Kamis, 06 Mei 2010

MANAJEMEN KURIKULUM PENDIDIKAN ANAK USIA DINI

MANAJEMEN KURIKULUM PENDIDIKAN ANAK USIA DINI
Studi Kasus Pengelolaan Materi Dan Penggunaan Metode Pembelajaran Pada Kelompok “B” Di Raudaltul Athfal (RA) I’anatus Shibyan Desa Blumbungan Kecamatan Larangan Kabupaten Pamekasan
Oleh : Kholifatul Azizah, S.Pd.I. Guru RA dan Pemerhati Pendidikan Anak Usia Prasekolah

A. Latar Belakang Masalah
Kesadaran akan kebutuhan pendidikan kini cenderung meningkat. Pendidikan secara universal dapat dipahami sebagai upaya pengembangan potensi kemanusiaan secara utuh dan penanaman nilai-nilai sosial budaya yang diyakini oleh sekelompok masyarakat agar dapat mempertahankan hidup dan kehidupan secara layak. Secara lebih sederhana, pendidikan dapat dipahami sebagai suatu proses yang diperlukan untuk mendapatkan keseimbangan dan kesempurnaan dalam mengembangkan manusia.
Telah lama bangsa Indonesia berada pada kondisi krisis multidimensi dan multikultural, mulai dari masalah ideologi, politik, dan pendidikan yang sarat dengan kesenjangan dan konflik budaya yang tidak lagi berkarakter. Ekonomi yang labil dan tingkat keamanan yang sangat rendah membuat komplektisitas problematika juga berimbas kepada melemahnya tingkat kualitas pendidikan yang ada. Lemahnya kualitas pendidikan meliputi berbagai hal, di antaranya adalah:
a) Kurikulum yang miskin ketrampilan,
b) Motivasi dan orientasi pendidikan yang sarat dengan pola pikir hedonis dan
materialistis,
c) Monopoli arti kecerdasan yang selama ini hanya bersandar pada ranah kognitif,
d) Metodologi pengajaran yang stagnan dan cenderung mengekang kreatifitas,
e) Pola manajemen dan tenaga pengajar yang kurang profesional,
f) Pola interaksi yang tidak efektif,
g) Evaluasi dan kebijakan yang subjektif,
h) Pola pikir masyarakat yang skolastik, dan
i) Kondisi masyarakat yang sarat akan kebodohan dan kemiskinan sebagai dampak logis dari tidak adanya nilai optimal keberhasilan (quality outcomes) dalam proses pendidikan (Hamijoyo, 2002:11).
Pada hakekatnya belajar harus berlangsung sepanjang hayat. Untuk menciptakan generasi yang berkualitas, masyarakat sangat mengharapkan adanya pendidikan yang memadai untuk putra-putrinya, terlebih pada saat mereka masih berada dalam tataran usia dini. Pentingnya pendidikan usia dini telah menjadi perhatian internasional. Dalam pertemuan forum pendidikan tahun 2000 di Dakar-Sinegal, dihasilkan 6 (enam) kesepakatan sebagai Kerangka Aksi Pendidikan untuk Semua (The Dakar Framework for Action Education for All). Salah satu butir kesepakatan tersebut adalah untuk memperluas dan memperbaiki keseluruhan perawatan dan pendidikan anak usia dini, terutama bagi mereka yang sangat rawan dan kurang beruntung (Suyanto, 2005:13).
Dewasa ini, isu hangat dalam dunia pendidikan adalah tentang penyelenggaraan Pendidikan Anak Usia Dini (yang selanjutnya disebut PAUD). Dengan diberlakukannya UU No. 20 Tahun 2003 maka sistem pendidikan di Indonesia sekarang terdiri dari Pendidikan Anak Usia Dini, pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan Pendidikan Tinggi, yang keseluruhannya merupakan kesatuan yang sistemik. PAUD diselenggarakan sebelum jenjang pendidikan dasar.
PAUD dapat diselenggarakan melalui jalur pendidikan formal, nonformal, dan/atau informal. PAUD pada jalur pendidikan formal berbentuk Taman Kanak-kanak (TK), Raudatul Athfal (RA), atau bentuk lain yang sederajat. PAUD pada jalur pendidikan nonformal berbentuk Kelompok Bermain (KB), Taman Penitipan Anak (TPA), atau bentuk lain yang sederajat. PAUD pada jalur pendidikan informal berbentuk pendidikan keluarga dan yang diselenggarakan oleh lingkungan masyarakat dimana ia tinggal (http://hidayatsoeryana.wordpress.com). Oleh karena itu, PAUD menjadi sangat penting mengingat potensi kecerdasan dan dasar-dasar perilaku seseorang terbentuk pada rentang usia ini.
Sedemikian pentingnya masa ini sehingga usia dini sering disebut sebagai the golden age (usia emas). Berbagai hasil penelitian menyimpulkan bahwa perkembangan yang diperoleh pada usia dini sangat mempengaruhi perkembangan anak pada tahap berikutnya dan meningkatkan produktifitas kerja di masa dewasa (Suderadjat, 2005:135). Perlu dipahami bahwa anak memiliki potensi untuk menjadi lebih baik di masa mendatang, namun potensi tersebut hanya dapat berkembang manakala diberi rangsangan, bimbingan, bantuan, dan/atau perlakuan yang sesuai dengan tingkat pertumbuhan dan perkembangannya.
Penyelenggaraan pendidikan usia dini harus diorientasikan pada pemenuhan kebutuhan anak, yaitu pendidikan yang berdasarkan pada minat, kebutuhan, dankemampuan sang anak. Oleh karena itu, peran pendidik sangatlah penting. Pendidik harus mampu memfasilitasi aktivitas anak dengan material yang beragam. Pengertian pendidik dalam hal ini tidak hanya terbatas pada guru saja, tetapi juga orang tua dan lingkungan. Seorang anak membutuhkan lingkungan yang kondusif untuk tumbuh dan berkembang dengan baik. Dengan kata lain, kurikulum yang diterapkan dalam PAUD tidak harus sesuai dengan petunjuk pelaksanaan (juklak) dan petunjuk teknis (juknis). Kurikulum PAUD harus mengacu pada penggalian potensi kecerdasan yang dimiliki anak, sehingga peran guru hanya untuk mengembangkan, menyalurkan, dan mengarahkannya saja (http://www.penulislepas.com).
Dalam upaya pembinaan terhadap satuan-satuan PAUD tersebut, diperlukan adanya sebuah kerangka dasar kurikulum dan standar kompetensi anak usia dini yang berlaku secara nasional. Kerangka dasar kurikulum dan standar kompetensi adalah rambu-rambu yang dijadikan acuan dalam penyusunan kurikulum dan silabus (rencana pembelajaran) pada masing-masing tingkat satuan pendidikan.
Dalam hal ini, diperlukan sebuah formula kurikulum yang disesuaikan dengan proses pertumbuhan dan perkembangannya. Perlu diketahui bahwa pada usia 4-6 tahun, perkembangan anak-anak sangat pesat. Perkembangan itu meliputi perkembangan fisik, seperti bertambahnya berat dan tinggi badan maupun psikis yang meliputi ranah kognitif, afektif, dan juga psikomotorik. Kurikulum-kurikulum pendidikan terdahulu cenderung lebih menitik beratkan pada aspek perkembangan kognitif semata dengan harapan agar dapat mencetak generasi yang ber-IQ (Intelligence Quotient) tinggi. Namun, penelitian mutakhir membuktikan bahwa kurikulum yang demikian kurang tepat untuk membentuk kepribadian yang utuh.
Anak-anak yang ber-IQ tinggi belum tentu dapat berhasil dalam kehidupannya dikelak kemudian hari. Hingga disusun konsep baru bahwa anak perlu dikembangkan emosinya secara optimal. Anak yang ber-EQ (Emotional Quotient) tinggilah yang dipandang dapat berhasil dalam kehidupannya kelak (Musta’in, 2008: 23).
Namun, semua itu tidaklah cukup apabila pendidikan dengan kurikulum untuk mengembangkan IQ maupun EQ tidak dibarengi dengan pendidikan berbasis Dienul Islam yang memadai. Tanpa pendidikan agama yang optimal, lembaga pendidikan hanya menelorkan anak-anak yang tidak memiliki pegangan hidup.
Karena itulah, akhir-akhir ini banyak bermunculan lembaga-lembaga pendidikan yang berupaya untuk menyeimbangkan ketiga hal tersebut, yaitu keseimbangan antara IQ, EQ, dan SQ (Spiritual Quotient).
Raudaltul Athfal (RA) I’anatus Shibyan merupakan suatu lembaga pendidikan yang menerapkan pembelajaran anak usia dini (dalam hal ini adalah satuan pendidikan Raudlatul Athfal) berbasis Islam dengan menggunakan sistem fullday school. Dalam penerapan kurikulumnya, sekolah ini mencoba menyeimbangkan antara IQ, EQ, dan juga SQ dari peserta didik. Selain belajar di kelas, pelaksanaan pembelajaran juga dilaksanakan outdoor dengan metode bermain. Karena pada dasarnya, masa kanak-kanak adalah masa untuk bermain.
Tenaga pengajar yang ada di Raudaltul Athfal (RA) I’anatus Shibyan merupakan tenaga pendidik yang cukup berkualitas, sudah mampu menarik perhatian dan minat banyak masyarakat untuk menitipkan putra-putrinya dalam menimba ilmu di sana. Di setiap tahun ajaran baru, sudah dapat dipastikan yang mendaftar selalu melebihi daya tampung sekolah, untuk itu diadakan tes masuk untuk menyaring kemampuan siswa sehingga tidak semua pendaftar dapat diterima. Hal ini dilakukan karena sekolah tersebut mementingkan kualitas siswa dari pada kuantitas semata.
Selain itu, juga dapat dilihat melalui output dari TK tersebut yang sudah tidak diragukan lagi kemampuannya. Pemahaman mereka, baik dalam materi konvensional maupun materi keagamaan sudah cukup memadai bahkan memuaskan untuk ukuran anak usia dini. Terbukti, ada seorang anak yang sudah mampu menegur orang tua ketika mereka melakukan kesalahan. Ini tidak terlepas dari keberhasilan pembelajaran yang telah mereka dapatkan di sekolah. Materi yang disampaikan memang tampak didesain dengan disesuaikan tingkat pemahaman agama siswa tanpa mengesampingkan tingkat perkembangan anak. Selain itu, juga penggunaan metode yang tepat dalam penyampaian materi turut serta memberikan andil dalam keberhasilan pelaksanaan pembelajaran dalam penanaman nilai-nilai keagamaan.
Kualitas siswa akan dapat tercapai sesuai dengan harapan jika ditunjang dengan adanya manajemen kurikulum yang berkualitas pula. Kurikulum di sini mencakup tentang tujuan pendidikan, materi yang akan diberikan, metode mengajarkannya, serta penilaian yang dilakukan (Jalaludin, 2004:44). Namun, agar dapat diperoleh output yang maksimal, perlu diberikan perhatian yang lebih pada pengelolaan materi dan penggunaan metode pembelajaran dalam pelaksanaan pembelajaran. Untuk itu diperlukan sebuah isi program pembelajaran yang mampu menyeimbangkan antara IQ, EQ, dan SQ bagi peserta didik. Selain pemilihan isi program pembelajaran yang berkualitas juga harus dibarengi dengan adanya metode pembelajaran yang juga harus disesuaikan dengan perkembangan peserta didik.
Karena itulah, dalam penelitian ini lebih menitik beratkan dalam mengkaji manajemen kurikulum yang terkait dengan pengelolaan materi dan penggunaan metode pembelajaran yang diterapkan di Raudaltul Athfal (RA) I’anatus Shibyan, khususnya pada kelas B. Berdasarkan uraian di atas itulah yang menjadi alasan penulis untuk meneliti lebih jauh tentang manajemen kurikulum yang memfokuskan pada pengelolaan materi dan penggunaan metode pembelajaran yang diterapkan di Raudaltul Athfal (RA) I’anatus Shibyan khususnya pada kelompok B tahun pelajaran 2008/2009. Dalam hal ini, penulis mengambil judul penelitian tentang ”MANAJEMEN KURIKULUM PENDIDIKAN ANAK USIA DINI (Studi Kasus Pengelolaan Materi dan Penggunaan Metode Pembelajaran pada Kelompok B di Raudaltul Athfal (RA) I’anatus Shibyan Tahun Pelajaran 2008/2009)”.

B. Penegasan Istilah
Ada beberapa istilah yang terdapat dalam judul yang perlu dipahami agar tidak terjadi salah penafsiran. Beberapa istilah tersebut yaitu:
1. Manajemen Kurikulum
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, ”manajemen adalah proses penggunaan sumber daya secara efektif untuk mencapai sasaran” (Depdikbud, 1988: 357). Sedangkan menurut Tim FKIP UMS (2002: 1): Manajemen berasal dari kata dalam bahasa Inggris to manage yang berarti mengurus, mengatur, melaksanakan dan mengelola. Sedangkan secara istilah manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan dan usaha-usaha para anggota organisasi dan penggunaan sumber daya organisasi serta penggunaan sumber daya lainnya agar mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Kurikulum, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, adalah ”perangkat mata pelajaran yang diajarkan pada lembaga pendidikan” (Depdiknas, 1988: 234).
Sedangkan menurut Badan Standarisasi Nasional Pendidikan (2006:7), ”kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, mata pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu”.
Dengan demikian yang dimaksud dengan manajemen kurikulum adalah upaya untuk mengurus, mengatur, dan mengelola perangkat mata pelajaran yang akan diajarkan pada lembaga pendidikan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.
2. Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)
Pengertian pendidikan anak usia dini sebagaimana yang termaktub dalam Undang-undang Sisdiknas Tahun 2003 Pasal 1 Ayat 14 menyatakan bahwa ”pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut” (http://hidayatsoeryana.wordpress.com).
3. Pengelolaan Materi Pembelajaran
Materi pembelajaran merupakan seperangkat mata pelajaran yang akan disampaikan pada saat kegiatan belajar mengajar berlangsung. Sedangkan pengelolaan materi pembelajaran di sini dimaksudkan untuk mengelola materi yang akan disampaikan yang terdiri dari penetapan materi pembelajaran dan pedoman pelaksanaan pembelajaran agar pembelajaran dapat berjalan secara maksimal.
4. Metode Pembelajaran
Metode pembelajaran merupakan bagian dari pelaksanaan kegiatan pembelajaran. Metode dipilih berdasarkan materi yang akan disampaikan. Metode merupakan cara yang dalam bekerjanya merupakan alat untuk mencapai tujuan kegiatan (Moeslichatoen, 2004: 7).
Dasar pemilihan metode pengajaran menurut Abu Ahmadi (1990: 111) terdiri dari lima hal, yaitu: relevansi dengan tujuan pendidikan, relevansi dengan materi, relevansi dengan kemampuan guru, relevansi dengan situasi pembelajaran, serta relevansi dengan perlengkapan atau fasilitas sekolah.
5. Raudaltul Athfal (RA) I’anatus Shibyan
Raudaltul Athfal (RA) I’anatus Shibyan merupakan salah satu lembaga yang banyak diminati oleh orang tua untuk menitipkan putra-putrinya dalam menimba ilmu. Selain mengajarkan tentang materi konvensional, juga memberikan materi tentang keislaman. Raudaltul Athfal (RA) I’anatus Shibyan terbagi menjadi dua jenjang kelas, yakni kelas A untuk siswa yang berumur 4-5 tahun dan kelas B untuk siswa yang berumur 5-6 tahun.
Dari penegasan istilah di atas dapat ditegaskan judul karya tulis ilmiah ”Manajemen Kurikulum Pendidikan Anak Usia Dini (Studi Kasus Pengelolaan Materi dan Penggunaan Metode Pembelajaran pada Kelompok B di Raudaltul Athfal (RA) I’anatus Shibyan Tahun Pelajaran 2008/2009)”, merupakan penelitian tentang proses pengaturan kurikulum, dalam hal ini difokuskan pada pengelolaan materi dan penggunaan metode pembelajaran PAUD yang diterapkan di Raudaltul Athfal (RA) I’anatus Shibyan guna menciptakan suasana belajar yang efisien, agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi pada dirinya sehingga tercipta lulusan yang berkualitas, serta untuk memperoleh keterangan atau data-data mengenai unsur-unsur yang mendukung dan menghambat proses pengelolaan materi dan penggunaan metode pembelajaran yang ada di Raudaltul Athfal (RA) I’anatus Shibyan.

C. Rumusan Masalah
Memperhatikan latar belakang masalah di atas, maka permasalahan yang akan diteliti adalah:
1. Bagaimana pengelolaan materi yang ada di Raudaltul Athfal (RA) I’anatus Shibyan tahun pelajaran
2008/2009?
2. Bagaimana penggunaan metode pembelajaran yang ada di Raudaltul Athfal (RA) I’anatus Shibyan tahun
pelajaran 2008/2009?
3. Faktor-faktor pendukung dan penghambat dalam mengelola materi dan menggunakan metode
pembelajaran di Raudaltul Athfal (RA) I’anatus Shibyan tahun pelajaran 2008/2009?

D. Tujuan dan Manfaat Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui pengelolaan materi yang ada di Raudaltul Athfal (RA) I’anatus Shibyan tahun
pelajaran 2008/2009
2. Untuk mengetahui penggunaan metode pembelajaran yang ada di Raudaltul Athfal (RA) I’anatus
Shibyan tahun pelajaran 2008/2009
3. Untuk mengetahui faktor-faktor pendukung dan penghambat dalam mengelola materi dan menggunakan
metode pembelajaran di Raudaltul Athfal (RA) I’anatus Shibyan tahun pelajaran 2008/2009
Sedangkan manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Secara teoritis
Diharapkan mampu menambah khasanah keilmuan dan pengetahuan dalam dunia pendidikan pada umumnya dan khususnya mengenai manajemen kurikulum pendidikan anak usia dini.
2. Secara praktis
a. Bagi penulis, hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai sebuah rujukan yang lebih kongrit apabila nantinya berkecimpung dalam dunia pendidikan, khususnya pengembangan kurikulum bagi pendidikan anak usia dini.
b. Bagi sekolah, dapat dijadikan sebagai rujukan dan pertimbangan dalam evaluasi kurikulum.
c. Bagi pembaca umumnya, dapat dimanfaatkan untuk menambah wawasan mengenai materi dan metode dalam pembelajaran bagi pendidikan anak usia dini.

E. Kajian Pustaka
Sejauh pengetahuan penulis, bahwa penelitian tentang manajemen kurikulum pendidikan anak usia dini di Raudaltul Athfal (RA) I’anatus Shibyan belum pernah dilakukan. Namun, penelitian-penelitian mengenai pendidikan anak usia dini ataupun mengenai Raudlatul Athfal pernah dilakukan oleh beberapa peneliti, di antaranya adalah:
1. Dani Maulana Bintari (2008) dalam skripsinya yang berjudul Konsep Pendidikan Anak Usia Dini dalam Perspektif Islam dan Psikologi menyimpulkan bahwa ada perbedaan konsep PAUD antara perspektif Islam dan psikologi. Konsep pendidikan anak usia dini dalam Islam adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak yang dapat dimulai sejak seseorang menentukan jodohnya, ketika bayi masih dalam kandungan dan sampai bayi lahir hingga berusia enam tahun dengan menggunakan metode yang sesuai dengan al-Qur’an dan as-Sunnah juga menyesuaikan dengan tahap-tahap perkembangan anak hingga fithrah bawaan yang berupa fithrah beragama (tauhid) bisa berkembang secara terarah sesuai dengan didikan yang baik dari orang tua dan lingkungannya. Konsep PAUD dalam perspektif psikologi adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak yang dimulai sejak bayi dalam kandungan (pranatal) hingga usia enam tahun dengan menggunakan metode yang sesuai dengan bakat dan kemampuan anak yang merupakan hasil dan penemuan manusia, dan juga dengan memperhatikan tahap-tahap perkembangan anak dan lingkungan yang mempengaruhi pertumbuhannya. Perbedaan kedua hal di atas terletak pada pembahasan fithrah/potensi waktu dimulainya pendidikan, di samping tokohtokoh dan pendapatnya tentang PAUD dan metode pendidikan bagi anak usia dini.
Di samping itu, terdapat juga persamaan di antara keduanya, yaitu terletak pada fase-fase perkembangan anak.
2. Rusmini (2008) dalam skripsinya yang berjudul Metode Bermain Sambil Belajar, Integrasi Pendidikan Agama Islam dengan Pusat Kegiatan (Sentra) Studi Empiris di Taman Kanak-kanak Islam Masjid Istiqlal Jakarta Pusat menyimpulkan bahwa metode bermain sambil belajar dengan pusat kegiatan (sentra) dapat mengarahkan anak untuk menemukan potensi dan kecerdasan yang dimiliki. Metode tersebut cukup efektif dalam membantu anak usia prasekolah dalam belajar. Selain itu, metode yang digunakan juga mampu mengembangkan aspek pada bidang bahasa, fikir, visual, kinestetik, musik, intrapersonal, dan interpersonal pada anak.
3. Emmy Budiarti (2008) dalam tulisan karya ilmiahnya yang berjudul Pembelajaran Melalui Bermain Berbasis Kecerdasan Jamak pada Anak Usia Dini, menyatakan bahwa bermain adalah suatu kegiatan yang menyenangkan bagi anak, dan bermain adalah suatu kebutuhan yang sudah ada (inhern) dalam diri anak. Dengan demikian, anak dapat mempelajari berbagai ketrampilan dengan senang hati, tanpa merasa dipaksa ataupun terpaksa dalam kegiatan bermain.
Bermain mempunyai banyak manfaat dalam mengembangkan ketrampilan dan kecerdasan anak agar lebih siap menuju pendidikan selanjutnya. Kecerdasan anak tidak hanya ditentukan oleh skor tunggal yang diungkap melalui tes intelegensi saja, akan tetapi anak juga memiliki sejumlah kecerdasan jamak yang berwujud berbagai ketrampilan dan kemampuan. Kecerdasan jamak adalah teori kecerdasan yang menyatakan bahwa individu memiliki paling tidak delapan jenis kecerdasan, yaitu kecerdasan verbal linguistik, logis matematis, visual spasial, kinestetik, musik, intrapribadi, antarpribadi, dan naturalis. Kecerdasan jamak dapat diaplikasikan dengan berbagai cara dan aspek dalam kegiatan pembelajaran.
Beberapa aplikasi kecerdasan jamak antara lain berkaitan dengan perencanaan pembelajaran, pengembangan strategi pembelajaran, dan pengembangan penilaian dalam kegiatan pembelajaran.
Berdasarkan tinjauan pustaka di atas, tampak belum ada yang secara spesifik meneliti tentang manajemen kurikulum yang terkait dengan pengelolaan materi dan penggunaan metode pembelajaran bagi PAUD. Jadi, penelitian ini telah memenuhi kriteria kebaruan untuk sebuah penelitian

F. Metode Penelitian
Dalam memecahkan suatu masalah harus menggunakan cara/metode tertentu yang sesuai dengan pokok masalah yang akan dibahas. Disamping itu, metodemetode tersebut dipilih juga agar penelitian dapat menghasilkan data-data akurat dan dipercaya kebenarannya. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penelitian ini yang berkaitan dengan metode penelitian adalah:
1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah field research, karena yang diteliti adalah sesuatu yang ada di lapangan secara langsung. Dalam hal ini, objek yang diteliti adalah Raudaltul Athfal (RA) I’anatus Shibyan. Penelitian lapangan ini bersifat kualitatif, yaitu berupa penelitian yang prosedurnya menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis/lisan dari orang-orang dan pelaku yang diamati (Robert Begnan dan Steven yang dikutip Lexy Moleong, 2000: 35).
2. Subjek Penelitian
Tatang (1986: 93) memberikan pengertian bahwa, subjek penelitian adalah sumber tempat memperoleh informasi, yang dapat diperoleh dari seseorang maupun sesuatu, yang mengenainya ingin diperoleh keterangan. Dalam hal ini, yang menjadi subjek penelitian adalah manajemen kurikulum dengan sumber data, baik populasi maupun sampel akan dipaparkan sebagai berikut:
a. Populasi
Menurut Mardalis (1995: 52), populasi adalah semua individu yang menjadi sumber data. Yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah kepala sekolah, kepala bidang kurikulum, semua ustadzah dan pengurus yayasan yang berjumlah 9 orang di Raudaltul Athfal (RA) I’anatus Shibyan.
b. Sampel
Menurut Djarwanto dan Pangestu (1981: 93), sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti. Oleh karenanya pengambilan sampel harus dilakukan dengan cara sedemikian rupa sehingga dapat diperoleh sampel yang benar-benar mampu menggambarkan keadaan populasi yang sebenarnya, dengan kata lain sampel harus representatife. Adapun cara pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan sampel bertujuan atau purpose sampling. Menurut Arikunto (2002: 127), sampel bertujuan dilakukan dengan cara mengambil subjek bukan didasarkan atas strata, random atau daerah, tetapi didasarkan atas adanya tujuan tertentu. Dimana tujuan tersebut disesuaikan dengan kebutuhan data-data yang akan dibutuhkan dalam penelitian ini.
Terkait dengan penelitian ini, maka yang menjadi sampel adalah Kepala Sekolah dan Kepala Bidang Kurikulum, serta wali kelas yang berjumlah enam orang ustadzah, dan karyawati bagian Administrasi
3. Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
a. Metode Dokumentasi
”Metode dokumentasi atau pengumpulan dokumen adalah cara pengumpulan data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan-catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah, agenda, dan lain sebagainya” (Arikunto,1998: 149). Metode dokumentasi digunakan untuk memperoleh data tentang pengelolaan materi, metode pengajaran yang diterapkan, struktur kepengurusan, serta komponen pelaksana pendidikan di Raudaltul Athfal (RA) I’anatus Shibyan, yaitu data tentang tenaga kependidikan, daftar nama guru dan karyawati, sarana dan prasarana, pedoman kurikulum yang dipakai, serta profil sekolah.
b. Metode Wawancara
”Metode wawancara yaitu bentuk komunikasi antara dua orang. Melibatkan seseorang yang ingin memperoleh informasi dan seorang yang lainnya mengajukan pertanyaan-pertanyaan berdasarkan tujuan-tujuan tertentu” (Mulyana, 2002:180).
Wawancara dilakukan kepada kepala sekolah, kepala bidang kurikulum, karyawati bidang administrasi, dan ustadzah wali kelas B yang mengajar di Raudaltul Athfal (RA) I’anatus Shibyan. Metode wawancara ini peneliti gunakan untuk mencari informasi dan data tentang pengelolaan materi dan penggunaan metode pembelajaran, hambatan dan pendukung yang dihadapi TK saat melaksanakan pembelajaran.
c. Metode Observasi
”Metode observasi adalah penyelidikan yang diadakan untuk memperoleh fakta-fakta dari gejala-gejala yang ada dan mencari keterangan-keterangan secara faktual, baik tentang institusi sosial, ekonomi, atau politik dari suatu kelompok ataupun daerah” (Nazer, 1985: 65). Objek yang diobservasi meliputi profil sekolah, sarana dan prasarana, dan penggunaan metode dalam pelaksanaan pembelajaran yang ada di Raudaltul Athfal (RA) I’anatus Shibyan.
4. Analisis Data
Dalam menganalisis data, teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif yang terdiri dari tiga tahapan, yaitu pengumpulan data sekaligus reduksi, penyajian data, dan penarikan kesimpulan (Miles dan Haberman, 1992: 16).
Pertama, setelah pengumpulan data selesai, maka tahap selanjutnya melakukan reduksi data dengan menggolongkan, mengarahkan, dan membuang yang tidak perlu. Kedua, data yang telah direduksi disajikan dalam bentuk narasi.
Ketiga, penarikan kesimpulan dari data yang telah disajikan pada tahap kedua. Metode berpikir yang penulis gunakan untuk menganalisis data ini adalah metode induktif dan deduktif. Metode induktif adalah suatu metode untuk menganalisis masalah yang berangkat dari hal-hal yang bersifat khusus kemudian ditarik fakta yang bersifat umum. Sedangkan metode deduktif adalah suatu metode yang akan menganalisis suatu maksud dengan berangkat dari hal-hal yang bersifat umum kemudian ditarik fakta yang bersifat khusus (Hadi, 1987:42).
G. Sistematika Penulisan
Sebuah skripsi akan lebih sistematis jika disusun dengan sistematika yang baik. Adapun sistematika dalam penyusunan skripsi ini sebagaimana dipaparkan berikut:
Bagian awal skripsi terdiri atas halaman judul, nota dinas pembimbing, halaman pengesahan, pernyataan, motto, persembahan, kata pengantar, daftar isi, daftar tabel, daftar lampiran, dan abstraksi. Bagian inti dibagi menjadi lima bab sebagai berikut: BAB I Pendahuluan, pembahasan dalam bab ini meliputi: Latar Belakang Masalah, Penegasan Istilah, Rumusan Masalah, Tujuan dan Manfaat Penelitian, Kajian Pustaka, Metode Penelitian dan Sistematika Penulisan.
H. Manajemen Kurikulum Pendidikan Anak Usia Dini
Pembahasan dalam penelitian ini dibagi dalam dua bagian, yaitu: Bagian pertama, membahas tentang PAUD yang terdiri dari Hakekat PAUD, landasan PAUD, Standar kompetensi PAUD, dan pengembangan kurikulum PAUD. Bagian kedua, membahas tentang manajemen kurikulum yang terdiri dari pengertian manajemen kurikulum, komponen kurikulum, pengelolaan materi, dan penggunaan metode pembelajaran. BAB III Manajemen Kurikulum PAUD di Raudaltul Athfal (RA) I’anatus Shibyan. Bab ini meliputi dua bagian, yaitu bagian pertama, memaparkan profil Raudaltul Athfal (RA) I’anatus Shibyan yang meliputi sejarah berdirinya, letak geografis, struktur kepengurusan, visi dan misi sekolah, keadaan ustadzah dan karyawati serta peserta didik, juga mengenai sarana dan prasarana sekolah. Bagian kedua, memaparkan tentang manajemen kurikulum Pendidikan Anak Usia Dini di Raudaltul Athfal (RA) I’anatus Shibyan tahun pelajaran 2008/2009 yang meliputi pengelolaan materi, penggunaan metode pembelajaran yang diterapkan, dan faktor pendukung dan penghambatnya.

***

1 komentar: