Minggu, 09 Mei 2010

FASE EMAS MENDIDIK ANAK

FASE EMAS MENDIDIK ANAK
Disampaikan pada forum IGRA Kabupaten Pamekasan, tanggal 6 Juni 2009
di Aula Kandepag Pamekasan
oleh : Kholifatul Azizah, A.Ma.

-------------------------------------------------------
Anakmu bukan anakmu,
Dia lahir lewat dirimu tapi bukan milikmu,
Boleh engkau berusaha menyerupai mereka, tapi jangan suruh mereka menyerupaimu,
Boleh engkau beri rumah untuk raganya tetapi tidak untuk jiwanya,
Mereka adalah penghuni masa depan yang tidak dapat engkau kunjungi sekalipun hanya dalam impian,
Anakmu bukan anakmu,
Dia milik Sang Kuasa,
Sang Pemanah Maha tahu sasaran bidikan keabadian ………
(Nazalia Aura Pariosy)
---------------------------------------------------



A. KARAKTER ANAK
Menjadi seorang guru tidak pernah terbayangkan sedikitpun oleh saya. Terlintaspun tidak pernah. Namun setelah dijalani, amanah ini terasa memberi banyak inspirasi dan semangat dalam hidup. Mata batin terbuka melihat beragam pola dan tingkah anak didik. Terlebih saat terjun ke lingkungan pendidikan yang menitikberatkan pada pendidikan karakter anak. Profesi ini terasa lebih menantang untuk dijalani.
Perlu waktu untuk bisa bersikap sebagai seorang guru sekaligus ayah dan teman bagi mereka. Bahkan terkadang sikap harus menjelma menjadi sikap seorang anak kecil. Berlari-lari di lapangan bersama mereka. Memenuhi keinginan anak yang minta dipeluk atau digendong. Ada juga yang sampai tertidur dalam pangkuan. Mungkin bagi sebagian orang yang melihat akan aneh dengan keadaan ini.
Beragam karakter menyatu dalam anak-anak, bahkan anak yang berkebutuhan khusus juga ikut merasakan bahasa sosial dari anak-anak normal lainnya. Tidak semua anak nyaman dengan kehadiran anak berkebutuhan khusus dalam lingkungannya. Justeru di situlah letak salah satu tantangan yang harus dihadapi, meski anak-anak yang berkebutuhan khusus mempunyai shadow-teacher (guru pendamping).
Pernah dua kali saya kehilangan kata-kata untuk menyusun kalimat apa yang baik dan bijaksana demi menjelaskan keberadaan anak-anak berkebutuhan khusus yang hadir di antara mereka. Mata betul-betul harus terbuka untuk bisa melihat apa dan bagaimana mereka. Jika tidak, perasaan moral akan terus dihantui oleh rasa bersalah karena telah menancapkan pelajaran yang salah.
Allah lebih sayang kepada mereka daripada kita semua. Karena mereka tidak memiliki kesempurnaan yang kita miliki. Kalau kita ingin disayang sama Allah maka harus menyayangi mereka. Kata bijak itu yang menjadi pembuka kelak untuk menyikapi kebuntuan yang saya alami. Alhamdulillah kata-kata itu cukup mempan untuk membuat anak-anak didik untuk tidak mengeluarkan satu patah katapun ejekan untuk anak-anak special-need (berkebutuhan khusus). Pemandangan yang cukup mengharukan pada saat salah seorang anak perempuan menyuapi temannya yang autis pada saat makan siang. Itu sudah cukup untuk mendidik hati dan batin saya.
Saya sangat bersyukur berada di lingkungan anak-anak yang bertingkah dan bermain sesuai dengan usianya. Tidak ada saling cela dan ejekan di antara mereka, meski sangat banyak perbedaan yang membuat mereka tidak nyaman.
Satu hal yang terlupakan oleh kita, bahwa anak-anak kita sudah menjadi sosok. Sosok yang akan hidup pada masanya, bukan pada masa orang tuanya. Sosok yang akan bertahan dengan kemampuan yang dimilikinya, bukan atas kemampuan orang tuanya.
Saya juga tidak ingin menjadi ayah yang tidak adil bagi anak-anak saya. Saya tidak ingin anak saya menjadi diri saya dan isteri saya, tapi biarlah menjadi dirinya sendiri.

B. MENJAWAB PERTANYAAN ANAK
Setelah kisah tentang beberapa nabi dan mukjizatnya selesai saya ceritakan, Dito, murid privat saya yang duduk di kelas “O” Besar RA tiba-tiba menanyakan apa mukjizat Nabi Adam. Tanpa pikir panjang, saya menjawab, “Beliau manusia pertama yang diciptakan Allah.”
Saya lanjutkan penjelasan mengenai penciptaan Hawa, bagaimana membangkangnya iblis ketika diperintahkan Allah supaya hormat kepada Nabi Adam, sehingga akhirnya Nabi Adam dan hawa diturunkan ke bumi, juga tentang janji iblis yang tidak hentinya akan mengajak manusia menjadi “teman”-nya di neraka kelak. Saya melihat ada banyak tanya di matanya. Tapi dia hanya berujar, “Woouuwww…!!”
Lalu, kami sampai pada kisah Nabi Isa yang atas izin Allah dapat menyimpan ruh pada burung buatan dan menghidupkan orang yang telah mati, terjadilah dialog antara saya dan Dito.
“Berarti Allah hebat, dong. Kereenn…!”
“Tentu,” jawab saya.
“Kayak Naruto, Ustadzah? Woouuww…!!”
“Jauh lebih hebat dari Naruto.”
“Enak, dong. Kalau apa-apa tinggal srett… srett…!” ujarnya sambil menggerak-gerakkan tangan.
“Iya.”
“Kalau begitu, aku pengin jadi Allah saja,” katanya dengan mata bersinar.
“Kenapa?”
“Ya, karena hebat,” ucapnya mantap.
“Mas Dito tahu siapa itu Allah?” selidik saya.
“Makanya, aku pengin ketemu,” jawab Dito ringan.
Saya lantas teringat kejadian belasan tahun lalu. Keinginan yang sama dengan Dito -ingin bertemu Allah- nyaris membuat saya mati. Ketika tiba-tiba saya berkata, “Bu, saya ingin bertemu Allah!” sambil mengacungkan tangan kepada ibu guru di tengah gaduhnya kelas.
“Kalau mau ketemu Allah, harus mati dulu.” Begitulah jawaban yang saya terima.
Maka, saat tidur siang sayapun memutuskan untuk “mati sebentar” dengan meletakkan bantal di wajah saya, kemudian saya tahan nafas sekuat tenaga sambil memencet hidung, dan membayangkan bertemu Allah. Entah kenapa yang ada di bayangan saya saat itu malah sosok raksasa Ultraman dan Monster Batu musuhnya. Gambar bintang dan komet di buku antariksa kakak saya juga bergerak-gerak ruwet di kepala saya. Pusing. Usaha pertama saya gagal. Esoknya saya coba, lagi-lagi gagal. Saya lupa apa yang membuat saya akhirnya menghentikan aksi mati-sebentar demi ketemu Allah itu.
Di luar sana, saya pikir, mungkin tidak hanya saya atau Dito yang pernah punya keinginan bertemu dengan Allah, atau bahkan ingin menjadi Allah karena kehebatanNya. Anak-anak, alamiahnya memang memiliki daya imajinasi dan rasa ingin tahu yang besar. Namun yang menjadi persoalan adalah bagaimana orang-orang dewasa di sekelilingnya menyikapi keinginan yang dilontarkan anak-anak itu.
Siapkah kita memberi pemahaman yang sebaik-baiknya, sebagai landasan akidah, yang akan selalu lekat dalam ingatan mereka??? Atau kita hanya akan mencari jawaban singkat dan sekenanya agar tidak ada lagi pertanyaan terlontar nsetelah itu??? Atau kita hanya tersenyum dan menjawab, sudahlah, nak, nanti kalau sudah besar kamu pasti akan tahun sendiri… jawabannya ada di tangan kita sendiri.


***

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar