belajar adalah suatu kinerja (performance) yang diindikasikan sebagai suatu kapabiltas (kemampuan) yang telah diperoleh. Hasil belajar tersebut selalu dinyatakan dalam bentuk tujuan-tujuan (khusus) prilaku (unjuk kerja).

Dari paparan beberapa teori dan konsep tentang hasil belajar tersebut di atas, maka dapat dibuat suatu defenisi konseptual hasil belajar sebagai suatu kesimpulan. Hasil belajar adalah merupakan prilaku berupa pengetahuan, keterampilan, sikap, informasi, dan atau strategi kognitif yang baru dan diperoleh siswa setelah berinteraksi dengan lingkungan dalan suatu suasan atau kondisi pembelajaran. Pengetahuan, keterampilan, sikap, informasi dan atau strategi kognitif tersebut adalah baru, bukan yang telah dimiliki siswa sebelum memasuki kondisi atau situasi pembelajaran dimaksud. Hasil belajar tersebut bisa juga berbentuk kinerja atau unjuk kerja (performance) yang ditampilkan seseorang setelah selesai mengikuti proses pembelajaran atau pelatihan.


3. METODOLOGI PENELITIAN
Penelitian ini bertujuan untuk untuk mengetahui pengaruh pemberian tutorial tatap muka guru kunjung terhadap hasil belajar siswa SLTP Terbuka. Secara rinci penelitian ini bertujuan untuk memperoleh data atau informasi beberapa hal yaitu :
a) Bagaimanakah strategi pembelajaran yang diterapkan pada SLTP Terbuka?
b) Apakah ada hubungan (asosiasi) nyata antara nilai prestasi belajar siswa untuk mata pelajaran Bahasa Inggris, Matematika, dan IPA dengan tempat pelaksanaan tutorial tatap muka?
c) Berapakah koefisien kontingensi asosiasi antara nilai prestasi belajar mata pelajaran Bahasa Inggris, Matematika, dan IPA dengan tempat pelaksanaan tutorial tatap muka?

Penelitian ini survei yang dilakukan pada tahun 1997 dengan mengambil data pada delapan lokasi SLTP Terbuka yaitu: SLTP Terbuka Delima, Kabupaten Pidi Aceh, SLTP Terbuka Ketahun, Bengkuku Utara, SLTP Terbuka Kalisat Jember Jawa Timur, SLTP Terbuka Banjar Selatan Kalimantan Selatan, SLTP Terbuka Mariso, Makassar, SLTP Terbuka Terara Lombok Timur, SLTP Terbuka Pujut, Lombok Tengah, dan SLTP Terbuka Kairatu Maluku Tengah. Sementara itu sebagai responden adalah siswa SLTP Terbuka, guru pamong, guru bina, dan Kepala sekolah. Adapun jumlah responden adalah sebagai berikut.

TABEL 3.1. JENIS DAN JUMLAH RESPONDEN PENELITIAN

No. Nama Lokasi Kasek Gr. Bin. Gr. Pa. Siswa Jum.
1. SLTP Terbuka Pujut 1 9 9 34 53
2. SLTP Terbuka Terara 1 9 9 34 53
3. SLTP Terbuka Kalisat 1 9 9 34 53
4. SLTP Terbuka Kairatu 1 9 9 34 53
5. SLTP Terbuka Mariso 1 9 9 34 53
6. SLTP Terbuka Banjar 1 9 9 34 53
7. SLTP Terbuka Ketahun 1 9 9 34 53
8. SLTP Terbuka Delima 1 9 9 34 53

Total Responden 8 72 72 272 424

Instrumen pengumpulan data yang digunakan mencakup kuesioner, tes hasil belajar, dan pedoman wawancara. Sebelum digunakan instrumen pengumpulan data terlebih dahulu divalidasi, dengan tehnik validasi muka dan validasi konstruk dengan pendekatan analisis logis (Ary. Dkk., 1982:289). Validasi muka dilakukan dengan meminta kepada beberapa ahli sistem SLTP Terbuka dari Pustekkom, Direktorat Dikmenum, dan Tim teknis SLTP Terbuka. Berdasarkan masukan dari beberapa ahli tersebut kemudian instrumen diperbaiki dan dilakukan ujicoba. Untuk menghitung tingkat reliabilitas instrumen yang bersifat konstruk menggunakan rumus Gronbach Alpha (Nunnally, 1983: 83), sedangkan tes hasil belajar menggunakan rumus Product Moment.


4. HASIL PENELITIAN
4.1. Hasil Belajar
Pada bagian ini akan diuraikan secara singkat hasil belajar siswa ditinjau dari tes akhir modul, akhir unit dan nilai legger. Pada setiap tes akhir modul, rata-rata 2% siswa yang mendapat nilai lebih dari 80 (80%), kecuali untuk mata pelajaran bahasa inggris (0,0%). Untuk mata pelajaran yang sulit, rata-rata siswa memperoleh nilai tes akhir modul 60% ke bawah sedangkan mata pelajaran yang dianggap mudah, secara umum siswa memperoleh nilai tes akhir modul 60% s.d. 80%. Untuk lebih jelasnya lihat tabel 4.1.

Walau demikian menurut Kepala Sekolah, nilai tes akhir unit siswa pada umumnya baik. Menurut 62,5% Kepala Sekolah nilai yang diperoleh siswa rata-rata 61-75. Bahkan ada yang memperoleh nilai lebih dari 75, yaitu 12,5%. Sisanya, 25,0% rata-rata mendapat nilai 46-60.
TABEL 4.1 PERSENTASE SISWA MEMPEROLEH NILAI TES AKHIR MODUL
Persentase Siswa Memperoleh Nilai
No. Mata Pelajaran >80% 71-80% 61-70% < 61%
1. Biologi 1,9% 14,8% 35,2% 48,1%
2. Fisika 1,9% 5,6% 27,8% 64,8%
3. Matematika 1,9% 5,6% 18,5% 74,1%
4. B.Inggris 0,0% 7,7% 15,4% 77,0%
5. B.Indonesia 13,2% 43,4% 26,4% 17,0%
6. Geografi 5,6% 31,5% 48,1% 14,8%
7. Sejarah 11,1% 37,0% 37,0% 16,7%
8. EkonomiKoperasi 7,4% 40,7% 35,2% 11,3%
9. PMP/PPKN 28,3% 52,8% 7,5% 9,4%

Begitu pula nilai tes akhir semester (TAS), tidak jauh berbeda dengan nilai tes akhir unit. (TAU). Untuk mengetahui perbandingan persentase nilai yang diperoleh siswa dalam tes akhir unit dan akhir semester, lihat tabel 4.2.

TABEL 4.2. NILAI TES AKHIR UNIT DAN SEMESTER DICAPAI SISWA

No Nilai yang diperoleh T A U T A S
1. > dari 75 12,5% 12,5%
2. 61 s.d. 75 62,5% 50,0%
3. 46 s.d. 60 25,0% 37,5%
4. < dari 46 0,0% 0,0%

Tabel 4.2. di atas menunjukkan bahwa nilai tes akhir unit dan tes akhir semester siswa SMP Terbuka tidak terlalu mengecewakan. Menurut 75,0% Kepala Sekolah, bahwa soal-soal tes akhir unit dan semester pada SMP Terbuka sama dengan SMP Induknya. Ini berlaku untuk semua mata pelajaran. Walaupun 25,5% Kepala Sekolah menyatakan hanya sebagian besar soal-soal tes akhir unit dan tes akhir semester yang sama dengan soal-soal SMP Induk.

Dalam kesempatan ini pula peneliti mengutip nilai legger semester 3 untuk mata pelajaran Bahasa Inggris, Pengetahuan Alam (IPA) dan Matematika. Rentang nilai yang diperoleh siswa untuk Bahasa Inggris 5 sampai 8, IPA 4 sampai 8, dan Matematika 5 sampai 8, dan rata-rata nilai 6.

Pada tabel 4.3. tergambar bahwa tidak ada perbedaan yang berarti antara nilai akhir semester 3 tahun 1997/1998 siswa SMP Terbuka yang mengikuti pelajaran tatap muka di SMP Induk dengan di luar SMP Induk. Siswa yang mengikuti pelajaran melalui tatap muka di luar SMP Induk, memperoleh nilai 4 dan 5 jumlahnya sedikit bila dibandingkan dengan siswa yang mengikuti pelajaran melalui tatap muka di SMP Induk.

TABEL 4.3 NILAI AKHIR SISWA SEMESTER 3 TAHUN 1997/1998

Mata
Pelajaran Tatap Muka Jumlah Siswa Memperoleh nilai ?

4 5 6 7 8
B. Inggris - Luar Induk -- 3 75 29 2 109
- Di Induk -- 13 44 35 7 99 16 119 64 9 208 7,7% 57,2% 30,8% 4,3% 100%
I P A - Luar Induk 1 4 57 45 2 109
- Di Induk 5 12 42 37 3 99 6 16 99 82 5 208 2,9% 7,7% 47,6% 39,4% 2,4% 100%
Matematik - Luar Induk -- 4 56 41 8 109
- Di Induk -- 18 57 22 2 99 22 113 64 10 208 10,6% 54,3% 30,8% 4,8% 100%

Sebaliknya untuk nilai 6 dan 7 umumnya jumlah siswa yang mengikuti pelajaran tatap muka di luar Induk lebih banyak daripada yang mengikuti pelajaran di SMP Induk. Hal ini kemungkinan terjadi karena Guru Pamong pada TKB-TKB yang mengikuti pelajaran di luar Induk lebih banyak diajar seperti kelas reguler oleh Guru Pamong daripada belajar mandiri. Data ini didukung pula oleh data wawancara dan observasi yang dilakukan oleh peneliti di beberapa TKB.

4.2. Hasil Pengujian Hubungan
Pada tabel 4.3. tergambar frekuensi nilai prestasi belajar siswa SMP Terbuka yang mengikuti pelajaran melalui tatap muka di luar dan di SMP Induk, untuk mata pelajaran Bahasa Inggris, Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), dan Matematika. Pada bagian ini akan diuraikan hasil pengujian hubungan antara prestasi belajar dengan tempat pelaksanaan pelajaran tatap muka.

a. Bahasa Inggris
Dari data frekuensi nilai prestasi belajar siswa pada tabel 4.3 di atas frekuensi pengamatan dan harapan seperti tabel 4.4 berikut. Dari data table 4.4. nampak bahwa jumlah siswa yang memperoleh nilai Bahasa Inggris di atas standar nilai untuk maju berkelanjutan (nilai 6 ke atas) jumlah siswa yang mengikuti tutorial tatap muka di luar SLTP Induk lebih sedikit dibandingkan dengan siswa yang mengikuti tutorial di SLTP Induk.

TABEL. 4.4 FREKUENSI PENGAMATAN DAN HARAPAN BAHASA INGGRIS

Nilai Tatap Muka di Tatap Muka Luar Jumlah
Induk Induk

= 5 13 3
7.6 8.4 16

6 44 75
56.6 62.4 119

7 35 29
30.5 33.5 64

= 8 7 2
4.3 4.7 9

Jumlah 99 109 208

Data tabel frekwensi tersebut di atas kemudian dihitung nilai hubungan dengan menggunakan rumus Chi-Kuadrat:

XO2 =

Dengan menggunakan rumus di atas. maka diperoleh nilai hunbungan (asosiasi) Xo2 = 17.16

Ct2 : dengan ? = 0.01 dan dk : (4 – 1) (2 – 1) = 3; didapat dalam tabel Xt2 (0.99 : 3) = 11.3; lebih kecil dari 17.16 (nilai hitung).

Jadi dapat disimpulkan bahwa ada hubungan (asosiasi) yang nyata antara nilai prestasi belajar mata pelajaran Bahasa Inggris dengan tempat pelaksanaan belajar tatap muka.

Untuk mengetahui kadar asosiasi antara prestasi belajar Bahasa Inggris dengan tempat pelaksanaan belajar tatap muka, dihitung koefisien kontingensi dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
C =

C = = 0.28

Jadi kadar asosiasi antara prestasi belajar Bahasa Inggris dengan tempat belajar melalui tatap muka mempunyai koefisien kontingensi 0.28.

b. Ilmu Pengetahuan Alam
Dari data frekuensi nilai prestasi belajar siswa pada tabel 4.3 apat dibuat table frekuensi pengamatan dan harapan seperti tabel 4.5. Dari table dapat dilihat jumlah siswa yang memperoleh nilai IPA (Fisika dan Biologi) untuk standar minimal maju berkelanjutan (nilai 6 ke atas) jumlah siswa yang mengikuti tutorial tatap muka di luar SLTP Induk lebih banyak dibandingkan siswa yang mengikuti tutorial di SLTP Induk.

TABEL 4.5. FREKUENSI PENGAMATAN DAN
HARAPAN IPA

Nilai Tatap Muka di Tatap Muka Luar Jumlah
Induk Induk

= 5 17 5
10.5 11.5 22

6 42 57
47.1 51.9 99

7 37 45
39 43 82

= 8 3 2
2.4 2.6 5

Jumlah 99 109 208

Data tabel frekwensi tersebut di atas kemudian dihitung nilai hubungan dengan menggunakan rumus Chi-Kuadrat:

XO2 =
Dengan menggunakan rumus di atas, maka diperoleh nilai hubungan (asosiasi) Xo2 = 9.22
Xt2 : dengan ? = 0.01 dan dk: (4–1) (2–1) = 3; didapat dalam table Xt2 (0.99 : 3) = 11.3; lebih besar dari 9.22 (nilai hitung).

Jadi dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan (asosiasi) yang nyata antara nilai prestasi belajar mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dengan tempat pelaksanaan belajar tatap muka.

c. Matematika
Dari data frekwensi nilai prestasi belajar siswa pada tabel 4.3 dapat dibuat frekwensi pengamatan dan harapan seperti tabel 4.6. Data pada table 4.6. menunjukkan bahwa jumlah siswa yang memperoleh nilai 6, 7 dan 8 yang mengikuti tutorial di luar SLTP Induk lebih banyak dibandingkan dengan jumlah siswa yang mengikuti tutorial tatap muka di SLTP Induk. Ini berarti jumlah siswa yang memenuhi syarat untuk melanjutkan mempelajari modul berikutnya lebih banyak siswa yang mengikuti tutorial tatap muka di luar SLTP Induk.

TABEL 4.6 FREKUENSI PENGAMATAN DAN HARAPAN MATEMATIKA

Nilai Tatap Muka di Tatap Muka Luar Jumlah
Induk Induk
= 5 18 4
10.5 11.5 22
6 57 56
53.7 9.3 114
7 22 41
30 33 63
= 8 2 8
4.8 5.2 510
Jumlah 99 109 208

Data table frekwensi tersebut di atas kemudian dihitung nilai hubungannya dengan menggunakan rumus Chi-Kuadrat:

XO2 =

Dengan menggunakan rumus di atas dapat diperoleh nilai hubungan (asosiasi) Co2 = 17.84

Xt2 : dengan a = 0.01 dan dk : (4-1) (2-1) = 3; didapat dalam
tabel Xt2 (0.99 : 3) = 11.3; lebih kecil dari 17.84 (nilai hitung)

Jadi dapat disimpulkan bahwa ada hubungan (asosiasi) yang nyata antara nilai prestasi belajar mata pelajaran Matematika dengan tempat pelaksanaan tatap muka.

Untuk mengetahui kadar asosiasi antara prestasi belajar Matematika dengan tempat pelaksanaan belajar tatap muka, dihitung koefisien kontingensi dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
C = = 0.28

Jadi kadar asosiasi antara prestasi belajar Matematika dengan tempat belajar melalui tatap muka mempunyai koefisien kontingensi 0.28.


5. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan
a. ada hubungan (asosiasi) yang nyata antara nilai prestasi belajar mata pelajaran Bahasa Inggris dengan tempat pelaksanaan belajar tatap muka. Ct2 : dengan a = 0.01 dan dk : (4 – 1) (2 – 1) = 3; didapat dalam tabel Ct2 (0.99 : 3) = 11.3; lebih kecil dari 17.16 (nilai hitung), sedangkan kadar asosiasi (hubungan) antara prestasi belajar Bahasa Inggris dengan tempat belajar tutorial tatap muka mempunyai koefisien kontingensi 0.28.

b. Tidak ada hubungan (asosiasi) yang nyata antara nilai prestasi belajar mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dengan tempat pelaksanaan belajar tatap muka. Ct2 : dengan a = 0.01 dan dk : (4-1) (2-1) = 3; didapat dalam
table Ct2 (0.99 : 3) = 11.3; lebih besar dari 9.22 (nilai hitung).

c. Ada hubungan (asosiasi) yang nyata antara nilai prestasi belajar mata pelajaran Matematika dengan tempat pelaksanaan tatap muka.
Ct2 : dengan a = 0.01 dan dk : (4-1) (2-1) = 3; didapat dalam tabel Ct2 (0.99 : 3) = 11.3; lebih kecil dari 17.84 (nilai hitung), sedangkan kadar asosiasi 9hubungan) antara prestasi belajar Matematika dengan tempat belajar melalui tatap muka mempunyai koefisien kontingensi 0.28.

5.2. Saran
a. Untuk mata pelajaran Bahasa Inggris dan Matematik, dalam menentukan tempat tutorial tatap muka yang berbeda, hendaknya kedua tempat tersebut suasana lingkungan, sarana dan prasarana pembelajaran termasuk guru bina yang memberikan tutorial diupayakan sama. Hal ini untuk menghindari adanya perebedaan yang bermakna antara hasil belajar siswa yang mengikuti tutorial yang berbeda tempatnya. Hal ini akan merugikan bagi siswa yang mengikuti tutorial pada tempat yang secara metodil dan psikologis tidak mendukung keberhasilan belajar mereka.

b. Tidak adanya hubungan yang signifikan antara tempat kegiatan tutorial tatap muka dengan hasil belajar siswa untuk mata pelajaran IPA, salah satu penyebabnya karena nilai mata Biologi digabung dengan mata pelajaran Fisika. Berdasarkan data nilai tes akhir modul (lihat table 4.1.) jumlah siswa yang mengulang untuk mempelajari suatu modul mata pelajaran Fisika lebih banyak dibandingkan siswa yang seharusnya mengulang mata pelajaran Biologi

c. Perlu diadakan penelitian lebih lanjut sedara terencana dan sistematis melalui penelitian eksperimen sehingga dapat diambil kesimpulan yang universal tentang hubungan tempat kegiatan pembelajaran dengan hasil belajar siswa. Penelitian tersebut tidak hanya ketiga mata pelajaran tetapi semua mata pelajaran yang di-Ebtanaskan. Selain itu untuk mata pelajaran IPA hendaknya dipisahkan antara mata pelajaran Fisika dengan mata pelajaran Biologi.


KEPUSTAKAAN

Arry, Donald, Jacobs, Lucky C., & Razavieh, Asgha. Pengantar penelitian dalam pendidikan (Penterjemah Arief Furchan), Surabaya. Usaha Nasional, 1982.
Gagne, Robert M. dan Briggs, Leslie J., 1979. Principles of Instructional Design, second edition, New York, Holt, Pinehart and Winstone.
Barnadib, Imam, et. al., Laporan Evaluasi Sistem SMP Terbuka Tahun Ajaran 1984/1985, Pustekkom, Depdikbud, Jakarta 1985.
Degeng, I. Nyoman S., 1989. Ilmu Pengajaran: Taksonomi Variabel, Jakarta, Ditjen Dikti Depdikbud,
Gagne, Robert M. dan Briggs, Leslie J., 1979. Principles of Instructional Design, second edition, New York, Holt, Pinehart and Winstone.
Gagne, Robert M., The Condition Of Learning, Third edition, New York : Holt, Rinehart and Winston, 1979.
Good, Thomas L.. dan Brophy, Jere E., 1990. Educational Psychology A Realistic Approach, New York, Logman, 95 Church Street, White Plains,

Gredler, Margaret E. Bell, 1991. Belajar dan Membelajarkan, (Terjemahkan Munandir), Jakarta, CV Rajawali bekerja sama dengan PAU-UT,
Nunnally, Jum C., Psychometric Theory : McGraw Hill Book Company, 1978.
Reigeluth, Charles M., 1983. Instructional-Design Theories and Models, London, New Jersey, Lawrence Erlbaum Associates, Publishers.
Supriadi, Dedi, et. al., SMP Terbuka Profil dan Prospeknya dalam Rangka Pelaksanaan Wajib Belajar 9 tahun, Laporan Penelitian Buku I, Jakarta: Dit Dikmenum, 1997.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar