Kamis, 06 Mei 2010

PENGARUH MUSIK TERHADAP PENDIDIKAN DAN KECERDASAN EMOSI ANAK USIA PRA-SEKOLAH

PENGARUH MUSIK TERHADAP PENDIDIKAN DAN KECERDASAN EMOSI ANAK USIA PRA-SEKOLAH

Oleh :
KHOLIFATUL AZIZAH, S.Pd.I.
(Kepala RA dan Praktisi Pendidikan Anak Usia Pra Sekolah)














DEPARTEMEN AGAMA KABUPATEN PAMEKASAN
TAHUN 2008
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH
Musik merupakan suatu kebutuhan pokok bagi setiap manusia, karena musik dapat menjadikan orang merasa senang, gembira dan nyaman. Musik bisa menjadi efektif di bidang akademis dengan membantu pembentukan pola belajar, mengatasi kebosanan dan menangkal kebisingan eksternal yang mengganggu. Musik juga dapat membantu kita merasa bertenaga, percaya diri, mengurangi kesedihan, menghapus kemarahan, melepaskan stress serta mengurangi rasa takut dan cemas.
Musik harus dikenalkan sedini mungkin pada anak bahkan sejak dalam kandungan anak sudah dirangsang dengan jenis musik yang dapat mengembangkan kecerdasan anak yaitu jenis musik klasik. Memperdengarkan musik atau suara lain yang menyenangkan bagi bayi yang masih dalam kandungan ternyata bisa menstimulasi sistem pendengaran mereka dan berpengaruh positif pada respons mereka terhadap musik dan suara-suara lain setelah mereka lahir. Bayi-bayi ketika di dalam kandungan mendengarkan musik yang rileks dan menenangkan ternyata tumbuh dan bertambah berat badannya dengan mudah serta lebih damai dengan diri mereka sendiri dan lingkungan sekitarnya, begitu mereka hadir di “dunia nyata” (John M. Ortiz, 2002:1).
Lingkungan terutama orang tua berperan penting untuk menumbuh kembangkan kecerdasan emosi anak yaitu salah satu diantaranya lewat musik. Seorang anak yang sejak kecil terbiasa mendengarkan musik akan lebih berkembang kecerdasan emosionalnya dibandingkan dengan anak yang jarang mendengarkan musik. Musik yang didengar berupa irama dan nada-nada yang teratur dari perpaduan seimbang antara beat, ritme dan harmoni (Bambang Sujiono dan Nurani Yuliani, 2005: 119).
Sebagai orang tua harus memberikan kebebasan kepada anak untuk memilih sendiri musik yang ingin ia dengarkan di waktu-waktu luang dan mengizinkan anak untuk menggunakan kebebasan berekspresi dalam batasbatas tertentu, akan memberi pelajaran mengenai rasa tanggung jawab sekaligus menumbuhkan kemampuan mengendalikan diri. Disamping itu, orang tua harus memonitor jenis musik pilihan anak untuk memastikan agar pilihan musik tersebut bisa diterima oleh sistem kepercayaan dan standar keluarga.
Orang tua seringkali beranggapan bidang musik termasuk salah satu bidang yang bila ditekuni tidak bisa menjamin masa depan. Oleh karena itu, orang tua lebih cenderung mengarahkan anak pada bidang-bidang ilmu kognitif dan beranggapan bahwa dengan menguasai ilmu kognitif seseorang mudah mencapai keberh asilan serta derajat terpandang dalam masyarakat. Padahal sebetulnya dengan musik anak akan dapat mencurahkan pikiran, rasa dan karsa dalam setiap aktivitasnya. Selain kenyataan di atas, orang tua juga belum memahami cara menumbuhkembangkan kecerdasan emosi anak. Seorang anak yang tidak bisa mengendalikan emosinya dengan baik seringkali dikarenakan orang tua kurang bisa memahami perasaan dan kehendak si anak. Luapan emosi yang tidak terungkap secara fokus dan jelas dapat mengarah pada perilaku destruktif (merusak). Sebagai contoh, anak yang tidak bisa mengungkapkan bahwa dirinya sesungguhnya merasa cemburu karena mainan adiknya lebih bagus mungkin akan bertindak agresif dengan merusakkan mainan adiknya atau memukul adiknya.
Musik harus dikenalkan sedini mungkin pada anak-anak agar anak dapat meluapkan emosinya lewat musik tersebut. Akan tetapi, pada kenyataannya masih banyak orang tua yang belum memahami bahwa pengenalan musik sejak dini dapat menumbuhkembangkan kecerdasan emosi anak. Selain itu, ada juga orang tua yang memaksakan anaknya untuk dapat memainkan jenis alat musik tertentu. Sebagai orang tua harus memahami kesiapan anak untuk belajar musik. Misalnya kemampuan fisik dan mental anak.
Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka penulis ingin menelaah tentang bagaimana pengaruh musik terhadap perkembangan kecerdasan emosi anak usia TK.

B. PERUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka masalah yang timbul dapat dirumuskan sebagai berikut: Bagaimana pengaruh musik terhadap perkembangan kecerdasan emosi anak usia TK.

C. PEMBATASAN MASALAH
Musik adalah salah satu cabang seni yang tertua. Musik tidak dapat dipisahkan dari kehidupan dan penghidupan manusia (AT. Mahmud, 1995: 8). Kecerdasan emosi adalah kemampuan mengenali emosi diri yaitu kemampuan seseorang dalam mengenali perasaannya sendiri sewaktu perasaan atau emosi itu muncul dan ia mampu mengenali emosinya sendiri apabila ia memiliki kepekaan yang tinggi atas perasaan mereka yang sesungguhya dan kemudian mengambil keputusan-keputusan secara mantap (Sternberg dan Salovery dalam Shapiro (1997)).
Masalah dibatasi pada :
a. Pengaruh musik terhadap perkembangan kecerdasan emosi anak usia TK.
b. Usia yang dibatasi adalah 4 – 5 tahun.

D. TUJUAN PENULISAN
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah : Untuk mengetahui bagaimana pengaruh musik terhadap perkembangan kecerdasan emosi anak usia TK.

E. MANFAAT
a. Manfaat Teoritis
Manfaat penelitian ini adalah untuk menambah cakrawala/khasanah pengetahuan tentang pengaruh musik terhadap perkembangan kecerdasan emosi anak usia TK.
b. Manfaat praktis
1. Bagi peneliti
Ingin mencari pemecahan masalah tentang pengaruh musik terhadap perkembangan kecerdasan emosi anak usia TK.
2. Bagi guru
Diharapkan memberikan pembelajaran musik sesuai dengan perkembangan anak usia TK.
3. Bagi orang tua
Diharapkan memperkenalkan musik sedini mungkin kepada anak dan orang tua juga memahami kesiapan anak untuk belajar musik.


***

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. HAKIKAT MUSIK
1. Pengertian Musik
Definisi musik sangat beragam. Menurut Kamtini dan Husni Wardi Tanjung dalam bukunya “Bermain Melalui Gerak dan Lagu di Taman Kanak-kanak. Musik adalah bagian dari kehidupan dan perkembangan jiwa manusia. Sejak anak dilahirkan, dia telah memiliki aspek tertentu dari musik yang menjadi bagian pengalaman alami dari kehidupannya”. (2005 : 9)
The starting time for learning about music is the same as the starting time for any learning (Wikipedia Indonesia, Copyright @ 2006, www.google.com). Saat mulai belajar tentang musik sama dengan saat mulai belajar apa saja. Musik adalah wadah segala jenis pendidikan kanakkanak. Hal itu muncul secara alami menjadi kebutuhan kanak-kanak.
Menurut Allegory of musik karya Lorenzo Lippi, musik adalah bunyi yang diterima oleh individu dan berbeda-beda berdasarkan sejarah, lokasi, budaya dan selera seseorang. Definisi sejati tentang musik juga bermacam-macam.
Menurut Aristoteles (Wikipedia Indonesia, copyright @ 2006, www. Google.com). musik yaitu mempunyai kemampuan mendamaikan hati yang gundah, jiwa patriotisme. Mendengarkan musik dapat membantu mengurangi sedikit beban pikiran melalui bernyanyi dapat mencurahkan perasaan yang ada dalam hati. Misalnya di saat sedih mendengarkan lirik musik yang sedih maka perasaan akan lega bahkan sampai menangis.
2. Unsur-unsur musik
Musik adalah bagian dari kehidupan dan perkembangan jiwa manusia. Sejak lahir anak telah memiliki beberapa unsur musik seperti suara dan melodi. Beberapa unsur musik diantaranya :
a. Suara: Dalam musik gelombang suara biasanya dibahas tidak dalam panjang gelombangnya maupun periodenya, melainkan dalam frekuensinya. Aspek-aspek dasar suara dalam musik dijelaskan dalam tala (tinggi nada), durasi (beberapa lama suara ada), intensitas dan timbre (warna bunyi).
b. Nada: Suara dapat dibagi-bagi ke dalam nada yang miliki tinggi nada tertentu menurut frekuensinya ataupun menurut jarak relatif tinggi nada tersebut terhadap tinggi nada patokan. Nada dapat diatur dalam tangga nada yang berbeda-beda, tangga nada yang paling lazim adalkah tangga nada mayor, tangga nada minor dan tangga nada pentatonik.
c. Ritme/Irama: Ritme adalah pengaturan bunyi dalam waktu. Birama merupakan pembagian kelompok ketukan dalam waktu. Tanda birama menunjukkan jumlah ketukan dalam birama dan not mana yang dihitung dan dianggap sebagai satu ketukan.
d. Melodi: Melodi adalah serangkaian nada dalam waktu. Rangkaian tersebut dapat dibunyikan sendiri yaitu tanpa iringan atau dapat merupakan bagian dari rangkaian akord dalam waktu.
e. Harmoni: Harmoni secara umum dapat dikatakan sebagai kejadian dua atau lebih nada dengan tinggi berbeda dibunyikan bersamaan, walaupun harmoni juga dapat terjadi bila nada-nada tersebut dibunyikan berurutan. Harmoni yang terdiri dari tiga atau lebih nada yang dibunyikan bersamaan biasanya disebut akord.
f. Notasi: Notasi musik merupakan penggambaran tertulis atas musik. Dalam notasi balok, tinggi nada digambarkan secara vertikal sedangkan waktu digambarkan secara horizontal. Musik adalah perpaduan keseimbangan antara unsur-unsur musik. Unsur-unsur musik diantaranya suara, nada, ritme, melodi, harmoni dan notasi. Musik menjadi bagian alami dari kehidupan.
Contoh : dalam dekapan seorang ibu, anak mendengar suara ibu melantunkan snandung yang akhirnya membuat lelap tidurnya.

3. Instrumen-instrumen musik
Alat musik pertama dikenal manusia berasal dari bunyi yang dihasilkan dari bahan manusia itu sendiri. Tepukan tangan, hentakan kaki atau pukulan tangan pada anggota badan yang lain merupakan pengiring ritmik yang memberikan nuansa tertentu. Beberapa instrumen musik diantaranya :
a. Alat-alat musik tradisional
1. Alat musik petik. Contoh : gitar, kecapi, harpa, gambus, mandolin.
2. Alat musik gesek. Contoh : biola, rebab.
3. Piano
4. Alat musik tiup. Contoh : seruling, terompet, harmonika, pianika
5. Alat musik pukul/perkusi. Contoh : tamborin, kolintang.
b. Alat musik modern. Contoh : Gitar listrik, organ, drum.
Beberapa instrumen di atas dapat mencerdaskan emosi anak. Apabila anak memainkan jenis alat musik tertentu misalnya piano. Anak akan mengungkapkan ekspresinya melalui alat musik piano tesebut (Wikipedia Indonesia, copyright @ 2006. www.google.com)

B. HAKIKAT KECERDASAN EMOSI
1. Pengertian Kecerdasan Emosi
Definisi kecerdasan emosi pertama kali disebutkan dalam majalah Time edisi Oktober 1995 oleh psikolog Peter Salovey dari Universitas Yale dan John Mayer dari Universitas Hampshire. Kecerdasan emosi adalah sebuah konsep untuk memahami perasaan seseorang, memahami empati seseorang terhadap perasaan orang lain dan memahami “bagaimana emosi sampai pada tahap tertentu menggairahkan hidup” (Kumpulan artikel Kompas, 2001: 181).
Namun konsep kecerdasan emosi baru memasuki forum publik setelah psikolog Danrel Goleman dari Universitas Harvard dalam buku “Emotional Inteligence” (1994) menyatakan bahwa “Kontribusi IQ bagi keberhasilan seseorang hanya sekitar 20% dan sisanya yang 80% ditentukan oleh serumpun faktor-faktor yang disebut kecerdasan emosional”. (Kumpulan artikel Kompas, 2001: 182).
Kecerdasan emosional (EQ) adalah proses pembelajaran yang berlangsung seumur hidup. Memang ada temperamen khusus yang dibawa seorang anak sejak ia dilahirkan, tetapi pola asuh orang tua dan pengaruh lingkungan akan membentuk “cetakan emosi seorang anak yang akan berpengaruh besar pada perilakunya sehari-hari” (Bambang Sujiono dan Yuliani Nurani Sujiono, 2005: 115).
2. Metode belajar yang menunjang perkembangan emosi
Menurut Elisabeth B. Hurlock dalam bukunya “Perkembangan Anak Jilid I” (1997: 214) menjelaskan metode belajar yang menunjang perkembangan emosi sebagai berikut :
a. Belajar secara coba-coba
Anak belajar secara coba untuk mengekspresikan emosi dalam bentuk perilaku yang memberikan pemuasan terbesar kepadanya dan menolak perilaku yang memberikan pemuasan sedikit atau sama sekali tidak memberikan pemuasan.
b. Belajar dengan cara meniru
Anak-anak bereaksi dengan emosi dan metode ekspresi yang sama dengan orang-orang yang diamatinya.
c. Belajar dengan cara mempersamakan diri
Anak menirukan reaksi emosional orang lain dan tergugah oleh rangsangan yang sama dengan rangsangan yang telah membangkitkan emosi orang yang ditiru.
d. Belajar melalui pengkondisian
Dalam metode ini obyek dan situasi yang pada mulanya gagal memancing reaksi emosional kemudian dapat berhasil dengan cara asosiasi.
e. Pelatihan
Belajar di bawah bimbingan dan pengawasan terbatas pada aspek reaksi yaitu reaksi yang menyenangkan dan tidak menyenangkan. Peran orang tua, guru dan lingkungan sekitar sangat menentukan dalam proses belajar anak. Mereka harus sabar dan menjadi tauladan bagi anak-anak mereka. Apabila anak melakukan hal-hal yang positif maka orang tua tidak segan-segan memberikan pujian.
3. Prinsip-prinsip mengasuh anak dengan kecerdasan emosi
Ada lima prinsip mengasuh anak dengan yang menjadi tujuan bagi orang tua dan anak. Berusaha mencapai tujuan tersebut akan menciptakan keluarga yang harmonis dan membuat anak-anak tumbuh dewasa dengan disiplin diri dan tanggung jawab (Maurice J. Elias, 2000: 39).
1. Sadari perasaan sendiri dan perasaan orang lain. Perasaan adalah sesuatu yang sulit disadari.
2. Tunjukkan empati dan pahami cara pandang orang lain. Empati adalah kemampuan untuk menyelami perasaan orang lain. Untuk dapat melakukan hal ini, seorang harus menyadari baik perasaan dirinya maupun perasaan orang lain.
3. Atur dan atasi dengan positif gejolak emosional dan perilakunya.
4. Berorientasi pada tujuan dan rencana positif.
Salah satu hal terpenting tentang manusia adalah dapat menetapkan tujuan dan membuat rencana untuk mencapai tujuan. Teori kecerdasan emosional menyatakan bahwa hal ini memiliki implikasi penting yaitu sebagai berikut :
a. Mengakui kekuatan ampuh optimisme dan harapan.
b. Dalam berusaha mencapai tujuan, ada waktu-waktu ketika lebih atau kurang efektif.
c. Orang tua dapat memperbaiki cara dalam penetapan dan perencanaan tujuan sebagaimana menghendaki anak-anak melakukannya.
5. Gunakan kecakapan sosial positif dalam membina hubungan. Contoh kecakapan sosial yaitu komunikasi dan pemecahan masalah.
Sebagai orang tua harus memberikan kebebasan kepada anak untuk bergerak. Namun orang tua tetap mengontrol anak walaupun tidak terlalu ketat. Selain itu orang tua dapat memahami perasaan anak, apakah anak sedang sedih atau senang.

C. Menumbuhkembangkan Kecerdasan Emosi Anak Melalui Musik
“Musik sangat mempengaruhi manusia”, ujar EV. Andreas Christanday seorang musikus dalam suatu ceramah musik. “Beat mempengaruhi tubuh, ritme mempengaruhi jiwa, sedangkan harmoni mempengaruhi roh”. Sementara apabila hati sedang susah, mencoba mendengarkan musik yang indah, yang memiliki irama (ritme) yang teratur. Perasaan akan menjadi lebih enak dan enteng. Bahkan di luar negeri, pihak rumah sakit banyak memperdengarkan lagu-lagu indah untuk membantu penyembuhan para pasiennya. Inilah bukti bahwa ritme mempengaruhi jiwa manusia.
Menurut John M. Ortiz dalam bukunya Nurturing Your Child With Music (2002: 117), ada beberapa pendekatan serta latihan yang dapat dipertimbangkan para orang tua dalam menggunakan musik serta suara.
a. Meluangkan waktu untuk duduk bersama anak dan bergantian memilih lagu dengan pesan positif dan menggembirakan.
b. Meningkatkan latihan musik dengan memainkan lagu-lagu pilihan atau mengajak anak bernyanyi bersama.
c. Mengajak anak untuk menghadiri pertunjukan musik.
d. Membuat kebiasaan baru yaitu meminjam album musik klasik atau moden yang dipilih bersama anak.
e. Mendaftarkan anak ke kursus musik untuk alat musik yang disukai anak.

D. Karakteristik Perkembangan Anak Usia TK (4 – 5 tahun)
Menurut Soemiarti Padmonodewo dalam bukunya “Buku Ajar Pendidikan Pra Sekolah” (1995: 22) menjelaskan karakteristik perkembangan anak usia TK yaitu :
1. Perkembangan jasmani
Ketrampilan motorik kasar dan halus sangat pesat kemajuannya pada tahapan anak pra sekolah. Pada usia 4 tahun anak-anak telah memiliki ketrampilan yang lebih baik, mereka mampu melambungkan bola, melompat dengan satu kaki, telah mampu menaiki tangga dengan kaki yang berganti-ganti. Sedangkan beberapa anak yang telah berusia 5 tahun telah mampu melompat dengan mengangkat dua kaki sekaligus dan belajar melompat tali. Pada usia 4 – 5 tahun, biasanya mereka sudah mampu membuat gambar, gambar orang. Bentuk gambar orang biasanya ditunjukkan dengan lingkaran yang besar yaitu kepala dan ditambahkan bulat kecil sebagai mata, hidung, mulut dan telinga, kemudian ditarik garis-garis dengan maksud menggambar badan, kaki dan tangan.
2. Perkembangan kognitif
Piaget (1969) menjelaskan perkembangan kognitif terdiri dari empat tahapan perkembangan yaitu tahapan sensorimotor, tahapan pra operasional, tahapan kongkrit operasional dan formal operasional. Tahapan anak pra sekolah termasuk dalam tahap pra operasional (2–7 tahun) yaitu kecepatan perkembangan anak bersifat pribadi, tidak selalu sama untuk masing-masing anak. Pada tahapan pra operasional anak-anak mulai dapat belajar dengan menggunakan pemikirannya. Tahapan bantuan kehadiran sesuatu di lingkungannya, anak mampu mengingat kembali simbol-simbol dan membayangkan benda yang tidak nampak secara fisik.
3. Perkembangan bahasa
Anak-anak secara bertahap berubah dari melakukan ekspresi suara saja kemudian berekspresi dengan berkomunikasi dan dari hanya berkomunikasi dengan menggunakan gerakan dan isyarat untuk menunjukkan kemauannya, berkembang menjadi komunikasi melalui ujaran yang tepat dan jelas. Anak pra sekolah biasanya telah mampu mengembangkan keterampilan bicara melalui percakapan yang dapat memikat orang lain. Mereka dapat menggunakan bahasa dengan berbagai cara antara lain dengan bertanya, melakukan dialog dan bernyanyi.
4. Perkembangan emosi dan sosial
Pada tahapan ini emosi anak pra sekolah lebih rinci, bernuansa atau disebut terdiferensiasi. Anak-anak perlu dibantu dalam dalam menjalin hubungan dengan lingkungannya agar mereka secara emosional dapat menyesuaikan diri, menemukan kepuasan dalam hidupnya dan sehat secara fisik dan mental. Dalam periode pra sekolah, anak dituntut untuk mampu menyesuaikan diri dengan berbagai orang dari berbagai tatanan yaitu keluarga, sekolah dan teman sebaya.

E. Ciri-ciri Kecerdasan Emosi
Menurut Daniel Goelman dalam bukunya “Emotional Intelligence”, kecerdasan emosi dipengaruhi oleh beberapa hal diantaranya:
1. Internal
a. Pola asuh
1. Pola asuh permisif. Pola asuh permisif yaitu orang tua seolah bersikap demokratis dan sangat menyayangi anaknya. Namun disisi lain, kendali orang tua terhadap anak sangat rendah.
2. Pola asuh otoriter
Pola asuh otoriter adalah peran orang tua sangat dominan. Mereka menanamkan disiplin yang ketat dan tidak memberikan kesempatan pada anak untuk menyampaikan pendapatnya.
3. Pola asuh otoritatif
Pola asuh otoritatif adalah pola asuh ini tetap menambah kendali yang tinggi pada anak namun dibarengi dengan sikap demokratis. Orang tua memberi kesempatan pada anak untuk mengemukakan pendapatnya dan memilih apa yang paling disukainya.
2. Eksternal
a. Teman sebaya
Pada intinya, setiap anak perlu dilatih untuk bersosialisasi dan bekerja sama, kalau kecerdasan emosinya terlatih dengan baik, seorang anak akan berperilaku positif. Misalnya: anak tidak mengganggu teman pada saat bermain.
b. Lingkungan sekolah
Disini yang paling dominan adalah guru. Seorang guru harus bersikap sabar, agar anak dapat bersikap positif.
c. Bermain
Bermain merupakan hal yang esensial bagi kesehatan anak. Bermain akan meningkatkan kerjasama dengan teman sebaya, menghilangkan ketegangan, dan merupakan pengamanan bagi tindakan yang potensial berbahaya.


***
BAB III
METODE DAN SISTEMATIKA PENULISAN

A. METODE PENULISAN
1. Spesifikasi Penelitian
Dalam penelitian ini bersifat deskriptif yaitu untuk menggambarkan keadaan sesuatu atau status fenomena. Dalam penelitian ini akan dideskripsikan tentang pengaruh musik terhadap perkembangan kecerdasan emosi anak usia TK.
2. Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang digunakan adalah studi pustaka. Studi pustaka merupakan salah satu metode pengumpulan data yang bersumber dari pustaka, buku, majalah, internet dan lain-lain. Bahan pustaka berupa referensi yang disalin di perpustakaan dan buku-buku tentang musik dan kecerdasan emosi.

B. SISTEMATIKA PENULISAN
Sistematika penulisan tugas akhir ini yaitu :
BAB I PENDAHULUAN, berisi tentang : a. Latar Belakang Masalah, b. Perumusan Masalah, c. Pembatasan Masalah, d. Tujuan Penelitian, e. Manfaat
BAB II TINJAUAN PUSTAKA, berisi tentang : a. Hakikat Musik b. Hakikat Kecerdasan Emosi c. Menumbuhkembangkan Kecerdasan Emosi Anak melalui Musik d. Karakteristik Perkembangan Anak Usia TK (4 - 5 Tahun) e. Ciri-ciri Kecerdasan Emosi
BAB III METODE DAN SISTEMATIKA PENULISAN, berisi tentang : a. Metode Penulisan b. Sistematika Penulisan
BAB IV PEMBAHASAN, berisi tentang : a. Pengaruh Musik Terhadap Kecerdasan Emosi Anak Usia TK b. Peran Orangtua Untuk Mengetahui Perkembangan Emosi Anak Melalui Musik c. Cara Menumbuhkembangkan Kecerdasan Emosi Anak TK
BAB V PENUTUP, berisi tentang : a. Simpulan b. Saran
DAFTAR PUSTAKA

BAB IV
PEMBAHASAN PENGARUH MUSIK
TERHADAP PERKEMBANGAN KECERDASAN EMOSI ANAK USIA PRA SEKOLAH

A. Pengaruh Musik Terhadap Kecerdasan Emosi Anak Usia TK
Musik adalah bahasa dunia dan tidak perlu diterjemahkan. Musik memerlukan tangan, kepala serta hati bergandengan bersama-sama. Masa kanak-kanak adalah masa yang paling menakjubkan, semua dasar-dasar pertumbuhan berkembang pada masa ini. Musik bagi anak dapat berperan sebagai wahana yang dapat mengungkapkan pikiran dan perasaan. Dapat berwujud pernyataan atau pesan dan memiliki daya yang dapat menggerakkan hati, berwawasan citarasa keindahan. Musik melalui nyanyian dapat menyalurkan, mengendalikan, menimbulkan perasaan tertentu seperti rasa senang, lucu, haru dan kagum. Hal ini sangat erat berkaitan dengan perkembangan emosi, perkembangan psikomotorik anak juga dapat berkembang melalui musik, misalnya pada saat anak senam.
Kemampuan anak dalam mengungkapkan pikiran melalui nada, emosi (rasa) dan gerak dapat dikembangkan melalui musik. Pada hakekatnya musik merupakan bahasa nada karena musik dapat didengar, dikomunikasikan melalui nada. Musik juga merupakan bahasa emosi karena dapat mengungkapkan perasaan tertentu seperti senang, lucu, haru atau kagum. Melalui gerakan nyanyian/musik memiliki bahasa gerak, karena musik memiliki birama (ketukan tetap dan teratur), irama (panjang pendek bunyi) dan metodi (tinggi rendah nada).
Menurut John M. Ortiz (2002: 149), musik dapat menjadi stimulan yang sehat dan aman. Berikut ini ada sepuluh alasan mengapa musik dapat menjadi stimulan yang sehat dan aman, adalah :
1. Bisa diulang kembali melalui kaset atau CD
2. Alamiah
3. Waktunya tertentu (bisa ditentukan)
4. Bisa diprogram
5. Sangat banyak jenisnya
6. Tanpa prasangka Musik dapat menghibur semua golongan usia, ras, budaya, dll.
7. Selalu optimis
8. Menyegarkan
9. Sepenuhnya ada dalam kendali kita.
10. Menjadi teman yang baik.
Selain itu, musik dan suara-suara lain yang menenangkan dapat membantu mengurangi kecemasan dan stres dengan :
a. Menurunkan hormon-hormon yang berhubungan dengan stres
b. Mengalihkan perhatian dari rasa takut, cemas, tegang dan dari masalah sehari-hari.
c. Mengaktifkan hormon endorphin alami yaitu berfungsi untuk menghilangkan rasa sakit.
d. Meningkatkan perasaan rileks.
e. Membersihkan pikiran serta membantu memusatkan perhatian.
f. Menenangkan serta menyelaraskan ritme internal
g. Meringankan perasaan tertekan dan meredakan amarah
h. Menyingkirkan pikiran-pikiran serta perasaan negatif dan mengganggu.
i. Menghalangi masuknya suara-suara bising dari luar yang sering membuat “pusing”.
Jika digunakan dengan kepekaan suara, musik dapat dimanfaatkan untuk : 1. Memotivasi anak untuk berlatih, 2. Meningkatkan kepekaan tubuh 3. Mengaktifkan tumbuhnya ketrampilan motorik besar, 4. Meningkatkan koordinasi, 5. Mengembangkan rasa percaya diri dan harga diri, 6. Berfungsi sebagai sumber kebahagiaan dan kesenangan 7. Mendorong terjadinya hubungan sosial, 8. Menciptakan lingkungan yang terkendali dimana pengungkapan diri bisa diwujudkan.

B. Peran Orangtua Untuk Mengetahui Perkembangan Emosi Anak Melalui Musik
Lingkungan sangat berpengaruh terhadap pembentukan emosi anak. Salah satunya peran orang tua di dalam keluarga akan membentuk “cetakan” emosi seorang anak yang akan berpengaruh besar pada perilakunya seharihari. Gaya pengasuhan yang berbeda pada setiap orang tua akan mempengaruhi kepribadian anak. Gaya pengasuhan yang baik adalah orang tua yang pemurah – permisif. Gaya ini disebut pemurah dan permisif karena orang tua yang tergolong demikian adalah orang tua yang memberikan kebebasan kepada anak untuk bergerak, tidak terlalu banyak menuntut atau melarang anak. Orang tua yang pemurah permisif adalah orang tua yang hangat, suka merawat dan terlibat dengan anak, tetapi tidak mengontrol anak walaupun tidak terlalu ketat.
Belajar musik merupakan kegiatan yang positif bagi anak. Kegiatan ini mampu mengasah kemampuan fisik, mental sekaligus kepekaan emosi esorang anak secara seimbang. Untuk kesiapan fisik anak, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan orang tua.
1. Instrumen musik didesain sesuai dengan ukuran anak. Apakah alat musik terlalu berat, terlalu besar atau terlalu banyak menuntut energi fisik bagi anak.
2. Memperhatikan ciri-ciri fisik anak lebih cocok dengan instrumen tertentu.
3. Mengenali anak apakah anak menyenangi atau membenci sensasi yang ditimbulkan oleh alat musik yang dimainkannya.
Orang tua harus memperhatikan kondisi emosi dan perilaku anak. Misalnya, anak yang sangat aktif (hampir tidak bisa diam) tentunya anak akan lebih siap dan cocok apabila belajar drum daripada bola. Sebaliknya anak yang pendiam dan tidak suka ribut akan lebih senang mendengar suara biola daripada terompet. Untuk anak yang lebih suka bekerja sendiri, pilihlah instrumen yang soliter seperti gitar atau piano.
Orang tua berperan sangat aktif selain terus menerus mendorong serta memotivasi anak-anak, orang tua bertindak sebagai pemberi inspirasi dan pelatih ketika anak-anak belajar memainkan alat musik pilihan. Yang harus diperhatikan orang tua untuk mengembangkan dan memperkuat harga diri anak yang positif :
a. Memanfaatkan setiap kesempatan untuk menciptakan harmoni.
b. Mendorong anak untuk mandiri.
c. Mengupayakan keseimbangan.
d. Mengizinkan anak untuk memilih musik yang ingin didengar dan orang tua jangan terlalu
mengatur.
e. Mendengarkan musik sebagai jembatan antar generasi.
Anak mengungkapkan isi dan pesan musin melalui nada, rasa dan gerak. Namun hal itu baru dapat dilakukan dengan baik apabila anak memperoleh pengalaman musik secara langsung. Pengalaman musik diperlukan untuk mengembangkan kemampuan dasar musik anak. Oleh karena itu, orang tua memegang peranan penting untuk meningkatkan kemampuan dasar musik seorang anak.
Menurut Mahmud, AT dalam buku “Musik dan Anak”, kemampuan dasar musik meliputi :
a. Kemampuan mendengar:
Kemampuan mendengar adalah kemampuan yang sangat esensial atau utama. Musik mengkomunikasikan pesan. Pesan akan diterima dengan baik apabila pesan dapat didengar, ditangkap atau dirasakan dengan baik pula. Kegiatan mendengar dapat dilakukan setiap kali mengajarkan nyanyian baru, misalnya dengan alat musik atau dengan senandung kemudian mengulang nyanyian. Jika tersedia kaset musik anak-anak, musik itu dapat diputarkan untuk didengar anak.
Kegiatan mendengar bertujuan antara lain :
a. Menghayati peran birama dan pola irama dalam membangun suasana musik.
b. Meningkatkan kepekaan terhadap isi dan pesan yang diungkapkan oleh musik atau
nyanyian.
c. Menghayati ungkapan musik.
d. Meningkatkan kemampuan mendengar untuk berolah musik dengan baik.
b. Kemampuan memperagakan.
Kemampuan memperagakan ditujukan untuk : 1. Meningkatkan ketrampilan bernyanyi dengan baik dan benar. 2. Mengungkapkan musik atau nyanyian dengan gerak jasmaniah. 3. Meningkatkan kemampuan memilih dan memainkan alat perkusi untuk iringan.
Kegiatan memperagakan dikembangkan antara lain, untuk : 1. Bernyanyi dengan tinggi nada yang murni dan tepat. 2. Memainkan berbagai irama iringan dalam berbagai tanda birama. 3. Meningkatkan kepekaan terhadap isi dan pesan musik atau nyanyian melalui bernyanyi atau alat musik perkusi sederhana.
c. Kemampuan berkreativitas.
Kemampuan berkreativitas adalah kemampuan isi dan pesan musik atau nyanyian dengan perbuatan yang bersifat kreatif. Kegiatan berkreativitas bertujuan antara lain :
1. Mencoba dan dapat memilih alat yang sesuai untuk mengungkapkan isi dan maksud musik atau nyanyian yang diiringi.
2. Meningkatkan kemampuan mendengar musik atau nyanyian dengan mengamati sifat, watak atau ciri khas unsur pokok musik. 3. Meningkatkan kepekaan terhadap isi dan pesan musik atau nyanyian untuk dapat menikmati dan menghargai musik atau nyanyian.
Pengenalan musik kepada anak dilakukan oleh orang tua sejak hari pertama anak-anak mereka lahir harus dilanjutkan dalam setiap tahap perkembangan anak. Bahkan sejak dalam kandungan musik dapat dikenalkan kepada anak melalui suara atau nyanyian ibu.
C. Cara Menumbuhkembangkan Kecerdasan Emosi Anak TK Melalui Musik
Kecerdasan yang sering dinyatakan dengan angka IQ (Intellegence Quotient) bukan satu-satunya jaminan bagi kesuksesan seorang anak di masadepan. Faktor lain yang perlu mendapat perhatian serius dari orang tua adalah kecerdasan emosional. Salah satu aspeknya adalah kecerdasan sosial, dimana anak memiliki kemampuan untuk mengerti dan memahami orang lain. Kecerdasan emosi juga meliputi kemampuan seseorang untuk mengenali emosinya sendiri serta mengelola emosi tersebut dengan cara yang benar. Selain itu, kemampuan untuk memotivasi diri sendiri serta tetap bersemangat untuk menghadapi berbagai kesulitan. (Kumpulan artikel Kompas, 2001:124).
Kecerdasan emosional dapat dilatih pada anak-anak sejak dini. Misalnya, menciptakan suasana kedamaian penuh kasih sayang dalam keluarga, memberikan contoh-contoh nyata berupa sikap saling menghargai satu sama lain, ketekunan dan keuletan menghadapi kesulitan, sikap disiplin dan penuh semangat, tidak mudah putus asa, serta lebih banyak tersenyum dari pada cemberut. Semuanya ini memungkinkan anak mengembangkan kemampuan yang berhubungan dengan kecerdasan emosionalnya.
Dalam kehidupan sehari-hari, refleksi emosi nyata lebih banyak memainkan peran dalam proses pengambilan keputusan atau menampakkan perilaku seseorang ketimbang perhitungan nalar. Seorang anak perlu dibekali kecerdasan emosi yang maksimal sejak dini karena kecerdasan emosi dapat dipelajari dan dilatihkan pada anak. Latihan meningkatkan kecerdasan emosi anak bisa dilakukan oleh orang tua dalam interaksi dengan anak-anaknya yaitu melalui pengasuhannya. Anak yang mendapat stimulasi perkembangan kecerdasan emosi baik. Dengan begitu sikap dan perilaku anak akan berkembangan dengan baik menuju ke arah perkembangan yang positif.
Menurut Dra. Heny Setyawati, M.Si. didalam buku “Pengembangan Potensi Anak Usia Dini”. Untuk mengembangkan emotional intelegence pada anak usia TK, ada beberapa hal yang harus diperhatikan yaitu :
a. Agar anak mengerti perbedaan antara yang “baik” dan yang “buruk”. Anak harus mengembangkan
kebiasaan berbuat / berperilaku baik.
b. Anak dapat mengembangkan sikap peduli, dermawan / suka menolong, ramah dan pemaaf.
c. Anak dapat merasakan reaksi emosi negatif misalnya malu, marah, takut.
d. Orang harus membuat peraturan keluarga yang jelas dan konsisten.
e. Melatih kejujuran.
Cara menumbuhkembangkan kecerdasan emosi anak usia TK, salah satunya lewat musik. Musik adalah salah satu wahana bagi anak untuk belajar mengungkapkan pikiran dan perasaan. Kegiatan musik yang dilakukannya sendiri atau bersama-sama dapat membantu anak memantapkan emosi dan menggunakan emosi sebaik-baiknya. Disisi lain, kegiatan musik dapat meletakkan dasar bagi perkembangan minat dan bakat musik anak selanjutnya. Perkembangan itu sendiri tidak terlepas dari sejauh mana anak memperoleh pengalaman musik secara langsung.
Beberapa kemungkinan pengalaman musik yang dapat diberikan pada anak.
1) Nyanyian anak-anak
Nyanyian adalah salah satu perwujudan bentuk pernyataan atau pesan yang memiliki daya menggerakkan hati, berwawasan cita rasa keindahan, cita rasa estetika yang dikomunikasikan melalui nyanyian dapat membantu anak menumbuhkembangkan segi emosi yaitu anak dapat menyalurkan emosi, dapat menggugah rasa senang, lucu, kagum atau haru.
2) Bernyanyi
a. Bernyanyi adalah kegiatan musik yang fundamental, karena anak dapat mendengar melalui inderanya sendiri, menyuarakan beragam tinggi nada dan irama musik dengan suaranya sendiri.
Manfaat dari bernyanyi adalah agar anak : 1. Mendengar dan menikmati nanyian 2. Mengalami rasa senang bernyanyi bersama 3. Mengungkapkan pikiran, perasaan dan suasana hatinya 4. Merasa senang bernyanyi dan belajar bagaimana mengendalikan suara. 5. Menambah perbendaharaan nyanyian.
b. Mengajarkan nyanyian. Anak Taman Kanak-kanak belajar bernyanyi dengan cara meniru atau pembiasaan. Langkah mengajarkan nyayian pada umumnya ada dua yaitu membangun minat anak terlebih dahulu melalui tanya jawab yang mengacu kepada isi dan maksud nyanyian. Kedua mengembang kan pembelajaran sesuai dengan daya tangkap anak. Beberapa hal yang harus diperhatikan tentang mengajarkan nyanyian kepada anak : 1. Waktu mengajarkan nyanyian dibantu dengan alat peraga. 2. Agar anak akrab dengan irama dan melodi nyanyian, seluruh nyanyian dikenalkan dengan alat musik melodi atau senandung sebelum nyanyian diajarkan. 3. Anak telebih dahulu banyak mendengar sebelum bernyanyi. 4. Memberikan anak bernyanyi sambil bertepuk. 5. Nyanyian yang pendek diajarkan secara keseluruhan sedangkan nyanyian agak panjang kalimat demi kalimat.
3) Ungkapan diri kreatif
Ungkapan musik atau nyanyian bukan sekedar bentuk peniruan dari apa yang ditulis atau didengar, melainkan berupa penyajian yang diwarnai sifat perorangan dan memperkaya musik atau nyanyian. Untuk membantu dan mewujudkan ungkapan diri kreatif anak, ada pendekatan dan penerapan yang perlu dilakukan yaitu : a. Menerima anak sebagaimana adanya yang memiliki kelemahan, kekuatan dan keunikan. b. Memberi anak dorongan. c. Menyediakan waktu, tempat dan sarana. d. Melihat proses dari tindakan kreativitas anak lebih penting dari hasilnya.
4) Bunyi dan gerak
Anak menyukai gerak dan senang melakukan aneka gerak yang dibuatnya sendiri. Gerak adalah alat yang penting bagi anak untuk mengungkapkan dirinya melalui musik, setiap anak dapat berbuat menurut tingkat kemampuannya sendiri. Beberapa contoh penggunaan anggota badan yang menghasilkan beragam bunyi dan dapat mendorong anak melakukan gerak jasmaniah yaitu :
a. Membuat bunyi dengan menggunakan tangan Contoh : bertepuk tangan dengan tangan datar, jentik ibu jari dengan jari telunjuk.
b. Menghasilkan berbagai bunyi dengan tangan diumpamakan pemukul. Contoh : tangan memukul lutut, tangan memukul paha, tangan memukul dada dan tangan memukul lengan.
c. Membuat bunyi dengan kaki. Contoh : menghentakkan kaki, meluncurkan kaki, mengetukkan ujung kaki.
d. Membuat bunyi dengan “Suara mulut”. Contoh : menghembus, mendesir, menggunakan lidah.
5) Ungkapan ritmik
Ungkapan ritmik, ungkapan berirama dapat diamati pada kegiatan dan perbuatan anak setiap hari. Ungkapan ritmik tumbuh bersamaan dengan perkembangan rasa irama dalam diri anak melalui pengalaman musik. Salah satu pendekatan untuk kembang lanjutkan ungkapan ritmik anak adalah dengan menyediakan sarana alat musik, misalnya pianika, gendang, kerincing.
6) Apresiasi musik
Apresiasi musik di Taman Kanak-kanak erat kaitannya dengan nyanyian, alat musik dan gerak jasmaniah. Kegiatan apresiasi musik berhasil, ada hal-hal yang perlu diamati antara lain :
a. Anak dapat menyelaraskan gerak jasmaniahnya dengan irama musik atau nyanyian.
b. Tanggapan anak secara sosio emosional, tampak pada perubahan air muka anak
yang membayangkan rasa senang.
c. Ada pola gerak khas yang diperagakan anak.
d. Sikap anak menunjukkan makin tumbuh minat anak akan musik dan makin senang
memperoleh pengalaman musik.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan apabila merencanakan kegiatan atau pembelajaran musik kepada anak yaitu :
a. Belajar sesuatu melalui perbuatan dan dengan alat bantu
b. Mengungkapkan pikir dan rasa melalui tindakan
c. Mengenal unsur pokok musik dengan mengulang-ulang
d. Memahami musik atau nyanyian secara totalitas, keseluruhan, lambat laun bagian dan rinci.
e. Belajar pada awalnya tanpa pemahaman karena sifat anak yang cenderung meniru.
f. Memiliki aktifitas tinggi dan rasa ingin tahu yang besar.
g. Memerlukan lingkungan yang akrab tempat anak mencobakan ungkapan pikiran dan
perasaan, gagasan


***
BAB V
PENUTUP

A. Simpulan
1. Musik adalah bagian dari kehidupan dan perkembangan jiwa manusia.
2. Kecerdasan emosi adalah kemampuan seseorang untuk mengenali emosinya sendiri serta mengelola emosi dengan cara yang benar.
3. Musik dapat menjadi stimulan yang sehat dan aman. Contohnya dapat membantu mengurangi kecemasan dan stres.
4. Cara menumbuhkembangkan kecerdasan emosi anak TK melalui musik yaitu diantaranya melalui : a. Nyanyian anak-anak, b. Bernyanyi, c. Ungkapan diri kreatif, d. Bunyi dan gerak, e. Ungkapan ritmik, f. Apresiasi musik
5. Dalam belajar musik orang tua berperan sangat aktif yaitu memotivasi anak, memberi inspirasi dan pelatih yang baik.
6. Kemampuan dasar musik meliputi : a. Kemampuan mendengar, b. Kemampuan meragakan, c. Kemampuan berkreativitas

B. Saran
a. Guru
1. Sebaiknya guru memahami betapa pentingnya kecerdasan emosi dan berusaha menumbuhkembangkan kecerdasan emosi agar seluruh potensi anak dapat berkembang secara optimal.
2. Sebaiknya guru bersikap sabar dalam mengajarkan musik di sekolah.
b. Orang tua
1. Sebaiknya orang tua mengenalkan musik sedini mungkin kepada anak.
2. Sebaiknya orang tua memberikan kebebasan kepada anak untuk memilih sendiri musik yang ingin didengarkan oleh anak.
3. Orang tua sebaiknya memahami kesiapan anak untuk belajar musik misalnya kemampuan fisik dan mental anak.


DAFTAR PUSTAKA

Ellys J. 2005. Kiat Mengasah Kecerdasan Emosional Anak. Bandung : Pustaka Hidayah.
Goleman, Daniel. 2004. Emotional Intelligence. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.
Kumpulan Artikel Kompas. 2001. Mencetak Anak Cerdas dan Kreatif. Jakarta : Kompas.
Mahmud, AT. 1995. Musik dan Anak. Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
M. Ortiz. 2002. Menumbuhkan Anak-anak Yang Bahagia, Cerdas dan Percaya Diri Dengan Musik. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.
Patmono Dewo, Soemiarti. 1995. Buku Ajar Pendidikan Pra Sekolah. Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Proyek Pendidikan Tenaga Akademik.
Sujiono, Bambang dan Nurani Yuliani. 2005. Mencerdaskan Perilaku Anak Usia Dini. Jakarta : Gramedia.
Wikipedia Indonesia. 2006. Teori Musik. http: //id.wikipedia.org/wiki/Musik, Copyright @ 2006, www.google.com


***

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar