Minggu, 09 Mei 2010

PENGEMBANGAN KEMAMPUAN DASAR BERBAHASA ANAK MELALUI BERCERITA

LAPORAN
PENELITIAN TINDAKAN KELAS



PENGEMBANGAN KEMAMPUAN DASAR BERBAHASA ANAK KELOMPOK B RA “I’ANATUS-SHIBYAN” DESA BLUMBUNGAN KECAMATAN LARANGAN KABUPATEN PAMEKASAN MELALUI BERCERITA DENGAN MENGGUNAKAN KATA GANTI AKU
TAHUN PELAJARAN 2009/2010




















Oleh :
KHOLIFATUL AZIZAH, S.Pd.I.
NIP : 150 336 900



DEPARTEMEN AGAMA KABUPATEN PAMEKASAN
TAHUN 2009


KATA PENGANTAR


Kiranya tiada yang patut penulis ucapkan dalam kesempatan ini selain puji syukur alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah Subhanahu Wata’ala Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan Rahmat dan Hidayah-Nya. Sehingga dengan usaha yang maksimal mungkin penulis dapat menyelesaikan Penelitian Tindakan Kelas ini sebatas kemampuan penulis.
Disadari sepenuhnya bahwa tiada gading yang tak retak, begitu juga dalam Penelitian Tindakan Kelas ini. Apabila ada atau dijumpai beberapa kelemahan, baik dalam penulisan maupun isi, dengan segala kerendahan hati penulis mengharapkan adanya saran-saran konstruktif dari semua pihak pencinta pendidikan demi penyempurnaan dalam penelitian berikutnya.
Akhirnya penulis mengucapkan terima kasih dan semoga Penelitian Tindakan Kelas ini dapat bermanfaat dalam upaya peningkatan kwalitas pendidikan di masa sekarang maupun di masa yang akan datang.



Pamekasan, 1 Pebruari 2009

PENULIS

PENGEMBANGAN KEMAMPUAN DASAR BERBAHASA ANAK KELOMPOK B RA “I’ANATUS-SHIBYAN” DESA BLUMBUNGAN KECAMATAN LARANGAN KABUPATEN PAMEKASAN MELALUI BERCERITA DENGAN MENGGUNAKAN KATA GANTI AKU
TAHUN PELAJARAN 2009/2010



Oleh :
KHOLIFATUL AZIZAH, S.Pd.I.
( KEPALA RA I’ANATUS SHIBYAN DESA BLUMBUNGAN KECAMATAN LARANGAN KABUPATEN PAMEKASAN )


ABSTRAK

Pengembangan kemampuan dasar berbahasa di TK melalui bercerita dengan menggunakan kata ganti aku belum menunjukkan keberhasilan belajar minimal. Sebagai guru merasa prihatin dan ingin memperbaiki keadaan tersebut dengan mencoba suatu pendekatan pembelajaran yang bernuansa aktif dan kreatif juga menyenangkan. Dan ini merupakan salah satu solusi yang di tempuh yakni dengan mengembangkan kemampuan dasar berbahasa melalui bercerita dengan menggunakan kata ganti ”AKU”.
Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui peningkatan kemampuan dan aktivitas belajar anak pada pengembangan kemampuan dasar berbahasa melalui bercerita dengan menggunakan kata ganti ”AKU”, khususnya pada kelompok B.
Subyek penelitian ini adalah anak kelompok B RA I’ANATUS SHIBYAN DESA BLUMBUNGAN KECAMATAN LARANGAN KABUPATEN PAMEKASAN Tahun pelajaran 2008/2009 yang terdiri dari 34 anak.
Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan pengembangan kemampuan anak dan aktifitas belajar anak dari siklus I sampai II. Pada siklus I dicapai kemampuan berbahasa dengan model pembelajaran klassikal melalui bercerita dengan kata ganti ”AKU” dan pada siklus II dicapai kemampuan berbahasa dengan model pembelajaran individu melalui bercerita bebas dengan menggunakan kata ganti ”AKU”. Sedangkan aktivitas belajar anak selama mengikuti pengembangan berbahasa melalui bercerita bebas dengan menggunakan kata ganti ”AKU” cukup tinggi baik pada siklus I maupun siklus II serta adanya peningkatan keaktifan belajar anak dari siklus I ke siklus II. Dari hasil penelitian ini dapat di simpulkan bahwa pengembangan kemampuan dasar berbahasa melalui bercerita dengan menggunakan kata ganti ”AKU” dapat meningkatkan mutu (aktivitas dan hasil) pengembangan di RA I’ANATUS SHIBYAN DESA BLUMBUNGAN KECAMATAN LARANGAN KABUPATEN PAMEKASAN. Khususnya pada kelompok B.

Kata Kunci : Bercerita menggunakan kata ganti ”AKU”.

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ....................................................................................... i
LEMBAR IDENTITAS DAN PENGESAHAN ................................................ ii
KATA PENGANTAR .................................................................................... iii
ABSTRAK .................................................................................................... iv
DAFTAR ISI ................................................................................................. v
DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................... vi
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah ........................................................ 1
B. Rumusan Masalah ................................................................. 4
C. Tujuan Penelitian ……………………………………………… 4
D. Manfaat Penelitian ................................................................. 5
BAB II KAJIAN PUSTAKA
A. PengembanganKemampuanDasar Berbahasa..................... 6
B. Pembelajaran Bercerita MenggunakanKata Ganti Aku......... 7
C. Tinjauan Materi Penelitian ...................................................... 9
D. Hipotesis Tindakan ................................................................. 10
BAB III PELAKSANAAN PERBAIKAN PEMBELAJARAN
A. Lokasi dan Subjek Penelitian ................................................. 11
B. Prosedur Penelitian ................................................................ 11
C. Pelaksanaan Tindakan ........................................................... 12
D. Instrumen Penelitian .............................................................. 14
E. Metode Pengumpulan Data ................................................... 15
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian ………………………………………………… 16
B. Pembahasan .......................................................................... 19
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan ............................................................................ 21
B. Saran ..................................................................................... 21
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................... 23



DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Format Kesediaan Sebagai Teman Sejawat
Dalam Penyelenggaraan PKP ................................................. 24
Lampiran 2 Surat Pernyataan ..................................................................... 25
Lampiran 3 Satuan Kegiatan Harian ........................................................... 26
Lampiran 4 Foto penelitian.......................................................................... 28

.
***
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Kenyataan saat ini menunjukkan bahwa pencapaian tujuan pengembangan kemampuan dasar berbahasa melalui bercerita dengan menggunakan kata ganti aku masih belum memenuhi harapan. Hal ini diindikasikan dengan rendahnya hasil kemampuan belajar anak. Dari tugas-tugas, lomba-lomba bercerita menunjukkan bahwa penguasaan anak terhadap pengembangan kemampuan dasar berbahasa melalui bercerita masih relative rendah. Kenyataan ini mungkin di sebabkan anak hanya cenderung diajar bercerita tanpa di sertai dengan pemahaman kata ganti aku yang baik.
Berdasarkan hasil lomba-lomba bercerita di tingkat TK setiap tahunnya yang di selenggarakan oleh Dinas Pendidikan dapat disimpulkan bahwa pengembangan kemampuan dasar berbahasa melalui bercerita kurang meningkat yakni penggunaan bahasa dengan kata ganti aku yang selalu berubah-ubah dari awal cerita sampai akhir cerita yaitu dari aku ke saya dari saya ke aku sehingga di rekomendasikan penggunaan kata ganti aku pada kemampuan dasar berbahasa melalui bercerita.
Pada kenyataannya hasil pengembangan kemampuan dasar berbahasa anak kelompok B RA I’anatus Shibyan Desa Blumbungan Kecamatan Larangan Kabupaten Pamekasan, masih belum memuaskan, masih cukup banyak anak memperoleh hasil belajar di bawah standar keberhasilan belajar minimal yang telah di tetapkan. Dari hasil evaluasi harian terakhir yang di laksanakan di peroleh data dari 34 anak kelompok B terdapat 30 anak hasil belajarnya di bawah standar kemampuan pengembangan berbahasa minimal. Dari kenyataan di atas terlihat masih banyak anak yang tidak mampu mengembangkan kemampuan dasar bercerita dengan kata ganti aku yang di ajarkan guru.
Permasalahan ini yang mendasari munculnya gagasan untuk menekankan pada pengembangan kemampuan dasar berbahasa melalui bercerita dengan menggunakan kata ganti AKU dengan aktif membangun pembelajaran berbasis kompetensi dengan memfokuskan pada aktivitas anak dalam mengkonstruksi pengembangan kemampuan dasar berbahasa melalui bercerita dengan menggunakan kata ganti AKU.
Berkenan dengan pengembangan kemampuan dasar berbahasa melalui bercerita dengan menggunakan kata ganti aku pada kelompok B di RA I’anatus Shibyan Desa Blumbungan Kecamatan Larangan Kabupaten Pamekasan dengan usia 4-6 tahun di tandai oleh kemampuan sebagai berikut (Depdiknas, 2000; 5) :
1. Mampu menggunakan kata ganti aku dan berkomunikasi
2. Memiliki berbagai perbendaharaan kata kerja, kata sifat, kata keadaan. Kata tanya, dan kata sambung.
3. Menunjukkan pengertian dan pemahaman tentang sesuatu.
4. Mampu mengungkapkan pikiran, perasaan dan tindakan dengan menggunakan kalimat sederhana.
5. Mampu membaca dan mengungkapkan sesuatu melalui gambar.
Dengan demikian seorang anak dapat memperhatikan menyampaian cerita sederhana yang sesuai dengan karakter dan potensinya.
Seorang anak mempunyai karakter danpotensi untuk menyerap segala hal lebih cepat sehingga lebih mudah membentuk dan mengarahkan dirinya. Hal ini sesuai dengan tujuan program kegiatan belajar taman kanak- kanak, (depdiknas, PKB TK GBPKB, TK, 1996 : 1) yaitu untuk meletakkan dasar ke arah pengembangan sikap, pengetahuan, keterampilan dan daya cipta yang di perlukan oleh anak didik dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan dan untuk pertumbuhan serta perkembangan selanjutnya.
Dengan demikian RA sebagai lembaga pendidikan formal tidak boleh mengenyampingkan sisi pendidikan yang harus di serap oleh seorang anak berupa tata nilai yang ada dalam cerita-cerita anak usia prasekolah. Pendidikan taman kanak-kanak harus dapat berusaha semaksimal mungkin untuk dapat menciptakan situasi pembelajaran yang dapat mengembangkan seluruh potensi anak termasuk pengembangan berbahasa.
Menurut Piaget (Tampubolon, 1991) sejak lahir hingga dewasa pikiran anak berkembang melalui jenjang berperiode sesuai dengan tingkatan kematangan anak itu secara keseluruhan dengan interaksi-interaksinya dengan lingkungannya “bahasa anak juga berkembang sesuai dengan jenjang-jenjang itu. Jenjang-jenjang yang sesuai dengan tahap perkembangan anak TK adalah sebagai berikut :
1. Jenjang sensorimotoris : sejak lahir hingga 18/24 bulan, dalam mendekati akhir periode ini sesudah bahasa anak mulai tumbuh, pikiran dimaksud juga mulai tumbuh.
2. Jenjang properasional : 18/24 bulan hingga 6/7 tahun dengan ciri dalam perkembangan kemampuan berfikir dengan bantuan simbol-simbol (lambang-lambang)
Dengan demikian pengembangan kemampuan dasar berbahasa melalui bercerita dengan menggunakan kata ganti AKU dapat mengembangkan beberapa aspek fisik maupun psikologis bagi anak Taman Kanak-kanak sesuai dengan tahap perkembangannya.
Salah satu pengembangan kemampuan dasar berbahasa yang di kembangkan di kelompok B RA I’anatus Shibyan Desa Blumbungan Kecamatan Larangan Kabupaten Pamekasan, adalah metode bercerita dengan menggunakan kata ganti AKU yang hal ini masih sulit dirasakan anak sebab pada umumnya guru hanya bercerita, tanya jawab dan meminta anak bercerita sesuai dengan bahasanya sendiri tanpa ada panduan atau bimbingan yang baik. Dan tanpa memberi kesempatan pada anak untuk berbicara sesuai apa yang mereka ucapkan sesuai dengan kata ganti yang mereka inginkan. Pendekatan pembelajaran baik klasikal maupun individu salah satu alternatif agar anak dapat memiliki perbendaharaan kata yang di butuhkan untuk berkomunikasi sehari-hari sehingga dapat meningkatkan prestasi bagi anak.
Bertolak dari uraian di atas, maka dilakukan penelitian tindakan kelas dengan judul “Pengembangan Kemampuan Dasar Berbahasa Anak Kelompok B RA I’anatus Shibyan Desa Blumbungan Kecamatan Larangan Kabupaten Pamekasan Melalui Bercerita Dengan Menggunakan Kata Ganti Aku Tahun Pelajaran 2008/2009“.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut :
1. Apakah pengembangan kemampuan dasar berbahasa melalui bercerita menggunakan kata ganti aku dapat meningkatkan hasil belajar anak kelompok B RA I’anatus Shibyan Desa Blumbungan Kecamatan Larangan Kabupaten Pamekasan tahun pelajaran 2008/2009 pada kompetensi dasar berkomunikasi dan perbendaharaan kata ?
2. Bagaimanakah aktivitas belajar anak kelompok B RA I’anatus Shibyan Desa Blumbungan Kecamatan Larangan Kabupaten Pamekasan tahun pelajaran 2008/2009 pada saat pengembangan kemampuan dasar berbahasa melalui bercerita menggunakan kata ganti AKU pada kompetensi dasar berkomunikasi dan perbendaharaan kata ?

C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dalam penelitian ini antara lain adalah :
1. Untuk mengetahui pengembangan hasil belajar anak kelompok B RA I’anatus Shibyan Desa Blumbungan Kecamatan Larangan Kabupaten Pamekasan tahun pelajaran 2008/2009 setelah pengembangan kemampuan dasar berbahasa melalui bercerita menggunakan kata ganti aku pada kompetensi dasar berkomunikasi dan perbendaharaan kata.
2. Untuk mengetahui aktivitas belajar anak kelompok B RA I’anatus Shibyan Desa Blumbungan Kecamatan Larangan Kabupaten Pamekasan tahun pelajaran 2008/2009 pada saat pengembangan kemampuan dasar berbahasa melalui bercerita menggunakan kata ganti aku pada kompetensi dasar berkomunikasi dan perbendaharaan kata.

D. Manfaat Penelitian
Dengan tercapainya tujuan penelitian di atas, maka manfaat yang di harapkan sebagai berikut :
1. Menambah wawasan bagi guru mengetahui pengembangan kemampuan dasar berbahasa melalui bercerita dengan menggunakan kata ganti AKU yang lebih baik, sehingga dapat memperbaiki mutu pengembangan di kelas.
2. Mengembangkan hasil belajar anak khususnya pada kompetensi dasar berkomunikasi dan perbendaharaan kata.
3. Hasil penelitian ini dapat memberi sumbangan yang baik bagi Taman Kanak-kanak khususnya RA I’anatus Shibyan Desa Blumbungan Kecamatan Larangan Kabupaten Pamekasan dalam rangka perbaikan kualitas pengembangan kemampuan dasar berbahasa.


***




BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A. Pengembangan Kemampuan Dasar Berbahasa
Kurikulum berbasis kompetensi telah mengakomodasi berbagai kebutuhan hidup yang memungkinkan anak didik memiliki kesiapan untuk bersaing, bertahan hidup serta menjadi warga negara yang memiliki keterampilan hidup. Selain itu KBK baru membuat rambu-rambu pokok sehingga perlu pengembangan lebih lanjut agar implementasinya dilapangan sesuai dengan yang di harapkan. Pengembangan kemampuan berbahasa dalam KBK 2004. bertujuan agar anak mampu mengungkapkan pikiran melalui bahasa yang sederhana secara tepat, mampu berkomunikasi secara efektif dan membangkitkan minat untuk dapat berbahasa Indonesia serta memiliki perbendaharaan kata.
Standar kompetensi, hasil belajar dan indikator kemampuan berbahasa anak TK baik kelompok A dan B telah tertuang di kurikulum berbasis kompetensi 2004. Dan semuanya dapat di perkaya/disesuaikan dengan situasi dan kondisi dimana kegiatan belajar akan berlangsung. Untuk itu sangat di butuhkan kreativitas guru dalam rangka memperkaya indikator-indikator di setiap hasil belajar. Dan pendidik sebagai salah satu pelaku utama dalam pengajaran harus memahami teori-teori belajar dan pembelajaran, strategi pembelajaran, metode-metode mengajar dan lain-lain. Penerapan teori belajar merupakan suatu tuntutan yang harus dilaksanakan dan disesuaikan dengan topik-topik tertentu untuk dipraktekkan di lapangan.
Sebagaimana diketahui fungsi bahasa adalah sebagai alat komunikasi yang dilakukan secara lisan, tulisan maupun perbuatan, setiap orang mempunyai kesanggupan untuk menyatakan apa yang terkandung dalam pikirannya melalui bahasa. Menjadi kewajiban orang tua dan guru untuk melakukan berbagai usaha dalam pengembangan kemampuan berbahasa yang menyenangkan bagi anak karena bahasa itu sendiri memiliki fungsi sebagai alat untuk menyatakan diri serta untuk menangkap pikiran dan perasaan orang lain.
Pengembangan bahasa pada anak usia Taman Kanak-kanak perlu mendapatkan perhatian penting mengingat bahwa bahasa merupakan pusat dari pengembangan aspek-aspek yang lain. Aspek-aspek yang berkaitan dengan perkembangan bahasa anak adalah: kosakata, sintaks (tata bahasa), semantik (penggunaan kata yang sesuai tujuannya), fonem (bunyi kata).
Sesuai dengan pendapat Vigofsky tentang prinsip-prinsip ZPD (zone proximal development) yaitu zona yang berkaitan dengan perubahan dari potensi yang dimiliki anak menjadi kemampuan aktual (Seefeld dan Barbour, 1994;39) maka prinsip-prinsip yang harus diperhatikan dalam menggabungkan kemampuan bahasa anak usia taman kanak-kanak adalah:
1. Interaksi: interaksi anak dengan lingkungan disekitarnya akan membantu anak memperluas kosa katanya dan memperoleh contoh-contoh dalam menggunakan kosa kata tersebut secara tepat.
2. Ekspresi: mengekspresikan kemampuan bahasa anak dapat dilakukan melalui pemberian kesempatan kepada anak untuk mengungkapkan pikiran dan perasaannya secara bebas.

B. Pembelajaran Bercerita Dengan Menggunakan Kata Ganti AKU
Yang dimaksud bercerita adalah kegiatan bertutur kata yang dilakukan anak secara individu atau klasikal yang diperlihatkan kepada guru dan anak-anak yang lainnya, dengan menentukan sendiri isi cerita baik kosakata, intonasi dan menurut pengalaman yang sudah dialami anak, artinya kegiatan bercerita yang dilakukan anak hanya mengandalkan suara dan gerak tubuh dan perbendaharaankata.
Melalui bercerita dengan menggunakan kata ganti AKU dalam pengembangan kemampuan dasar berbahasa dapat dilakukan dengan ketentuan bercerita yang mudah dipahami anak sebagai awal pembelajaran. Kemudian anak diberi kesempatan untuk bercerita sesuai dengan kemampuan anak dalam hal penggunaan kata ganti aku selanjutnya anak diberi kesempatan mengutarakan idenya lewat kemampuan berbicara.
Peran guru disini hanya mendengarkan, memperhatikan dan memotifasi serta membimbing mereka dengan tepat dan mudah dipahami anak untuk bercerita menggunakan kata ganti aku dengan memperkaya perbendaharaan kata.
Menurut Prof. Dr. Tampubolon, 1991;50” bercerita kepada anak memainkan peranan penting bukan saja dalam menumbuhkan minat dan kebiasaan membaca tetapi dalam mengembangkan bahasa dan pikiran anak ”. Dengan demikian fungsi bercerita bagi anak usia 4-6 tahun adalah membantu perkembangan bahasa anak. Sehingga akan menambah perbendaharaan kosakata, kemampuan mengucapkan kata-kata dan melatih merangkai kalimat sesuai dengan tahap perkembangannya. Dalam penyampaian cerita dengan menggunakan kata ganti AKU tiap anak berbeda latar belakang dan cara belajarnya. Untuk itu di harapkan guru memahami gaya belajar anak baik individual maupun klasikal dengan mengacu pada pembelajaran terpadu dan tematik yang berpusat pada anak.
Hal tersebut sesuai dengan pendapat Prof. Dr. Tampubolon 1991:50 ”isi cerita hendaknya sesuai dengan tingkatan pikiran dan pengalaman anak”. Dengan demikian implementasi bercerita pada pengembangan kemampuan dasar berbahasa di TK berdasarkan program kegiatan belajar TK pada tema-tema dan garis-garis besar program kegiatan belajar. Depdiknas, 1996 untuk kelompok A dan kelompok B. Sesuai dengan indikator –indikator yang ada serta mengacu pada prinsip-prinsip belajar di TK.
Pengembangan kemampuan dasar berbahasa melalui bercerita dengan menggunakan kata ganti AKU yang dimaksud dalam tulisan ini adalah pengembangan perbendaharaan kata dan komunikasi anak sebagai sumber pembelajaran bercerita yang semakin abstrak. Dengan begitu betapa pentingnya bercerita dengan menggunakan kata ganti aku yang sesuai dengan hasil belajar, indikator dan kompetensi dasar di kurikulum merupakan jabaran karakteristik suatu kompetensi.
Yang secara spesifik dapat dijadikan ukuran untuk menentukan dan memiliki ketercapaian hasil belajar dengan mengacu pada karakteristik pengembangan berbahasa melalui bercerita dengan menggunakan kata ganti aku. Maka langkah-langkah proses pengembangan berbahasa melalui bercerita menggunakan kata ganti aku pada penelitian ini adalah sebagai berikut :
Langkah : 1. Penataan posisi duduk anak dan guru
Guru meminta anak duduk melingkar dengan guru dengan bentuk lingkaran besar.
Langkah : 2. Penjelasan aturan bercerita
Guru menjelaskan lebih detil dengan cara memberi petunjuk atau saran-saran terbatas tentang cerita dengan penggunaan kata ganti aku secara klasikal dan individual.
Langkah : 3. Kegiatan bercerita
Guru meminta anak untuk mendengarkan cerita dengan menggunakan kata ganti aku secara seksama dengan penekanan pada kata ganti AKU disimak dengan baik. Jadi semua anak harus konsentrasi mendengarkan dan menyimak cerita yang sedang dituturkannya.
Langkah : 4. menjawab pertanyaan
Guru mengajak anak tanya jawab seputar isi cerita dengan menggunakan kata ganti AKU. Tahap ini dapat digunakan untuk melatih pendengran dan keberanian anak untuk berbicara tentang apa yang mereka dengar atau rekam di memori ingatannya dan apa yang ingin mereka ucapkan dengan menekankan pada kata ganti AKU.
Langkah : 5. Mengulang kembali isi cerita
Guru meminta anak untuk mengulang keseluruhan cerita yang sudah di rangkai guru dan tak lupa menyebutkan kata ganti aku dalam isi cerita tersebut.

C. Tinjauan materi penelitian
Berdasarkan kurikulum 2004, standar kompetensi dengan hasil belajar ke 4 kelompok B TK DHARMA WANITA PERSATUAN Kedungdung semester II adalah memiliki perbendaharaan kata yang diperlukan untuk berkomunikasi sehari-hari dan bersandar pada indikator 8 yaitu bercerita menggunakan kata ganti aku, saya, kamu, dia, mereka.

D. Hipotesis tindakan
Hipotesis tindakan dalam penulisan ini adalah “Pengembangan kemampuan dasar berbahasa melalui bercerita menggunakan kata ganti AKU dapat meningkatkan kemampuan berbahasa anak kelompok B RA I’anatus Shibyan Desa Blumbungan Kecamatan Larangan Kabupaten Pamekasan Tahun Pelajaran 2008/2009 pada kompetensi dasar berkomunikasi dan perbendaharan kata “.


***

BAB III
PELAKSANAAN PERBAIKAN PEMBELAJARAN

A. Lokasi dan Subjek Penelitian
Penelitian dilaksanakan di kelas kelompok B RA I’anatus Shibyan Desa Blumbungan Kecamatan Larangan Kabupaten Pamekasan. TK tersebut merupakan Taman bermain anak yang peminatnya mayoritas masyarakat desa Blumbungan dan sekitarnya, subjek penelitian adalah anak kelompok B RA I’anatus Shibyan Desa Blumbungan Kecamatan Larangan Kabupaten Pamekasan pada semester II tahun pelajaran 2008/2009 dengan jumlah anak 34 orang, yang terdiri atas 14 anak laki-laki dan 20 anak perempuan. Dipilihnya kelompok B sebagai subjek penelitian karena banyak anak yang memiliki kemampuan bahasa relatif rendah dengan keberhasilan belajar di bawah minimal dalam hal ini terindikasi dari rendahnya hasil belajar dan peran aktif mereka dalam proses pembelajaran di kelas melalui bercerita menggunakan kata ganti AKU.

B. Prosedur Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK). Sesuai dengan karakteristik PTK. Penelitian ini dirancang dengan menggunakan model siklus, Penelitian dilakukan dalam dua siklus, setiap siklus memerlukan waktu dua kali tatap muka (2 x ½ jam pembelajaran). Hasil dari satu siklus disempurnakan pada siklus berikutnya sampai mendapatkan hasil belajar yang maksimal. Dengan demikian akan di temukan sebuah strategi pembelajaran yang efektif dan efisien.
Menurut Taggart kemous setiapsiklus penelitian tindakan kelas terdiri atas empat tahapan, yaitu: (1) membuat rencana tindakan (plaining), (2) melaksanakan tindakan (acting), (3) mengadakan penentuan (observing), dan (4) mengadakan refleksi (reflecting), hasil reflecting menjadi masukan pada replaining untuk siklus berikutnya (kemmis, 1988 ; 10).

C. Pelaksanaan Tindakan
1. Tindakan Prasiklus
Pada kegiatan prasiklus, peneliti melakukan pengamatan awal untuk menginventarisasi permasalahan dalam pembelajaran, selanjutnya peneliti menentukan satu masalah yang di anggap urgen dan dapat segera di atasi, yaitu masalah kurangnya peran aktif anak dalam proses pembelajaran, sehingga prestasi belajar bahasa melalui metode bercerita relatif rendah. Hal ini disebabkan bahwa selama ini pembelajaran bercerita kurang diminati anak untuk mengulangnya, untuk melakukan tindakan lanjutan peneliti menyusun suatu metode pembelajaran yang menarik yaitu dengan memulai bercerita menggunakan kata ganti AKU yang mudah dipahami anak.
Di samping itu pada tahap ini peneliti menyampaikan pada anak tentang: 1. Model pembelajaran dengan pendekatan bercerita (bercerita menggunaan kata ganti AKU), 2. Semua aktivitas saat pembelajaran akan diamati dan dinilai.
2. Tindakan Siklus I
1. Rencana Tindakan
1. Menyusun rencana pembelajaran dengan pendekatan bahasa bercerita dengan indicator pembelajaran adalah bercerita menggunakan kata ganti AKU.
2. Menyiapkan instrumen penelitian, yaitu lembar observasi anak saat pembelajaran dan lembar evaluasi tahap perkembangan bahasa anak.
3. Guru melaksanakan pembelajaran dengan pendekatan pengembangan bahasa bercerita menggunakan kata ganti AKU.

2. Pelaksanaan Tindakan
Pelaksanaan program pengajaran dilakukan dalam dua siklus, pada setiap siklusnya diadakan dua kali pertemuan dengan rincian pertemuan pertama adalah proses kegiatan belajar mengajar dan pertemuan kedua adalah evaluasi atau penilaian. Pada tahap ini yaitu melaksanakan pembelajaran dengan pendekatan pengembangan bahasa bercerita menggunakan kata ganti aku sesuai dengan yang direncanakan pada tahap perencanaan. Secara lengkap pada pertemuan dalam proses belajar mengajar dilakukan sebagai berikut :
a. Guru membuka pelajaran, dengan membentuk posisi duduk melingkar.
b. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran, memotivasi anak dengan menguraikanpentingnya belajar bercerita dan serta menjelaskan tentang pelaksanaan pembelajaran kepada anak.
c. Guru meminta semua anak mendengarkan ceritanya dengan penekanan pada kata ganti aku didengarkan secara seksama sampai selesai.
d. Mmengingat kembali tentang apa yang sudah diceritakan guru melalui pertanyaan-pertanyaan.
e. Guru meminta anak untuk mengulang keseluruhan cerita yang sudah disampaikannya dengan menekankan pada kata aku, guru menfasilitasi cerita anak untuk lebih menggunakan kata ganti aku pada rangkaian cerita.
3. Observasi dan Evaluasi
Pada saat pelaksanaan pembelajarandipantau oleh pengamat untuk mengetahui sejauh mana pelaksanaan tindakan dapat menghasilkan perubahan yang di inginkan.pemantauan dilakukan oleh pengamat dengan mengisi instrumen yang sudah di siapkan untuk membantu kegiatan anak saat pembelajaran.
4. Analisis Hasil dan Refleksi
Hasil yang diperoleh dalam kegiatan observasi dan hasil penilaian selanjutnya dianalisis. Berdasarkan hasil analisis data aktivitas dan penilaian hasil belajar anak, guru dapat menyimpulkan apakah kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan telah mencapai tujuan penelitian, hasil refleksi pada siklus I, digunakan untuk merencanakan tindakan perbaikan yang akan dilakukan pada pelaksanaan tindakan siklus berikutnya.
3. Tindakan Siklus II
Kegiatan pada siklus II dilaksanakan setelah mempelajari hasil refleksi pada siklus I yaitu bagaimana hasilnya, apa kekurangannya dan apa yang harus dilakukan selanjutnya, hal ini dilakukan agar pada siklus II dapat dilaksanakan tindakan yang lebih efektif.
Tahap-tahap tindakan pada siklus II sama dengan yang di laksanakan pada siklus I namun pada model pembelaharan yang berbeda yaitu pada indikator pembelajaran pengembangan bahasa yaitu bercerita menggunakan kata ganti aku secara individual.

D. Instrumen Penelitian
Instrumen-instrumen yang di gunakan dalam penelitian ini antara lain:
1. Lembar observasi aktivitas belajar anak
Instrumen ini digunakan untuk mengumpulkan data tentang aktivitas anak selama mengikuti pembelajaran, di dalam instrumen ini pengamat akan memberikan skor pada aspek aktivitas yang dilakukan anak.
2. Lembar evaluasi
Instrumen ini digunakan untuk mengumpulkan data tentang hasil belajar anak pada kompetensi dasar berkomunikasi dan perbendaharaan kata setelah mengikuti pembelajaran bahasa dengan metode bercerita menggunakan kata ganti aku.

E. Metode Pengumpulan Data
Untuk mengumpulkan data penelitian digunakan metode-metode sebagai berikut :
1. Metode Observasi (pengamatan)
Pengamat melakukan observasi pada saat pelajaran berlangsung. Kegiatan yang dilakukan pengamat adalah mengamati aktivitas anak selama mengikuti pembelajaran dan mencatat hasil pengamatannya dalam lembar pengamatan yang telah disediakan.
2. Metode Evaluasi
Evaluasi dilakukan pada setiap akhir siklus, data hasil evaluasi digunakan untuk mengetahui peningkatan hasil belajar anak setelah di ajar dengan pembelajaran bahasa dengan metode bercerita, sebelum lembar evaluasi digunakan dalam penelitian, instrumen evaluasi yang di susun di evaluasi terlebih dahulu. Karena keterbatasan waktu, validasi lembar evaluasi hanya dilakukan oleh teman sejawat. Validasi lembar evaluasi meliputi :
1. Kesesuaian evaluasi dengan tujuan pembelajaran
2. Kesesuaian evaluasi dengan materi
3. Komunikatif bahasa yang digunakan
4. Kesesuaian waktu yang di gunakan dalam pembelajaran

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian
Hasil penelitian yang dibahas meliputi hasil perencanaan penelitian, pelaksanaan dan observasi kegiatan anak saat pembelajaran serta hasil evaluasi pada setiap akhir siklus.
Siklus I
1. Perencanaan Tindakan
Dalam upaya mencapai tujuan penelitian tindakan kelas ini dan sesuai dengan PTK yang digunakan maka pada tahap perencanaan dihasilkan antara lain
a. Rencanan pembelajaran
b. Lembar observasi aktivitas
c. Lembar evaluasi hasil belajar anda
2. Pelaksanaan Tindakan dan Observasi
Pada saat penelitian anak kelompok B di bentuk model pembelajaran klassikal.Tahap ini merupakan implementasi tindakan dalam bentuk pembelajaran satu kali pertemuan. Pembelajaran pada siklus ini di kenakan pada indikator Berkomunikasi secara lisan yang merupakan pengembangan bahasa dalam hal bercerita menggunakan kata ganti aku. Bertindak sebagai pengamat adalah Ibu Hj. ST.Halimatus Sak’diyah S.P. Karena keterbatasan maka yang diobservasi hanya 3 anak .
Pelaksanaan tindakan pada siklus ini dapat berlangsung baik dan lancar serta hasil yang memuaskan. Pada saat pembelajaran berlangsung pengamat melalui catatan lapangan mengamati hal-hal sebagai berikut :
a. Pembelajran belum sepenuhnya berpusat pada anak, hal ini disebabkan perhatian anak terhadap metode bercerita yang sesuai dengan pengembangan bahasa anak.
b. Pembelajaran belum berlangsung secara optimal sesuai skenario, masih di temukan beberapa anak yang ragu-ragu bercerita. Dalam pembelajaran terlihat ramai atau gaduh.
Berdasarkan evaluasi pengembangan berbahasa anak melalui bercerita menggunakan kata ganti aku setelah siklus I dari 34 anak yang mengikuti banyak anak yang belum mencapai hasil belajar yang maksimal dan belum dicapai tuuan pendelitian yang ditetapkan.
3. Analisis dan Refleksi
Berdasarkan hasil analisis data pada siklus 1 maka di lakukan refleksi untuk menetapkan tindakan perbaikan apa saja yang dapat dilakukan dalam pemebelajaran berikutnya sehingga tujuan penelitian tercapai.
Temuan pada refleksi siklus 1
Dari catatan pengamat maka pelaksanaan tindakan pada siklus 1 dapat direfleksikan sebagai berikut :
a. Beberapa anak masih ragu bercerita menggunakan kata ganti aku pada saat pembelajaran.
b. Volume suara anak terlalu pelan, sehingga pembicaraan kurang dapat didengar anak yang lain.
c. Anak belum terbiasa di ajak melakukan penelitian tindakan kelas dengan pembelajaran berpusat pada anak dengan metode bercerita menggunakan kata ganti AKU
d. Pada saat mengulang cerita secara klasikal, beberapa anak masih ragu-ragu karena anak belum terbiasa terhadap model pembelajaran bercerita secara klasikal.
e. Sebagian besar anak masih bingung dalam menyelesaikan cerita menggunakan kata ganti aku.
f. Rencana perbaikan
Dari informasi tersebut selanjutnya dilakukan perbaikan antara lain :
a. Guru meminta anak bersungguh-sungguh mendengarkan cerita dengan menggunakan kata ganti AKU.
b. Guru memberikan motivasi agar setiap anak tidak malu dan ragu berbicara tentang ceritanya. Volume suara anak pada saat mengulang cerita harus keras sehingga dapat di dengar dengan baik oleh anak lainnya.
c. Anak lebih di dorong untuk dapat menjawab pertanyaan guru, guna mengingat apa yang didengar dan di ceritakan oleh guru sehingga anak dapat mengulang cerita dengan menggunakan kata ganti AKU.
Siklus II
1. Perencanaan Tindakan
Seperti pada perencaan tindakan siklus I, pada siklus ini di susun skenario pembelajaran dan instrumen yang tidak jauh berbeda dengan siklus I, namun terdapat revisi sesuai dengan hasil analisis dan refleksi pada siklus I diantaranya:
a. Rencana pembelajaran di susun sesuai dengan indikator pembelajaran berlangsung yang lebih dekat dan mudah di pahami anak.
b. Memberikan motivasi agar setiap anak tidak malu dan ragu bercerita, volume suara anak pada saat bercerita harus keras sehingga dapat didengar oleh anak lain.
c. Anak lebih di dorong untuk menjawab pertanyaan, ,mengulang isi cerita yang lebih bagus agar tidak terjadi di siklus I yaitu hanya anak tertentu saja yang aktif mengikuti kegiatan cerita dengan menggunakan kata ganti aku.
2. Pelaksanaan Tindakan dan Observasi
Pembelajaran pada siklus II dikenakan pada indikator bercerita menggunakan kata ganti aku dengan model pembelajaran individual. Pelaksanaan tindakan pada siklus II ini dapat berlangsung baik dan lancar serta dapat hasil yang memuaskan. Dari hasil pengamatan tampak bahwa temuan negatif yang terlihat pada siklus I tidak terlihat lagi pada siklus II. Sementara itu, temuan positif yang tampak meliputi:
a. Anak lebih senang dalam kegiatan pembelajaran
b. Anak berkesempatan dapat belajar bercerita secara individu
c. Dalam pembelajaran, adanya kesan ramai atau gaduh merupakan bentuk dari aktivitas anak
d. Semua anak aktif dalam pembelajaran
Berdasarkan data evaluasi belajar anak setelah siklus II dari 23 anak yang mengikuti pengembangan berbahasa bercerita menggunakan kata ganti aku sudah mencapai hasil belajar yang maksimal dengan model pembelajaran individu. Untuk itu siklus II sudah tercapai tujuan penelitian yang telah di tetapkan,maka siklus II tidak perlu dilanjutkan pada siklus berikutnya atau tindakan berhenti pada siklus II.

B. Pembahasan
Berdasarkan hasil analisis data pada bagian prasiklus tampak bahwa mayoritas anak kelompok B RA I’anatus Shibyan Desa Blumbungan Kecamatan Larangan Kabupaten Pamekasan mempunyai motivasi belajar bahasa melalui bercerita dengan menggunakan kata ganti AKU rendah, kurang tertarik pada pembelajaran yang selama ini di terapkan guru. Namun, disisi lain mereka memiliki kemauan untuk memperoleh hasil belajar yang baik pada pengembangan kemampuan dasar bahasa melalui bercerita menggunakan kata ganti AKU. Oleh karena itu, upaya peningkatan pengembangan kemampuan dasar berbahasah merupakan sesuatu yang urgen untuk segera di wujudkan dengan menggunakan pembelajaran melalui bercerita menggunakan kata ganti AKU.
Keefektifan pengembangan dengan bercerita menggunakan kata ganti AKU dapat dilihat dari proses dan hasil pembelajaran selama dua siklus penelitian. Dilihat dari proses pengembangan bercerita menggunakan kata ganti AKU menunjukkan betapa aktifnya anak dalam pembelajaran, baik individu maupun klasikal, juga aktivitas belajar anak dari keseluruhan aspek pengamatan sangat bagus.
Ditinjau dari hasil belajar, pengembangan pembelajaran dengan bercerita menggunakan kata ganti AKU menunjukkan keberhasilan yang cukup baik. Dari evaluasipun anak dinyatakan mampu bercerita menggunakan kata ganti AKU pada siklus I dan II serta hasil belajarnya meningkat dari siklus I ke siklus II. Dengan kata lain pengembangan bercerita mnggunakan kata ganti AKU dapat meningkatkan pengembangan kemampuan berbahasa anak.
Berdasarkan uraian di atas maka hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini diterima, bahwa pembelajaran dengan bercerita menggunakan kata ganti AKU dapat meningkatkan pengembangan kemampuan dasar berbahasa anak kelompok B RA I’anatus Shibyan Desa Blumbungan Kecamatan Larangan Kabupaten Pamekasan Tahun Pelajaran 2008/2009.

***

BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari uraian yang telah di paparkan pada BAB IV, dapat ditarik kesimpulan bahwa pengembangan kemampuan dasar berbahasa dengan bercerita menggunakan kata ganti AKU dapat meningkatkan kualitas pembelajaran,kompetensi dasar, hasil belajar khususnya indikator bercerita menggunakan kata ganti AKU, SAYA, KAMU, MEREKA, DIA secara lisan. Secara detail dapat di sebutkan sebagai berikut :
1. Pengembangan dengan bercerita menggunakan kata ganti AKU dapat meningkatkan kwalitas pengembangan kemampuan kemampuan dasar berbahasa anak kelompok B RA I’anatus Shibyan Desa Blumbungan Kecamatan Larangan Kabupaten Pamekasan tahun pelajaran 2008/2009 khususnya menyangkut komunikasi dan perbendaharaan kata. Untuk indikator bercerita menggunakan kata ganti aku pada siklus I dan II menunjukkan keberhasilan yang cukup baik.
2. Dengan pengembangan kemampuan dasar berbahasa melalui bercerita menggunakan kata ganti AKU dapat meningkatkan aktivitas belajar anak kelompok B RA I’anatus Shibyan Desa Blumbungan Kecamatan Larangan Kabupaten Pamekasan tahun pelajaran 2008/2009 khususnya menyangkut komunikasi dan perbendaharaan kata.


B. Saran
Pembelajaran pengembangan kemampuan dasar berbahasa dengan bercerita menggunakan kata ganti aku yang di terapkan pada kegiatan pembelajaran dalam penelitian ini memberikan beberapa hal yang penting untuk diperhatikan. Untuk itu peneliti menyampaikan beberapa hal berikut :
1. Pengembangan dengan pendekatan pembelajaran individu melalui bercerita menggunakan kata ganti AKU dalam penelitian ini dapat dijadikan sebagai alternatif dalam pembelajaran pengembangan kemampuan dasar berbahasa di TK dan di harapkan pula di tindak lanjuti oleh guru kelas kelompok B untuk melakukan penelitian serupa pada pengembangan yang lain.
2. Kepala sekolah di harapkan memberi dukungan baik secara moril maupun materiil bagi guru-guru yang akan melakukan inovasi pembelajaran dalam rangka meningkatkan aktivitas dan hasil belajar anak khususnya yang berkaitan dengan pendekatan pembelajaran pengembangan bahasa melalui bercerita menggunakan kata ganti AKU.


***



DAFTAR PUSTAKA

Depdiknas. 2004. Kurikulum 2004: Standar Kompetensi Taman Kanak-Kanak Dan Roudhatul Athfal. Jakarta : Depdiknas.
Dhieni Nurbiana, dkk. 2008. Metode Pengembangan Bahasa. Jakarta. Pusat Penerbitan Universitas Terbuka.
Gunarti Winda, dkk. 2008. Metode Pengembangan Perilaku Dan Kemampuan Dasar Anak Usia Dini. Jakarta. Universitas Terbuka.
Winataputra S Udin, dkk. 2007. Teori Belajar dan Pembelajaran. Jakarta. Universitas Terbuka.


***

4 komentar:

  1. Terima Kasih sekali.., makalah yang bapak susun sangat berharga sekali untuk kami. Salam.

    BalasHapus
  2. terimakasih sudah mau berbagi

    BalasHapus
  3. terimaksih atas kemurahan hati mau berbagi untuk banyak orang.

    BalasHapus
  4. terimakasih ats ilmunya. barakallah..

    BalasHapus