Kamis, 06 Mei 2010

Metode Pendidikan Anak Muslim Usia Pra Sekolah

Metode Pendidikan Anak Muslim Usia Pra Sekolah
Oleh : KHOLIFATUL AZIZAH, S.Pd.I.
Kepala RA dan Pemerhati Pendidikan Anak Usia Prasekolah


***
1. Dapat mengontrol tindakannya.
2. Selalu ingin bergerak adalah sesuatu yang alami ( bila dalam batas yang wajar)
3. Berusaha mengenal lingkungan sekeliling. Karena sering kita lihat anak mengotak-atik sesuatu atau menghancurkannya.
4. Perkembangan yang cepat dalam berbicara. Oleh karena itu hampir tidak pernah berhenti berbicara. Hal ini pun merupakan tabiat yang wajar..
5. Senantiasa ingin memiliki sesuatu dan egois, dan mulai pertumbuhannya. Dari sini mulai tumbuh sikap keras kepala, suka protes, menanyai satu hal berulang kali. Ini juga merupakan hal yang wajar.
6. Mulai membedakan antara yang benar dan salah, yang baik dan buruk. Karena itu sikap memberi kepuasan dan lemah lembut terhadap mereka lebih tepat daripada memukul dan mengancam.
7. Mulai mempelajari dasar-dasar perilaku sosial yang dibutuhkannya saat beradaptasi di sekolah.
8. Usia eksplorasi.
Terdapat rancangan pelaksanaan metode belajar berikut latihan-latihan yang dapat diterapkan sejak anak berusia 3 tahun. Tak hanya itu, buku ini juga memberikan solusi cara penanganan terhadap perilaku-perilaku menyimpang pada anak. Orang tua atau pendidik juga diberi petuah berupa perbuatan yang baik dan salah serta yang perlu diucapkan dan jangan diucapkan kepada anak.
Bagi saya, menghadapi anak usia tiga tahunan seperti Ghiya betul-betul membutuhkan energi, kesabaran dan ilmu pendidikan anak. Bagaimana tidak? Di usianya sekarang ini, Ghaida sering melakukan tindakan-tindakan yang memancing emosi ibunya. (Walau tidak memungkiri bahwa aku sangat bangga dengan perkembangan dan kecerdasan-nya). Point-point yang ada dalam karakteristik anak di atas berlaku pada dirinya. Jadilah buku ini sebagai salah satu buku favorit saya terutama di saat-saat merasa kehilangan kontrol dan istighfar saja tak cukup ketika menghadapi Ghiya. Hemmm...ternyata tingkah Ghiya saat ini adalah hal wajar yang harus disikapi dengan baik oleh ibunya ini agar jangan sampai berubah menjadi perilaku yang menyimpang.
Jadi artikel ini kubuat setelah tadi sempat merasa kesal karena egocentris Ghiya muncul dalam bentuk gigitan ke tangan Salman yang mengambil mainannya. Pyuhh...! sabar...sabar...
Ya Allah, jadikan aku sebagai pendidik, teladan dan pahlawan bagi anak-anakku.....

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar