Kamis, 06 Mei 2010

EMOTIONAL INTELLIGENCE

EMOTIONAL INTELLIGENCE
Kholifatul Azizah, S.Pd.I.



PERSEPSI TENTANG EMOSI
Orang dewasa (orangtua, guru) mempunyai cara sendiri untuk mempersepsi emosi anak. Anak yang diam-diam saja, misalnya, dipandang sebagai anak yang bisa mengendalikan diri dan tidak suka mengeluhkan masalahnya, sedangkan anak yang bermain sendiri diasosiasikan dengan emosi positif yang rendah dan perilaku a-sosial serta menjauhi teman (Spinrad, 2004).
Di sisi lain, anak juga punya kecenderungan sendiri dalam mempersepsikan perasaannya. Anak umur 11 tahun di Cina, misalnya, cenderung menganggap diri sendiri sebagai pihak yang bersalah atau yang susah, sementara anak lain sebagai pihak yang senang/bahagia. Sedangkan mengapa seorang anak menyembunyikan perasaannya adalah takut akan dampak negatifnya, dan mengapa seorang anak menyatakan perasaannya adalah karena mengharapkan dampak positip. (Yu & Xu, 2004)
Sedangkan anak yang lebih kecil, yaitu anak TK dan anak SD belum mampu memahami perbedaan antar budaya. Bila bertemu dengan anak dari kultur lain, atau berada dalam lingkungan kultur lain, sering terjadi salah interpretasi terhadap perilaku temannya yang berdampak pada timbulnya stress dan kesulitan penyesuaian diri. (Nakata & Shiomi, 2004)
PERAN ORANGTUA
Di Barat, ekspresi emosi positif orantua umumnya dinyatakan berhubungan dengan kemampuan sosialisasi yang positif dari anak, sedangkan emosi negatif orangtua berkaitan dengan sosialisasi yangnegatif. Tetapi penelitian terhadap murid kelas III SD di Indonesia menunjukkan bahwa ekspresi negatip orangtua berhubungan dengan fungsi sosial yang negatif pada anak, namun espresi emosi positip orangtua tidak berpengaruh pada fungsi sosial yang positip pada anak. (Eisenberg, Jeffrey & Pidada, 2001)
Sementara itu, hampir semua penelitian menyatakan bahwa sikap, pengasuhan dan kondisi orangtua, secara langsung atau tidak langsung akan mempengaruhi kemampuan pengendalian emosi anak. Namun tentang bagaimana proses terjadinya pengaruh itu, ada berbagai temuan penelitian. Eisenberg, dkk. (2001), misalnya menemukan bahwa perilaku emosional orangtua berpengaruh pada perilaku pengendalian dan pernyataan diri anak. Tetapi sebaliknya tidak terbukti bahwa perilaku anak menyebabkan/berpengaruh pada gaya asuh orangtua. Eisenberg (2003) juga membuktikan bahwa hubungan antara penyesuaian diri dan kompetensi sosial anak (N= 208, umur 4,5 th dan 8 th) dengan expresi emosi negatif ibu berubah sesuai dengan perkembangan usia anak, tetapi hal ini tidak berlaku bagi ekspresi yang positif dari ibu.
Penelitian lain adalah pada 30 toddlers (anak yang sedang mulai bisa berjalan).Penelitian ini membuktikan bahwa kendali emosi anak dan kehangatan sikap pengasuh (ayah, ibu dan pengasuh non-orangtua) mempengaruhi ketaatan anak pada pengasuhnya. Ketaatan anak pada orangtua lebih ditentukan oleh kepekaan orangtua, sedangkan ketaatan anak pada pengasuh non-orangtua lebih ditentukan oleh kognisi (kesadaran) dan keterlibatan sosial anak. Kepekaan dan kontrol yang hangat dari ibu menentukan ketaatan anak pada pengasuh non-orangtua, tetapi sebaliknya ketaatan anak pada orangtua tidak mempengaruhi kehangatan orangtua ( Feldman, 2004)
Penelitian yang lain adalah penelitian laboratorium terhadap 86 anak umur 2 tahun. Ibunya mengisi kuesioner. Hasilnya adalah bahwa anak umur 2 tahun ternyata sudah mampu menunda reaksi (kontrol diri). Ada perbedaan antara anak laki-laki dan perempuan dalam kontrol diri itu. Pengasuhan ibu, merupakan faktor yang menentukan kontrol diri anak. Demikian juga perasaan ibu terhadap keharmonisan keluarga dapat berhubungan dengan kemampuan kontrol diri anak. Sedangkan hubungan anak-orangtua semata (secara umum) bukan merupakan penentu terhadap kontrol diri anak. (Yin, Chen & Zang, 2004)
PERLAKUAN YANG TIDAK BAIK
Pengaruh peran orangtua terhadap kendali emosi anak secara lebih khusus tampil pada perlakuan yang tidak baik/seman-mena dari pihak orangtua terhadap anak. Anak-anak yang diperlakukan tidak baik (maltreated) lebih menunjukkan perilaku sulit menyesuaikan diri (maladaptive) dari pada yang anak-anak yang diperlakukan dengan baik. Perilaku maladaptive yang dimaksud adalah ketidak mampuan mengendalikan amarah dan menolak berteman, sedangkan perilaku yang adaptive adalah perilaku pro-sosial dan suka berteman. Jadi perlakuan orangtua pada anak, berpengaruh pada perilaku adaptasi anak. (Shields, dkk, 2001)
Di Cina, penelitian terhadap 325 sample anak, menunjukkan bahwa perlakuan kasar dari orangtua berpengaruh langsung atau tidak langsung pada pengendalian emosi anak dan pada gilirannya mempengaruhi agresivitas anak di sekolah. Perlakuan kasar dari ibu lebih mempengaruhi pengendalian emosi anak, sedangkan perlakuan kasar ayah lebih mempengaruhi agresivitas anak. Perlakuan kasar ayah juga lebih mempengaruhi anak lakilaki dari pada anak perempuan (Chang, 2003)
Dari pengalaman klinik pun seringkali terbukti bahwa tanpa disadari, keluhan-keluhan orangtua tentang anaknya (pemarah, agresif terhadap pembantu, kata-kata kasar dsb.) justru bersumber pada perilaku orangtua terhadap anak sendiri. Dengan perkataan lain, anak menjadi kasar karena dia dikasari oleh orangtuanya, padahal orangtua tidak merasa kasar pada anaknya. Dengan demikian, orangtua memperlakukan anak secara tidak semestinya, adalah di luar kesadaran/pemahaman mereka sendiri. Di sekolah: 52 keluarga yang diteliti membuktikan bahwa nasihat orangtua di rumah berpengaruh pada regulasi diri anak di sekolah, Caranya orangtua memberi nasihat, akan mempengaruhi konsenttrasi anak pada pelajaran dan keinginan mereka untuk meminta bantuan jika ada persoalan; tetapi isi nasihat tidak berpengaruh pada regulasi diri itu, kecuali isi nasihat itu disampaikan dengan cara yang tepat dan disertai dengan dukungan emosional. (Stright, dkk ,2001)
Penelitian terhadap 589 kepala sekolah (pria dan wanita, SLTP dan SLTA) membuktikan bahwa ada hubungan yang kuat antara EI kepala sekolah dan cara mereka mengelola konflik. (Noghabi, 2004). Dalam kaitannya dengan teman, diungkapkan dalam penelitian terhadap 119 anak berusia 4-6 thn, bahwa mereka cenderung berperilaku pro-sosial kepada teman-temannya sendiri dari pada kepada guru, dan lebih pro-sosial kepada teman sejenis kelamin ketimbang kepada lawan jenisnya. (Zang, dkk, 2004)
Jelaslah bahwa di samping pengaruh orangtua terhadap prestasi anak di sekolah, EI siswa di sekolah dipengaruhi oleh tingkat EI para kepala sekolah sendiri, dan hubungannya dengan teman-temannya sendiri. Pengukuran EI: Seperti pernah dilaporkan, tentang pengkuran EI masih menjadi kontroversi. Penelitian terhadap EI biasanya menggunakan self-report. Tetapi penelitian terhadap 60 murid umur 10-12 thn ini dilakukan dengan menggunakan pengamatan guru dan hasilnya tetap membuktikan bahwa ada pengaruh antara EI dan prestasi sekolah. (Sorrenti, dkk, 2004).
Sebaliknya penelitian lain justru menyatakan bahwa Self Report test EI tidak dapat mengukur kemampuan domain kognitif dari emosi. Domain kognitif itu hanya bida diukur dengan performance test.( Barchard, 2004). Di samping itu hanya beberapa aspek dari EI yang ada hubungannya dengan sukses akademik (pelajaran), tetapi tidak satupun yang pengaruhnya lebih signifikan ketimbang inteligensi yang diukur secara tradisional (IQ tradisional). (Barchard, 2003).
Jadi, klaim bahwa kesuksesan hanya 20% ditentukan oleh faktor IQ, sedangkan yang 80% adalah karena faktor EI, tidak sepenuhnya benar. Yang benar adalah bahwa peran IQ memang hanya 20%, namun sisanya dipengaruhi beramai-ramai oleh berbagai faktor, termasuk di antaranya adalah faktor EI. Seberapa besar persisnya pengaruh EI (atau EQ), sampai sekarang belum ada kesepakatan, antara lain karena masih adanya kendala untuk mengukur EQ secara obyektif. Faktor Jender, Usia dan Budaya: Sebuah penelitian di Jepang membuktikan bawa anak laki-laki Jepang cerewet soal nilai-nilai pelajaran, tetapi cuek dalam membantu ibu di rumah dan tentang pengendalian emosinya (misalnya menahan amarah). Anak perempuan sebaliknya, rewel dalam pekerjaan rumah tangga, namun tetap peduli soal pelajaran sekolah dan pengendalian amarah. Walaupun menurut antropolog Ruth Benedict, orang Jepang berbudaya malu, tetapi para orangtua murid tidak memberi pelatihan khsusus tentang pengendalian emosi. (Sogon, 2004) Tentang pengaruh dari dunia internet dan era teknologi informasi terhadap perkembangan emosi anak, telah dilaporkan oleh sebuah penelitian (Koops, 2004), bahwa telah terjadi perubahan siginifikan tentang konsep “kanak-kanak” dan pengasuhan anak, karena terbukanya akses total kepada informasi elektronik orang dewasa oleh anak-anak. Sangat perlu diperhatikan perkembangan emosi anak, khususnya dalam hal pengendalian emosi marah, terutama dalam hubungannya dengan perkembangan proses informasi sosial anak (banyaknya film tentang kekerasan di TV dsb,).
Tentang gejala depresi, yaitu kondisi emosi negatif yang kronis, banyak dilaporkan paling sering terdapat pada anak 8-15 th. Tetapi penelitian di Tianjin, Cina, terhadap 516 anak usia 8-15 th membuktikan bahwa sangat sedikit yang memenuhi criteria depresi berdasarkan test DSRSC (Depression Self-Rating Scale for Children)(Sun & Zhou, 2004). Sementara itu, penelitian terhadap 300 murid kelas 1-3 SD, juga di Cina, membuktikan bahwa makin bertambahnya usia, anak makin kooperatif, namun juga jadi kurang kompetitif. Pengaruh perbedaan jenis kelamin signifikan pada perilaku kooperatif, tetapi tidak signifikan pada perilaku kompetitif. (Li, 2004)
Penelitian pada 72 anak pra sekolah membuktikan bahwa mereka sudah mampu mengerti emosi orang lain. Kemampuan ini berkembang sejalan dengan pertambahan usia. Anak yang sudah lebih besar mampu memahami emosi dalam hubungan antar 3 orang, dan menyesuaikan diri dengan baik kepada emosi itu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar