Kamis, 06 Mei 2010

ANAK KORBAN ORANG TUA AMBISIUS

ANAK KORBAN ORANG TUA AMBISIUS (PUSH PARENTING)
DAN KONSELING TERHADAPNYA

Oleh : KHOLIFATUL AZIZAH, S.Pd.I.
Kepala RA dan Pemerhati Pendidikan Anak Usia Prasekolah

PENDAHULUAN
Manusia selalu berusaha mengikuti segala macam tren yang sedang berkembang di masyarakat sekitarnya. Mulai dari model potongan rambut sampai dengan warna lipstik. Mulai dari gaya arsitektur rumah sampai dengan jenis variasi asesoris handphone. Tidak ketinggalan model pengasuhan anak (parenting) juga mempunyai tren tersendiri.
Menciptakan anak yang “sempurna” menjadi salah satu agenda terpenting kebanyakan orang tua zaman sekarang. Anak-anak mereka harus menjadi yang terbaik dan kalau memungkinkan dalam segala hal. Para orang tua berusaha ekstra keras agar anak-anak mereka dapat dikategorikan sebagai anak-anak “kelas atas,” bukan anak-anak “kelas menengah” apalagi “kelas bawah.” Itulah ambisi kebanyakan orang tua zaman sekarang. Dalam upaya membentuk anak seperti itu, mau tidak mau model pengasuhan yang diberlakukan juga harus khusus. Bukan masanya lagi, menurut kebanyakan orang tua, anak-anak dibiarkan untuk terlalu banyak bermain dan menghabiskan waktu bersama dengan teman-temannya. Kalau anak-anak sekarang diizinkan untuk terlalu santai maka mereka akan ketinggalan jauh di belakang dan masa depan mereka akan suram.
Anak-anak masih belum tahu apa yang terbaik yang harus mereka lakukan demi masa depan mereka. Karena itu sangat penting bagi para orang tua untuk mempersiapkan anak-anak mereka sebaik dan setepat mungkin. Salah satunya adalah dengan mengarahkan dan menuntut mereka untuk menjadi yang terbaik dalam segala hal, hanya demi masa depan mereka. Seperti itulah pendapat umum orang tua zaman sekarang.
Ambisi orang tua yang melahirkan begitu banyak dan tingginya tuntutan bagi anak-anak akan berdampak dalam kehidupan anak-anak tersebut. Beberapa waktu yang lalu di salah satu stasiun televisi swasta nasional pernah ditayangkan sebuah iklan tentang seorang anak laki-laki sedang mengenakan seragam sekolah dasar dan menunjukkan ekspresi wajah tertekan. Intinya iklan tersebut ingin menyadarkan masyarakat bahwa bukan hanya orang-orang dewasa yang bisa mengalami stres, anak-anak kecil pun bisa mengalaminya.
Dunia anak-anak yang seharusnya penuh dengan tawa dan keceriaan, bisa berubah menjadi penuh tekanan. Salah satu penyebabnya adalah ambisi orang tua bahwa anak-anak mereka harus “sempurna,” sehingga menuntut anak secara berlebihan dalam berprestasi.
Berikut ini merupakan contoh kasus seorang anak berusia 8 tahun yang dibawa orang tuanya menemui konselor untuk mendapatkan pertolongan:
Hary adalah seorang siswa kelas 2 SD di sebuah sekolah favorit di kotanya. Hani, kakak Hary juga bersekolah di sekolah yang sama, kelas 5 SD. Orang tua mereka bersedia mengeluarkan biaya sekolah yang sangat besar demi anak-anak mereka bisa diterima dan bersekolah di sana. Dengan bangganya mereka akan memberitahukan bahwa anak-anak mereka bersekolah di sana ketika ada yang menanyakan hal itu. Setelah pulang sekolah, sekitar pukul 3 sore, hampir setiap hari, kecuali hari Rabu, Sabtu, dan Minggu, Hary dan Hani harus mengikuti berbagai kursus lainnya yang ditentukan oleh orang tua mereka. Menurut orang tuanya, sudah beberapa hari ini Hary ngambek tidak mau ke sekolah. Ketika ditanya orang tuanya, Hary tetap diam, tidak mau menjawab. Memang sudah sejak beberapa bulan yang lalu, semenjak sekolah Hary menerapkan program full day school, Hary terlihat sering marah-marah, mudah tersinggung, malas ke sekolah dengan berbagai alasan, dan kalau berangkat ke sekolah rasanya berat sekali. Orang tua Hary kebingungan karena tidak seperti biasanya Hary bersikap demikian. Melalui konseling, akhirnya bisa dipastikan bahwa Hary merasa tertekan karena tuntutan orang tuanya yang terlalu berlebihan. Hary harus menjadi yang terbaik dalam segala hal. Beberapa kali Hary pernah mengeluhkan hal itu kepada orang tuanya, tetapi sambil disertai dengan omelan, selalu dijawab bahwa semua tuntutan itu demi masa depannya. Karena itu akhirnya Hary memilih diam saja ketika ditanya mengapa dia tidak mau ke sekolah.
Gaya pengasuhan yang diterapkan orang tua Hary dalam contoh kasus di atas disebut push parenting, yaitu gaya pengasuhan yang terlalu menuntut.
Dalam artikel ini akan dibahas tentang seluk-beluk push parenting yang sekarang ini sedang menjadi tren. Mengapa banyak orang tua yang menerapkan gaya pengasuhan seperti ini terhadap anak-anak mereka? Apa dampak-dampak pola pengasuhan ini bagi perkembangan anak dalam multi dimensional, dan bagaimana menolong anak-anak yang sedang mengalami kondisi tertekan seperti itu dalam konteks konseling? Diharapkan artikel ini bukan hanya dapat menjadi masukan bagi para konselor anak, tetapi juga dapat menggugah hati para orang tua yang sungguh-sungguh mengasihi anak-anak mereka.

CURRICULUM VITAE YANG MENGESANKAN
Menurut kebanyakan orang tua, di tengah-tengah zaman yang super kompetitif ini, diperlukan anak-anak yang memiliki kompetensi yang super juga. Karena itu, bagi para orang tua yang berpandangan seperti itu, push parenting adalah wajar untuk diterapkan oleh setiap orang tua dalam mendidik anak-anak mereka.
Elisabeth Guthrie dan Kathy Matthews dalam buku yang mereka tulis tentang topik ini menjelaskan beberapa ciri perilaku yang menjadi tanda dari push parenting:
1. Mengatur nyaris setiap menit hidup anaknya dengan kursus-kursus, program sosialisasi, dan kegiatan-kegiatan “pengayaan” lainnya.
2. Menuntut prestasi tinggi di sekolah dan di berbagai bidang lain, nyaris dengan segala cara (emosional, psikologis, fisik, dan dana).
3. Menekan anak memilih kursus, pelatihan, atau minat lebih untuk tujuan membuat CV (Curriculum Vitae) atau Daftar Riwayat Hidup yang mengesankan daripada untuk memenuhi rasa ingin tahu yang alamiah dan minat pribadi.
4. Mencampuri persahabatan dan hubungan anak dengan guru dan pelatihnya.
Para orang tua yang menerapkan push parenting berasumsi bahwa anakanak tidak akan berhasil dalam kehidupan mereka kelak, kalau orang tua tidak “membantu” mereka sepenuhnya.2 Anak-anak sama sekali tidak mampu memutuskan sendiri pilihan yang bertanggung jawab demi masa depan mereka.
Karena itu orang tualah yang harus memilih buat mereka dan mereka harus mengikutinya, walaupun dengan kondisi terpaksa.
Menurut Jack dan Judith Balswick, berdasarkan pendekatan socioemotional dikenal empat gaya pengasuhan anak, yaitu:
(1) neglectful parenting, gaya pengasuhan yang lemah dalam dukungan maupun pengawasan;
(2) permissive parenting, gaya pengasuhan yang lemah dalam pengawasan tetapi kuat dalam dukungan;
(3) authoritarian parenting, gaya pengasuhan yang lemah dalam dukungan, tetapi kuat dalam pengawasan;
(4) authoritative parenting, gaya pengasuhan yang mengkombinasikan kualitas terbaik dari permissive dan authoritarian style
Menurut penulis, push parenting dapat dikategorikan sebagai salah satu bentuk dari authoritarian parenting, karena kecenderungan dalam push parenting adalah orang tua hanya akan mendukung keinginan anak yang sesuai dengan ambisi mereka, dan pengawasan ekstra ketat akan dilakukan orang tua selama proses pencapaian ambisi itu. Apa yang menjadi minat anak sering kali diabaikan oleh orang tua. Harus diakui anak-anak memang masih sangat membutuhkan pengarahan dan pengawasan dari orang tua mereka. Tetapi dalam push parenting sepertinya anak tidak diberikan kesempatan untuk mengekspresikan diri mereka, termasuk segala kompetensi yang dimiliki, yang mungkin tidak disadari oleh orang tua.
Tren pengasuhan anak dengan push parenting seolah-olah mendapat “pembenaran” karena tujuannya yang sangat baik, yaitu semua itu dilakukan demi kebahagiaan anak-anak itu sendiri.3 Anak-anak perlu dibekali dengan segala hal yang diperlukan agar nanti mereka berhasil, bahagia, dan mampu bersaing dengan yang lainnya. Bukankah hal ini merupakan “bukti” kasih dan kepedulian orang tua terhadap anak?
Pertanyaan di atas akan dengan gampangnya kita jawab kalau kita menutup mata terhadap dua kenyataan penting yang tersembunyi di “belakang” dan sedang menunggu di “depan,” yaitu:
1. alasan-alasan yang melatarbelakangi orang tua menerapkan pola pengasuhan tersebut, dan
2. konsekuensi atau dampak yang akan dialami anak sebagai akibat pola pengasuhan tersebut.
Dalam pembahasan berikut kita akan melihat kedua kenyataan tersebut sehingga dapat menolong kita untuk lebih “berpikir” sebelum menjawab pertanyaan tadi.

DEMI ANAK ATAU DEMI ORANG TUA?
Sebenarnya tidak ada orang tua yang mengasihi anak-anak mereka, yang berniat menekan anak-anak tersebut. Kebanyakan orang tua yang menerapkan push parenting merasa terpaksa menerapkan pola pengasuhan tersebut. “Keterpaksaan” orang tua disebabkan oleh beberapa faktor berikut ini:
Ketakutan dan Kekuatiran yang Berlebihan
Banyak orang tua sangat takut dan kuatir kalau tidak ada usaha terusmenerus untuk memacu prestasi anak-anak mereka, ketika dewasa nanti anak-anak itu tidak bisa berkompetisi dan akhirnya gagal. Ketakutan dan kekuatiran itu semakin “terprovokasi” karena tidak ada ukuran yang pasti untuk mengukur keberhasilan orang tua dalam mengasuh anak mereka, sampai semuanya sudah berakhir nanti. Ketidaktahuan ini semakin membuat orang tua merasa tidak nyaman dan tidak mempunyai kontrol.5 Ketidaknyaman inilah yang mendorong orang tua melakukan apa saja, bahkan menuntut anak mereka secara berlebihan untuk mengantisipasi kegagalan di depan.
Kegagalan anak biasanya juga dipahami sebagai kegagalan orang tua dalam mendidik anak untuk berhasil, dan tidak ada orang tua yang tidak ingin diakui sebagai sebagai orang tua yang sukses dalam mendidik anak. Apalagi bagi para orang tua yang sebelum menikah sudah berhasil mencapai prestasi yang sangat baik dalam karir, khususnya para ibu. Kata kunci mereka adalah “profesionalisme” untuk segala hal yang mereka kerjakan, termasuk ketika sekarang mereka harus beralih “profesi” sebagai orang tua.6 Pekerjaan utama mereka sekarang adalah mengurus anak. Sering kali, tanpa sadar mereka menuntut diri sendiri harus berprestasi sebaik mungkin, seperti ketika mereka masih berkarir di luar. Segala hal yang diketahui “baik” untuk keberhasilan anak mereka, sebisa mungkin diberikan dan dilakukan untuk memenuhi
dorongan berprestasi tersebut.
Kompensasi dari Ketiadaan Kesempatan di Waktu Lalu
Kesempatan yang dimiliki para orang tua di masa kecil mereka jauh lebih sedikit dibandingkan dengan kesempatan yang dimiliki anak-anak sekarang untuk terus mengembangkan diri mereka. Kita sering kali mendengar komentar para orang tua bahwa mereka berusaha mati-matian agar anak-anak mereka tidak mengalami “nasib” yang sama seperti mereka pada waktu dulu. Semahal apa pun “pengorbanan” yang harus diberikan supaya anak-anak bisa menjadi seperti yang mereka harapkan, para orang tua menganggap itu sebagai “investasi yang pantas.”
Menurut J. Drost adalah sesuatu yang tidak masuk akal kalau beranggapan bahwa anak harus mencapai sesuatu karena orang tua sendiri tidak berhasil mencapainya karena sebab apa pun juga. Inilah yang disebut dengan “tujuan yang tersembunyi” oleh V. G. Beers. Seolah-olah orang tua ingin mengalami sendiri apa yang tidak dapat dilakukannya dahulu melalui anak-anaknya.
Dengan tersedianya banyak kesempatan, pengharapan akan masa depan anak yang lebih baik adalah hal yang sangat positif dan sudah seharusnya, tetapi akan berdampak sangat negatif, apabila pengharapan itu sampai memunculkan tuntutan yang berlebihan dari diri anak.
Anggapan bahwa Jumlah “Kesuksesan” itu Terbatas
Keterbatasan jumlah “kesuksesan” ini berangkat dari ide keterbatasan tempat di sekolah unggulan. Kesuksesan disamaartikan dengan bisa diterima di sekolah-sekolah tersebut. Tanpa anak-anak dipersiapkan sejak awal, dengan tuntutan-tuntutan belajar yang ekstra tinggi, tidak mungkin mereka dapat mencapai sasaran itu. Di Amerika, persaingan untuk masuk sekolah favorit sekarang sudah merembes sampai ke jenjang kelompok bermain (play group).
Sebuah artikel di New York Times mengulas tentang konsultan-konsultan di New York yang menetapkan tarif 300 dolar sejam untuk membimbing para orang tua dalam proses pendaftaran masuk ke kelompok bermain dan sekolah dasar. Bahkan ada seorang konsultan yang menetapkan tarif 600 dolar untuk pendaftaran ke kelompok bermain, dan 1500 dolar untuk lolos seleksi pendaftaran di sekolah dasar favorit.
Kenyataan-kenyataan seperti di atas menjadi sumber kekalutan tersendiri bagi para orang tua, sebagaimana yang dikutip oleh Guthrie dan Matthews, Mark H. Sklarow, Direktur Eksekutif Independent Educational Consultants Association, yang menulis di New York Times, Orang tua umumnya mempunyai persepsi yang sangat miring tentang kelompok bermain yang baik. Mereka yakin bahwa kalau anak mereka tidak masuk ke kelompok bermain yang baik, mereka tidak akan masuk ke sekolah yang baik, lalu tidak akan masuk ke Harvard; dan itulah akhir hidup mereka.
Untuk konteks Indonesia mungkin tidak jauh berbeda. Para orang tua yang mampu secara ekonomi13 berusaha memasukkan anak-anak mereka—mungkin juga dengan sedikit memaksa—ke sekolah-sekolah favorit yang tuntutan akademiknya relatif tinggi. Hal ini kadang kala sangat membebani anak-anak yang memang secara kemampuan intelektual tidak mendukung. Harapan orang tua adalah agar nanti anak-anak ini akan lebih mudah diterima di universitas.
Bagaimana dengan mereka yang tidak mampu? Tidak sedikit orang tua yang karena biaya hidup yang semakin tinggi tidak mampu lagi membiayai anak-anak mereka untuk bersekolah. Bahkan belakangan ini beberapa kali kita mendengar berita ada anak yang bunuh diri akibat stres karena orang tua mereka tidak bisa membiayai mereka untuk terus bersekolah. Inilah kenyataan problema sosial yang terjadi di tengah-tengah masyarakat kita. Di satu pihak ada orang-orang yang punya banyak kesempatan, tetapi kesempatan itu tidak dimanfaatkan dengan baik dan tepat. Di lain pihak ada anak-anak yang ingin sekali bersekolah tetapi tidak ada kesempatan untuk itu.
Terobsesi dengan Citra Ideal di Media
Media massa, khususnya televisi, dapat mengubah cara para orang tua memandang kehidupan, diri sendiri, dan keluarga, termasuk anak-anak mereka. Kebanyakan orang tua pasti mengakui bahwa orang-orang dengan kehidupan ideal yang dipertontonkan melalui media-media itu memang jauh dari kenyataan. Karena itu akan kurang realistis kalau orang tua terlalu berharap anak-anak mereka seharusnya nanti bisa mencapai kesuksesan dan gaya hidup ideal seperti para bintang media itu.
Tetapi yang terjadi, menurut Guthrie dan Matthews, dengan serbuan citraan seperti tentang anak-anak yang prestasinya luar biasa, secara perlahan-lahan para orang tua kehilangan penghargaan terhadap masa kanak-kanak yang seharusnya dari anak-anak mereka.14 Walaupun prestasi dari anak-anak unggulan ini memang adalah kenyataan, orang tua bisa terpengaruh untuk berpikir bahwa kalau anak-anak itu bisa berprestasi sedemikian, anak-anak mereka pun–tanpa memperhitungkan keunikan kompetensi mereka–pasti juga bisa berprestasi seperti itu kalau mau berusaha keras. Akibatnya orang tua mulai melihat anak dari sisi prestasi yang dicapainya saja.15 Semakin berprestasi seorang anak, seperti bintang-bintang media itu, akan semakin baik, dan itulah yang seharusnya menurut kebanyakan orang tua. Sebelum anak-anak mereka berprestasi seperti itu, para orang tua sulit untuk merasa puas.
Anak adalah “Miniatur Diri” Orang Tua
Tidak sedikit orang tua yang kecanduan terhadap keberhasilan anak-anak mereka. Mereka menikmati sekali “kebanggaan” sebagai orang tua ketika anakanak mereka berprestasi, tenar, dan dipuji oleh banyak orang.
Roy Meadow, seorang spesialis anak dari Inggris, menyebut gejala menjadi terkenal lewat Anak Sempurna. Di kalangan masyarakat Indonesia, untuk beberapa waktu terakhir ini, yang masih cukup hangat adalah program AFI (Akademi Fantasi Indosiar) untuk anak-anak yang ditayangkan oleh stasiun televisi swasta nasional Indosiar. Betapa bangganya para orang tua yang anaknya bisa menjadi bintang AFI dan tampil di televisi. Tidak menutup kemungkinan ada banyak orang tua yang juga sangat mengharapkan anak mereka dapat seperti para bintang AFI itu.
Dari sebelum menikah, selama masa-masa kehamilan, sampai melahirkan, orang tua sudah melakukan persiapan panjang untuk mewujudkan angan-angan ideal mereka tentang anak yang akan dilahirkan. Anak tersebut harus menjadi seperti imbalan atas segala jerih payah dan investasi waktu, emosi, pikiran, dan uang yang sudah dikorbankan selama ini. Akibatnya banyak orang tua yang tidak bisa membedakan lagi antara kebutuhan mereka dan kebutuhan anak mereka.17 Sepertinya anak dikejar terus untuk dapat segera membuat orang tua bisa menikmati kesuksesan mereka.
Dorongan orang tua terhadap anak-anak merupakan hal yang wajar dan memang wajib dilakukan, tetapi jangan sampai orang tua terjebak mempersonifikasikan sang anak sebagai diri si orang tua. Demi kepentingannya, orang tua tidak boleh sampai mengorbankan anak. Tuntutan berlebihan yang diberikan orang tua kepada anak-anak mereka, yang katanya bertujuan “hanya” demi masa depan anak-anak itu sendiri, perlu dipertanyakan kembali kebenarannya. “Hanya” demi kepentingan anak atau ada “kepentingan” orang tua yang terselubung di dalamnya. Tidak ada orang tua yang ingin anaknya tertekan dan tidak menikmati masa kanak-kanaknya, tetapi tanpa sadar dengan push parenting, banyak orang tua yang telah merenggut keceriaan masa kanak-kanak anak-anak mereka.

PUSH PARENTING TIDAK EFEKTIF
Kenyataan yang tidak bisa ditutup-tutupi tentang dampak push parenting adalah harapan orang tua kepada anak-anak mereka telah berubah menjadi perasaan tertekan dalam hidup anak-anak tersebut.19 Idealisme dan ambisi orang tua untuk menciptakan anak yang sempurna dan anak kelas atas rupanya juga membuka peluang untuk menghambat perkembangan anak-anak itu sendiri. Berikut ini akan diulas beberapa dampak negatif yang ditimbulkan oleh push parenting.
Sebuah artikel di majalah TIME memperkirakan sekitar 500.000 sampai 1 juta resep obat antidepresi ditulis setiap tahun untuk anak-anak dan remaja dan jumlah ini terus bertambah. Depresi terus meningkat setiap dekade sejak pergantian abad. Sekarang, diperkirakan 1 persen anak prasekolah, 2 persen anak usia sekolah, dan 5 persen remaja menderita depresi klinis. Populasi anakanak penderita depresi tersebut sebagian terdiri dari anak-anak yang mendapat tekanan yang terus membesar untuk berprestasi, untuk produktif, dan untuk mencapai kesuksesan.
Banyak sekali hasil penelitian menunjukkan bahwa anak yang dipacu secara berlebihan untuk berprestasi dini sebelum waktunya merupakan calon-calon penderita stres dan berbagai gangguan psikosomatis, seperti sakit perut, sakit kepala, gangguan tidur dan makan. Banyak penelitian juga menunjukkan bahwa anak-anak yang bisa membaca sangat awal menjadi kecewa dan menjadi murid yang tidak bersemangat pada usia sembilan tahun. Tim LaHaye menulis, Sangat mengkuatirkan kita sebagai orang tua, kecenderungan ke arah depresi kadang-kadang mulai sejak usia dini. . . . Bertambahnya jumlah anak-anak penderita depresi yang bunuh diri merupakan suatu tragedi yang menakutkan saat ini. Tidak sedikit anak yang selalu berusaha menyenangkan hati orang tua mereka dengan berusaha mengikuti semua kemauan dan anjuran orang tua. Semua ini dengan rela dilakukan anak karena melihat jerih payah dan pengorbanan orang tua demi kesuksesan mereka. Tetapi, harus diakui bahwa sering kali kerelaan mereka itu disertai dengan keterpaksaan ketika kursus-kursus atau kegiatan-kegiatan yang harus diikuti itu tidak mereka sukai dan membuat mereka begitu lelah, atau memang bukan kompetensi mereka dalam bidang-bidang tersebut. Karena berbagai alasan, misalnya takut mengecewakan atau takut diomeli, anak-anak baik ini menekan perasaan mereka, dan itu bisa terjadi berulang kali dalam masa kanak-kanak mereka. Karena itu, tidaklah mengherankan ketika remaja atau dewasa nanti mereka rawan terhadap stres dan depresi.
Mementingkan Prestasi dan Mengabaikan Kepribadian
Push parenting menekankan anak harus mendapatkan pendidikan yang terbaik, dan menunjukkan prestasi yang terbaik pula. Dengan demikian diharapkan nanti mereka akan mendapatkan pekerjaan yang terbaik, dan akhirnya mereka dapat dikatakan berhasil dalam hidup. Tetapi, apakah mutlak seratus persen bahwa keberhasilan hidup itu ditentukan oleh prestasi. Bukankah guna mencapai kesuksesan hidup, prestasi perlu ditunjukkan dengan kepribadian yang baik pula?
Ketika prestasi menjadi titik fokus sasaran pengasuhan anak, maka kecenderungannya tujuan pembentukan kepribadian anak akan terabaikan. Apa yang dilakukan anak menjadi lebih penting daripada akan menjadi apa mereka kelak. Banyak orang tua yang terlalu sibuk memacu prestasi anak sampai melupakan tanggung jawab untuk membentuk kepribadian mereka. Salah satu aspek positif dari kepribadian yang terabaikan dengan push parenting adalah kemandirian. Orang tua yang selalu mau terlibat dan mengatur kehidupan anaknya, sehingga sama sekali tidak memberi kesempatan untuk anak berpikir dan memberikan pendapat sesuai dengan sudut pandangnya, akan melahirkan anak-anak yang tidak mandiri. Orang tua yang menahan diri dan belajar mengekang kecenderungannya untuk terus mencampuri urusan anak akan mendorong anak menjadi mandiri.
Ketika memutuskan sesuatu yang berkaitan dengan kepentingan anak, sering kali para orang tua tidak mau mengajak anak ikut berunding, karena mereka berpikir tindakan itu hanya akan menunjukkan kelemahan mereka sebagai orang tua yang seharusnya berwenang penuh atas anak. Tetapi, sebenarnya justru tidak demikian. Dengan melibatkan anak menunjukkan penghargaan dan kepedulian orang tua pada anak. Anak mempunyai hak untuk berbicara dan mengemukakan apa yang menjadi kesenangan atau pun keberatan mereka dan orang tua berkewajiban untuk mendengarkan. Anak-anak butuh didengarkan dan dimengerti, yang mengindikasikan bahwa mereka diterima. Hal ini merupakan sesuatu yang esensial sekali untuk anak dapat memiliki penghargaaan diri (self-esteem)
Banyak orang tua sepertinya menjadi “tuhan” bagi anak-anak mereka. Padahal, bukankah anak-anak adalah karunia yang Tuhan percayakan kepada para orang tua untuk mereka didik dan arahkan menjadi pribadi yang terus bertumbuh sesuai dengan kapasitas yang Tuhan anugerahkan buat mereka?
Salah satu ciri orang yang memiliki penghargaan diri (self-esteem) yang buruk adalah mereka hidup hanya untuk memenuhi keinginan, harapan, dan tuntutan orang lain. Mereka akan merasa diri berharga kalau menjadi seseorang yang dapat memenuhi segala keinginan yang positif, dan menumbuhkan ketrampilan untuk membuat berbagai
keputusan secara bertanggung jawab ketika mereka dewasa nanti. Orang tua perlu belajar banyak untuk menunjukkan penghargaan kepada anak-anak mereka dengan cara yang sangat sederhana, yaitu mendengarkan. Selain kehilangan kesempatan untuk membentuk anak menjadi pribadi yang mandiri, push parenting juga sangat memungkinkan untuk menciptakan pribadi yang perfeksionis. Karena tuntutan yang berlebihan, maka perkataan yang pasti sering dikeluarkan oleh orang tua adalah “kamu seharusnya bisa lebih baik lagi;” “jangan mau dikalahkan oleh orang lain;” “kamu harus lebih berprestasi agar orang-orang semakin kagum kepadamu;” dan sebagainya.
Komentar-komentar yang seperti inilah yang terus-menerus mengisi pikiran anak-anak tersebut dan melahirkan perasaan tidak pernah puas dengan apa yang sudah mereka raih. Norman Wright menyebut orang-orang perfeksionis sebagai orang yang sukses dalam kegagalan, karena itu tidak sedikit di antara orang-orang ini mempunyai hidup yang sukses, tetapi masih merasa kosong dan tidak puas. Selain itu, orang yang perfeksionis sudah pasti akan menemukan banyak kesulitan dalam pergaulan, karena mereka sulit menerima keterbatasan orang lain.
Kehilangan Kebersamaan yang Bermakna dengan Keluarga
Salah satu konsekuensi dari push parenting adalah anak diharuskan mengikuti banyak kegiatan di luar sekolah supaya dapat berprestasi dalam lebih banyak bidang. Anak-anak lebih banyak waktu bersama dengan pembimbing, pelatih, atau guru les mereka, dan semakin sedikit waktu bersama-sama dengan keluarga, khususnya orang tua. Hasil penelitian di University of Michigan, pada tahun 1998 menunjukkan bahwa waktu bebas anak-anak di bawah usia 13 tahun berkurang sebanyak 16 persen dalam satu generasi, yaitu dari 63 jam menjadi 51 jam seminggu.30 Bagi kebanyakan orang tua, prestasi anak mereka jauh lebih penting daripada bincang-bincang santai di sekitar meja makan dan di depan televisi, atau sekadar berkelakar di tempat tidur.
Semakin hari, semakin banyak hal yang seharusnya bisa diajar oleh orang tua, dipelajari anak-anak dari orang-orang yang dibayar. Tujuannya, dengan keahlian orang-orang itu, anak-anak kemungkinan besar dapat lebih berprestasi orang lain (Alan LoyMcGinnis, Percaya Diri vs Kesombongan [Jakarta: Metanoia, 1997] 100-103). Karena itu anak-anak yang sejak kecil ditekan dan diharuskan untuk memenuhi apa maunya orang tua, ketika remaja atau dewasa akan cenderung menjadi pribadi yang mempunyai penghargaan diri (self-esteem) yang buruk.
Orang tua melupakan bahwa ada sesuatu yang sangat berharga yang terhilang dengan pola asuh seperti itu, yaitu kebersamaan yang bermakna dengan anak-anak mereka. Kesempatan orang tua untuk berbagi pengalaman dan hal-hal yang penting semakin jarang. Di dalam kebersamaan dengan orang tua dan melalui percakapan dari pribadi ke pribadi yang bermutu, terjadi relasi saling membangun, keintiman akan terjalin, menolong anak menemukan siapa dirinya, dan memberikan rasa aman yang diperlukan seorang anak. Hal-hal yang positif ini akan sulit dialami di tengah-tengah keluarga yang menerapkan push parenting.
Beberapa dampak negatif di atas seharusnya sudah lebih dari cukup untuk membuat kesimpulan bahwa push parenting bukanlah pola asuh anak yang efektif untuk dipraktekkan, kecuali memang kita tidak peduli dengan masa depan anak-anak kita.

MENYADARKAN ORANG TUA, MENOLONG ANAK
Anak yang tertekan karena push parenting seperti contoh kasus di bagian pendahuluan, dapat dikategorikan sebagai anak yang sedang mengalami krisis. Hal ini tampak jelas dari perilaku yang sudah tidak wajar lagi dari seorang anak, yaitu hilangnya keceriaan mereka. Menurut A. D. Lester, ketika anak-anak mengalami krisis, mereka harus ditolong untuk menangani krisis tersebut, karena kalau tidak, aspek penyimpangan krisis yang tidak terselesaikan itu akan terus mengganggu seluruh kehidupan kanak-kanak mereka, bahkan sampai masa dewasa nanti.
Beberapa hal berikut ini sangat penting untuk diperhatikan dan dapat menjadi pedoman dalam menolong anak yang tertekan akibat push parenting. Kebanyakan masalah anak adalah masalah keluarga, khususnya orang tua, termasuk juga masalah anak akibat push parenting. Dalam konseling anak, akan sangat membantu apabila kita melibatkan keluarga (orang tua) dalam proses konseling. Seperti dalam contoh kasus Hary, tidak cukup kalau kita hanya berbicara dengan Hary, tetapi kita juga harus melibatkan orang tuanya.
1. Dalam beberapa kali pertemuan konseling diharapkan sudah dapat ditemukan inti permasalahan yang dihadapi klien. Untuk klien yang sudah tidak mau ke sekolah dan enggan untuk keluar rumah dan bermain seperti biasanya, konselor dapat berusaha membangkitkan kembali keinginannya untuk kembali bersekolah dan bermain seperti biasanya. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan meminta teman-teman bermain atau teman-teman sekolah dan guru si klien untuk datang mengunjungi klien beramai-ramai, kalau memungkinkan, dan mendorongnya untuk bersekolah atau bermain lagi seperti dulu. Intinya konselor berusaha menghadirkan dan mengingatkan kembali klien akan keceriaan masa kanak-kanaknya yang terhilang.
2. Konselor harus berbicara dengan orang tua, dengan tujuan menyadarkan dan mengajak mereka melihat bersama-sama bahwa akar penyebab permasalahan anak mereka adalah pola asuh yang keliru. Dalam perbincangan dengan orang tua itu konselor dapat memberikan beberapa masukan penting yang harus diperhatikan orang tua untuk mendukung dan mempercepat proses kesembuhan si anak.
a. Belajar untuk mendengarkan dan memahami anak. Beers menulis “Jika saya memandang anak saya adalah orang yang paling penting dalam kehidupan saya, maka saya mau mendengarkan. Saya mau menempatkan masalah mendengarkan itu pada prioritas saya yang utama.”
Kemungkinan besar orang tua yang menerapkan push parenting menutup mata terhadap kenyataan bahwa anak mempunyai hak untuk berbicara dan didengarkan. Karena pada saat itulah anak akan merasa dihargai dan diperlakukan sebagai seorang pribadi.
b. Terimalah anak dengan apa adanya, yaitu menerima anak sebagai karunia yang selama ini didambakan. Apa adanya berarti mengakui bahwa anak tidak dapat menjadi “sempurna” dan bisa segalanya; kadang kala dia bisa berhasil, tetapi kadang kala dia juga bisa gagal.
c. Dunia anak adalah dunia bermain. Bermain adalah setiap kegiatan yang dilakukan untuk kesenangan yang ditimbulkannya, tanpa memperhitungkan hasil akhir.37 Banyak orang tua beranggapan bahwa anak hanya dapat belajar ketika mereka melakukan kegiatan belajar yang serius.
Para ilmuwan telah menunjukkan bahwa bermain merupakan pengalaman belajar yang sangat berharga. Beberapa pengaruh positif bagi penyesuaian pribadi dan sosial anak yang didapatkan melalui aktivitas bermain adalah perkembangan fisik, dorongan berkomunikasi, penyaluran bagi energi emosional yang terpendam, penyaluran bagi kebutuhan dan keinginan, sumber belajar, rangsangan bagi kreativitas, perkembangan wawasan diri, belajar bermasyarakat, standar moral, belajar bermain sesuai dengan peran-peran jenis kelamin, perkembangan ciri kepribadian yang diinginkan. Berapa banyak waktu yang digunakan masing-masing anak untuk bermain dan bekerjaaktivitas belajar dan kegiatan-kegiatan lainnya memang tergantung pada usia dan minat anak. Tetapi yang menjadi masalah adalah bagaimana orang tua mengetahui atau apa kriterianya untuk menentukan anak sudah mempunyai kombinasi aktivitas bermain dan bekerja yang sudah tepat.
E. Hurlock memberikan kriteria yang relatif sederhana. Kalau anak kelihatannya sudah mulai bosan dengan permainannya dan bertanya, “apa yang dapat kulakukan sekarang?” berarti skala bermainnya perlu dikurangi. Sebaliknya kalau anak merasa bosan dan jenuh dengan pelajaran atau kegiatan-kegiatan lainnya, atau menunjukkan tanda-tanda bekerja di bawah kemampuannya, hal itu mengindikasikan bahwa mereka membutuhkan lebih banyak waktu dan kesempatan untuk bermain.
3. Ketika dalam proses konseling, orang tua sudah kita ajak berbicara dan menyadari kekeliruannya dan anak sendiri juga sudah merasa cukup aman dan siap, adakanlah kesempatan untuk mereka bertemu. Dalam kesempatan tersebut, ciptakanlah suasana yang nyaman dan doronglah anak untuk mengutarakan secara langsung ketertekanannya dan apa yang menjadi harapannya, yang selama ini mungkin tidak berani dia ungkapkan kepada orang tuanya. Kesempatan ini dapat menjadi “latihan” yang baik bagi orang tua untuk belajar mendengarkan. Kemudian ajaklah orang tua dan anak bersama-sama mengatur kembali agenda keseharian anak, termasuk waktu kebersamaan dengan orang tua, yang disepakati bersama untuk dilakukan.
Dengan memperhatikan beberapa hal di atas, diharapkan nantinya orang tua dapat menerapkan pola asuh yang lebih fleksibel dan efektif untuk perkembangan anak dan dengan demikian diharapkan juga anak dapat segera sembuh.

KESIMPULAN
Sebagai kesimpulan dari artikel ini, penulis ingin mengutip judul salah satu bab dari buku Orang tua, Berbicaralah dengan Anak Anda! Yaitu, “apakah anda sungguh-sungguh di pihak anak anda?” Saya yakin sekali bahwa semua orang tua yang baik akan mengiyakan pertanyaan itu. Tetapi, sangat besar kemungkinannya bahwa di antara para orang tua yang mengiyakan itu, tanpa sadar sebenarnya mereka tidak betul-betul berada di pihak anak mereka. Push parenting adalah tren pengasuhan anak yang sangat menjebak orang tua karena berpotensi besar untuk merenggut masa kanak-kanak anak-anak. Penulis buku Mendidik Anak dengan Cinta: Petunjuk Bagi Orang Tua agar Anak menjadi Bahagia menasehatkan para orang tua untuk “Membiarkan anak-anak tetap anak-anak.”
Pola pengasuhan yang menuntut anak secara berlebihan, yang katanya demi kebahagiaan anak, yang terjadi justru adalah sebaliknya, mengorbankan keindahan dan keceriaan masa kanak-kanak anak-anak itu. Adalah penting didengungkan kembali dengan lebih keras kepada para orang tua masa kini, “Anak-anak Anda adalah karunia istimewa yang oleh Allah SWT dipercayakan kepada Anda. Karena itu curahkanlah kasih sayang yang tak bersyarat buat mereka. Terimalah mereka apa adanya, asuhlah dan didiklah mereka sebagai pribadi yang unik.”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar